
♤●♤●♤
Senja kala itu terlihat sedikit redup karena langit tertutup mendung tipis sejak pagi dengan rintik-rintik hujan yang mengguyur dihampir seluruh daerah tempat Hanna berada.
Sudah lima hari ia bermukim di rumah kayu yang dimiliki oleh Sinta, Wanita yang membawanya malam itu. Sedikitnya Hanna juga merasa sungkan karena sudah terlalu lama ia berada ditempat itu dan lagi dirinya tak melakukan apa-apa untuk menunjang perekonomian, ah maksudnya untuk mengisi dompetnya sendiri dan membantu sesuatu yang bermanfaat bagi mereka.
"Maaf, bagaimana cara kita untuk bisa pergi ke kota?." Tanya Hanna kepada Sinta yang tengah fokus memasukan benih tanaman kedalam sepotong kecil sponge menggunakan pinset.
"Dengan angkutan khusus. Apa kau berniat pergi ke kota?."
"Iya, aku ingin membeli sesuatu."
"Nanti akan ada mobil yang datang untuk membawa beberapa penduduk pergi ke kota. Ikutlah dengan mereka, tapi pastikan untuk menutupi wajah mu karena aku takut jika seseorang diluar sana akan mengenalimu nantinya."
"Baiklah."
"Bersiaplah. Kemungkinan mereka sebentar lagi akan tiba."
*
*
*
*
Hanna dengan penampilan barunya bersiap menunggu mobil yang dimaksud Sinta bersama dengan beberapa orang lain yang juga akan pergi ke kota.
"Kau tetap terlihat cantik meski penampilan mu seperti ini bagaimana mungkin William akan membiarkan berliannya dikotori oleh orang lain."
Desiran halus seketika menyapa hatinya kala wanita bernama Tina yang baru saja memujinya tengah mengusap tangan indah berjari ramping miliknya dengan penuh kasih sayang.
aaah ... dia sepertinya merindukan ibunya yang berada nunjauh disana atau mungkin seseorang yang tak diketahui rimbanya?. Mana saja asal itu baik untuk hatinya. 💗
Tak lama mobil jemputan mereka pun tiba dengan diikuti mobil lain yang berjalan pelan dibelakangnya.
Setiap mereka memandang penuh curiga dengan keberadaan mobil hitam berjenis jeep dan berhenti tepat didepan sebuah aula yang biasa mereka gunakan untuk membuat anyaman.
Steven keluar dari balik pintu kemudi. Pria bermata sipit itu sedang tidak baik-baik saja dilihat dari penampilannya yang jauh dari kata tampan seperti yang biasanya ia tampakan. Wajahnya seperti baru saja bangun dari tidur dan hanya mengenakan kolor serta kaos polo hitam juga sepasang sendal jepit yang sepertinya baru saja ia dapatkan dari pedagang kelontong.
Dengan berjalan gontai pria itu menghampiri Hanna.
"Tolong bangunkan orang itu!." Pintanya kemudian beralih memasuki aula lalu merebahkan tubuhnya disembarang tempat dan langsung terlelap.
Hanna yang bingung pun hanya berani mendekat tanpa niat membangunkan sang objek.
Tina pun ikut menyusulnya setelah melihat kegusaran Hanna lantaran permintaan Steven yang membuat gadis itu terlihat begitu enggan untuk melakukannya.
"Bangunkan dia, mungkin saja dia sengaja menunggu mu untuk membangunkannya."
Perlahan ia menekan handle pintu dan mendapati pria itu tengah tertidur dengan pulas. Sejenak ia tertegun mendapati wajah polos William dalam keadaan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Begitu damai dengan ketampanan yang tidak pudar meski bermuka bantal sekalipun.
"Kami pergi, kau mungkin akan pulang dengannya setelah dia bangun nanti." Tina meninggalkan Hanna bersama Willi yang tengah tertidur dengan pulasnya.
"Hati-hati, jaga diri mu ... juga dia." lanjut Tina sebelum akhirnya mobil jemputan mereka berlalu dari pandangan Hanna.
Tinggalah dia dan Willi yang masih berada di depan aula, sedangkan Steven?. Entah sudah sampai dimana pria itu bermimpi.
"Apa yang harus aku lakukan?." Gumamnya saat menatap wajah tenang di hadapannya. "Apa biarkan saja dulu dia disini?. Ataukah harus dibangunkan?."
"Bagaimana jika ku gendong?. Ah, itu jelas tidak mungkin, dia jelas bukan bayi. Kakinya saja sepanjang itu."
Lelah bermonolog akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Willi tetap didalam dan dirinya memilih duduk dibangku taman sembari menunggu kedua pria itu terbangun dengan sendirinya.
Hampir dua jam lamanya Steven dan Willi terlelap dalam mimpi yang antah barantah. Namun tidak dengan Hanna, perutnya sudah terasa melilit sejak setengah jam lalu.
"Aaah, semua pria sama saja, tidak Aldric, tidak Chris, Steven, juga dia. Kenapa mereka tidur seperti orang mati!." Mendengus lesu sembari menekan perutnya yang kian berbunyi karena rasa lapar. Hanna membaringkan tubuhnya diatas bangku panjang yang menjadi tempat bersantai dibawah sebuah pohon ketapang yang sengaja ditanam dihalaman aula.
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧
Semilir angin sore menambah syahdu suasana. Entah mengapa rasanya sesuatu tengah mengganggu lelapnya dihari yang begitu indah.
Sepasang mata menatapnya begitu lekat. hembusan hangat nafas berbaur dengan semilir angin yang tengah berhembus membuat kesadaran Hanna setengahnya perlahan kembali sembari mengumpulkan sisanya yang belum menyatu secara keseluruhan.
Terasa kenyal dan sedikiit ...... basah ...?
Mata indah itu membola dengan sempurna kala raganya dipaksa untuk segera sadar dari bayang-bayang aneh yang sejak tadi menggelayutinya.
Dan benar saja, seseorang baru saja melakukan pelecehan terhadap dirinya.
William tersenyum manis kala mata mereka bertemu dengan posisi terbalik. tentu saja terbalik karena kini pria itulah yang menunggunya untuk bangun.
Hanna seketika bangkit dari keterkejutannya sembari menutup bibirnya sendiri dengan tangan.
"A_apa yang baru saja kau lakukan?." Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
"mengecup bibir mu, apalagi?." Jawaban penuh kejujuran yang diucapkan William mampu membuat seorang Hanna kesal sampai ubun-ubun.
"Dasar cabul!. YAACHHH!!!." Dengan sisa tenaga yang ada Hanna dan Willi berlarian mengitari halaman tak ubahnya sinetron bollywood hanya saja tidak ada musik yang mengiringinya malainkan tatapan aneh sang asisten yang kini tengah duduk di teras dengan kedua alis menyatu disertai sudut bibirnya yang mencuat. Ya seperti yang kita tahu bahwa Steven sedang menghina kelakuan bosnya sendiri.
"Sudah, stop. Aku lapar!." Hanna lebih dulu menyudahi action mereka karena sudah tak memiliki tenaga lebih untuk mengejar si tersangka.
William mendekat dengan langkah gontai, ia sendiri pun sebenarnya belumlah pulih dengan sempurna terlihat dari kondisi tangan kirinya yang mengenakan penyangga agar tak banyak aktifitas setelah dilakukan pembedahan untuk mengambil peluru yang bersarang didalamnya.
Hanna baru menyadari hal itu setelah beberapa saat memperhatikan penampilan pria dihadapannya yang selalu terlihat all out namun tidak untuk kali ini.
"A_apa yang terjadi dengan tangan mu?." Hanna tampak panik karena baru menyadari jika Willi mengenakan penyangga.
Wanita itu menyentuh dengan perlahan lengan kokoh berbalut perban dihadapannya. "apa yang terjadi Willi?. kenapa kau sampai mengenakan ini?." Wajah paniknya tak lagi bisa disembunyikan dan William sangat lah bahagia karenanya.
Tak lama satu persatu warga berdatangan setelah sebelumnya mendengar terikan atau tepatnya caci maki Hanna saat berkejaran dengan Willi tadi.
"William?." Sinta berjalan sedikit cepat untuk bisa memeluk tubuh anak lelaki yang kini sudah berumur lebih dari dua puluh sembilan tahun itu.
kedatangan mereka layaknya acara temu kangen yang biasa terjadi saat seseorang baru saja pulang dari rantauan.
"Apa kabar mu?." adalah pertanyaan yang paling banyak mereka ucapkan sembari memeluk untuk mengurai rasa rindu yang sejak lama mereka rasakan.
▪▪▪▪▪
Willi jelas tidak ingin bertahan lebih lama ditempat itu karena ia memiliki segudang urusan yang belum terselesaikan.
"Maaf, aku tidak bisa bertahan disini karena waktu perjalanan yang lama dan juga hari yang semakin sore."
Ketiganya berpamitan setelah Hanna selesai berkemas dengan membawa sedikit barangnya beserta hasil olah tangan yang ia pelajari selama berada di desa 'khusus' tersebut.
.
.
.
Tbc.