SAVE ME

SAVE ME
Kejutan Yang Sangat Memalukan.



◇☆◇☆◇


"Apa ini?."


Hanna mengerutkan dahi sembari membolak-balikkan kotak yang ia terima dari Willi.


"Entahlah, aku juga tidak tahu isinya."


"Kau serius dengan ucapan mu?."


"Ya, aku hanya meminta Steven untuk mencarikan sesuatu yang sesuai dengan wanita mandiri."


Keduanya menghampiri kursi santai yang berada tepat dibelakang mereka. Hanna kemudian membuka simpul pita yang mengikat kotak berwarna hitam diatas pangkuannya.


Terlihat gulungan bubble warp memenuhi ruang didalam kotak. Hanna melepaskan rekatan yang menempel disekelilingnya lalu membuka gulungan yang melapisi sesuatu didalamnya. Ia seketika berjingkat sembari melemparkan barang itu dari pangkuannya disertai jeritan yang begitu mengejutkan pria yang tengah duduk bersamanya.


Willi yang sama terkejutnya pun langsung meringkus isi kotak yang terlempar dan menghubungi sang asisten laknatnya yang kini malah tengah asik bersama perempuan sewaannya.


"Apa maksud mu memberikan hal tak pantas seperti itu?." Ucap Willi dengan nada kemarahan yang begitu terasa sampai membuat bulu-bulu halus Steven ikut berdiri.


📲"Bukankah anda yang memintanya?. Sesuatu yang bisa membuat wanita mandiri bahagia?."


"Apa kau pikir dia ****** seperti yang kini tengah bersama mu?."


Hanna yang berada di luar pintu sedikit banyak bisa mendengarkan percakapan Willi dengan sang asisten dan terus membentak seperti orang tua yang baru saja mendapati kesalahan pada anaknya.


Sebenarnya apa yang dirasakan Willi berbanding terbalik dengan yang ia tampakkan pada wajah coolnya.


"Sungguh aku minta maaf. Ini benar-benar sangat memalukan." Willi membuang barang tak senonoh dari Steven si asisten gebleknya langsung ke kotak sampah.


Hanna yang sedari tadi diam tak tahan untuk terus menahan tawa saat melihat wajah kesal Willi dibalik tampangnya yang cuek.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku hanya terlalu kaget tadi sampai melemparkannya tanpa sengaja." Hanna kembali terkekeh.


"Apa asistenmu juga maniak?." Pertanyaan Hanna membuat Willi sedikit tak enak hati untuk menjawabnya.


"Yah kau bisa menilainya sendiri. Dia bukan spesies lugu yang patut dilestarikan, tapi justru sebaliknya."


"Tak masalah selagi kinerjanya tak terganggu."


"Tapi itu cukup membuat ku kesal."


"Sebab?."


"Karena kebiasaannya itu tak jarang ia selalu berada dekat dengan wanita dimanapun dan hampir setiap waktu menghilang hanya karena adik kecilnya yang sialan itu." Willi berdecak malas karena menceritakan si cassanova tak tahu malu, Steven.


Hanna tertawa lepas, ia seperti baru mendapat lawakan yang begitu lucu dari teman rasa pasangan itu.


"Kenapa kau tak mencobanya juga?."


Willi menatap Hanna dengan penuh tanda tanya. "Mencoba apa?."


"Mencoba apa yang dilakukan oleh Steven."


"Jika kau tak keberatan aku tidak masalah." Willi tersenyum miring disertai kerlingan yang mengarah pada wanita cantik disebelahnya.


"Kenapa aku harus keberatan?. Kau bisa melakukannya tanpa harus izin dari ku Willi."


"Tapi aku hanya ingin melakukannya dengan mu." Dan seketika itu sebuah kaleng soda melayang tanpa sayap ke arah Willi.


Terjawab sudah alasan dibalik smirk aneh yang Willi tampilkan. "Dasar gila!. Aku tidak mau melakukannya dengan mu."


"Kenapa?. Apa karena aku seorang gay?."


"Tidak. Bukan itu."


"Lalu?."


"Emh_


"Kenapa kau tak menjawab?."


"Aku suka orang pribumi."


"Pribumi?. Apa kurang ku?. Padahal aku selalu sempurna dimata para wanita?."


"Kau benar Willi kau memang selalu terlihat sempurna. Tapi bukan itu yang aku cari." Hanna mendesah lesu.


"Lalu apa?."


"Haruskah kau tahu alasannya?."


"Hem."


"Aku tidak suka bule."


Willi dibuat melongo dengan pernyataan Hanna yang baru saja ia dengar. "Apa tadi?. Kau bilang tidak suka bule?."


Hanna memalingkan wajah karena merasa tak enak hati dengan apa yang baru saja ia ucapkan kepada pria berwajah bule disebelahnya.


"Apa yang menjadi alasan mu?. Tidak kah kau tahu jika ras bule memiliki lebih banyak kelebihan dan keuntungan yang bisa didapat oleh pasangannya?."


"Kau seperti tengah mempromosikan diri mu sendiri." Wanita itu berdecak malas.


"Kau tetap bermutu dan sangat bermutu dimata perempuan yang tepat."


"Tidak, aku hanya ingin terlihat oleh mu."


"Ckk!. Keras kepala sekali."


"Aku tidak peduli. Bahkan jika orang tua mu akan menikahkan mu dengan pria terhormat sekalipun."


"Apa yang kau maksud?." Hanna mengerutkan keningnya, menerka apa yang akan dilakukan oleh pria dengan sejarah kelam itu.


"Aku akan menodai pria itu." Willi begitu santai dan terkesan tak peduli dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.


"HEI!!!." Hanna begitu terkejut dengan kata-kata yang keluar begitu saja dari mulut pria yang tengah duduk santai disebelahnya sembari menegak minuman bersoda.


"Sangat menggelikan. Tidak ada yang dirugikan. Pria tidak memiliki benteng seperti wanita."


"Apa kau memilikinya?." Willi dengan polosnya bertanya tanpa mencernanya terlebih dahulu.


"Tentu saja!."


"Benteng apa yang kau punya?."


Hanna seketika tersadar dari ucapannya. Ia lupa jika pria dengan harta melimpah disebelahnya adalah penganut sword system sejak awal.


"Kau benar-benar tak tahu atau sedang mengerjaiku?." Hanna menumpukan tangannya pada meja yang menjarak kursi keduanya.


"Tentu saja aku jujur."


Wanita itu menyugar rambut panjangnya. Ia benar-benar harus bersabar menghadapi spesies langka yang terus membuatnya kesal.


"Sudahlah, lupakan. Itu juga tidak penting untuk mu."


"Tugas mu adalah menjelaskannya padaku nona, atau gaji mu akan tertahan." Willi mengedipkan sebelah matanya.


"Kau bisa mempelajarinya sendiri dari giggle."


"Tapi aku terlalu malas jika harus kembali menanyakan hal yang sama padanya."


"Kalau begitu tanyakan itu pada asisten mu. Dia pasti sangat berpengalaman."


"Kenapa harus bedebah sialan itu, bukankah lebih praktis jika kau sendiri yang menjelaskannya secara langsung?."


"Haruskah aku menerangkannya pada mu yang seorang pria?. Itu membuat ku malu Willi, akan terasa aneh jika membicarakan hal seperti itu dengan lawan jenis."


"Hooo,,, ternyata kau juga menganggap ku seorang pria." Willi terkekeh, ada secuil kebahagiaan yang terselip dihatinya.


"Tentu saja!. Kenapa?. Apa kau berfikiran jika aku menganggap mu wanita?." Hanna terlihat kesal dengan respon Willi terhadapnya. "Bagaimanapun sifat dan bentuk mu, dimata ku kau tetap seorang pria yang artinya adalah aku tetap harus waspada terhadapmu, dimanapun dan kapan pun tanpa terkecuali."


"Tidak ada sesuatu yang membahayakan dari ku." Willi menaikan dua tangannya.


"Laki-laki tetaplah seorang laki-laki bagaimanapun bentuknya selama ia masih memiliki alat vitalnya dan itu cukup berbahaya untuk para wanita, kecuali pria itu sudah menghilangkannya dan itu berarti ia tidak bisa menghamili seorang wanita. Kau paham?."


"Tidak."


"Asssshhh, kau benar-benar menyebalkan."


"Bagaimana jika kita mencobanya?."


"Apa?."


"Menghamili wanita!."


"Terimakasih." Hanna langsung beranjak dari kursinya. "Sebaiknya aku pulang, kesehatan mental ku sepertinya telah menurun dengan cepat." Ucapnya sembari memijit pelipis menggunakan jemarinya.


Willi benar-benar tertawa bahagia dengan sikap Hanna dalam menghadapi semua ucapannya. Ia langsung memeluk wanita dengan predikat kesabaran yang luarbiasa itu tanpa lebih dulu meminta izin dari sang pemilik tubuh.


Sunset yang begitu indah seakan mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Willi saat ini. Hatinya tengah bahagia. Entah apa dan bagaimana, tetapi itulah yang ia rasakan setiap kali berada disamping Hanna.


Pelukan itu begitu intens. Willi benar-benar menghirup dalam aroma dari parfum yang melekat di pakaian yang dikenakan oleh Hanna.


"Lepas Willi." Hanna berusaha melepas dekapan pria itu dari tubuhnya yang terasa kecil.


"Aku sungguh-sungguh dengan semua ucapan ku tadi." Lirihnya.


Willi merendahkan kepalanya untuk semakin mendekat ketelinga Hanna.


"Menghamili mu." Bisiknya.


Hanna langsung mendoronganya. Ia bergegas meninggalkan apartemen bos muda pemilik Gtech itu sembari mengumpat kesal karena kata-kata Willi yang membuat telinganya memerah karena malu.


"Pria gila!."


.


.


.


Tbc