SAVE ME

SAVE ME
Sleep Tight ...



☆▪☆▪☆


Hana benar-benar merasa seperti tahanan karena Willi mengatakan jika ia mengingkari maka tak ada pintu keluar baginya.


"William, bisakah kau membiarkan ku pergi tanpa hal itu." Hanna mencoba bernegosiasi dengan si gila. "Bukankah kita berteman dan kini kau menjadi bos ku, akan aneh rasanya jika kita melakukan hal semacam itu tanpa dasar yang jelas." Masih juga berusaha membujuk pria yang tengah memunggunginya.


Willi berbalik dan langsung menarik pergelangan tangan Hanna untuk merapat ketubuh tingginya.


Pria itu benar-benar menikmati momen kebersamaan mereka di dalam ruangan Steven yang gelap, hanya cahaya malam rembulanlah yang menerangi.


"Aku tidak pernah menginginkan mu menjadi teman ku. Bahkan sejak pertama kita bertemu diumur belasan saat itu."


Willi baru akan mengecup tepat saat Hanna memundurkan wajahnya sebagai isyarat agar pria itu memberinya penjelasan.


"Hatiku lebih dulu menyukaimu sebelum akhirnya aku terperosok semakin jauh ke dalam jurang yang gelap dan melupakan keberadaan mu sampai saat kita dipertemukan kembali sebagai terapis dan seorang pasien."


Hanna kembali menghalangi bibirnya dengan telapak tangan agar Willi tak lagi menciumnya, namun sayang. Pria tetaplah pria, dan tak bisa menerima jika aktifitas nyamannya harus terganggu dengan hal tak penting seperti saat ini.


Willi menyingkirkan tangan mugil Hanna untuk kemudian mengusap bibir wanita pertama yang pernah ia rasakan dalam hidupnya meski tanpa persetujuan.


"Maaf, meskipun salah ku terasa nyaman." Bisiknya tepat ditelinga Hanna dengan hembusan nafas hangatnya hingga membuat tengkuk wanita itu seketika meremang.


"Sudah malam, aku harus pulang." Hanna melepaskan tangan Willi yang melingkari tubuhnya.


"Kita akan melakukannya lagi besok?." Pertanyaan Willi seketika mendapat tatapan tajam dari Hanna karena kata-katanya begitu tak tahu malu.


"Tidak akan!. Aku tidak akan menemui mu, bahkan jika kau mendatangiku sekalipun." Ketusnya sembari memunguti barang-barang miliknya dan juga uang yang sudah ia susun sebelumnya.


"Apa kau berani bertaruh?." Willi ikut berjongkok disampingnya dengan jarak begitu dekat.


"Untuk apa?."


"Kata-kata mu."


"Tentu saja!. Aku bahkan menyangsikan dirimu yang bisa terkena sinar matahari." Wanita itu benar-benar memancing emosinya.


"Ha Ha, kau pikir aku si pucat yang hanya keluar dimalam hari?!." Ucapnya dengan sedikit tawa sumbang.


"Sejenis itu."


"Kalau begitu aku akan mengetuk jendela kamar mu setiap malam dan meminta mu untuk melakukannya."


"Melakukan apa?."


Pria itu berdecak lalu terkekeh. "Kau tidak ingin mencobanya dengan ku?."


"Please Willi, berhentilah berhayal. Kau sudah mengotori otak ku."


Akhirnya Willi terbahak karena kejujuran wanita dihadapannya.


"Marry me?."


"No!."


"Baiklah, aku akan mencobanya dengan mu" Ucapan Willi benar-benar membuat Hanna terkejut sekaligus takut.


"Willi Stop!."


"Aku hanya bercanda."


"Tidak lucu!."


****


****


Perjalanan malam yang santai dan tenang mampu membuat seorang Hanna terlelap dalam damainya tanpa malu karena kini bosnya justru terlihat seperti supir pribadi.


Willi memarkirkan mobilnya disisi jalan. Ia melihat rumah Hanna dari dalam mobil, tampak sepi.


"Hanna, kau ingin tidur diapartemen ku?." Tanyanya kepada wanita yang mungkin telah menyelami alam mimpi itu.


Willi tersenyum, ditatapnya wajah cantik wanita yang kini berada disisinya dengan seksama. Ia tak menyangka jika yang dilakukannya beberapa menit lalu adalah nyata. Ia benar-benar merasakan bibir manis itu, lalu kini ... yang pasti ia tidak akan melepaskan Hanna begitu saja.


Willi kembali teringat pesan Corner dan Megan kepadanya jika, 'wanita akan melihat keseriusan dalam diri mu terlepas dari apa yang kau miliki jika dia adalah wanita yang baik terlebih lagi jika ia pintar dan mandiri.'


"Bahkan Lary pun harus berjuang dengan waktu untuk bisa mendapatkan Corner." Senyum tipis tercetak jelas diwajah Willi.


Ingatannya kembali pada sosok Drew, pria itu sudah lebih dulu menikah darinya dengan seorang wanita yang pernah terlibat baku hantam dengannya.


Hidup memang misteri, tak ada seorang pun yang bisa menebak hal apa yang akan terjadi padanya esok hari.


Tanpa Willi sadari jika sejak tadi seseorang terus mengamati keberadaan mobil miliknya dari kejauhan.


Willi sempat terkejut lantaran ponsel milik Hanna berdering dengan sebuah nama yang sangat tak asing baginya, 'Aldric' si pria Perfect yang berlagak seolah paling suci dari dosa dan api neraka. Ada decak malas saat melihat ponsel itu terus-menerus bergetar di pangkuan Hanna. Jika boleh, ingin sekali ia membuang ponsel itu ke selokan di sebelah mobilnya.


Hanna pun akhirnya terbangun dengan Willi yang pura-pura terlelap dibalik kursi kemudi seolah dengan sengaja membiarkannya tidur tanpa mau mengganggunya.


"Halo?."


📲"Dimana?."


"Didepan, aku ketiduran." Hanna jujur dengan kondisinya saat ini.


📲"Kau pulang bersama bule bau itu?." Nada tak suka jelas terdengar ditelinga Hanna.


"Iya, dia juga tidur disamping ku."


📲"Apa kata orang jika mereka tahu kau tidur didalam mobil dengan seorang pria?." Aldric membentaknya seolah dialah biang masalah.


"Biarkan saja, setidaknya aku tidak benar-benar melakukan apa yang menjadi pikiran buruk mereka." Hanna tetap tenang menghadapi kritikan Aldric.


📲"Cepat keluar!."


"Tak perlu memarahi ku wahai kakak tua, aku sadar akan batasanku dalam pergaulan dengan seorang pria." Ada nada remeh yang terselip diantaranya.


📲"Kau berani membantah?."


"Tentu tidak jika kau berkata dengan baik. Sebab kau juga bukan pria baik-baik." Hanna lalu terkekeh. "Yang berlaga suci padahal sering berkeringat dalam selimut yang sama bersama Vivian?." Senyum simpul sarat akan makna terbit setelah Hanna tak mendengar bantahan Aldric diseberang sana.


"Sudahlah aku harus membangunkan bule ini dulu sebelum per_


Panggilan itu lebih dulu terputus sebelum Hanna sempat menyelesaikan kata-katanya. Ia sadar jika kini pria bernama Aldric July Adam itu tengah marah kepadanya yang dengan sengaja membawa nama Vivian, kekasih tak sampai namun bisa tidur dalam satu slimut dengannya tanpa bisa menyangkal.


********


Pagi ini Hanna enggan sekali beranjak dari kasur nyaman miliknya. Ada banyak hal yang menjadi pikirannya jika harus masuk kantor dan salah satunya adalah karena ia tidak ingin bertemu dengan bosnya sendiri.


"Kenapa sekarang bertemu dengan mu terasa menjadi beban untuk ku?." Keluhnya sembari mengapit guling kesayangan miliknya dengan erat.


Sebuah ketukan terdengar begitu kasar diambang pintu dan ia bisa memastikan jika itu bukanlah ibu ataupun si bungsu, melainkan si tua yang sangat tak suka dibilang tua.


"Kau tidak bekerja?." Pertanyaan basa-basi untuk membuka percakapan.


"Aku malas."


"Sepertinya bule itu sudah meracuni mu." Senyum remeh terlihat jelas diwajah Aldric.


"Apa kau kemari hanya untuk menghinanya?."


"Tidak, aku hanya ingin memperingatkan mu untuk menjauhinya."


"Kenapa kau selalu mengatakan itu?. Kau tidak bisa menilai seseorang dengan hanya melihat tampilan luarnya." Tatapan tak suka Hanna begitu lekat.


"Aku ragu jika kau tidak benar-benar tahu tentang masa lalu si bule menjijikan itu." Perkataan Aldric membuat jantung Hanna berdegub lebih cepat. "Dan apa jadinya jika aku memberitahu ayah mengenai rahasia besar ini." Kekehan bak penjahat pun terdengar lirih dari bibir pria yang tengah berdiri dihadapan Hanna.


"Kenapa tidak langsung saja kau beritahu mereka?. Dengan begitu aku juga bisa santai mengatakan dosa mu dihadapan semua orang." Hanna tak ingin jika Aldric terus mengacamnya dengan aib orang lain.


"Kau mengancam ku?." Raut wajah Aldric berubah seketika dengan rahangnya yang mengeras.


"Aku tidak merasa begitu, yang kulakukan sama halnya dengan memberi dan menerima." Ucapan Hanna berkahir dengan dirinya yang lebih dulu meninggalkan Aldric menuju kamar mandi.


.


.


.


.


.


Tbc.