SAVE ME

SAVE ME
Delapan Belas



Edward dan Sophia pergi berkeliling dengan kedok mencari rombongan Sophia yang hilang. Awalnya, Arashi pun ingin bergabung dengan mereka. Namun apa daya, Pak Dirga memberikan sebuah kertas beserta pulpen dan mengatakan, “Absenin satu-satu, ya. Takutnya ada yang jatuh di jalan tadi.’



Arashi tersenyum dan mengiyakan permintaan wali kelasnya tersebut. Sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah dimana Ed pergi tadi. Namun kini mereka berdua sudah tidak nampak, keduanya seakan melebur diantara kerumunan yang berkumpul di satu titik dan beberapa orang yang berlalu lalang.


Perempuan itu menyesal, seharusnya ia bisa bergabung mengobrol sejak awal. Jadi, Pak Dirga akan segan untuk meminta tolong kepadanya dan ia pun bisa ikut kemana pun Edward pergi.



Hatinya benar-benar tidak tenang sampai-sampai ia keliru menulis absen. Seseorang bernama Tasya justru ditulis dengan nama Edward karena Edward yang memenuhi pikirannya sekarang. Apa ini, yang dinamakan cemburu? Batin Arashi.



Absen selesai dan jumlah peserta yang ada di kumpulan itu pun sama dengan jumlah sebelum mereka berangkat. Arashi membuang nafas berat kala melihat daftar panjang itu. Ingin rasanya ia mencoret-coret nama ‘Edward Novaldo’ yang tertulis disana.



“Bunga, Pak Dirga mana?’ tanya Arashi. wali kelas tersebut tidak ada disini kala ia ingin menyerahkan lembar absen yang dimintanya.



“Nggak tau.’



“Tiara, kamu tau?’ tanya Arashi lagi. Fokus Tiara menjadi teralihkan. Ia menatap Arashi selama beberapa saat sebelum ia menjawab. Bagi Arashi sendiri, Tiara seperti orang yang linglung. Apakah separuh jiwa dari gadis itu masih tertinggal di ranjangnya?



“Tiara!’ seru Arashi.



“Oh, iya. Apa?’ Tiara mengedip cepat beberapa kali, berusaha menyadarkan diri sepenuhnya walau ia enggan.



“Lihat Pak Dirga nggak?’



“Gak.’ Jawabnya, sewot.



Memilih untuk bertindak sendiri alih-alih terpancing emosi, Arashi pergi meninggalkan kelompok SMAnya dan pergi mencari Pak Dirga. Niatnya seperti itu. Namun apa yang dilakukannya lain. Netra Arashi melirik kesana dan kemari mencari sosok Edward. Tetapi, ia tidak ditemukan dimanapun.



Anak perempuan itu berpindah tempat sambil terus menggerakkan matanya dengan liar. Mencari satu orang di lapangan terbuka yang luas ini bukanlah hal yang mudah. Banyak laki-laki dari sekolah lain yang tinggi badannya sepantar dengan Edward. Jika sudah begitu, maka apa yang bisa dilakukan oleh perempuan berbadan mungil ini?



Aneh, mencari Edward di antara orang-orang ini bahkan tidak lebih mudah dari menemukan sosok tersebut di antara milyaran manusia dan ratusan kilometer luas bumi tersebut.


Netra Arashi sudah mulai lelah. Ia berhenti dan memijat pelan celah di antara kedua alat penglihatan tersebut. kemudian, kala ia menyingkirkan tangan dan membuka mata, ia menemukannya.



Pak Dirga.




Insting naluriahnya berkata untuk segera melangkah dan menghampiri pria dewasa tersebut. Namun, logikanya membantah. Ia berkata kalau Arashi tidak akan bisa mencari Edward lagi jika ia sudah ketahuan oleh Pak Dirga. Pria itu akan menyuruh Arashi duduk manis bersama teman sekelasnya dan tidak memedulikan Edward.



Ia bersikukuh untuk menghampiri wali kelasnya dan menyerahkan absen di tangannya. Toh, kalaupun ia tidak memberikan benda ini sekarang, Pak Dirga akan mencari dirinya untuk dimintai kertas tersebut. Memang, seberapa penting, sih, daftar absen? Batin Arashi. Kini ia mulai menanyakan hal yang tidak masuk akal. Tentu saja absen penting, tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar pun sudah nampak kegunaan kertas tersebut di tengah-tengah acara seperti ini.



“Pak!’ seru Arashi saat sudah menghampiri wali kelasnya.



“Lihat Edward nggak?’



“Lho, emang dia nggak sama kamu?’



“Sama saya?’



“Maksudnya, emang dia nggak ada bareng anak-anak yang lain?’ saat itu, sebuah ide cemerlang segera muncul di kepalanya.



“Nggak, Pak. Waktu saya absen, dia nggak ada di kumpulan kita. Nah, saya tanyakan kepada teman-temannya yang lain, katanya, Edward barusan pergi sama temennya dari SMA lain. Buat mastiin, saya lagi cari Edward.’



“Ohh. Bapak dari sana,’ Pak Dirga menunjuk ke arah belakang dengan telunjuknya tanpa membalikkan badan.



“Tapi nggak ketemu Edward.’



“Oh, yaudah nanti saya cari, Pak. Ini, absennya.’ Rashi tersenyum dan memberikan secarik kertas beserta pulpen dan berlalu.



Perempuan itu pergi dengan senyum yang mengembang. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah apa yang Arashi rasakan saat ini. Ia merasa bangga. Namun, kembali pada realita, Arashi harus segera mencari Edward. Ia berpikir, bagaimana responsnya nanti jika ia sudah menemukan ulamnya tersebut? ulamnya beserta ulat yang bersamanya. Lebih dari itu, siapa itu Sophia? Dimana mereka berkenalan?



Dua pertanyaan itulah yang menggeliat dan menggelitik saraf-saraf di otaknya. Jika kedua pertanyaan tersebut bisa terjawab, maka ia akan tenang. Tidak—tak perlu dua. Satu pertanyaan terjawab pun akan bisa membuat Arashi mengetahui jawaban dari pertanyaan yang lain.



Alih-alih menemukan Edward, Arashi justru menemukan kekasih Tiara. Laki-laki itu sedang duduk dan memakai topi yang turun menutupi dahinya. Arashi bisa mengenali pria tersebut dari sepatu dan topinya. Pantas saja, Tiara tak dapat menemukan dirinya.



Lantas Arashi pergi berlalu. Kini ia sudah berhasil memutari lapangan luas itu sebanyak satu putaran karena sekarang ia sudah kembali berdiri di tengah anak-anak SMAnya. Edward sudah berada disana. Kala Arashi bertanya kepada Bunga, katanya Edward baru saja datang dan bergabung dengan mereka.



“Kayaknya dari kamar mandi, deh. Soalnya tadi aku lihat di jalan kesini sambil ngibas-ngibasin tangannya yang basah.’



“Ohh, oke.’ Anak perempuan itu berpikir sejenak.




“Tiara lagi sibuk merhatiin cogan-cogan. Sampai-sampai aku dilupain. Yuk, Rash, temenin. Kita tanya Edward dimana kamar mandinya.’



“Yuk.’




“Edward,’ panggil Bunga.


“Hm. Apa?’



“Lihat Pak Dirga nggak?’ tanya Arashi memotong pernbicaraan. Edward segera menggeleng. Kemudian, terdengar suara peluit yang nyaring tanda harus berkumpul.



“Tuh, kan, aku belum sempet ke kamar mandi. Ih, Rashi, sih.’ Gerutu Bunga.




Semua peserta berdiri di depan panitia-panitia yang memakai baju putih. Kelihatannya sudah seperti para kuntilanak dan pocong yang sedang menyampaikan pidato. Setelah sapaan beberapa kata, mereka semua diperintahkan untuk duduk melingkar dengan para panitia sebagai titik tengahnya. Yang menjadi pusat perhatian. Sementara para wali kelas, mereka duduk di sisi yang lain, yang cukup jauh dari lingkaran besar tersebut.



Yang pertama-tama. Mereka memanjatkan doa masing-masing. Kemudian dibacakan susunan acara dan berbagai permainan yang akan mereka mainkan. Tidak lengkap rasanya jika tidak ada sorak sorai para penonton. Mereka menyoraki setiap kegiatan yang dibacakan satu persatu seakan mereka sedang menonton pertandingan tinju antar sesame panitia. Katanya, akan ada jurit malam pukul sebelas nanti. Jadi mereka tidak akan bisa tidur karena ketakutan.



Pembagian kelompok pun ditunaikan. Arashi ; Bunga; Tiara dan Edward terpisah ke dalam kelompoknya masing-masing. Semua peserta dari berbagai sekolah dikumpulkan menjadi satu. Dalam satu kelompok, pasti ada satu atau tiga anggota yang berasal dari SMA yang sama.


Jumlah team ada sebelas dengan masing-masing anggota yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang. Masing-masing kelompok memiliki dua tenda. Jadi, nanti malam mereka akan tidur satu tenda dengan peserta lain yang berjenis kelamin sama. Sungguh beruntung jika dalam satu kelompok ada orang yang berjenis kelamin minoritas, karena mereka tak perlu desak-desakan di dalam tenda. Arashi sangat lega karena Edward tidak satu tim dengan Sophia.



Nama-nama kelompok diambil dari nama-nama hewan yang sudah punah. Kebanyakan dari zaman dinosaurus. Seperti mammoth, moa, dan lain-lain.



Pukul sebelas dan mereka memulai semuanya dengan makan siang. Berlanjut sampai pukul tujuh malam. Sebelum jurit malam, ada acara talent show. Dimana tiap-tiap kelompok akan merundingkan sebuah pertunjukkan, apa saja, untuk kemudian di tampilkan di depan kelompok-kelompok yang lain. Tetapi, sebagian besar mereka tidak menunjukkan talentanya. Mereka justru melakukan stand up comedy di depan yang lainnya. Mengelilingi api unggun yang hangat dan berkobar dengan semangatnya, malam itu menjadi penuh tawa. Ditambah satu buah drama dari salah satu kelompok yang bernama Mamoth. Mereka menampilkan drama warga yang mengejar-ngejar seorang maling. Ada sedikit kendala yang justru membuat drama itu menjadi drama komedi. Ada satu ciri khas yang lainnya, yaitu satu pemeran yang menggunakan bahasa Malaysia.



Kejadian yang penuh tawa pun tak bisa terelakan. Sementara, kejadian mistis dan mencekam dari jurit malam menunggu di hadapan mereka.



Sebelum jurit malam dimulai, terlebih dahulu panitia mengambil satu anggota dari masing-masing kelompok. Dari kelompok Arashi, terpilihlah satu orang yang bukan berasal dari sekolahnya. Dia seorang perempuan. Hanya seorang perempuan yang diambil, laki-laki tidak diterima. Biasanya, seseorang akan senang jika ia menjadi yang terpilih. Karena pada saat itulah ia bisa unjuk diri dan merasa lebih special dibanding yang lainnya. Tetapi berbeda kali ini, seseorang yang terpilih justru tidak bisa berbangga diri. Begitupun kelompok yang satu anggotanya telah dirampas, mereka tidak bisa iri hati. Karena, hanya ada rasa penasaran dan curiga yang mengambil alih benak mereka.



Setelah menunggu sambil ditemani oleh sebotol teh hangat, satu persatu kelompok di panggil. Kelompok yang tidak berkepentingan, dilarang keluar. Inilah keanehan pada jurit malam yang satu ini. Biasanya jurit malam dilakukan bersama-sama antar kelompok, tetapi kali ini lain. Semua orang ingin menjadi yang pertama dalam hal ini. Memangnya siapa, sih, yang ingin menunggu di tengah ketidak pastian dan perasaan yang bergejolak seperti itu?


Arashi sendiri, ia takut. Biasanya Edward akan menemaninya dan berkata bahwa disana tidak ada apa-apa. Tetapi kali ini tidak ada Edward, jadi ia harus meyakinkan dirinya sendiri.


Tentu ia tidak akan berhasil, jika memang ia berhasil, ia tidak akan menjadi penakut sampai sekarang.



Suasana di tenda menjadi semakin tidak nyaman karena anggota kelompoknya yang lain justru saling bercerita tentang pengalaman mereka masing-masing. Pengalaman mereka bertemu makhluk semacam itu. Arashi hanya memojokkan diri di pojok tenda, tak ingin bergabung. Namun telinganya justru menjadi lebih peka dari biasanya. Perbuatan memojokkan diri adalah upaya yang sia-sia. Ia masih tetap bisa mendengar mereka.



“Eh, tuh, kelompok sebelah udah selesai. Dengar, deh, mereka lagi balik ke tendanya masing-masing!’



“Iya, iya. Kedengaran suara langkah kakinya.’ Fakta itu memang tidak dapat dibantah. Bunyi langkah kaki dan siluet dari banyak orang menandakan bahwa satu kelompok telah selesai menunaikannya. Arashi menggenggam kuat-kuat tumblr di tangannya. Ia menggigil sekaligus merinding.



Aneh, tidak ada respons apapun dari kelompok tersebut. Mereka tidak tertawa ataupun bersemangat. Tidak ada cerita, tidak ada ekspresi menggebu-gebu untuk berbagi pengalaman. Hanya ada kesunyian malam, siluet dan hewan-hewan malam yang tidak pernah lelah untuk bersuara.



Tenda mereka mulai bergetar dan bergoyang-goyang. Dari balik punggung mereka, muncul siluet sosok yang membawa penerangan serta berbadan besar.



Ia adalah kakak panitia. Laki-laki itu memanggil nama kelompok mereka dan memberi tau bahwa ini giliran mereka.


Malam ternyata lebih pekat dari apa yang dibayangkan Arashi. banyak pepohonan yang ukurannya besar-besar di kejauhan dan di sekitar lapangan. Menambah kesan mencekam malam ini. Udara dingin yang menusuk tulang menembus jaket mereka seolah-olah bagian dari rencana panitia untuk membuat mereka takut.



Dengan seizin yang bersangkutan, Arashi diperbolehkan untuk menggenggam tangan seorang perempuan yang lain. Keduanya sama-sama ketakutan dan berjanji tidak akan melepaskan genggaman tangan ini.



“Kak. Gunanya permainan kayak gini itu buat apa?’ tanya Arashi saat mereka sedang menuruni jalan setapak yang minim pencahayaan.



“Buat iseng, aja, sih. Kan, acara ini jadi makin seru. Lagipula aman kok. Di kelompok panitia ada yang indigo, jadi jangan khawatir.’ Ia tersenyum walau tidak dapat dilihat oleh anak-anak SMA yang dibimbingnya.



“Nah, udah sampai.’ Meskipun judulnya adalah di kaki gunung, namun ini tetaplah bumi perkemahan. Bumi perkemahan yang kurang terawat lebih tepatnya. Mana mungkin, bumi perkemahan itu minim penerangan?



Mungkinkah pengurus yang bekerja disini tidak kasihan pada mereka yang harus menggunakan lampu petromax dan senter untuk penerangan? Dan lagi, mengapa bumi perkemahan tidak dapat diakses oleh bis?


Di depan matanya, Arashi melihat sebuah aula. Tempat ini pun dilewatinya saat ia berangkat pagi tadi. Bedanya, kali ini tidak ada sang surya yang menyinari dan memperjelas keadaannya. Aula itu pun minim penerangan. Sebenarnya memang sengaja dimatikan untuk mendukung jalannya kegiatan ini, namun mereka tidak mengetahuinya.



Karena ini hanya untuk iseng saja, maka ia pun tidak perlu serius menanggapinya, benak Arashi menetap.



“Kalian harus mengambil suatu bola yang bersinar dalam gelap di salah satu kamar. Entah itu kamar mandi, ruang administrasi ataupun gudang. Harus kalian cari dan keluar bareng-bareng lewat pintu belakang. Kalau belum lengkap pas kumpul, jangan keluar! Kalian harus nunggu teman kalian yang lainnya di dekat pintu belakang dan keluar bareng-bareng! Harus lengkap, ya.’ Begitu aturan dari permainan ini. Satu kelompok diberi tiga senter, jadi mereka bisa berpencar dan menelusuri dengan terpisah.



Ujian buat solidaritas, ya, batin Arashi. Diliahat dari bagaimana mereka harus keluar bersama-sama, ini pasti ujian yang menguji kekompakkan kelompok. Apa kelompok lain pun berhasil melakukan misi ini dengan benar? Ia tidak tau. Yang ia tau, tidak ada bekas-bekas tempat ini pernah dimasuki orang lain (baca;kelompok lain). Beruntunglah gedung ini tidak besar-besar amat. Jadi pasti tak perlu memakan waktu banyak untuk menyelesaikannya.



Panitia itu pergi setelah mengantarkan mereka sampai depan pintu. Langkahnya yang mantap menggema di sepanjang teras bagian depan aula. Arashi menolak melihat sekeliling yang gelap dan banyak pohon-pohon. Ia hanya fokus menatap pintu kayu berdaun dua yang masih tertutup itu.



Ayo, Arashi, ini nggak lebih bikin deg-degan dibanding lihat Edward pergi sama Sophia, batinnya. Cuaca di dalam sana tidak lebih dingin dari di alam luar, batinnya terus. Setelah memantapkan genggaman tangan dan mencengkram kuat-kuat senternya, mereka semua masuk.