
“Seru ‘kan?’ hibur Edward.
Arashi tidak memberikan melainkan sebuah bola yang dilempar dengan kasar ke titik sasaran perut Ed. Arashi baru sadar dengan apa yang dilakukannya saat bola itu sudah pergi dari tangannya. Ia panic, takut-takut Edward terlalu lambat untuk refleks seperti itu.
Syukurlah tidak, Ed menangkap bola itu sambil masih tertawa. Arashi melangkah meninggalkan kekasihnya, di saat seperti itu ia mengerti betapa enaknya dibawakan minum dan sapu tangan. Ia tidak memiliki minum ataupun sapu tangan. Uangnya ada di dalam dompet yang berada di dalam tas yang juga tasnya berada di dalam kelas. Terlalu jauh. Jika ia harus mengambil uang yang berada di dalam dompet yang di dalam tas dan di dalam kelas maka ia harus ke dalam kelas sekarang. Pendeteksi energy di dalam tubuh Arashi mengatakan kalau ia tidak bisa melakukannya.
Biarlah, tidak lama lagi Edward akan datang dan membawakannya sebotol air mineral.
Arashi menjerit kaget saat Edward membawakan sebotol air mineral yang dingin dan menempelkan benda dingin tersebut ke pipi kanan Arashi yang berkeringat.
“Heh!’ tukas Arashi seraya mengrenyitkan alisnya.
Edward tertawa. Jika diperhatikan, Edward banyak tertawa hari ini. Arashi tidak tau apa alasannya. Edward laki-laki yang hangat dan lembut, ia jarang tertawa benar-benar lepas seperti sekarang. Rasanya baik, tetapi tetap saja sesuatu yang diluar kebiasaan akan menimbulkan suatu kecurigaan dan banyak pertanyaan.
Arashi bersumpah, ia akan menghajar siapapun yang membicarakan perubahan pada diri Edward. Jika ada yang membahasnya, ada kemungkinan Edward tidak akan melakukannya lagi.
“Edward.’ Panggil salah satu temannya, yang duduk tak jauh dari mereka. Arashi waspada, takut-takut laki-laki itu menanyakan hal yang ia hindari barusan.
“Apaan, Ren?’ sahut Ed, enggan beranjak dari tempatnya.
“Pacar lo, ya?’ tanyanya sambil menunjuk Arashi dengan sebuah botol.
Edward tersenyum, merangkul Arashi yang berkeringat dan dengan mantap mengatakan, “Iya! Lucu ‘kan?’
Gadis itu menyingkirkan tangan Edward dari bahunya, menjauhkan tubuh laki-laki itu dari tubuhnya. Keduanya berkeringat, sama-sama mengeluarkan bau, jadi Arashi tidak suka didekati dan tidak suka mendekati.
Sayang sekali, itu semua hanya ada di dalam pikiran Edward. Ia hanya tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Sekitar enam bulan yang lalu, Arashi menyuruhnya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Pun ia tidak akan mengatakannya. Artinya, mereka menjalani hubungan backstreet.
Edward duduk di samping Arashi dengan posisi yang sama. Keduanya duduk di tempat yang tidak panas, di bawah pohon, menyandar pada pagar kawat besi yang menjulang mengitari lapangan basket beserta tribun yang terbatas tersebut.
“Ed,’ panggil Arashi. Edward menoleh, melihat Arashi yang menatap lurus ke lapangan.
“Itu tadi siapa?’ tanyanya sedikit berbisik.
“Temen,’ Edward singkat.
“Bukan selingkuhan kamu? Dia orang Bogor kan?’ tuduh Arashi. mengerti dengan maksud ucapan kekasihnya, Ed menepis pelan kepala Arashi dengan telunjuknya.
“Nggak usah mikir yang nggak-nggak, dah, Rash.’ Laki-laki itu menggeleng, tak habis pikir dengan isi pikiran kekasihnya. Bagaimana mungkin ia menuduh dirinya penyuka sesama jenis, bahkan, ia mendukungnya.
Arashi tertawa dengan lepas. Ia puas menggoda Ed dengan godaan semacam itu.
“Dia Rendra, anak kelas sepuluh, sama kayak kita tapi dia kelas IPA. Aku sama kamu ‘kan, kelas Fisika.’ imbuh Edward.
“Kalau yang itu?’ Arashi mendekati Edward, mengambil posisi tim sepakbola saat mendiskusikan taktik permainan.
“Oh itu Aca, anak kelas sepuluh IPA. Dia sekelas sama Rendra dan tau nggak, katanya kemarin dia abis diputusin pacarnya,’ orang yang bersangkutan sibuk melamun memandang langit.
“Iya? Serius? Terus—terus, gimana?’ Arashi mulai masuk ke dalam obrolan.
“Ya, nggak gimana-gimana. Dulu dia LDR, nah nggak tau putus karena apa, tapi sekarang udah punya gantinya.’ Jabar Edward.
“LDR juga? Yang sekarang?’
“Iya! Tapi abis itu dia ribut sama mantannya. Nggak tau ngeributin apaan. Aku tau dari si Rendra juga! Mereka ‘kan sekelas, jadi Rendra lumayan deket sama dia.’
“Kalo Rendra? Dia gimana orangnya?’
“Ganteng nggak menurut kamu, Rash?’
Arashi mengangguk mantap sebagai jawaban.
“Emang ganteng, tapi sering diphpin! Dia sering diphpin sama perempuan yang bahkan nggak cantik-cantik amat. Ntah seleranya yang anti-mainstream atau emang gimana, pokoknya aku aja kaget pas tau Rendra sering diphpin.’
“Masa, sih?! Kamu tau darimana kayak gimana perempuannya?’
“Oh, aku udah ngecek sendiri di akun sosmednya. Dia nggak cantik, tapi perempuan yang baik. Aku nggak tau kenapa si Rendra sering diphpin. Kalo lagi bareng sama anak laki-laki yang lain dia biasa aja. Suka bercanda, seru diajak ngobrol, santai, pembawaannya juga nggak ngebosenin. Tapi, ya, itu.’
Arashi mengangguk-angguk sambil menari. Trilili lili lili lili(baca:nada burung kutilang). Tidak! Arashi mengangguk tanda mengerti, “Tiap orang ‘kan punya kelebihan sama kekurangannya masing-masing!’
“Bener! Kalo aku, kelebihan aku apa?’ tanya Edward bersemangat.
“Eumm, kalo kamu nggak punya kelebihan!’
“Oooh gitu, jadi nggak punya kelemahan juga, ya. Sip! Emang, ya, aku itu hebat banget. Ternyata diem-diem aku hebat.’
Hebat kok diem-diem, AKU yang mau diem-diem pergi dari sini, batin Arashi.
Keduanya tidak hanya istirahat, tetapi juga melakukan pendinginan. Sebab baik Arashi maupun Edward, keduanya mengundurkan diri dari permainan. Beruntung kedua tim tersebut menjadi tidak kekurangan anggota lagi. Mereka melanjutkan bermain, seakan haus akan tinggi badan. Padahal, tinggi mereka sudah lebih dari cukup jika menuruti standar Indonesia.
“Eh, tapi Ed, kamu tau darimana cerita-cerita tentang mereka?’ Arashi curiga Ed adalah penyebar gossip nomor satu di sekolahnya. Karena di sekolah ini, tempat Arashi dan Edward menempuh pendidikan, sedang ramai rumor tikus yang berhasil kabur dari lab percobaan. Kasus ini sedikit tidak sesuai dengan analogi yang mereka buat. Karena, yang dimaksud adalah ada seorang informan yang membocorkan rahasia beberapa orang, sehingga rahasia itu bukan lagi rahasia, bahkan rahasia itu sering kali menjadi topik terhangat di sekolah itu.
Tentu, analogi tikus yang berhasil kabur keluar dari lab percobaan, sangatlah tidak cocok. Mungkin maksud murid-murid adalah tikus itu keluar dan membeberkan apa saja yang ada di dalam lab. Sama seperti informan tadi membeberkan rahasia-rahasia beberapa murid.
Tapi, analogi itu menimbulkan kesan bahwa informan-informan tersebut lain tidak dan lain bukan adalah orang-orang terdekat dari si korban.
“Oh, kan aku sering ke perpus. Dengerin lagu-lagu klasik sambil nyoba tidur, nah, waktu itu ada dua atau tiga perempuan yang ngebahas masalah ini.’ Tutur Edward.
Arashi mengangguk lagi, hal itu tidak berbeda jauh dari dirinya. Ia pun mendengar semua gossip tersebut dari Tiara dan Bunga.
“Udah, deh. Jangan ngomongin orang mulu. Keterusan nanti.’ Ajak Arashi.
“Jadi, gimana Ibu kamu?’ Arashi mengalihkan topik yang satu ke yang lain, yang intinya adalah membicarakan perihal orang lain.
“Gimana apanya?’ kata Edward sembali meneguk air mineral.
“Kamu masih sering nyeritain soal aku ke Ibu kamu?’ desah Arashi, ia heran mengapa Edward tidak segera mengerti maksud dan niat tersembunyi Arashi saat mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan Ibu Ed.
Tidak ada jawaban lagi.
Air muka Arashi berubah. Rasa khawatir, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Edward yang melihatnya buru-buru menambahkan, “Eh, tapi, ada perkembangan kok, Ibu udah nggak nanyain Sari lagi.’ hiburnya.
“Really?’ rajuk anak perempuan di hadapannya. Edward mengangguk lalu meletakkan botol air mineral di dekat Arashi.
Netra Arashi kembali berbinar-binar saat menerima jawaban tersebut, sedang Edward semakin khawatir. Takut-takut Arashi menaruh harapan banyak pada jawaban itu.
“Yuk, ketemu sama Ibu. Pulang lebih awal,’ ajak Edward.
“Emang boleh? Walaupun jamkos tapi, kan, Bu Dini nggak bilang kalau kita boleh pulang.’ Arashi sedikit mendongak untuk bisa melihat mata Edward, anak laki-laki itu sudah berdiri.
“Kan dia nggak bilang kalo kita nggak boleh pulang,’ tidak hanya mendongak, ia juga menyipit untuk bisa melihat netra Ed. Padahal, walau ia menyipit pun ia tidak bisa melihatnya.
Ed berdiri di depannya, memunggungi teriknya matahari.
Arashi heran, ketika Edward mengatakan hal itu, ia masih bisa melihat seonggok keringat yang terjun bebas di dahi laki-laki itu.
“Berarti izin dulu?’ jawab Arashi, polos. Laki-laki di hadapannya heran, ia tidak tau kepribadian mana yang mengendalikan si nomor satu, sampai hal seperti itu pun harus ditanyakan terlebih dahulu.
“Ya iya,’ Ed memasang wajah datar yang sia-sia. Arashi tidak bisa melihatnya, ia menangis sekarang pun Arashi tidak akan menyadarinya karena cahaya ini.
“Yaudah, yuk.’ Arashi memulai ancang-ancang untuk bangun. Ia kembali duduk pada detik berikutnya.
“EDDDD,’ teriak Arashi memanggil Edward yang sudah berlalu lebih awal. Laki-laki itu membalikkan badan.
“Aku nggak bisa bangun,’ jelasnya. Arashi melihat Ed yang menghampirinya dengan berlari-lari kecil.
“Kok bisa?’ ia berlutut di depannya dan memperhatikan kaki Arashi.
“Nggak tau! Ed, gimana ini. Aku nggak bisa bangun!’ rengek anak perempuan itu, wajahnya memerah.
“Haaaah, kamu pura-pura doang kan? Biar aku gendong?’ tatapan mata itu membangkitkan gairah untuk menempeleng laki-laki itu. Arashi yakin, setiap orang yang melihatnya pun akan berpikiran hal yang sama.
“Serius, nih, lihat!’ dengan susah payah Arashi mengulang hal yang tidak dilihat oleh Ed sebelumnya. Saat melakukan itu ia menyadari, seberapa keras dan banyak rasa sakit yang menimpanya kala melakukan itu, semua orang yang melihatnya memang akan mengira kalau dirinya hanya berpura-pura. Dari luar, tidak ada yang aneh pada cara Arashi berdiri, tapi Arashi sendiri, ia merasakan sakit yang amat sangat dan segera jatuh dalam waktu tiga detik.
Edward bingung, di penglihatannya hal itu terlihat normal dan biasa saja. Cara Arashi jatuh pun seperti dibuat-buat.
“Rasanya kayak gimana?'
“Kesemutan banget. Kaku pas dipakai buat bangun sama keram waktu aku bener-bener berdiri!’
Edward berpikir sesaat, lalu menghela napas panjang. Pasrah. Ia bisa saja pergi ke UKS dan mengambil tandu, namun itu berlaku jika Arashi perempuan biasa. Ed kekasih Arashi. Ia harus menggendongnya. Karena ia bukan perempuan biasa di hidupnya.
Ia mendengkus pelan, “Sini aku gendong.’ Detik berikutnya Ed berjongkok di depan Arashi. Arashi diam sejenak, berpikir dua kali untuk naik ke punggung laki-laki di depannya. Ia takut pemandangannya tidak akan enak dilihat. Badan Arashi lebih gemuk daripada badan Edward yang kurus, pemandangannya pasti buruk. Tapi, digotong dengan tandu jauh lebih buruk lagi.
Ia tidak punya pilihan, dengan terpincang-pincang ia menaiki punggung Ed. Punggung yang pernah basah oleh keringat dan sudah kering lagi. Merasa tersiksa saat mengingat keringat itu, ternyata memang lebih baik pakai tandu tadi, batinnya.
Selama perjalanan menuju UKS, yang beruntungnya tidak perlu mendaki anak tangga, Edward lama-kelamaan menyadari apa penyebab dari kejadian yang menimpa Arashi. Hal itu dikarenakan Arashi tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum ikut bermain. Tidak hanya itu, ia juga tidak meluruskan kakinya setelah bermain. Mungkin peredarannya tersendat, mungkin ototnya menegang. Entahlah, ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tapi syukurlah tidak ada yang parah dari semua itu.
Berulang kali Edward membenarkan gendongannya selama perjalanan. Hal itu dikarenakan cara menggendongnya yang salah. Arashi menyadari hal itu, Edward menggunakan cara yang salah saat menggendongnya sekarang. Tapi Arashi juga tau apa penyebab Edward melakukan kesalahan.
Seharusnya, Edward menaruh kedua tangannya di bawah bokong Arashi, menahan agar Arashi tidak merosot ke bawah. Tapi alih-alih melakukan itu, Edward justru menaruh kedua tangannya di paha belakang Arashi. Hal itu tidak hanya salah tapi juga membuat Arashi merasa tidak nyaman. Mungkin ia harus mengajarkan Ed cara menggendong yang benar di saat yang lain. Saat kakinya tidak cedera dan saat spotnya mendukung.
Anak perempuan itu terus menunduk selama perjalanan, enggan mengetahui apakah siswa-siswi lain ada yang melihatnya. Sejak detik pertama ia berada di atas punggung Ed, Arashi menutup matanya. Sekarang ia membuka kelopak yang menutupi netranya tersebut, perlahan-lahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah leher Edward. Ia mendapatkan pengetahuan baru kali ini, yaitu bahwa kekasihnya memiliki tahi lalat di bawah telinga, ukurannya kecil. Patutlah ia tidak pernah menyadarinya selama ini. Hal berikutnya yang ia lihat adalah, pipi bersih Edward dan sebulir keringat disitu.
Perasaan yang muncul kali ini adalah perasaan iri. Usia mereka sama tapi pipi keduanya jauh berbeda. Pipi Edward mulus, hanya ada satu goresan tipis bekas luka sewaktu kecil. Luka itu nyaris tidak terlihat, namun Arashi, pipinya dihiasi oleh bekas-bekas jerawat yang tidak kunjung hilang.
Keduanya sudah sampai di depan UKS dan berpapasan dengan dokter. Wanita itu--yang awalnya ingin keluar, kembali masuk ke dalam. Arashi ditanyai beberapa pertanyaan sambil dipijit perlahan. Karena tidak terbiasa, Arashi berkata kalau ia sudah mendingan. Ia harap dengan jawaban itu Dokter akan berhenti melakukannya.
Berhasil!
Tidak lama kemudian dokter meninggalkan Arashi dan Edward berdua di dalam ruangan. Saat itu, niat jahat Edward muncul.
“Rash, gimana kalo,’ Edward melangkah mendekati ranjang tempat Arashi berbaring.
“Apa?’ gumam Arashi. “Kalo apa?’
“Kalo….’ Edward menggantung kata-katanya.
“Apa?’ Arashi tidak terpancing, ia tau apa yang akan Edward lakukan selanjutnya. Edward sudah menyentuh ranjang Arashi dan tersenyum.
“Gimana kalo kita bolos, terus kaki kamu kita jadiin alasan?’ bisik Edward tepat di telinganya.
Anak perempuan itu mengrenyitkan alis, memandang marah laki-laki di depannya. Lama-kelamaan alisnya melemas. Dengan senyuman jahat yang dibuat-buat, ia menggosokan kedua tangannya. Mereka berdua saling menatap, menyeringai dan tertawa. Seakan itu rencana paling hebat dan dahsyat di abad kedua puluh satu ini.
Mereka melancarkan aksinya. Untuk pertama kalinya, Arashi pergi membolos. Saat sudah diluar gerbang ia berhenti, Edward duduk di atas motornya, menunggu gadis itu naik.
“Kenapa? Nggak bisa naik? Kakinya masih sakit?’ Edward menoleh ke arahnya.
Arashi menggeleng, “Apa nggak apa-apa? Nanti kalo Bu Dini telpon Ibu gimana?’ tanyanya khawatir.
Edward mendecak, keduanya sudah berada di luar gerbang dan Arashi baru mengatakannya.
“Ck! Nggak apa-apa, ayo, sekali doang juga. Jangan flat mulu!’ provokasi Edward.
Kaki Arashi masih enggan untuk melangkah, ia takut.
Yaudah, deh. Belum pernah juga. Petuah bilang, lebih baik mencoba daripada takut gagal, batin gadis itu.
Dengan senyum yang mengembang sempurna, Arashi menaiki motor tersebut.
Keduanya saling berteriak seraya motor itu menelusuri jalan raya. Ini pertama kalinya anak perempuan itu keluar saat jam pelajaran. Pertama kalinya ia melihat jalan raya dan aktifitas manusia pada jam-jam segini diluar hari libur. Baginya, ini hal yang luar biasa. Begitupun bagi Edward. Untuk pertama kalinya, keduanya membolos. Ini benar-benar yang pertama. Dan mereka tidak mengetahuinya, bahwa ini juga akan menjadi yang terakhir.