Sevi Is Mine (Hate But Love)

Sevi Is Mine (Hate But Love)
Bab 33



Ketika Sevi membuka kedua matanya, ia tidak menemukan siapapun berada di ruangannya.


Hal itu membuat hatinya begitu sakit." Sebegitu kecewanya kah! mommy sama aku?" Tanya Sevi pada dirinya sendiri, Tanpa Sadar air mata mengalir dari kedua sudut matanya.


Ceklek.


Pintu ruang rawatnya di dorong dari luar terlihat sang mommy, melangkah masuk sambil membawa kantung belanja berlogo salah satu minimarket yang mungkin baru di singgahi Devi.


" Kenapa menangis?" Tanya Devi sembari meletakkan belanjaannya di atas nakas samping tempat tidur Mira.


" Maafkan aku mommy! Aku salah." Ucap Mira dengan suara yang begitu lemah dan serak.


Devi tidak merespon ucapan putrinya itu, ia menuangkan air putih kedalam gelas, Setelah itu membantu Mira duduk sehingga dia dapat minum air yang di tuang Devi.


" Mom."


Devi masih mengacuhkan Mira. Bukan karena ia membenci putrinya, Tetapi ia hanya ingin Mira tahu dimana letak kesalahannya dan mencoba untuk memperbaiki itu.


Usai membantu Mira minum, Devi langsung berjalan keluar ruangan, tak lama setelah itu ia kembali masuk bersama seorang dokter di ikuti salah seorang perawat di belakangnya.


Devi mempersilahkan Dokter untuk memeriksa kondisi Mira, sedangkan ia duduk di sofa sembari menunggu dokter selesai menjalankan tugasnya.


Selesai memeriksa kondisi Mira, Dokter pun menjelaskan kondisi Mira kepada Devi Setelah itu, Dokter pun pamit.


" Mom." Mira memberanikan diri untuk memanggil Devi lagi.


" Mau makan?" Tanya Devi di Jawab Mira dengan geleng kepala.


" Makan Dulu, biar kamu cepat sembuh." Pinta Devi, ia kini sudah duduk di sisi ranjang Mira dengan semangkuk bubur, yang di antara pelayan rumahnya, sejam lalu.


" Aaaa." Devi menyodorkan sesedok bubur kepada Mira. Mira pun memakannya dan Devi terus menyuapinya sampai bubur itu tinggal setengah.


Devi kembali meletakkan bubur itu ketempat semula, karena Mira sudah merasa cukup kenyang dan menolak suapan Devi.


......🖤🖤🖤🖤🖤......


Mira pun tidak pernah menanyakan tentang janin yang pernah bersemayam dalam kandungannya. Bukan karena dia yang tidak ingin tahu tentang janin itu, hanya saja dia tidak ingin membuat mommynya semakin kecewa pada dirinya.


Sementara itu, Jauh di negara hewan berkantung itu, Arsen kembali menjalani hari harinya seperti biasa. Ya tepat sehari setelah putra membebaskan dirinya, Arsen langsung kembali ke Aussie, untuk mengurus bisnisnya serta menenangkan diri Sejenak, sebelum ia kembali pulang untuk mencari gadis kecilnya.


" Dasar hantu penggoda, tidak bisakah sehari saja kamu membiarkan aku tenang." Umpat Arsen, entah pada siapa kata kata itu, yang jelas ia kini sedang berdiri seorang diri menatap keindahan kota di malam hari dari balik kaca jendela besar yang ada dalam kamarnya.


Arsen terlihat gusar sudah, Empat orang wanita yang dia bawah untuk bersenang senang tetepi pada akhirnya dia harus mengusir mereka sebelum memulai pemain mereka. Karena jeritan serta bayangan wajah Sevi Selalu datang menghantui membuat adiknya tidak bisa berkerja dengan semestinya dan hanya tidur bermalas-malasan.


Arsen merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel dari dalam sana untuk mencari nomor seseorang.


Percobaan pertama tidak ada jawaban, kedua, ketiga pun demikian tetepi Arsen terus mencoba sampai panggilan itu di Jawab.


" Assalamualaikum." Sapaan lembut dari seberang sana, membuat sesuatu di bawah sana berdenyut. Seakan mengenali suara yang menyapanya.


" Ahhh siaaall." Umpat Arsen, membuat orang yang ia telpon langsung mengakhiri panggilan itu. Arsen mencoba untuk menghubunginya lagi, tetepi sayang hanya suara operator yang menjawab panggilan Arsen.


Membuat Arsen semakin kesal dan membanting ponselnya sampai hancur tidak berbentuk.


.


.


.


.


Bersambung.


...Happy reading..💋💋...


...Jangan lupa like dan komen.👍🙏...