
☆▪☆▪☆
Seorang pria paruh baya tengah menggandeng lengan kecil Wanita muda yang nampak cantik dihari spesialnya, mengenakan gown sederhana berwarna putih dengan model tertutup. Sepasang ayah dan anak itu melangkah diatas aisle dengan penuh penghayatan diiringi petikan piano yang terdengar begitu syahdu mengantarkan keduanya menuju altar.
Senyum cerah terpatri begitu indah diwajah kedua mempelai yang akan dipertemukan dihadapan sang penghulu nikah.
Willi benar-benar tidak bisa memalingkan pandangannya barang sejenak begitupun dengan para hadirin yang menjadi saksi pemberkatan keduanya.
William dengan tuxedo hitamnya terlihat begitu menawan. Mata birunya menatap dalam wanita dengan balutan gown yang tampak begitu mempesona bersama sang ayah yang kini memberikan genggaman tangan Hanna untuk ia gantikan.
Semburat sedih juga kebahagiaan bercampur jadi satu tatkala William mengulurkan tangan dan menggantikan tempatnya untuk kemudian membawa sang putri naik keatas altar. Hati pria tua itu seakan tak rela melepas anak perempuannya dimiliki oleh pria lain.
"Aku mengantarkannya padamu untuk kau jaga sebaik dan sekuat yang kau bisa, jangan sakiti hatinya. Hiduplah dengan penuh kebahagian serta keberkahan." Pesan dalam yang terucap dari bibir pria tua dihadapannya. Sebuah anggukan Willi lakukan untuk meyakinkan bahwa ia bisa dan sanggup menerima amanat yang diberikan kepadanya.
▪▪▪▪▪
Pemberkatan berjalan sebagaimana mestinya, begitu khidmat dengan para saksi yang dihadiri oleh keluarga keduanya.
Tidak ada adegan deep kiss yang biasa terjadi diacara pemberkatan karena Hanna tak mau melakukannya dan hanya sebuah kecupan di dahilah yang Willi berikan sebagai simbol atas kepemilikan dirinya.
Pelukan hangat langsung William dapatkan dari Melati kala dirinya baru saja turun dari altar. Terasa begitu dalam dengan lelehan air mata yang membasahi pipi wanita tua itu. Ia tak menyangka jika anak yang ia asuh dengan segala kekurangan yang ada pada akhirnya akan menemukan kebahagiannya dengan menikahi cinta pertamanya.
Ya, cinta pertama dan Melati baru mengetahui itu setelah William menceritakan kepadanya bagaimana awal mula ia menyukai, melupakan, menghilang dan pada akhirnga bisa kembali bertemu dengan wanita yang sama disaat pikirannya kacau dan terpuruk.
Acara pemberkatan pernikahan keduanya terbilang cukup private karena hanya keluarga mereka yang menjadi saksinya. Keluarga inti dan juga para penduduk desa yang sengaja Willi hadirkan untuk momen sakral dirinya bersama Hanna.
Tidak ada pesta mewah bak putra dan putri penguasa, hanya acara makan malam diwaktu sunset yang akan memberikan kesan intim sesuai dengan momen bahagia mereka.
Seluruh pasang mata yang hadir menatap penuh kekaguman kepada sosok pria yang selama ini menjadi big bos mereka yang jelas belum pernah mereka ketahui wujud aslinya selain orang-orang yang bersangkutan.
Kehebohan pun sontak terjadi dari para tamu undangan wanita saat William menaiki mini stage untuk memberikan sambutannya.
"Jadi ini bos kita? ...
"Sumpah! maakkk ...
"ya ampun ...!!!
"Unbelieveble ...
"Ganteng banget! ...
"Ternyata wujud aslinya begini!...
Begitupun dengan tiga orang super kepo yang sebelumnya sudah diwanti-wanti oleh Natali untuk tidak membuat malu, merekalah Mega dan Annet juga satu lagi seorang wanita dari divisi marketing yang duduk bersama dalam satu meja.
"Mbak Megaaa ... aku juga mau dong punya yang gitu!." Rengeknya sembari terus meremas tangan Mega yang duduk disampingnya.
"Kamu tu gak inget sama Jaden!." Natali menepuk pundak Annet yang semula membayangkan bagaimana jika dirinya bersanding dengan si tampan milik Hanna.
"Emang ganteng banget ... " Mega tak berkedip, pandangannya seolah tersihir oleh pesona pria dengan tuxedo hitam yang kini tengah berdiri didepan sana.
BEGITU MENYILAUKAN mata - mata lapar para wanita.
William dan Hanna saling mengeratkan genggaman tangan saat mengakhiri acara santap malam bersama yang mereka adakan untuk menjamu para karyawan yang hadir. Tidak ada kolega bisnis didalamnya seperti yang pernah disebutkan oleh sang nenek kepada Hanna sebab William tidak ingin pernikahannya menjadi konsumsi mereka yang tidak perlu mengetahui statusnya, baginya cukup para karyawan saja yang notabennya adalah orang-orang yang telah bekerja untuknya. Terlebih lagi acara ini juga menjadi momen perkenalan dirinya kepada mereka yang belum pernah sekalipun mengetahui wujud asli dari pria yang selalu mereka panggil dengan sebutan 'bos'.
Berakhirnya acara malam itu tak lantas membuat kasak - kusuk diantara para karyawan ikut berakhir begitu saja terutama si ratu gosip, Mega.
"Kamu sih asal aja jual diri cuman buat hal yang gak pasti!." Ucap Natali mengatai Mega yang rela menjual harga dirinya demi bisa dikenalkan oleh Steven. Paling tidak ia bisa melihat secara langsung si tampan yang membuatnya begitu penasaran.
"Sialan emang tu playboy!." Geram Mega sembari memukul stir mobilnya saat tengah melaju.
Sedangkan Annet hanya bisa memeluk lengan sang kekasih, Jaden yang kini tengah duduk dibalik kemudi untuk mengantarkannya pulang.
○☆○☆○
Hanna dan juga Willi masih betah berkumpul bersama Melati dan juga para penduduk desa yang tak lama lagi akan kembali pulang setelah menginap beberapa hari untuk menghadiri pernikahan anak mereka. Ya, William adalah anak mereka bersama, karena pria itu diasuh sedari bayi oleh orang-orang yang kini ada bersamanya.
"Kami senang bisa melihat mu menjadi bagian dari hidup anak ini."
"Awalnya kami hanya bisa pasrah saat melihatnya tumbuh dengan jalan yang salah karena itu juga termasuk dari kelalaian kami dalam mendidiknya."
"Tapi saat Melati menceritakan kisah cinta anak ini disitu hati kami terus mengucap syukur untuknya. Tuhan tidak pernah membiarkan kebaikan sekecil apapun tanpa sebuah balasan. Mungkin saat ini waktunya dia memetik hasil dari kebaikan itu, hal baik yang telah ia tanam sebelumnya."
Satu persatu dari mereka mengutarakan apa yang kini tengah mereka rasakan. Suatu keberkahan bagi mereka karena saat itu Melati memilih untuk merawat William ketimbang menyerahkannya kepada pihak berwenang yang nantinya justru akan menimbulkan kontro versi lantaran keberadaan mereka yang ilegal.
"Bayi merah dengan potongan tali pusar yang masih tampak basah itu ditinggalkan begitu saja dalam sebuah kardus bekas berbalut selembar kain tanpa susu. Kami bahkan tidak berani menyentuhnya karena rupanya yang terlihat asing." Ucap Sinta, salah satu penghuni desa tempat Hanna pernah mengasingkan diri.
"Sejujurnya aku ingin sekali menanyakan hal ini.." Hanna sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?. Katakan saja, kami akan memberitahu mu gratis tanpa biaya." Jawab salah satu dari mereka dengan sebuah candaan.
"Katakanlah, karena pada dasarnya tidak ada rahasia diantara kami semua."
"Mengapa Melati dan kalian tinggal secara terpisah?."
Yang disebut terkekeh sejenak, ia lalu menatap punggung lebar William yang baru saja berdiri meninggalkan mereka untuk memesan sesuatu.
"Aku tidak ingin berada jauh darinya. Bagi ku melakukan perjalanan enam jam dengan kereta untuk bertemu dengannya merupakan sesuatu yang amat berat, begitupun dengan pesawat karena aku takut ketinggian. Untuk itu aku memilih menetap ditempat kumuh yang pernah kau datangi bersamanya." Jelas Melati dengan senyuman.
****
Langit malam terasa begitu indah dengan taburan bintang yang tampak berkelip diatas sana.
Mereka saling berebut menceritakan masa kecil William yang tidak pernah Hanna ketahui atau bahkan juga pria itu sendiri. Gelak tawa pun tak pelak memenuhi tempat mereka berada.
▪▪▪
"Jadi kau belum pernah sekalipun melakukannya dengan seorang wanita?."
Kalimat itu menyeruak begitu saja saat dengan gamblangnya William mengungkapkan mengenai rasa penasarannya terhadap tubuh wanita dan berakhir dengan diusirnya kedua mempelai itu dari perkumpulan mereka untuk segera menuntaskan rasa penasaran yang diderita oleh si pengantin pria.
"Tapi aku masih harus menahannya tiga minggu lagi!." Teriaknya diambang pintu dengan penuh kekesalan hingga membuat tawa mereka pecah secara bersamaan.
▪
▪
▪
tbc.