SAVE ME

SAVE ME
Tiga Belas



“Udah?’ Arashi melihat Edward kembali mengantungi ponselnya.



“Udahhhh. Yuk, masuk.’ Laki-laki itu berjalan mendahuluinya.



Satu langkah ia melewati pintu depan sang pemilik rumah segera menegurnya.


“Kau yang punya rumah ke aku?’ kata Arashi dengan logat Malaysia yang cair.



“Kamu.’



“Seharusnya aku, lah, yang nyuruh masuk.’ Protes Arashi.



Mendengar hal itu, Edward segera mundur kembali. Jauh sekali ia mundur sampai dirinya berada di balik gerbang rumah tersebut.


“Misiiii.’ Katanya seakan-akan sang pemilik rumah tidak nampak.



“Nggak ada recehhh.’ Arashi tertawa.



“AFIIIQAAAAH.’ Edward terus melanjutkan sandiwaranya dan membuat Arashi tertawa sampai terpingkal-pingkal.



“Udah buru masuk, Ed.’



“Permisi. Arashinya ada?’ kini Edward sudah kembali menginjakkan kaki di teras rumah tersebut.



“Nggak ada. Barusan kabur.’



“Eh, Rash, kamu udah nonton Dilan belum?’ tanya Edward tiba-tiba.



“Udah, yang 1990. Kenapa?’



“Kan ada scene pas Dilan main ke rumah Milea, ya.’ Arashi menatap langit-langit, berusaha memutar film tersebut di dalam ingatannya.



“Iya? Terus?’



“Disitu, kan, Dilan datang buat—‘ belum selesai Edward mengatakan hal tersebut, perut Arashi berbunyi.



“Ehehe. Aku lapar.’



“Nah, kebetulan! Waktu itu Dilan juga dateng buat nawarin menu baru!’



“Nggak ada si Bibinya, ayuk, buruan masuk.’



Ekspetasi Edward jatuh dari ketinggian beribu-ribu meter saat ia berpapasan dengan Juni. Keduanya berpapasan di ruang tamu dan Edward sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dari raut wajahnya. Baik Juni maupun Edward sama-sama diam dan beradu tatap selama beberapa detik. Tidak ada Edward di dalam prediksi Juni, dan, tidak ada Juni di dalam fantasi Edward. Tetapi keduanya bertemu. Dan sama-sama ingin satu sama lain agar menghilang.



Arashi yang melihat kecanggungan di antara keduanya segera mengambil tindakan.


“Duduk, Edward. Juni udah kenal Ed kan?’



“Iya, udah.’ katanya acuh tak acuh.


Adik perempuan Arashi kembali menghilang tak lama kemudian. Masuk ke dalam kamarnya dan kembali tenggelam pada kesibukannya. Kini Edward dan Arashi berdua lagi. Tanpa ada siapapun.



“Rash,’ bisik Edward pada perempuan di depannya.



“Apa?’



Dua kali Edward menaik-turunkan alisnya sebagai tanda. Kode itu disambut senyuman hangat oleh Arashi.


Ia bangkit, berpikir sebentar kemudian mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Edward kembali bersemangat.



“Yuk.’ Kata gadis berseragam putih abu-abu itu.



///



Jika malam ini kita mempunyai kesempatan untuk bersama, maka akan kubuat ini menjadi malam yang penuh cerita. Malam yang bisa kita kenang dan kita sebut saat kita berdua melihat ke belakang, ke masa lalu dimana kita masih bersama. Kala aku dan kamu masih tidak mengetahui apapun.




“Rash, udah belum?’ tanya Edward nampak tidak sabar.



“Sabar. Kalo mau cepet, bantuin dong. Ini aku udah milih yang paling simple karena kita sama-sama kepepet.’ Omel Arashi tak mau kalah.



Kini Edward tak hanya memerhatikan saja. Ia menghampiri tubuh Arashi dan mengambil mangkuk dari rak di sampingnya.


“Bukan yang itu. Yang di dalem lemari.’ Perempuan itu mengayun-ayunkan sendok di tangannya seraya mengatakan hal tersebut.



Laki-laki di sampingnya menarik keluar pintu lemari dan memilih sebuah mangkuk dari beling yang tembus pandang.


“Ih, bukan yang itu Edward! Nanti panas bawanya kalau pakai mangkuk yang itu.’



“Oh, yang ini?’ sebuah mangkuk berbahan dasar plastik, lah, yang keluar kali ini.



“Bukan juga. Yang mangkuknya kayak mangkuk ramen, Edward.’ Omel Arashi.



“Emang kenapa kalau pakai ini? Lucu kok. Ada gambarnya.’



“Nanti susah hilang minyaknya. Ini, kan, mie rebus. Jadi, agak berminyak. Kalau pakai mangkuk dari plastik, nanti mangkuknya jadi bau bumbu mie dan minyaknya susah dihilangin.’



“Pakai sabun aja yang banyak. Kok ribet.’ Edward menaruh mangkuk plastic yang sejak tadi berada di dalam genggamannya tersebut ke atas meja. Ia mengeluarkan satu buah lagi yang sama persis untuk Arashi.



“KALO PAKAI SABUN YANG BANYAK YA NANTI BAU SABUNNYA NEMPEL, EDWARD. JADI KALAU NANTI KETIKA DIPAKAI LAGI ADA BAU SABUNNYA. TARO LAGI GAK!’



Tubuh Edward sempat bergetar sebentar, organ-organ dalam milik laki-laki tersebut seakan copot saat mendengar omelan Arashi. jika Edward bisa menilai seberapa takut ia—tidak, ia tidak bisa menilainya. Jauh lebih baik bertemu dengan makhluk halus dan siluman jadi-jadian dibanding berada di posisinya saat ini.



“Terus yang mana, Sayang?’



“Yang kayak mangkuk ramen, Ed.’ Intonasi pada ucapan gadis itu mulai menurun perlahan-lahan.



Lantas Edward mengeluarkan dua buah mangkuk berbahan melamin yang berwarna hijau. Bentuknya seperti mangkuk ramen, namun itu bukan mangkuk ramen. Membuka bungkus kemasan bumbu dengan giginya dan mencampur adukkan semua itu ke dalam wadah yang sama.



Satu mangkuk berhasil dikerjakan dengan benar. Ia menggeser tempatnya berdiri dan mengulangi kegiatan yang sama seperti tadi. Arashi dan Edward bertukar tempat. Awalnya, Edward berada di sisi perempuan itu. Di sebelah kiri lebih tepatnya. Kini ia berada di sisi kanannya. Sementara ia menyiapkan bumbunya, Arashi menuangkan mie instan ke dalam mangkuk yang telah disiapkan Edward.



Semuanya berjalan mulus sampai Edward membuka minyaknya. Ia membuka kemasan plastik tipis tersebut dengan gigi yang lantas membuat isinya melompat ke udara dan menyebar kemana-mana. Meja, kompor empat tungku yang menyatu dengan meja tersebut, serta tembok menjadi korban dari apa yang telah diperbuat Ed. Itu semua bukan apa-apa sampai Edward melihat keadaan Arashi. Beberapa cipratan minyak mendarat di tempat yang salah. Di pipi dan sekitar bibir Arashi. Ada sebagian kecil pula yang jatuh di seragam putih anak perempuan itu.




Oh Tuhan, masih banyak hal yang belum Edward lakukan selama ia hidup.



Hidup dan riwayatnya tidak bisa berakhir disini. Terlalu mengenaskan. Jika pembunuhan adalah akhirnya maka setidaknya, Edward menginginkan berita dengan judul yang menarik. Bukan seperti, Berawal dari Bumbu Mie, Anak SMA ini nekat memutilasi kekasihnya. Tidak! Buatlah riwayat hidupnya menjadi semenarik mungkin. Mungkin itulah permintaan terakhirnya.



“EDWARDDDD!!!’ I Love You, Mom, batin Edward.



Pertengkaran pun tak terelakkan.


Juni yang sedari tadi mengawasi mereka hanya bisa berkacak pinggang saat melihat kejadian tersebut. Kakaknya sangat menyukai kebersihan. Jika seseorang mengotori dan menodainya, maka saat itu pula riwayat hidupnya berhenti.



Keduanya terus kejar-kejaran di dapur yang lumayan besar tersebut. Hal ini tidak akan berhenti, sampai salah satu dari dua orang itu mengalah. Jika itu terjadi, maka pasti dunia akan berakhir.



Mangkuk sudah diletakkan di meja makan dan keduanya sudah berhadap-hadapan. Duduk saling menatap dengan penampilan yang kacau. Edward mendengkus dengan kasar. Kepalanya sedikit berdenyut. Entah berapa banyak helaian rambut yang berhasil Arashi cabut sampai ke akarnya. Seharusnya ia memangkas habis rambutnya sebelum menginjakkan kakinya di rumah ini. Mengapa ia menjadi bodoh dan mengambil resiko sebesar ini.



“Ayo dimakan. Nunggu apalagi?’


Nunggu malaikat maut menjemput, batin Edward.



“Juni udah makan ‘kan?’ Arashi sedikit meninggikan nada bicaranya agar suara tersebut sampai kepada Juni yang berada di dalam kamar.



“Udah, Kak!’ balasnya teriak.



Edward mulai menyuapkan sesendok mie ke dalma mulutnya. Disusul oleh sesendok nasi dan sesendok kuah. Kenikmatan ini tiada tara baginya. Walaupun ia menginginkan masakan rumah buatan kekasihnya, namun, mie instant pun mampu membuatnya bahagia.



Suasana ruangan itu sepi dan canggung saat mereka sedang menyantap makanannya masing-masing. Seperti sudah saling mengerti satu sama lain, Arashi tidak pernah mengajukan pertanyaan saat Edward sedang makan. Pun Edward juga melakukan hal yang sama. Ia benar-benar jarang mengajak Arashi berbicara saat keduanya sedang makan. Tapi itu tidak berlaku kali ini, Edward ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang sudah dipendamnya sejak tadi.



“Rash,’ katanya lirih. Jika Arashi menjawab dengan kasar maka ia sudah seperti itik yang mengeluarkan suara kecil dan imut kemudian dibalas oleh kokokan ayam jantan. Ia seperti kipas angin di hadapan angin topan.



“Iya?’ jawab Arashi dengan intonasi yang imut.


Edward berpikir, kepribadian mana lagi di dalam raga Arashi yang belum ia ketahui.



“Aku kenyang. Tapi mienya masih banyak.’ Tatapan laki-laki itu kosong.



Arashi sedikit terkejut saat melihat mangkuk Edward. “Kok mienya masih banyak banget? Kamu makannya sedikit, ya. Makan yang banyak, Edward.’ Kini intonasi Arashi menjadi sangat lembut dan hangat layaknya seorang Ibu.



“Itu…. Tadi aku,’ dalam hati Edward bertanya-tanya, mengapa ia sedikit takut untuk mengatakan hal seperti ini? Apakah karena ia tau Arashi akan marah?



“Iya, kamu kenapa?’ kini gadis itu meletakkan sendok di tangannya dan menopang dagu dengan tangan tersebut.



“Tadi aku makan nasinya doang pas di awal. Niatnya biar aku bisa makan mienya doang belakangan. Tapi sekarang aku justru kekenyangan.’



Tawa Arashi pecah saat itu juga. Ia pernah mengalami hal yang sama dahulu. Ketika ia berumur kurang dari dua belas tahun. Arashi tau persis bagaimana perasaan Edward sekarang dan baginya itu adalah hal yang lucu.



“Harus habis, nggak mau tau!’ Arashi masih menyelipkan tawa saat mengomeli Edward.



“Rash, beneran nggak kuat. Sumpah!’ laki-laki itu menjauhkan mangkuk tersebut dari jangkauannya.



“Kayaknya aku nggak bakal mau ketemu mie dalam beberapa minggu ke depan, deh. Mual banget, Rash!’



“Yaelah, beberapa suap lagi itu, Edward. Habiskan, Sayang.’ dua kata terakhir keluar dari mulut Arashi dengan sangat lembut dan hangat. Membuat Edward, yang mempoutkan bibirnya, menarik kembali mangkuk tersebut untuk mendekati dirinya.



Edward menatap untaian demi untaian mie instant tersebut dan menelan ludah. Makan sambil meyakinkan dirinya bahwa ini adalah makanan paling enak sedunia. Sudah lama Edward tidak memakan mie instant tetapi sekali ia memakannya, ia justru tidak ingin memakan makanan tersebut lagi.



Selama sisa hidupnya.



Sedikit demi sedikit makanan itu ia habiskan. Melihat cara Arashi memakannya semakin meyakinkan dirinya bahwa mie instant adalah makanan yang disukai semua orang. Dari segala usia, tidak peduli seseorang itu anak-anak, remaja, dewasa maupun lansia. TAPI IA TIDAK MENYUKAINYA! Edward rela disebut dirinya bukan manusia karena tidak menginginkan makanan ini sekarang, jika hal itu bisa membuatnya berhenti.




Sejujurnya, Arashi pun sudah sangat kekenyangan. Tapi ia malu kepada Edward karena sudah mengatakan hal seperti tadi. Jadi, lebih baik perutnya meledak alih-alih harga dirinya diejek oleh laki-laki di hadapannya.


Padahal, jika keduanya sama-sama jujur mengenai apa yang mereka rasakan, hal baik pasti tercapai. Terkadang gengsi dan harga diri memang kita prioritaskan di atas segalanya. Di atas apa yang hati ini rasakan, di atas apa yang kita inginkan, dan diatas, Dia.



Setelah melalui banyak perjuangan dalam setiap sendoknya, kini akhirnya kedua mangkuk tersebut kosong. Arashi dan Edward pindah ke ruang tamu. Sama-sama tergeletak tak berdaya di atas sofa.



“Rash,’ panggil Edward dengan lemah.’



“Berisik, Ed. Aku tau kamu mau ngomong apa!’ anak perempuan itu mengayunkan tangannya di udara, berharap bisa meraih dan memukul kekasihnya tersebut. Namun ia terlalu malas untuk melakukannya, jadi ia biarkan sang udara menyampaikan pesan tersirat yang Arashi gambarkan.



“Ini aku harus posisi kayak gimana biar enakan.’ Rengek Edward. Ia sedang duduk berbaring di sofa yang panjang dengan kepala berada di tangan sofa dan kaki kiri yang mengangkat.



“Ini aku juga serba salah. Kalo kekenyangan, ya, gini. Mau posisi kayak gimana pun salah.’ Tiga kali perempuan itu mengganti posisi tidurnya demi mencari posisi yang nyaman.



“Aku nggak pernah merasakan ini sebelumnya.’ Kata Edward, masih meringis.



“NAH, KAN! KETAHUAN KAMU NGGAK PERNAH BANYAK KALO MAKAN!’



“Eh, nggak gitu, Rash!’ Ed mencoba untuk membela dirinya, walau ia tau itu sia-sia. Ibarat pengadilan, hakim; pengacara; dan jaksa seolah sudah merundingkan masa tahanannya. Baik terdakwa membela ataupun tidak, tidak akan mengubah apapun.



“BOHONG! MAKAN YANG BANYAK, EDWARD. HARUS KAYAK GINI SETIAP MAKAN BIAR GEMUKNYA KAYAK AKU.’



“Nggak kuat, Rash. Enakan ngemil.’



“Oh iya, mau cemilan nggak?’ tawar Arashi.


Edward mengambil napas panjang-panjang sebelum menjawab, “PENGEN BANGET, YA. LIAT DETIK-DETIK PERUT GUE MELEDAK?!’



Arashi terlonjak kaget sebentar, kemudian tertawa.


“Hahaha. Baru gini doang, Edward. Diluar sana banyak yang nggak seberuntung kita.’



“NGGAK SEBERUNTUNG KITA?! MAKSUDNYA NGGAK BISA MAKAN MIE?!'



“Edward, jangan teriak-teriak. Nanti mienya keluar lagi, lho.’ Arashi membelokkan topik pembicaraan.



“Kalo itu bisa bikin perut aku membaik, aku lakuin.’



“Yaudah sana lakuin. Kalo habis itu justru pita suara kamu yang terganggu, aku nggak ikut-ikutan.’