
Maaf, ya. kemarin aku nggak update. Sebagai kompensasi, hari ini aku update dua chapter sekaligus uwu.
***
“Disitu aku kaget karena apa-apa yang disebutin. Dia bilang, stress berat, DID, Bipolar, Psikopat waktu hasratnya muncul, Schizofrenia, dan banyak lagi.’
“Aku nggak percaya kalau Ibu punya gangguan mental. Tapi kalo di pikir-pikir, emang, sih, Ibu minum obat itu tiap nggak ada aku doang.’
“Lama-kelamaan aku mulai menemukan bukti baru, dari mulai aku lihat bukti kedatangan Ibu ke psikolog sampai ke gejalanya langsung. Soal bukti itu, aku 'kan menemuinya di kamar mandi, ya. Waktu aku ke kamar mandi, aku lihat kertasnya di bawah. Di lantai kamar mandi, jadi udah basah gitu. Kayaknya, sih, kertas itu jatuh dari kantong celana atau kantong mantel Ibu sewaktu dia ganti baju. Awalnya aku kira itu struk belanja atau struk bayar listrik. Pas aku pungut, aku kaget karena ternyata itu bukti kunjungan Ibu ke Psikolog. Terakhir kesana, kalau aku lihat dari tanggalnya itu sekitar dua hari yang lalu dari hari dimana aku ketemuin kertas itu. Artinya, empat hari yang lalu dari sekarang. Disana nggak dikasih tau apa alasan Ibu ke Psikolog, apa terapi kah, atau curhat soal depresi kah, pokoknya alasan lain semacam itu, deh.’
“Setelah ketemu kertas itu, aku tiba-tiba mikir kalo kertas ini harus digimanain. Karena Ibu nanti pasti Ibu cariin. Jadi kalau aku simpen, pasti bakal langsung ketahuan misalnya Ibu ngecek kamar aku. Kalau aku tinggalin di kamar mandi, nanti Ibu tau kalau aku udah lihat itu. Jadi yaudah aku kantongin aja, mungkin emang seharusnya aku buang ke tong sampah atau biarin geletak disana. Waktu itu aku paranoid banget.’ Arashi mendengar dengan seksama. Tak melewatkan sepatah kata pun.
“Kalo gejalanya, baru aku lihat kemarin. Inget gak? Kemarin kita pulang lebih cepet kan? Nah, Ibu nggak sadar kalau aku pulang lebih cepet, mungkin itu alasan kenapa aku bisa lihat gejalanya secara langsung. Entah gimana caranya, tapi Ibu berhasil ngontrol dan ngendaliin penyakitnya biar aku sama Ayah itu nggak tau. Jadi kejadiannya kurang lebih gini, waktu aku pulang kan nggak ada siapa-siapa di rumah. Jadi aku langsung naik tangga ke lantai dua. Aku baru sadar sekarang kalo ada yang nggak beres, yaitu keadaan rumah yang berantakan. Pas di kamar aku denger suara-suara klontang-klontang di dapur, kayak alat-alat masak saling berbenturan gitu. Terus aku buru-buru keluar kamar, tapi nggak turun tangga. Aku ngeliat ke lantai satu dari pagar lantai dua. Ada Ibu lari dari dapur dan tiba-tiba duduk di pojokan sofa. Dia duduk di pojokan sofa, di lantai pojokan sofa, bukan di atasnya.'
“Aku mau nangis lihatnya. Rasanya pengen buru-buru lari ke bawah terus peluk Ibu, tapi aku tahan. Aku pengen ngelakuin itu memang karena keadaannya itu kacau banget! Like everyone who see that will be scary! Beda jauh sama Ibuku yang biasanya. Ibu yang kekinian, penyayang, yang masakannya paling enak sedunia sama yang heboh kalau ngomongin drakor. Kondisi Ibu waktu itu beda banget! Rambutnya acak-acakan, wajahnya keliatan lebih tua dan kayaknya letih banget, dia juga kayak ketakutan gitu.’
“Akhirnya biar nggak ketahuan, aku sembunyi di deket tembok sambil terus merhatiin Ibu. Lama-kelamaan Ibu membaik. Dia ngeliat jam di dinding dan bangun. Dia pergi, pelan-pelan aku ikutin karena takutnya Ibu lakuin yang nggak-nggak. Tapi untungnya Ibu cuman ke kamar mandi. Aku jadi paham kalo Ibu lihat ke arah jam dinding itu karena mau mastiin berapa lama lagi aku pulang. Jadi aku nggak balik ke kamar tapi ke luar. Biar Ibu nggak ngerasa bersalah kalau tau aku pulang lebih awal.’
“Satu hal yang aku sadari waktu itu, yaitu aku sama Ayah sama sekali nggak tau apa-apa soal Ibu. Aku ngerasa bersalah, Ibu selalu tau apa yang aku sama Ayah butuhin, tapi aku malah nggak tau apa-apa tentang Ibu.’ Simpulnya.
Kalimat itu mengakhiri cerita panjang Edward. Tetapi, kisah itu belum berakhir. Ed dan Arashi sama-sama yakin kalau ada hal lain yang tidak mereka ketahui.
Ada jeda yang cukup lama sampai Arashi memberikan respons, “Ayah tau soal penyakit Ibu kamu, Ed?’ tanyanya hati-hati. Otak Arashi harus berputar lebih cepat karena ia tidak ingin membuat Edward lelah dengan respons darinya.
Ed menggeleng, “Aku nggak tau. Sejauh ini, sih, aku belum cerita apa-apa ke Ayah. Bisa jadi dia udah sadar sendiri, bisa juga dia nggak tau sama sekali. Tapi kayaknya Ayah nggak tau. Dia kalau pulang kerja langsung istirahat sambil nonton TV. Kadang tidur, kadang lanjut ngantor di rumah. Jadi kayak nggak pernah kepikiran sama sekali tentang hal itu.’ Gumam Ed.
Intonasinya menimbulkan kesan seolah-olah Ayah Ed turut andil atas penyakit yang menimpa Ibunya. Ed seperti ingin menyeret Ayah Ed untuk menjadi salah satu tersangka atas hal ini. Tanpa berpikir dua kali.
Arashi mengangguk-angguk tanda mengerti. “Bisa aja dia udah tau, anak nggak pernah tau gimana hubungan orang tuanya. Coba kamu kasih tau Ayah kamu, biar kalian bisa bertindak bareng-bareng. Terus, kamu masih nyimpen bukti kunjungannya kan? Coba, deh, sekali-kali ke tempat itu. Tanyain soal Ibu kamu ke dokternya. Emang, sih, itu privasi antara dokter dan pasien, tapi kamu anaknya, jadi dia pasti kasih tau hal-hal yang berguna buat kesembuhan pasiennya.’ Arashi segera menyesali kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya. Bagai hujan yang datang tanpa peringatan terlebih dahulu, Arashi memberikan saran tanpa diminta oleh yang bersangkutan. Ia benar-benar menyesali perbuatannya saat itu.
“Tadinya aku juga mau gitu, tapi yang aku bingungin. Aku harus bilang Ayah dulu atau nggak. Aku pusing,’ Edward menaruh kedua sikunya di meja lalu menyembunyikan wajahnya di dalam kedua tangannya. Keadaannya nampak sangat kacau.
Kini giliran Arashi yang melihat pemandangan persis seperti apa yang dilihat Edward.
Arashi memberikan jeda sedikit sebelum ia menjawab. “Kalau menurut aku, tergantung keadaannya. Seharusnya, sih, kasih tau. Secara kan kalian itu satu keluarga, tapi kalau menurut kamu Ayah nggak bisa diajak kompromi, ya udah bertindak sendiri aja. Toh nanti kamu nemuin bukti baru juga kan? Nah, disitu kamu bakal bener-bener bakal bisa ngambil keputusan soal kamu harus ngasih tau atau nggak.’ Jawab Arashi, penuh pertimbangan. Menurutnya, hubungan Suami-Istri itu sangat dekat. Walau ia sendiri belum pernah berada di posisi itu. Pilihan untuk pergi ke Psikolog baru kemudian memberi tau Ayah Ed adalah benar-benar jalan tengah yang dilihatnya.
Tapi itu menurut sudut pandang dirinya, sudut pandang seorang anak perempuan yang takut untuk menerima resiko.
“Mau aku temenin ke Psikolognya? Aku mau kok nemenin,’ tawar Arashi. Jikalau Edward tidak bisa menghadapi ini sendirian, ia bisa menemaninya.
Edward hanya diam, dalam waktu yang singkat keadaannya benar berubah. Arashi tak sampai hati memerhatikan Kekasihnya itu terlalu lama.
Tik tok
Tik tok
Tik tok
Detik jam semakin kentara terdengar karena kesunyian adalah instrumen yang mengisi ruang di antara mereka. Edward masih menyembunyikan wajahnya pada kedua tangannya. Anak perempuan di depannya tidak tau apakah ia tertidur atau sedang bertafakkur.
Edward sedang bertafakkur. Atmosfir perasaan ketika ia melihat Ibunya dalam keadaan begitu kembali naik ke permukaan. Rasanya hangat dan sakit. Di dalam kantong hatinya, Ed bisa merasakan Ibu kesayangannya tenggelam dalam kehangatan.
Ia adalah anaknya. Mengapa tidak bisa memahami perasaan dari Ibu kandungnya sendiri? Mengapa Ed tidak bisa? Seharusnya relasi antara Ibu dan anak itu sangat kuat. Keduanya memiliki insting, tapi mengapa ia tidak mengetahui bagaimana perasaan Ibunya? Apakah ia anak yang nakal? Apa Ibu tidak bersyukur karena telah melahirkannya ke dunia? Jangan bilang, ia adalah penyebab dari semua ini? Mungkin Ibu tidak bahagia memiliki Ed.
Udara semakin terasa dingin di kulit kedua remaja tersebut. bagai angin yang terasa sangat dingin ketika dirinya menerpa tubuh manusia yang tanpa busana, seperti itu juga perasaan yang dialami keduanya.
Mereka sedang telanjang --tidak membahas apapun dan angin terus saja berhembus. Membuat bulu kuduk di leher Arashi menegang. Pikiran Arashi masih terus terombang-ambing di lautan sampai ia menyadari kehadiran sebuah buku di dalam dekapannya. Buku yang nasib tokoh di dalamnya sama seperti Edward.
Gadis itu menatap buku yang kini ada dalam genggamannya, ia memerhatikan anak kecil yang nampaknya peka terhadap apa yang dialami Ibunya. Apakah itu yang dirasakan Edward saat ini? Bagaimana cara dirinya agar bisa menarik Ed keluar dari kubangan kesedihan dan rasa cemas ini? Arashi tidak ada ketika Ed melihat keadaan Ibunya, Arashi tidak ada ketika Ed menemukan kertas itu, Arashi juga tidak ada saat Ed menerima perlakuan penuh kasih sayang dari Ibunya.
“Ed,’ panggil Arashi dengan suara yang lirih.
“Hm?’
“Ayo pulang.’ Rengeknya.
Ed membuka kedua telapak tangannya, kemudian nampaklah wajah lesu anak laki-laki itu. Juga matanya yang merah akibat menahan air mata. Ia menyapu seisi ruangan dengan pandangannya.
“Baru jam setengah empat,’ desisnya setelah menemukan benda yang ia cari.
“Masa mau pulang lebih awal lagi?’ tambahnya.
“Ohhh, yaudah, deh, nunggu du—‘ kata-kata Arashi berhenti ketika sebuah bunyi menyeruak di antara mereka. Bunyi itu hilang, lalu berbunyi lagi.
“Itu… perut kamu, Rash?’ Edward menahan tawanya.
“Iya, hehe. Aku laper.’ Canda Arashi.
“Yaudah, yuk, cari makanan.’ Edward bangkit dengan mantap.
Arashi mengikuti Edward sampai keluar perpustakaan, ia sudah memakai helmnya saat petugas perpustakaan keluar dan memanggil-manggil seseorang. Ia merasa yang dipanggil adalah dirinya, tapi ia tidak yakin.
“Dek! Dek!’ petugas itu semakin menghampiri keduanya, namun hanya Arashi yang mendengarkannya.
Ia menepuk lengan laki-laki yang perhatiannya sedang terfokus pada motornya,“Ed, tunggu dulu sebentar. Kayaknya petugas itu manggil kita.’
Edward menoleh. Kemudian berdecak.
“Ya, jelas! Itu buku kenapa dibawa-bawa? Udah konfirmasi peminjaman?’ katanya setelah menjitak ubun-ubun Arashi.
Wajah Arashi bingung, ia menatap buku di genggamannya dan Edward secara bergantian. Berulang kali. Setelah menyadari petugas yang semakin dekat, Arashi buru-buru melemparkan buku usang tersebut kepada Edward. Laki-laki itu refleks menangkapnya. Tatapan wajahnya menggambarkan dengan jelas perasaan bingung yang menerpanya.
“Kamu itu, ya. Bukunya main dibawa-bawa aja! Seenggaknya daftar dulu, biar bukunya juga ke data.’ Omelnya saat sudah berada disana.
Tanpa basa basi, Edward memberikan buku itu kepada petugas, “Ini, Pak. Maaf tadi saya lupa. Tidak akan saya ulangi.’ Hiburnya.
Kini ia sudah mengambil kembali bukunya, tetapi, alih-alih pergi, ia justru masih berdiri disana. Memarahi keduanya. “Ini, nih, yang biasanya bikin buku hilang. Dek, jangan begini lagi, ya. Buku di perpustakaan itu sedikit. Kalau mau dibaca di rumah, pinjam dulu. Jangan asal bawa-bawa aja!’
“Kamu juga!’ ia menunjuk Arashi dengan telunjuknya,
“Jangan ikutin temenmu ini!’ katanya lalu pergi.
Keduanya saling menatap setelah kepergian petugas itu. Sama-sama heran.
“Kok kita di marahin, sih.’ Gerutu Arashi.
“Ya, mending. Daripada kamu, lempar batu sembunyi tangan. Ayo naik!’
Anak perempuan itu melakukan apa yang disuruh, “Aku lempar tangan sembunyi batu kok,’
“Iya, deh. Terserah.’