SAVE ME

SAVE ME
Tiga



Tak butuh waktu lama. Tiga hari berselang. Dua dari tiga sahabat Arashi sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Ed. Jika bukan karena itu, ia tidak akan berakhir disini. Bagai telah mencuri roti dari toko roti, begitu memasuki kelas, kedua sahabatnya menghampiri meja Arashi dan membawa ke belakang sekolah untuk diinterogasinya disana. Edward tidak mengetahui hal tersebut. berandal itu berangkat siang sehingga ketinggalan topic terbaru pagi ini.



Tiara dan Bunga menginterogasinya. Menanyakan sejak kapan, bagaimana keduanya bisa seperti itu, apa ada ‘kecelakaan’, mengapa Edward dan mengapa ia tidak memberitahu sahabatnya itu.



Arashi menjawab semuanya dengan lugas. Seperti kue ulang tahun yang terlalu banyak krim, ia juga sangat sedikit memberikan fakta. Dirinya lebih banyak berbohong dan mencari alasan yang baik untuk diungkapkan. Anehnya, Bunga dan Tiara tidak menyadari hal itu. Mereka mempercayai semua perkataan yang keluar dari mulut Arashi, sahabatnya. Disitulah Arashi merasa bersalah, tapi toh, dia hanya menghiasi dan menambah-nambahkan sedikit bumbu pada kenyataan yang sebenarnya. Ia tidak berbohong karena ia tidak mengubah fakta yang sebenarnya,



Sederhana saja, saat Arashi sampai pada pertanyaan terakhir, ia menyampaikan alasan yang sederhana.



“Aku baru saja ingin memberitahukan ini pada kalian.”



Mereka ragu sejenak, mencari tuduhan lain untuk menyalahkan sahabatnya yang satu itu, namun tidak menemukannya. Pertanyaan seperti kenapa tidak memberitahukan mereka setelah keduanya jadian hanya akan menjebak mereka. Arashi pasti akan menjawab begini, waktu itu masih aku pikir-pikir dulu soalnya aku sama Edward itu sekelas, tapi kemarin kalian bilang kalau aku punya orang yang disuka, aku harus bilang.



Bunga menambahkan takut-takut, “Bukannya … dulu sempet ada desas-desus kalo Sari suka sama Edward, ya?’



Tiara mengangguk, “Iya, emang. Tapi Sari belum nyatain perasaannya ke Edward,’



Arashi mengrenyitkan alis, “Kapan? Kok aku nggak tau? Kalian nggak bilang?’



“Lho? Arashi nggak tau? Heboh banget padahal, lho! Tapi yaudah, udah lama ini kok. Sekitar berapa bulan lalu, ya, eum---‘ Tiara mengingat-ingat.



“Tiga bulan lalu, sebelum liburan tengah semester,’ timpal Bunga.



Tiara menepuk tangannya, “Nahhh!’



“Gimana, Rash? Kapan mau ngasih tau Sari?’



“Nggak tau. Aku pikirin dulu coba,’ bingungnya. Ia menggigiti kuku jari tangan kanannya.



“Mau kita bantu ngasih tau ke dia?’ Bunga menawarkan.



Arashi menggeleng, “Jangan. Biar dia denger langsung dari aku.’ Itu adalah akhir dari interogasi mereka. Arashi akan coba membicarakannya dengan Edward, namun, ia selalu mengundur-undurkan waktunya.



Saat di sekolah, di rumah, di taman, bioskop, bahkan kantin sekalipun, Arashi selalu mengundur-undurkannya. Padahal, ia bertemu Edward dimanapun. Namun, rasanya seperti ia tidak punya waktu untuk membahasnya atau karena ia tidak berani membahasnya.



Sebulan berlalu dengan cepat dan musim belum juga berganti. Saat itu, Arashi dan Edward pulang bersama ke rumah Edward. Ia kesana untuk mengambil buku catatan pelajaran kimianya yang dipinjam Ed beberapa hari lalu. Kali ini Arashi tidak makan disana karena Ibu Ed sedang tidak enak badan. Jawaban yang konyol, kalau diteliti lebih dalam, sepertinya tidak ada hubungan antara Ibu Ed yang sakit dengan makan. Saat itu ia sedang blank, sehingga ia menjamah apapun yang terlewat di pikirannya.


Jika bisa, ia ingin disana lebih lama. Ia ingin berada di sisi Ibu Ed untuk beberapa lama. Pasti menyenangkan mempunyai anak perempuan saat sedang sakit. Sedangkan di keluarga Ed, hanya Ed anak satu-satunya. Jadi bisa dibayangkan seberapa besar dambaan Ibu Ed terhadap anak perempuan. Hampir sebesar Ibunya yang sangat mendambakan anak laki-laki.



Ada satu hal lagi yang mengganjal pikiran Arashi, kenapa berandal di depannya tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi? Biasanya mereka bercakap-cakap diatas motor. Bahkan saat hujan sekalipun. Kali ini, Edward tidak mengucapkan apapun. Tiba-tiba, ia membelok tajam di pertigaan, mengambil jalan lain. Arashi hanya diam. Sepertinya laki-laki di depannya tidak sedang dalam kondisi yang baik.



Seperti dugaannya, Edward membawa dirinya ke taman tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu. Arashi memandang arloji di tangannya dengan cemas, ada sisa waktu satu jam sampai jam masuk bimbelnya. Arashi menuruti keinginan Kekasihnya dengan taruhan ia terlambat makan malam, atau malah tidak sama sekali.



“Turun,’ katanya saat mesin motor tersebut sudah mati.



Arashi turun dan menatap lekat Edward, mencoba menerka isi pikiran laki-laki yang menyukai music klasik itu.



“Ayo, jalan.’ titahnya. Anak perempuan itu paling benci saat Ed sedang dalam suasana hati seperti ini. Disaat seperti ini, biasanya laki-laki itu akan menitahnya sembarang –walau bukan untuk hal yang tidak baik-- tidak mengindahkan pendapatnya, menolak semua opini Arashi yang bertentangan dengan opininya dan sangat dingin. Arashi tidak menyukainya. Rasanya seperti ia lebih baik berlari menuju tempat bimbel alih-alih duduk bersamanya di taman yang sederhana ini.



Daun-daun kering terbang berhamburan saat angin datang menerpa. Arashi menghentikan langkahnya, ia kelilipan.



“Ed, tungguin!’ teriak Arashi sambil mengusap-usap mata kirinya. Anak perempuan itu menunduk di tengah jalan dan mengusap-usap matanya seperti orang yang kelilipan untuk pertama kalinya.



Edward sedari tadi mengira bahwa Arashi masih mengikutinya di belakang, menoleh mendengar tadi dan menemukan gadisnya di belakang sana. Kalau di kira-kira, jarak diantara keduanya terpaut dua meter. Laki-laki tadi menggeleng saat memerhatikan Arashi berhenti di tengah jalan.


Ia memerhatikan sekitar sambil menunggu Arashi. Ada banyak pelajar SMA di sisi lain yang jaraknya terpaut jauh di antara mereka, ada juga sepasang suami istri yang sedang berjalan-jalan sore, sementara itu langit menunjukkan kelabunya. Hanya kelabu ringan tanpa beban, tapi sepertinya beban itu akan semakin banyak beberapa belas menit lagi.



Tidak ada pilihan lain, Edward berbalik dan menghampiri gadisnya.



“Sini coba aku liat,’ katanya saat sudah berada di sisi Arashi.



Anak perempuan itu mendongak dan menunjukkan matanya yang merah, membengkak dan berair.


“Kalau kelilipan atau gatel, jangan dikucek pakai tangan, tangan kamu banyak kumannya.’ Edward menasehati sambil menangkuk wajah Arashi.


Pipi Arashi merona saat laki-laki tersebut mendekatkan wajah miliknya pada wajah Arashi yang berada di dalam genggamannya. Ia menutup matanya perlahan, ingin menikmati sensasi dan kesenangan yang ia tak menyangka akan mendapatkannya.



Edward mengrenyitkan alis dan menjauhkan wajahnya, “Malah ditutup. Mau ditiup ini, heh.’


Mendengar hal itu, Arashi terperanjat dan membelalakan matanya. Sedetik kemudian, angin muson datang menerpa netranya yang indah itu. Angin muson tersebut berasal dari mulut Ed. Refleks netra Arashi berkedip cepat. Edward tertawa melihatnya.



“Gimana? Udah mendingan?’ Edward dengan baiknya menyempatkan bertanya di sela-sela gelak tawa itu.



“BODO!’ bentak Arashi. ia segera pergi dari sana dan menuju bagian taman yang lebih dalam, yang lebih jauh dari jalan raya.



“Bunda udah tau tentang kita, dan dia nggak setuju,’ Edward membuka percakapan saat keduanya sudah duduk. Kata-kata itu menarik perhatian Arashi. Awalnya, ia bersumpah tidak akan menyahuti Ed lagi selama sisa hari ini, namun apa yang keluar dari mulut Ed diluar dugaannya.




Laki-laki polos itu menggeleng, “Nggak, ternyata Bunda suka ngecek’in Hp aku kalo aku lagi tidur.’ Intonasinya menyiratkan kalau ia kecewa dan tak habis pikir.



“Karena itu?’ tanya Arashi datar.



Edward mengangguk.



Keduanya terdiam.



Tidak ada yang bisa disalahkan atas kejadian ini. Mungkin seharusnya Edward mengunci ponselnya, tapi itu bukan jalan buntu bagi seorang Ibu yang ingin melihat aktifitas anaknya di dalam sana. Mungkin seharusnya Edward menghapus semua riwayat percakapan mereka, tapi ia tidak menghapusnya karena ulah Arashi sendiri. Ia sering menghapus riwayat pesan keduanya, tapi kemudian dirinya lupa jika mereka pernah membahas hal yang penting di sana.


Di saat seperti itu, ia akan menanyakan tentang percakapan mereka yang dulu dan karena itulah Edward tidak pernah menghapus riwayat pesan keduanya. Pernah sekali, ia menghapusnya dan hasilnya adalah Arashi memarahinya.



“Terus, mau gimana?’ Anak perempuan itu memecah kesunyian di antara keduanya.



Tik tok tik tok tik tok.



Di dalam pikirannya, perhatian anak perempuan itu terbagi menjadi dua bagian. Kepada masalah di depan matanya dan kepada waktu yang terus berjalan. Bagaimana jika Ibu Ed menyuruh anaknya untuk berpisah? Bagaimana jika ia terlambat Bimbel? Berapa lama percakapan ini akan terjadi? Apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan restu dari Ibu Ed?



Semua itu dipikirkannya sekaligus, alih-alih mendapatkan jawaban, ia justru pusing dan merasa kosong. Tidak ada apapun di dalam sana. Ia tidak tau apa solusi dari masalah ini, ia tidak tau dari sisi mana ia harus memandang, ia tidak tau—bagaimana ia harus bersikap agar tidak salah dan justru membuat Ibu Ed semakin tidak menyukai dirinya. Mungkin Ed bisa menyadari hal itu dari pertanyaannya barusan.



Matahari semakin turun saja di ujung sana. Seakan pertanyaan yang datang bertubi-tubi dari benak Arashi membuatnya down dan buru-buru menyembunyikan diri di ujung sana.



Laki-laki di sisi Arashi duduk dengan wajah yang sedikit dicondongkan ke depan dan bahu yang bungkuk. Ia menopang tubuh bagian atasnya dengan kedua sikut yang ditaruh di kedua pahanya masing-masing. Membuat gerak-gerik seolah ia sedang tepekur, dan mungkin memang itu yang dilakukannya.



Sebenarnya masalah ini sederhana bagi Ed, masalah yang pasti bisa dituntaskan dalam beberapa waktu ke depan. Tapi sepertinya Arashi tidak berpikir begitu. Wajar saja, ia yang begitu dekat dengan Ibunya pasti bingung karena ada beberapa Ibu diluar sana yang tidak bisa di akbrabi. Toh, hubungan ini mereka berdua yang menjalani. Tidak ada sangkut pautnya dengan Ibunda tercinta.



“Gimana menurut kamu?’ tanya Edward, membolak-balik percakapan mereka.



Skakmat, batin Arashi. pikirannya kosong, hanya ada pertanyaan yang tidak tentu arah. Ia tidak butuh pertanyaan lagi, karena itu, jangan ada pertanyaan. Di antara kita.



“Aku—Aku nggak tau,’ desisnya pelan.



“Kita biarin aja, ya? Nanti juga Bunda kenal kamu.’ Kata Edward, santai.



“Emang sekarang Bunda nggak kenal aku?’ sergah Arashi. Mungkin, suasana hatinya sudah turun karena masalah ini. Ia tidak bisa berpikir positif seperti biasanya. Memang, belakangan ini ia tidak pernah membuat masalah. Ia memilih kehidupan yang tidak begitu ikut campur mengenai urusan orang lain, jadi dirinya merasa damai. Hingga datang masalah ini. Ini merupakan masalah sepele bagi orang lain, tapi ini adalah masalah yang sangat rumit bagi sebagian yang lain.



“Kenal, sih. Terus mau minta restunya? Lewat perlakuan? Ya, ayo dicoba. Aku takutnya karena Bunda udah nggak setuju duluan maka semua perngorbanan kamu jadi tak bernilai apa-apa.’



Arashi menekuk wajahnya, “Emang, apa alesan Bunda nggak setuju?’ ia mulai bisa berpikir lebih baik dari sebelumnya.



Edward diam, menatap ragu-ragu, “Katanya….'


“Katanya banyak perempuan yang lebih baik dari kamu, makanya nggak setuju.’ Laki-laki itu mengucapkan sengan hati-hati, takut-takut perasaan Arashi akan hancur.



Angin berhembus kencang melewati keduanya, membuat mereka harus menghalangi pandangan dengan apa saja agar tidak kelilipan debu. Daun-daun beterbangan ke kaki dan bangku tempat mereka duduk, rasanya sudah seperti badai di musim gugur. Semua aktifitas terhenti hanya untuk melindungi netra masing-masing.



Setelah berhenti, Edward menyibakkan celana jeansnya untuk membersihkannya dari debu. Tangannya bekerja, namun netranya tidak memperhatikan. Ia justru melihat kepada Arashi. mata anak perempuan itu berair lagi dan ia kembali mengusapnya dengan tangan.



“Rash, kan aku bilang jangan di usap, tangan kamu kotor.’ Nasehat Edward. Alih-alih menjauhkan tangan dari wajah, Arashi justru menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis.



Menangis tersedu-sedu.



Laki-laki itu baru menyadarinya. Ia memandang iba pada Kekasihnya, memerhatikannya sejenak sebelum akhirnya mengulurkan tangan dan merangkulnya.


Merengkuhnya dalam dekapan, memberikan kehangatan yang bisa membuat hati Arashi ikut menghangat. Tangis Arashi tumpah ruah. Ia tidak tau kenapa masalah ini begitu mempengaruhinya. Apakah tidak disukai Ibu mertua lebih menyakitkan dari ini? Mengapa orang-orang begitu kuat hingga bisa menahan beban seberat ini.



Mungkin ini masalah sepele, tapi masalah ini membesar karena ia tidak mempunyai siapapun. Tidak ada yang bisa diajak untuk mendengarkan keluh kesahnya. Kepada siapa ia harus menceritakan kejadian hari ini? Ibu? Adik? Atau sahabatnya? Apakah mereka bisa membantunya? Kenapa ia tidak bisa menahan beban ini sendirian? Mengapa air mata harus jatuh untuk urusan sesepele ini? Arashi terus menangis di dalam dekapan Edward.


Keduanya terus bercengkrama selama beberapa saat. Edward berulang kali menenangkan Arashi dan berkata semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.


Sesekali, mata laki-laki itu berkaca-kaca. Namun, ia segera mengusapnya sebelum itu sempat jatuh. Ia tidak boleh menangis juga. Pun Arashi membutuhkan seseorang yang lebih kuat darinya. Sementara itu, dari ujung sisi yang lain, seorang anak perempuan berseragam putih abu-abu memperhatikan keduanya. Sesekali, ia terlihat mengepalkan tangannya.


Adalah nama Sari Fitri Yani tertulis di atas name tag yang terletak di dada perempuan itu.


Dengan tatapan kecewa dan alis yang dikerutkan, ia pergi meninggalkan keduanya disana.


Ia sedang memikirkan ide untuk observasinya sambil berjalan-jalan saat angin berhembus dengan kencang. Saat itu ia mendengar suara tangisan. Sangat pelan sampai ia harus memusatkan inderanya agar terus dapat mendengar. Ia mengikuti kemana sumber suara dan menemukan Arashi bersama Edward duduk di sebuah bangku sejauh dua meter di depannya. Ia terperanjat saat menyadari suara itu adalah suara dari si nomor satu, sahabatnya. Ia lebih terperanjat lagi saat melihat Edward merangkul dan menenangkan Arashi yang menangis.


Dalam rasa yang campur aduk ia bertanya-tanya, apa yang mereka lakukan disini? Bukankah sebentar lagi waktu bimbelnya Rashi? Kenapa dia justru menangis? Hubungan apa yang mengisi keduanya?



Perempuan itu memutuskan untuk pergi sebelum timbul lebih banyak pertanyaan, sebelum timbul dendam di hatinya, sebelum mereka berdua menyadari keberadaannya. Jika ia ketahuan, rentetan kejadian selanjutnya mudah ditebak. Ia akan melakoni adegan klise dalam sinetron-sinetron yang muncul di televise. Mungkin memang seharusnya itu yang terjadi, karena dari saat ia berjalan-jalan sampai ia pergi dari sana pun adalah bentuk nyata dari skenario.



Skenario cinta yang paling konyol menurutnya.