
☆▪☆▪☆
Pada akhirnya berita itu sampai juga ditelinga Hanna. Bukan melalui Jannet melainkan Albert, asisten Willi-lah yang memberinya kabar mengenai keadaan wanita dari keluarga Deinbeigh itu karena belakangan Hanna sering memimpikan teman satu clubnya dan ia menceritakannya berkali-kali kepada sang suami tentangnya.
"Apa karena kejadian yang kau lakukan waktu itu?." Tanya Hanna dengan air matanya yang mulai menggenang.
"Kurasa tidak dan aku berani menjaminnya." Ucap Willi dengan tegas.
"Tapi kenapa wanita sekuat dirinya sampai berusaha mengakhiri hidupnya hanya karena menghadapi pria seperti Drew yang bahkan tak pantas untuk sekedar menyentuhnya?."
"Sudahlah, aku tidak ingin kau terlalu banyak memikirkan masalah orang lain." Willi mendekap kepala Hanna yang tengah bersandar pada dada bidangnya.
Perasaan Hanna tidak setenang wajahnya yang terlihat biasa saja, berbeda dengan sebelumnya karena sempat mengeluarkan air mata meski tak banyak.
"Ada apa dengan mu Mery. Kenapa kau sampai seputus asa itu hanya karenanya?."
Albert sengaja tidak melengkapi kabar berita yang ia sampaikan kepada Hanna sebab Willi telah melarangnya untuk memberitahukan alasan dibalik komanya wanita keluarga Deinbeigh itu sendiri.
*
*
Lebih dari dua minggu lamanya, Jannet kembali menghubungi Drew saat pria itu masih berada dijam kerjanya. Wanita itu memberitahukan kepadanya jika Mery telah sadar dari komanya namun ia mengalami trauma yang menyebabkannya hanya diam dengan pandangan kosong.
Secepat mungkin Pria itu menyelesaikan pekerjaannya sampai akhirnya ia tiba di rumah sakit tepat saat Jannet baru kembali dari kantornya dengan seorang pria yang dulu pernah mengakui perasaannya untuk Mery.
Drew seketika mengubah emosi wajahnya saat netranya bersitatap dengan John.
"Kalian sudah saling kenal sebelumnya?." Tanya Jannet saat kedua pria yang ia ketahui baru saja bertemu itu terlihat tidak ramah.
"Tidak, aku tidak mengenalnya." Jawab Drew yang langsung dibalas oleh John dengan sebuah kalimat lain,
"Kau pernah datang menemuiku dipercetakan untuk membawa paksa Mery bersamamu."
Kegeraman Drew semakin bertambah dengan Kalimat yang diucapkan oleh pria dihadapannya.
"Ku pikir kau benar-benar akan membuangnya saat kau katakan ingin menyelesaikan urusan mu dengannya, tapi ternyata aku salah." John menyungging tipis dengan tatapan menghina. "Kau adalah pria munafik yang tak pernah sukar untuk mengingkari kata-kata mu sendiri." John dengan tenangnya berucap tanpa peduli bagaimana pria itu menatapnya bak seekor harimau yang siap menerjang mangsanya kapan saja.
"Apa sekarang kau berniat merebutnya?. Jika pun itu terjadi aku tetap tidak akan membiarkan mu mengambilnya dari ku." Drew terlihat mengeraskan kepalan tangannya.
"Lalu untuk apa kau merusaknya jika memang cintamu itu ada untuknya?." Kata-kata John membuat pria itu terdiam tanpa bisa lagi membalas ucapannya.
Kali kedua seorang Drew Trainor mendapatkan ucapan yang sama dari dua orang berbeda. Apa benar jika perasaannya akan senampak itu dimata mereka?.
"Sudahlah, tujuan ku membawanya kemari adalah untuk membantuku dalam proses penyembuhannya dan jika kau mencoba untuk menghalanginya maka akan kupastikan bui adalah tempat terakhir mu mr. Trainor." Jannet benar-benar muak dengan perseteruan yang terjadi diantara kedua pria dewasa itu.
"Aku tidak akan menghalangi mu membawanya, namun jika dia melakukan hal-hal yang merubah Mery untuk tak mengenali ku jangan salahkan seandainya pria ini tak lagi bisa melihat matahari."
"Apa kau pikir aku sejenis dengan mu?." John jelas tak terima mendengar ancaman Drew untuknya.
"STOOPPP!!!." Jannet benar-benar murka dengan tingkah keduanya yang justru sulit untuk berdamai.
**********
**********
William sangat jarang sekali pergi ke kantor untuk sekedar melihat-lihat kondisi perusahaannya. Dengan hanya mengandalkan jaringan internet semua bisa ia akses dengan mudah.
Tampan, kaya dan pintar adalah motonya karenanya ia tak pernah peduli dengan kelakuan absurd anak buahnya selagi tidak mengacaukan kinerja mereka untuk Gtech.
"Kau benar-benar tidak berniat menghibur mereka untuk sesekali?." Tanya Hanna sembari menyiapkan sarapan untuk suami bulenya. Ya, hanya wajahnya saja yang bule tapi tidak dengan kelakuannya.
"Untuk apa?. Aku lebih suka dirumah bersama mu dan dia." Willi tengah bersantai disofa malas sembari memandangi foto hasil USG si mungil yang selalu membuatnya rindu disetiap detiknya.
"Apa ini adalah sifat asli dari seorang Gerald William yang sebenarnya?." Hanna berdecih tak percaya membayangkan bagaimana sifat dan kelakuan pria itu dulu.
"Aku sudah kaya, pintar dan juga tampan, lalu apalagi?."
"Mereka?. Siapa yang kau maksud?."
"Megan dan Corner."
Willi seperti mengerti akan maksud tersembunyi dari pertanyaan yang diajukan oleh Hanna.
"Kau ... ingin melihat Mery, begitu bukan?."
Hanna menghentikan kesibukan tangannya sejenak untuk melihat tatapan mata William lalu ia tersenyum kecil dengan tebakan pria itu.
"Kau bisa membacanya?."
"Tentu saja, setelah menikahi mu entah mengapa perlahan aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi cenayang yang harus sigap membaca mood wanita kapan dan dimana saja terlebih sejak dia mulai mendiami tubuhmu." Keluhnya sembari berselonjor ria bak seorang pengangguran tak berguna.
Hanna begitu bahagia mendengar kejujuran sang suami yang terkesan lucu namun juga manis disaat bersamaan.
"Kemarilah, aku akan memberikan treatment terbaik untuk memanjakan sumber kekesalan dan juga kebahagiaan ku yang begitu tampan dan juga pintar ini agar semakin banyak menghasilkan pundi-pundi kekayaan." Hanna tersenyum manis sembari merentangkan tangannya untuk William yang tengah berjalan gontai mengarah padanya.
Kehamilan semester pertama Hanna sudah berlalu, begitu banyak hal baru yang tak pernah terduga seblumnya akan ia alami termasuk morning sickness yang sempat membuat Willi hampir tak bisa berjalan ataupun sekedar untuk membuka mata. Beruntung rasa tak nyaman yang setiap hari menjangkitinya itu kini tak lagi ada setelah hampir dua bulan lamanya ia merasakan hal yang sama berulang kali.
*****
*****
Bulan demi bulan terus berlalu, perjuangan Jannet untuk memulihkan kondisi mental Mery masih berada dipertengahan jalan, meski susah ia akan terus berusaha bersama pria yang selalu siap membantunya meski dalam keadaan yang tak memungkinkan sekalipun, siapa lagi jika bukan Drew.
Pria itu sendirilah yang meminta kepada Jannet untuk membantu meskipun ia sama sekali tidak paham dan mengharuskannya belajar mengenai terapi pemulihan pasca trauma yang dialami oleh wanita yang saat ini telah berhasil mendiami hatinya.
"Hati wanita terkadang menjadi sangat sulit ditebak. Ia bisa saja terlihat baik-baik saja namun tidak pada kenyataannya dan itu yang saat ini kita lihat." Ucap Jannet saat menatap wajah damai Mery yang sudah terlelap dalam tidurnya ditempat yang sama, brangkar pasien.
Drew hanya diam tanpa niat bersuara setelah mendengar kata-kata Jannet. Tampak sekali jika ia sangat menyesali perbuatannya dulu.
Sepeninggalan Ibu beranak satu itu, Drew lantas menarik kursi besi yang tersedia di sebelah brangkar untuk kemudian ia duduki sembari menggenggam erat tangan putih Mery yang kini terlihat kurus dan sangat rapuh.
Pria bertubuh tinggi itu tidaklah sesempurna sebelumnya. Sosoknya yang dulu selalu terlihat tampan dengan tubuh atletis kini sudah tak lagi sama. Ia juga banyak kehilangan berat badannya, tak hanya itu kantung mata pun ikut menghiasi rona diwajahnya seolah ingin memberitahu setiap pasang mata yang melihatnya jika dirinya sudah menemukan kehidupan yang layak untuk ia perjuangkan.
***
***
"Maaf ... maafkan aku."
"Untuk semua yang sudah ku lakukan kepada mu."
"Aku mungkin belum menyadarinya saat itu."
"Aku benar-benar menyesal."
"Kau tahu?. Kini betapa berartinya umpatan yang sering kau keluarkan saat melihat ku."
"Kembalilah, aku ingin mendengarnya lagi."
"I miss you."
Drew yang tengah bermonolog sembari meletakan dahinya diatas bed tanpa sadar meremas tangan pucat Mery sedikit lebih keras hingga membuat jemari putih itu reflek membalas genggaman tangan miliknya. Ia yang sadar dengan sentuhan itu kemudian mendongak dan mendapati sepasang mata sendu tengah menatap kearahnya.
.
.
.
tbc
otor: makasih banyak buat jempol kalian, 🤗