SAVE ME

SAVE ME
Kau cemburu?



♤○♤○♤


Natali terdiam dibalik kubikelnya sembari mengingat-ingat wajah yang tadi sempat membuatnya lupa tentang statusnya yang adalah wanita bersuami dengan anak satu.


"Itu orang yang nge-Gaji kamu selama ini. Kenapa?. Mau bilang kalo ternyata bos kamu ganteng?."


Ucapan Damian masih terngiang-ngiang ditelinganya, 'Bos kamu'.


Secepat kilat ia menggeret kursi putarnya untuk mendekati Hanna yang tengah berdiam diri memandangi layar monitor dihadapannya.


"Kamu!. Jujur sama aku." ucapnya sembari memukul sudut meja Hanna.


"Apa sih bu, ngagetin aja."


Annet yang duduk disebelah kubikel Hanna pun tak ayal ikut menguping dengan menggeser sedikit kursi miliknya.


"Sejak awal masuk kesini aku yakin kamu pasti tahu yang namanya Mr. W?."


"Tahu gimana?" Jawab Hanna dengan nada sedikit ragu.


"Maksudnya?." Annet semakin mendekatkan kursinya.


"Iya, gak tahu nih apa maksudnya mbak Nat?." Hanna mengerutkan keningnya.


"Udah jelasin aja jangan bertele-tele." Natali begitu memaksakan permintaannya.


"Kenapa lagi bu memangnya sama si Mr. W?." Tanya Annet penasaran.


"Tadi aku baru ketemu yang asli Net, aku berani bersumpah demi Mega yang demen ama bule. Ni cewek-cewek sekantor pasti pada panas dingin ngebayangin bisa nempel ama tu bigboss."


Hampir saja Hanna mengumpat karena ucapan Natali yang berani membayangkan pria masa depannya. eh?


"Dih, si ibu gitu banget ngebayanginnya." Annet mencebikan bibirnya seolah tak percaya.


"kamu masih bocil Net, diem dulu." Tatapan Natali begitu mengintimidasi Hanna. "Coba!. Aku mau lihat foto Mr. W yang ada di galery kamu?."


"Ibu apaan sih, Mr. W mulu bahasnya." Hanna begitu malas mendapat paksaan dari wanita dihadapannya yang terlihat begitu penasaran dengan wujud asli si mantan G* itu.


Tepat disaat itu ponsel Hanna berdering, tampak panggilan telepon dari si objek obrolan menyapa dengan nama kontak 'Bule'.


"Cepetan kamu angkat atau aku yang angkat?." Natali kembali memaksanya


Hanna dengan kesal mengangkat panggilan si bule namun yang tidak dipahami Natali adalah bahasa yang digunakan oleh keduanya.


"lah kok pake bahasa bumi gitu?." Tanya Annet yang diangguki oleh Natali dan menjadikannya sebuah topik pergibahan oleh dua orang wanita itu.


"Bukan kali ya Net?." Natali tampak mengingat-ingat, "Kata pak Damian pake 'YES NO' ngomongnya."


Sedangkan pria yang menjadi pembicaraan mereka kini tengah bersin hingga beberapa kali di ruangannya.


☆☆☆


☆☆☆


William bersama sang sekretaris tengah duduk di sofa abu-abu dan tak lama Steven juga turut bergabung setelah menyelesaikan kebiasaan kotornya. Ketiganya membahas masalah yang beberapa waktu lalu menjadikannya sasaran pembunuhan oleh mantan orang tua angkatnya sendiri.


Sang sekretris pun menjelaskan jika beberapa perusahaan ada yang ingin menarik sahamnya karena dilatar belakangi oleh Barayev dan Willi tak begitu memperdulikan hal itu karena sejatinya mereka hanya menanamkan modal yang tidak seberapa dibanding usahanya sendiri dalam membesarkan perusahaan miliknya.


"lepaskan mereka."


Satu kalimat dan semua terputus. William tidak takut akan sebuah kegagalan, yang ia takutkan adalah hilangnya kepercayaan karena bayang-bayang buruk Barayev.


Setengah jam berlalu dan hanya menyisakan Steven diruangan beraura dingin itu bersama si bos yang menjadi sumber ketegangan didalamnya..


"Kau bermain jal*ng?." Willi tak langsung menatap wajah sang asisten.


Pria bule itu justru tengah asik bermain dengan ponselnya. Namun berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Steven, bulu kuduknya terasa meremang meski pertanyaan yang diberikan terkesan santai tapi tetap mengintimidasi.


"Sekedar menyalurkan bakat terpendam saya."


Willi tersenyum simpul sembari melirik Steven dengan mata tajamnya. "Apa kau pernah merusak segel salah satu diantaranya?."


"Tentu saja. Apa anda berfikiran jika saya hanya penikmat jal*ng saja." Steven nampak kesal karena mengira jika William tengah meremehkan dan menganggapnya hanya menjadi penikmat ladang liar. "Seorang wanita dimasalalu yang membuat saya merasakan hal itu untuk pertama kalinya."


"Bagaimana rasanya?."


"Emmmhhh.....


.


.


.


◇◇◇


Sore hari menjadi waktu yang pas untuk menikmati jajanan kuliner setelah lelah seharian bekerja namun sayang tuhan berkehendak lain. Hujan deras mengguyur kota disertai petir yang seringkali mengejutkan jantung para penduduk bumi.


Hanna dan beberapa orang pegawai tengah berdiri di loby sembari mengobrol ringan tepatnya bergosip seperti yang tengah dilakukan oleh Mega dan Natali saat ini.


"Beneran Meg!."


"Aku gak inget saking terseponanya eh?, terpesona." Natali terlihat malu sendiri dengan ucapannya.


"Dih, emak-emak ganjen."


"Helleh, mending aku masih inget napak bumi kalo itu kamu aku yakin pasti udah siup kojet-kojet minta CPR." Keduanya lantas tertawa bersamaan.


Hanna yang sejak tadi diam ternyata tidak seperti yang terlihat karena kini hatinya sedang diliputi rasa panas yang menyebabkan telinga dan tangannya menjadi gatal secara bersamaan.


"Beraninya bule itu tebar pesona." Baru saja wanita itu mengumpat dalam hati tak disangka yang di umpat justru melintas dengan jeep hitam yang dikendarai oleh Steven.


"Itu Meg, itu, itu yang tadi lewat ama Mr. sipit!." Natali begitu heboh saat melihat objek pembicaraan mereka lewat begitu saja tanpa permisi.


"Ya ampun mbak aku gak sempet lihat." Mega yang tak sempat melihat pun seolah ingin menangis lantaran ia bingung dengan kehebohan yang ditimbulkan oleh Natali saat menunjukan pria yang dimaksud.


Hanna berusaha mengabaikan kehebohan yang terjadi setelah mobil sang calon suami melintas dibawah guyuran hujan. 'mungkin dia sedang tidak baik-baik saja.'


》《♡》《


Alangkah terkejutnya ia saat mendapati keberadaan pria bule itu setibanya dirumah.


"Night honey!." Willi lebih dulu menyapa dirinya yang baru saja menapaki teras dengan rambut lepek.


"Apa yang kau lakukan disini?."


"Ibu mu mengajak ku untuk makan malam bersama." Dengan santai William mengatakannya.


"Kau bercanda?."


"Untuk apa?."


"Semudah itukah ibu ku mengatakannya pada mu?." Hanna seolah tak percaya jika sang mama memang benar mengundangnya.


"Biar Ku ingatkan padamu jika sebentar lagi aku akan menjadi menantu mereka."


"Kuharap mereka segera sadar dengan keputusan yang sudah mereka ambil."


"Aku tampan dan kaya tidak ada yang perlu dirisaukan."


"Kau menyebalkan!."


"emh?." Willi terlihat bingung setelah melihat rona wajah Hanna yang sepertinya tengah dilanda rasa kesal.


*


*


Selesai dengan makan malam kini waktunya Willi untuk berpamitan. Bukan, bukan William yang menginginkannya melainkan si wanita lah yang terus memaksanya untuk cepat pulang dengan alasan lukanya masih membutuhkan istirahat cukup.


William dengan cepat menarik pinggang ramping Hanna saat keduanya berada dihalaman dimana pria itu memarkirkan mobilnya.


"Aku tahu kau tengah menyembunyikan sesuatu dari ku." Tebaknya.


"Kau hanya asal menebak."


"katakan."


"Sudah malam, pergilah."


"Tidak akan, sebelum kau mengatakannya."


"William, tidak bisakah kau biarkan saja aku."


"Apa?. Membiarkan mu memendam masalah?. Aku hawatir kau akan cepat tua karenanya."


Satu cubitan mendarat di dada William disertai desisan dari mulut pria itu.


"Aku mungkin tidak sebaik pria lain yang pernah kau kenal dan tidak memiliki pengalaman dalam sebuah hubungan terlebih dengan seorang wanita, untuk itu aku ingin memahami mu agar kau tidak kecewa disebabkan oleh masalalu ku yang buruk."


Hanna benar-benar tersentuh mendengar penuturan William. Ia tidak pernah menyangka jika pria dengan predikat luar biasa mencengangkan itu akan menikahinya tak lama lagi.


"Aku tak suka jika para wanita dikantor membicarakan mu."


"Wanita_dikantor?. Bagaimana bisa, mereka bahkan tidak pernah melihat ku."


"Kau bohong, jelas sekali salah satu diantara mereka ada yang melihat mu ke kantor hari ini dan menjadikannya bahan gosip."


William menaikan sebelah alisnya untuk memastikan raut kekesalan yang membuat wajah Hanna semakin terlihat lucu.


"Kauu_Cemburu?."


.


.


.


Tbc.