SAVE ME

SAVE ME
Nano-nano kehidupan



○○○○○


Tiga bulan berlalu, pernikahan Hanna dan Willi masih terasa segar dengan konflik kecil sebagai pemanis diantara keduanya. Juga kesibukan Hanna yang menjadi lebih padat karena belakangan situasi sedikit berbeda, entah apa yang terjadi kepada pria dengan ketampanan tak biasa itu karena selama hampir seminggu ini ia mengeluhkan hal yang sama kepada dokter pengakit dalam. Sedangkan Hanna hanya bisa menatap bingung dengan keadaan suaminya yang terlihat begitu aneh.


"Kepalaku terasa berputar-putar dan perut ku juga_ uugh... ... ..."


Setiap kali pergi periksa sang dokter juga tidak melihat adanya tanda-tanda penyakit berbahaya dan mereka hanya menyarankan kepada Hanna untuk memberi William vitamin serta makanan bergizi untuk membantu asupan tubuhnya yang banyak terbuang.


"Bagaimana perasaan mu?." Tanya Hanna penuh kehawatiran. Ia takut jika Willi akan memuntahkan kembali sup ayam yang baru saja dimakannya.


"Lebih baik, mungkin aku butuh sinar matahari untuk berfotosintesis." Kelakarnya


Hanna mendorong kursi roda yang Willi gunakan menuju balkon apartemen. Semilir angin pantai membuatnya merasa lebih relaks dari sebelumnya.


"Kau ingin makan sesuatu?." Tanya Hanna sebelum meninggalkannya.


"Aku ingin pome dengan yogurt."


"Apa kau sudah pernah memakan itu sebelumnya?."


"Tidak, tapi tiba-tiba aku ingin mencobanya. Pasti akan terasa segar."


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan memesan buah itu lebih dulu." Hanna berlalu kedalam dengan perasaan bingung mengenai kondisi yang dialami William. Pria itu tidak pernah semanja ini sebelumnya selain karena hal-hal berbau erotis.


■□■□■□■


Hanna melihat kontak dengan nama sang ibu tengah memanggilnya. Ia sedikit ragu untuk mengangkat panggilan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu dikarenakan kondisi Willi yang sedang tidak baik-baik saja. Ya, dia takut jika ibunya bertanya sesuatu tentang William dan ia harus menjawabnya dengan kata 'baik-baik saja' yang artinya ia harus berbohong mengenai kondisinya saat ini. Namun jika berkata jujur ia sendiri pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya itu.


"Halo ma?."


📲Bagaimana kabar kalian?. Nanti malam pulang ya, kita makan malam bareng."


Yang ditakutkan pun akhirnya terjadi, Hanna begitu bingung dengan alasannya untuk menolak permintaan sang ibun.


"Nanti aku tanya Willi, apa dia bisa ikut atau tidak. Jika tidak bisa maka aku sendiri yang akan pulang."


Tepat disaat itu seseorang terdengar sedang mengeluarkan suara oleh sebab perutnya yang kembali bergejolak.


"Apa itu suara William?. Dia sakit?."


"Ya, sudah seminggu ini dia mengalami gangguan pencernaan dan dokter tidak bisa memberinya keterangan yang pasti karena memang tidak ada hal-hal yang patut di jadikan alasan untuk merujuknya pada suatu penyakit." Jelas Hanna dengan sedikit ragu.


Sang ibu terdiam diseberang telepon, sepertinya wanita itu tengah mencerna ucapan Hanna.


"Apa kamu hamil?." Tanya ibu pada akhirnya.


"Hamil?."


"Iya, hamil. Apa kamu sudah mengecek kondisi mu ke dokter?."


"Belum. Tapi kurasa tidak karena baru lima hari yang lalu ... " Keraguan menyelimutinya. "Ma nanti aku telepon lagi, oke?." Ia memutuskan panggilan itu sepihak kemudian bergegas menghampiri William yang terlihat begitu tak berdaya dengan tubuhnya yang semakin melemah.


Pria itu nampak berselonjor kaki didepan pintu kamar mandi tamu karena tak kuasa membawa tubuhnya sendiri setelah reflek berlari untuk menggapai wastafel secepat yang ia bisa.


Hanna yang melihat kondisinya pun tak bisa untuk tetap terlihat baik-baik saja. Wanita itu menitikan air mata tanpa sendirinya sadari.


"Berpeganglah, kita akan pergi kerumah sakit." Ucapnya saat mencoba mengalungkan lengan besar pria itu diatas bahunya.


"Tapi tubuh mu terus melemah bagaimana aku bisa tenang?." Ucapnya sembari menahan tangisnya agar tidak pecah. "Dan lagi ibu meminta ku agar secepatnya periksa ke dokter."


"Periksa ke dokter?."


"Ya. Untuk memastikan kondisi mu."


"Lalu kenapa justru kau yang harus diperiksa?." Tanya William dengan kerutan didahinya.


"Karena wanitalah yang akan mengandung bukan pria, terlebih melihat kondisi yang kau alami saat ini ibu memintaku untuk segera periksa guna memastikan dugaannya."


Willi terdiam antara bingung dan juga penasaran. Jika benar wanitanya hamil itu artinya dia tengah mengalami morning sickness yang sayangnya terjadi disepanjang hari dan membuatnya seperti laki-laki lemah karena tak bisa melakukan apapun bahkan sekedar berjalan pun ia tak sanggup terlebih jika harus menyambangi kebunnya dan melakukan aktifitas yang mengeluarkan tenaga juga keringat. Apakabar lututnya yang semakin tidak berdaya?.


▪▪▪▪▪


Hanna berjalan dibelakang kursi roda yang digunakan oleh William, sembari memegangi kursi electrik itu keduanya lantas memasuki ruangan praktek seorang dokter obgyn yang telah memiliki janji dengan mereka sebelumnya.


"Ny. William?." Seorang nurse memastikan namanya terlebih dahulu sebelum akhirnya mempersilahkan dirinya untuk berbaring diatas brangkar.


●○●○●○●


Disisi lain benua,


Mery terlihat murung sepanjang hari. Ia mengunci diri didalam kamar dan tak ingin melihat keberadaan lelaki yang sama sepanjang waktu.


"Aku sudah membuatkan mu makanan cobalah sedikit." Suara Drew mengisi keheningan.


"Makanlah selagi hangat." Hanya itu yang diucapkannya sebelum meninggalkan Mery untuk pergi bekerja.


Sudah sejak tiga minggu lalu pria itu pindah kerja menjadi karyawan disalah satu ekspedisi ternama sebagai pengantar paket. Ia terpaksa melakukannya karena kemiskinan tengah melanda hidupnya dan juga Mery yang tak pernah berhenti untuk mengusirnya keluar dari apartemen kecil itu.


Kehidupan Drew sudah banyak berubah sejak ia tinggal bersama Mery. Tepatnya memaksa wanita itu untuk mau menampungnya yang adalah seorang tunawisma.


Pria itu sudah tidak lagi menjalankan aktifitas lamanya yang penuh dengan kesia-siaan seperti halnya pesta bersama kaumnya, yah meskipun tak jarang ia harus menemukan hal yang sama saat dirinya pergi mengantarkan pesanan namun ia tetap menolak godaan itu lantaran kondisi mereka yang cukup membuatnya merasa mual.


Seperti yang kita ketahui jika kehidupan seorang Drew Trainor sebelumnya dikelilingi oleh orang-orang dari kalangan atas yang selevel dengannya juga jelas tidak urakan serta hidup disembarang tempat seperti mereka dan satu lagi alasan yang menjadi penyebab pria itu lebih banyak diam dari pada sebelumnya yakni kehamilan Mery.


Drew tahu jika wanita itu tengah berbadan dua dan semua karena ulahnya yang tidak bisa mengontrol emosi saat berhadapan dengan jelmaan singa betina itu sendiri.


....


Tepatnya setelah beberapa minggu ia berada diapartemen Mery. Awalnya ia hanya berniat pulang lebih cepat dari tempatnya berkerja di resto 24 jam itu untuk mengajak Mery makan diluar sekalian membuang penat selama beberapa waktu tinggal didalam ruangan sempit milik wanita itu, namun saat akan kembali ia mendapati seorang pria tengah mencium sang istri tepat didepan pintu apartemen dan itu membuatnya seketika meradang.


Drew yang melihat adegan live itu bahkan tak bisa berpaling. Emosinya semakin mebuncah kala Mery mengabaikannya tanpa niat menjawab pertanyaan mengenai siapa pria yang tadi bersamanya.


"Hidupku tidak bergantung padamu dan kau tidak berhak mengatur ku." Ucapan Mery kala itu yang membuat Drew marah dan berakhir dengan pembuahan oleh sebab pemerk*saan yang dilakukannya kepada wanita itu.


*


*


*


tbc