
Drrrrtttt-- drrrrttt—
Ponsel Edward menerima panggilan masuk.
Tidak ada jawaban.
Ponselnya terus bergetar selama beberapa saat. Benda berdebu itu berhenti bergetar. Lima menit kemudian, layar ponsel menyala dan mulai bergetar lagi. Edward yang sedari tadi duduk meringkuk di atas ranjang, di samping ponsel tersebut, mengulurkan tangannya.
Ia menghela napas,“Kenapa?’
“Kok belum sampai di sekolah? Udah jam segini! Nanti telat, lohhh.’ Suara anak perempuan di seberang sana tidak mengubah ekspresi wajah Edward.
“Aku nggak berangkat.’ katanya singkat. Ia bisa mendengar helaan napas lawan bicaranya,
“Kenapa?’ jawab Arashi setelah hening sesaat.
Edward tersenyum lebar, “Nggak apa-apa,’
Arashi menjauhkan ponsel dari telinganya, pembawaan Edward berubah dalam sekejap. Sebelumnya ia murung dan lesu hingga Arashi menerka kalau ia baru saja bangun, namun kemudian Edward menjadi ceria dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Apa Edward bisa membaca isi hatinya?
“Yaudah, belajar di rumah aja. Bentar lagi kita UTS, jangan lupa!’ Arashi melangkah masuk ke dalam kelas. Kelas yang ribut membuat Arashi tidak dapat mendengar jawaban Edward. Ia harus menutup telinga sebelah kanannya agar bisa tetap terhubung dengan Edward.
“Hah? Apa—apa? Ulangin, aku nggak denger!’ Arashi sedikit meninggikan suaranya.
Seorang anak laki-laki melompat di depannya, ia terjun dari meja di samping Arashi. Alih-alih mengomel, Arashi mengangguk-angguk dan mengambil jalan memutar.
“Ohh iya, iya. Iya nanti aku kasih catetan kemarin,’
“Kok yang kemarin? Yang hari ini! Aku tunggu pas udah pulang,’Yoo melompat ke pangkuan Edward dan membenamkan diri disana. Edward tidak keberatan dengan tindak-tanduk hewan berbulu lembut dengan warna hitam-putih tersebut.
“Yuk, Yoo. Kita belajar, kita balap nilai-nilai Arashi.’ seru Edward, malas.
Saat Arashi belajar di sekolah, Edward pun belajar di kamarnya. Ia tidak beranjak dari kursinya seperti Arashi yang tidak meninggalkan kelas saat istirahat. Peringkat keduanya memang sengit. Arashi selalu berada di peringkat pertama, dan Edward di peringkat kedua. Peringkat itu tidak pernah berubah selama dua tahun, padahal keduanya baru berteman sejak delapan bulan yang lalu.
Tak terasa, sudah pukul lima. Seseorang mengetuk pintu rumah keluarga Edward. Edward sudah menerka kalau itu adalah Arashi, karena itu ia tetap tidak beranjak. Tidak dibuka olehnya pun tidak lama lagi Arashi akan sampai di kamarnya.
“Ed, ada Arashi, tuh, di sofa depan. Dia mau ngasih catatan katanya. Sana samperin, ajak makan sekalian kalo mau,’ sang Ibu memanggilnya dari luar kamar.
Oh iya, Arashi tidak akan masuk ke dalam kamarnya. Bagi perempuan itu, hal seperti memasuki kamar pria bukan hal yang sopan. Karena itu ia tidak mau memasukinya walau sang pemilik kamar memberi ijin.
Edward keluar sambil menggendong Yoo di lehernya, Kucing bercorak hitam putih itu tidak melawan kehendak sang pemilik, karena ia sendiri menikmatinya. Di depannya, Edward melihat Arashi yang sedang duduk di sofa, memainkan ponselnya.
“Kamu udah makan, Rashi?’ Edward duduk di depan Arashi.
Perempuan itu tersenyum lebar, “Blum, tapi aku nggak mau makan dulu. Nggak keburu pulangnya nanti. Mama lagi ada urusan jadi aku harus pulang naik angkot.’
“Nanti aku pesenin ojek online, makan dulu, yuk! Aku juga belum makan dari pagi.’
“Bener? Kalo nggak di pesenin, aku nggak ngasih catatannya, loh?!’ ancam Arashi. Edward bangkit sambil mengangguk-angguk. Memimpin Arashi menuju dapur rumahnya yang cukup besar.
Sekarang keduanya sudah duduk. Arashi tentu saja masih mengenakan seragam putih abu-abu miliknya sedang Edward mengenakan baju putih dan celana pendek. Suara yang dihasilkan dari bertemunya sendok dan piring memenuhi ruangan ini.
Edward menyuap dan menahannya di dalam mulut, “Tadi di sekolah ada apaan?’
“Nggak ada apa-apa, kelas adem ayem kayaknya kalau ada aku.’ Arashi tertawa.
“Ntar aku bikin jadi nggak adem ayem lagi,’
“Nggak akan bisa. Omong-omong,’ perempuan itu memberi jeda sejenak.
“Kenapa kamu nggak masuk tadi? Nggak makan dari pagi lagi! Kalo nggak sekolah, harusnya tetep sarapan. Bahkan, makan siang juga.’ makanan di piring Arashi sisa sedikit sekarang. Sementara itu, Edward justru pergi meninggalkannya dan memberi makan Yoo. Ia yakin, makan Yoo pasti lebih banyak dari majikannya, ia pasti lebih rajin. Majikannya pun lebih rajin memberi makan peliharan miliknya alih-alih memberi makan jasmaninya sendiri.
Tidak heran jika Yoo lebih gemuk dan berisi dibandingkan majikannya.
“Rash, ntar aku anter aja, ya. Nggak jadi pesen ojek onlinenya. Aku lupa kalau aku juga bisa naik motor. Hehe.’ Edward kembali duduk di hadapannya dan makan. Arashi mengangguk tanda setuju. Tidak ada obrolan lagi diantara keduanya sampai Edward menghabiskan makanannya.
“Mana catetannya, Rash?’ tanya Edward saat bahu mereka beriringan menuju sofa di ruang depan.
Arashi menunjuk dengan jarinya, “Di tas.’
Ia berkata lagi, “Catatan yang kemarin kan?’
Edward membalasnya dengan cubitan di kedua pipinya, “Catatan hari ini, lah! Hari kemarin mah ngapain di catat-catat segala.’
Tidak berlama-lama, setelah Arashi kenyang, keduanya segera meluncur di jalanan. Edward berjanji akan mengembalikan catatan Arashi dalam waktu dua hari. Kalau ia terlambat, maka hal yang bisa Arashi lakukan hanya menunggu. Menunggu kembalinya catatan itu. Padahal, perempuan itu tidak akan berbuat sebodoh itu.
Saat Edward telat mengembalikan buku miliknya, biasanya Arashi akan menagihnya setiap hari. Sampai buku itu kembali jatuh ke tangan sang pemilik. Edward sudah sering meminjam catatannya. Setiap kali ia meminjam catatan, selama itu juga Edward tidak pernah mengembalikannya dalam waktu yang sudah di tentukan. Bahkan kali ini pun mungkin akan lebih lama karena pelajaran yang akan disalinnya adalah Fisika.
Arashi tidak suka berdiam diri dan menunggu bukunya di kembalikan. Karena, jika begitu, Edward tidak akan rajin belajar dan ia tidak mempunyai saingan lagi.
Edward bilang, ia suka catatan buatannya karena tulisan Arashi indah. Sayang, tulisan indah Arashi selalu berubah setiap catatan itu kembali ke tangan pemiliknya. Itu karena yang dipinjami selalu mencoret-coret catatannya. Arashi sudah sering mempermasalahkannya.
Saking seringnya, ia sampai bosan dan membiarkan Edward melakukan semaunya. Yang penting, Edward yang disukainya itu rajin belajar dan ia mempunyai saingan.
“Rash, ntar mampir ke taman dulu, yuk?’ Edward berkata sambil mengemudikan motornya.
“Hah? Apaan?’ Arashi mendekatkan wajahnya ke bahu temannya.
“Ntar mampir ke taman dulu mau nggak?’
“Taman? Yang baru apa yang lama?’ tanyanya lebih lanjut.
“Terserah, maunya yang mana?’
Arashi terdiam, di taman lama ada banyak nyamuk karena sampahnya berserakan, kalau taman yang baru panas karena pohonnya hanya ada di pinggir-pinggir, batin Arashi.
“Iya, ntar aku anter sampai tempat bimbel.’
Selama delapan bulan keduanya saling kenal, sudah berpuluh-puluh kali mereka pulang bersama. Namun, sangat jarang keduanya pergi ke tempat seperti itu bersama dikarenakan jadwal Arashi yang padat.
Berbeda dengan Arashi, jadwal Edward justru tidak begitu padat. Hanya sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah dan hobi, itupun sesekali. Beberapa kali Edward jenuh karena Arashi benar-benar susah diajak membolos, dari sekolah maupun bimbelnya. Tapi Edward sadar dirinya bukan siapa-siapa.
Sesampainya disana, sang pengemudi memarkirkan motornya. Arashi segera melihat arlojinya begitu turun, namun, dihalangi oleh temannya.
“Jangan diliat, nggak bakal telat kok.'
“Kalau telat, kamu mau tanggung jawab?’ kata Arashi, sewot. Ia menepis tangan lembut laki-laki itu lalu kembali melihat arlojinya.
“Mau,’ gumam Edward pelan, ia memerhatikan gadis kecil dihadapannya. Dia pasti tidak mendengarkan suaranya.
“Okay, kita berdua punya waktu sekitar tiga puluh menit,’
“Tiga puluh menit sebelum aku sampai di tempat bimbel. Yang artinya, kita punya waktu sepuluh menit buat duduk-duduk disini.’ lanjut Arashi.
Gadis ini benar-benar puas dengan manajemen waktunya, batin Edward.
Arashi mulai melangkah menjauh. Selama melangkah, ia pikir Edward masih ada di belakangnya. Namun, tidak ada suara apapun. Perempuan itu menoleh, ia melihat Edward masih ada di parkiran. Jarak mereka sekitar dua meter lebih sekarang. Selain mereka berdua, di taman itu juga ada banyak remaja berseragam putih abu-abu yang sedang berkumpul dengan temannya atau sekedar berjalan-jalan di sekitar taman ini.
“Ngapain? Ayo, jadi nggak?!’ panggil Arashi.
Edward tersadar dari lamunannya, “Iyaaa!’ teriaknya dengan suara yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya sudah puber.
Bahu keduanya sudah beriringan sekarang, keduanya hanya berjalan saling mengikuti satu sama lain. Sampai mereka tiba di persimpangan,
“Mau kemana?’ tanya perempuan itu.
“Terserah, aku ngikutin kamu.’ jawab temannya.
“Lho? Aku ‘kan ngikutin kamu!’
Edward heran, “Tapi aku ngikutin kamu daritadi.’
“Ah, tau ah, buang-buang waktu doang. Ayo, anter aku ke bimbel.’ Laki-laki itu memandang gadis yang disukainya berpaling dan berjalan ke arah sebaliknya.
Angin berhembus cepat, menerbangkan daun-daun kering di jalanan yang tampak bersih itu. Jalanannya sangat cocok untuk berjalan tanpa alas kaki dan bangunan-bangunan di sekitar taman pun mempunyai interior yang bagus.
Edward mendongak, menatap langit seakan mencari jawaban.
“EDWARDDD!!!!’ teriak Arashi nun jauh disana.
“Iya, iya. Sebentar.’ tubuh jangkung dan kurus Edward berlari menghampiri sumber suara. Rambut hitam pekatnya melambai-lambai diterbangkan angin.
“Tinggal dua menit lagi. Yuk, pulang.’ perempuan itu berkata sambil memerhatikan arlojinya. Kini Edward sudah berada di sisinya.
“Ada yang mau aku omongin,’
“Besok aja di sekolah,’ Arashi kembali melangkah.
“Bisanya sekarang.’ Edward diam di tempatnya.
“Ck! Oke, aku dengerin.’ Ia kembali mendekati Edward. Walau Arashi menyukai lelaki di hadapannya, namun laki-laki itu tidak mempunyai tempat di daftar prioritasnya. Ia bilang ia akan mendengarkannya. Namun, ia tidak benar-benar mendengarkannya. Pikirannya terus melayang ke arloji dan bimbelnya. Memang bukan masalah besar untuk telat beberapa menit, namun, ia takut menunda-nunda waktu akan menjadi kebiasaannya. Jadi, dirinya benar-benar menghindari hal itu.
“Aku…,’ Edward membuka suara.
Pikiran Arashi tidak tertuju padanya, ia berpikiran seperti ia akan masuk neraka jika terlambat enam menit. Mungkin karena dirinya selalu datang lebih awal sebelum jam masuk, jadi terlambat lima menit bukan hal yang biasa baginya. Lagipula, kenapa Edward tidak bisa besok saja bicaranya? Atau ia bisa memberitahunya lewat pesan instan. Tidak harus sekarang!
Angin kembali berhembus menerbangkan daun-daun kering.
“Aku, suka kamu,’ Edward mulai berhasil menarik perhatian gadis yang disukainya.
“Ayo jalanin hubungan yang lebih dari sekedar teman, mau nggak?’ Edward menatap penuh mata coklat dan jernih milik Arashi.
Hening menyelimuti keduanya.
Pikiran Arashi kosong, ia tidak tertuju kemanapun. Arashi benar-benar kosong. Walaupun ia menyukai Ed, namun ia tidak yakin apakah perasaan itu akan bertahan lama atau tidak. Ia takut akan mengecewakannya. Lagipula, keduanya baru mengenal selama tujuh bulan. Arashi belum benar-benar mengenal Edward, begitupun sebaliknya. Keduanya sama-sama belum melihat sisi lain dari masing-masing. Ia tidak kenal Edward, tidak dekat dengan orang tuanya, tidak pernah memerhatikan pergaulannya, dan selusin hubungan timbale balik lainnya. Ia hanya dekat dengan Yoo, kucing jantan peliharaan Edward.
Bagaimana kalau keduanya ternyata tidak cocok? Tentu saja, dirinya dan laki-laki itu bisa lebih mendekatkan diri lagi dan saling mengenal satu sama lain selama mereka menjalin hubungan yang lebih dari teman itu. Namun, tetap saja Arashi ragu. Bagaimana dengan bimbelnya? Manajemen waktunya sudah penuh. Ia sudah mengatur jadwal dari pagi sampai malam. Dan tidak ada tempat lagi untuk Edward.
Lelaki itu tidak ada di daftar prioritasnya, yang berarti akan sangat susah meluangkan waktu untuk Edward. Tapi, kalau memang seperti itu, kenapa ia bisa berdiri disini dan mendengarkan alih-alih berangkat Bimbel? Kenapa dirinya mau memberikan catatan itu alih-alih menyuruh Edward mengambilnya sendiri, kenapa ia menghubungi Edward saat lelaki itu belum sampai di sekolah pada waktu yang seharusnya? Ini berarti ia bersedia meluangkan secuil waktunya untuk Edward, tapi….
Melihat Arashi hanya diam, Edward menambahkan, “Aku tau aku nggak ada di daftar prioritas kamu. Aku juga tau kalau kita belum kenal lebih deket. Tapi, kita bisa survive. Aku tau betapa hebatnya kamu dan kamu juga tau aku. Itu udah cukup untuk sekarang. Gimana? Apa jawaban kamu?’
Atmosfer di sekeliling Arashi berubah saat temannya berkata begitu, apa ini artinya Edward bisa membaca kata hatinya? Bahwa lelaki itu mengenal baik dirinya? Tapi, kenapa ia tidak bisa mengenal Edward? Apa yang Edward pikirkan? Apa yang Edward rasakan? Kenapa ia tidak bisa turut merasakannya?
Perempuan itu tersenyum, “Aku jawab nanti,’
Ia memutar bola matanya ke atas, “Eumm, nanti malem aku kasih jawabannya. Eh, bukan! Pas sampai di tempat bimbel aku kasih tau jawabannya.’
Tanpa peringatan, Edward membungkuk lemas di hadapannya. Entah karena apa, hal ini membuat Arashi merasa bersalah.
“Ah, akhirnya aku bilang juga! Kirain nggak bakal kuat sampai kalimatnya selesai, ternyata cuman gitu doang. Lega! Tiga menit yang berlangsung lama!’ seru Edward mengebu-ngebu.
Perempuan itu tersenyum lega, ia terlihat sangat manis, “Yuk, anter aku. Pasti udah terlambat! Mau tau jawabannya nggak?’
Lelaki itu mendongak, menghadap Arashi. Mukanya merah. “Okay, yuk, kita berangkat bimbel.’