
Anak perempuan itu menyerahkan helm berwarna putih kepada pengendara motor yang mengantarnya. Namun, lawannya tidak menerimanya. Arashi memiringkan kepalanya ke kanan, “Kenapa?’
“Jawabannya.’ Edward menjawab dengan suara yang agak diberat-beratkan.
Seakan sebuah kabel sudah menyambung di otaknya, Arashi menyeru pelan, “Ah,’ ia kembali berpikir. Bahkan setelah berpikir selama di perjalanan tadi, ia masih belum menemukan jawaban.
“Oke, Aku mau.’ Arashi tersenyum malu-malu, semburat merah terlihat jelas pada kedua tulang pipinya yang menonjol saat dirinya tersenyum. Lesung pipinya terlihat begitu dalam akibat pipinya yang berisi.
Lawan bicara yang masih berada di atas sepeda motor ikut tersenyum. “Kayaknya nanti mau turun hujan,’ kata anak perempuan itu saat Edward mengambil helm di genggamannya. Ia ikut mendongak ke arah dimana lawannya bicaranya mendongak. Keduanya menatap senja yang terhalang oleh awan kelabu. Bagai ucapan tadi tidak berarti,
Edward tersenyum, “Hujan-hujanan sekarang pun aku nggak keberatan. Ntar aku teriak-teriakan di tengah hujan. Hahaha,’
Tatapan datar adalah jawaban dari seruannya tadi, Arashi menambahkan pukulan di bahu sebelum berkata, “Yaudah, sana pulang. Aku mau masuk.’ Laki-laki di hadapannya mengangguk.
“Ntar malem hubungi aku, ya?’ imbuhnya. Mendengar hal itu, Arashi menyeru, “Oh iya, ngomong-ngomong soal hubungi, jangan kasih tau siapa-siapa kalau hubungan kita lebih dari sekedar teman, lho?’
“Kenapa?’
“Nggak boleh aja. Seenggaknya, nggak boleh buat sekarang. Pokoknya nggak boleh!’
Edward hanya bisa mengangguk canggung karena Arashi begitu bersikeras, seperti anak kecil yang akan merajuk jika tidak dituruti. Ia bisa saja dicampakkan sekarang juga kalau tidak menurut, mungkin.
Laki-laki tadi sudah pergi, tidak ada suara bising dari motornya. Arashi menatapnya semakin jauh dan menjauh sampai ia tidak dapat melihatnya lagi. Angin kencang yang lalu lalang tidak mampu untuk membawa pergi awan yang semakin menghitam dan seakan keberatan dengan beban yang dibawanya. Arashi menghela napas panjang sebelum masuk dan tempat itu menjadi kosong.
Satu persatu rintik hujan mulai turun, semakin banyak setiap detiknya. Dalam waktu kurang dari satu menit, hujan yang deras sudah turun membasahi bumi.
Malamnya, Arashi kembali memikirkan kejadian sore tadi. Ia memikirkan, mungkin, ia salah mengambil keputusan. Ia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Bagaimana jika ia salah bertindak? Tapi memangnya apa yang bisa menjadi salah? Apa konsekuensi terburuk jika ia salah bertindak? Paling-paling, hubungannya akan karam. Ia tidak masalah. Tapi ini semua sudah terjadi. Kira-kira, hubungan seperti apa yang akan ia jalani? Semua pasangan pasti menginginkan hubungan yang hangat, tak ada ubahnya dengan Arashi. Hubungan yang sedikit kekanakan sepertinya tidak masalah.
Sebuah pesan instan masuk di ponsel Arashi saat pemiliknya sedang mengerjakan tugas. Arashi memeriksa ponselnya, dapat ditebak dengan mudah, pasti dari Ed. Karena notabene hubungan mereka yang sudah berubah, menjadi lebih dekat, Arashi tidak mengerti kenapa tapi ia beranggapan kalau pesan tadi sedikit menganggu. Padahal, sebelumnya jika pesan dari Ed masuk ke ponselnya dan ia sedang belajar, maka ia akan meninggalkan tugasnya dan membalas pesan itu.
Entah karena apa, sekarang Arashi justru menganggap kalau Ed menganggu, kalau Ed menghalanginya untuk belajar. Walaupun begitu, ia tetap membalas pesan dari Ed. Ia membalas dengan harapan perasaan buruk seperti tadi akan hilang dengan sendirinya. Anggapan seperti tadi pasti akan menghancurkan hubungan mereka perlahan-lahan.
Sesaat setelah Arashi bersiap tidur, ia memandangi langit-langit kamarnya. Di bawah selimut berwarna abu-abu dan bercorak bunga kecil-kecil ia memerhatikan dengan seksama benda diatasnya itu. Seakan disana sedang memutar hologram dari kejadian sore tadi. Kini perasaan Arashi sudah lebih positif setelah berbincang-bincang sedikit dengan Ed. Ed sangat bahagia dengan hubungan mereka, sangat bertolak belakang dengan Arashi.
Jika ia terus menyesal dan merasa tidak mampu, merasa kalau semua atmosfer yang aneh ini adalah hal buruk, maka ia akan mengecawakan Ed. Dan hal yang ia takutkan justru akan menjadi kenyataan. Satu-satunya cara untuk mencegah hal itu adalah dengan menerima keadaan. Ia puas dengan keputusannya dan ia puas dengan kebahagiaan Ed. Bahkan, mungkin ia akan menjaganya.
Kini Arashi lebih memilih memikirkan hal-hal lain yang mungkin akan berdampak baik pada hubungannya. Hal-hal yang menurutnya sering dipikirkan oleh pasangan kekasih pada umumnya. Ia memikirkan hal-hal seperti kemana mereka berdua akan menghabis waktu weekendnya bersama, film apa yang akan mereka tonton, dan hubungan seperti apa yang mereka berdua inginkan.
Sekilas, memikirkan hal itu seperti akan membawa hal positif bagi keduanya, namun tidak sepenuhnya begitu. Ia belajar sesuatu hari ini : Menyatukan keinginan dari dua insane bukanlah hal yang mudah, ikhlas karena mengalah bukanlah hal yang mudah.
Esoknya, Edward sudah kembali masuk ke sekolahnya. Aneh, untuk pertama kalinya, mereka berdua berpapasan di pintu saat akan masuk ke dalam kelas. Keduanya sama-sama baru saja sampai, namun masuk dari pintu yang berbeda, melewati jalan yang berbeda dan memakan waktu yang juga berbeda.
Pada akhirnya, keduanya berpapasan di pintu masuk kelas. Tatapan keduanya canggung, namun sama-sama tidak ingin bergerak. Seperti mata yang tetap terpaku pada televise walaupun tau bahwa ia harus berangkat lima menit lagi. Saat itu Arashi berkeinginan agar keduanya berada di kelas yang berbeda. Tetapi, jika begitu, ia pasti tidak akan kenal dengan Ed, karena sejak ia memasuki Sekolah Menengah Atas ini –ia kurang lebih sudah berada disini selama tujuh bulan, sejak itu pula ia mengenal Edward.
“Kalian lagi mata-matain orang?’ tanya Asri, yang juga akan masuk ke dalam kelas namun terhalangi oleh dua temannya. Tas berwarna hitam bersandar di punggungnya, tanda bahwa ia pun baru saja datang.
“Eh? Nggak kok. Kita lagi mau masuk.’ Arashi mengaburkan lamunannya dan dengan kikuk memasuki kelasnya.
“Oh, kirain kalian lagi jadi FPI (baca:eFPiaI).’ Sari menyusul Arashi ke dalam kelas, Edward menjadi yang paling terakhir melewati pintu itu.
Sari adalah satu dari tiga teman dekat Arashi. dia adalah perempuan terakhir yang bergabung ke dalam kelompok sahabat Arashi. Benar, Arashi sudah terlebih dahulu berteman dengan Tiara dan Bunga.
Ia baru memulai berteman dengan Sari sejak ia memakai seragam putih abu-abu, sedangkan Tiara dan Bunga sudah sejak ia duduk di bangku SMP.
Arashi memasuki ruang kelas yang sudah seperti pasar di waktu sepagi ini, ia berpisah dengan Edward karena berada di barisan bangku yang berbeda. Sari tetap mengikuti di belakangnya saat Arashi sedang menghampiri bangkunya. Ia melewati Tiara dan Bunga yang sedang bergosip di meja yang sama. Setelah perempuan itu duduk, ia baru menyadari betapa berisik dan berantakannya kelas itu. Walaupun begitu, semua keributan itu akan berhenti saat guru melangkahkan langkah pertamanya di dalam kelas. Mereka akan berhamburan. Bagai kecoa yang berhamburan pergi saat lampu dinyalakan. Pasti pemandangan yang menarik, batin Arashi.
Meskipun sudah melihat kejadian tersebut selama enam bulan, namun hal itu tidak pernah membuat Arashi bosan. Justru, rasa-rasanya ia ingin bergabung dengan mereka.
Ia mengalihkan pandangannya dan berserobok pandang dengan Edward. Bisa dibilang, laki-laki itu sudah memerhatikan Arashi sejak tadi. Saat itu dunia seperti berhenti dan hanya Arashi yang dapat bergerak. Melihat mata laki-laki itu membuatnya kembali mengingat kejadian pagi tadi di parkiran. Sangat canggung, ia tidak ingin mengingatnya. Perasaan dan atmosfir Arashi sudah tidak seperti biasanya saat berada di sekitar Edward. Padahal, dahulu ia yang menggembor-gemborkan Pacar rasa Sahabat. Namun, kini justru ia yang kewalahan.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa bertahan dengan atmosfir yang selalu berubah drastis saat didekatnya sahabatnya itu.
Tidak boleh! Ia tidak boleh seperti ini! Ini pasti merepotkan jika ia terus seperti ini.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Arashi, bagaimana berandal itu bisa mengontrol perasaannya? Kenapa ia tidak kewalahan seperti Arashi? ia tidak tau, mana yang lebih baik antara memikirkan hal-hal buruk tentang sebuah hubungan atau justru terlalu terbuai di dalamnya. Yang jelas, ia melakukan keduanya secara bergantian.
“Rash, hei!’ seru Tiara.
Arashi mengedipkan matanya cepat, “Apa, Ra?’ kebetulan, tempat duduk Tiara berada di depan Arashi.
“Kamu lagi mikirin pelajaran apa, sih? Serius amat.’ Tanyanya.
“Kayaknya gitu, deh, Nga. Sabar, Rash. Jangan buru-buru, ntar bareng kita aja.’ Sari ikut menimpali.
Akibat peringkat pertama Arashi yang tidak pernah tergantikan sejak SMP, orang-orang di sekitar menjadi terlalu berlebihan dalam memandangnya, bahkan, sahabatnya sekalipun. Arashi bukan perempuan yang terus-menerus memikirkan pelajaran, ia juga manusia biasa. Kegiatan bimbelnya yang sampai malam kemudian dilanjut mengerjakan tugas sampai larut tidak membuat dirinya lupa akan kodratnya sendiri. Bahwa ia adalah seorang remaja perempuan yang kini duduk di bangku SMA. Ia berpikir begitu seakan jatuh cinta pada masa-masa SMA adalah suatu kewajiban.
Arashi tertawa canggung mendengarnya,“Nggak, lah. Aku lagi mikirin mau makan apa nanti pas istirahat.’
Bagian mana dirinya yang mengambil alih kendali saat ia menjawab begitu?
“Ya ampun, Rash. Mulai aja belom kelasnya. Udah mikirin istirahat.’ Sari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pembicaraan empat orang itu mengalir hingga bermuara pada perjalanan cinta masing-masing. Hanya Bunga dan Tiara yang bicara, Arashi dan Sari menyimak dengan rasa penasaran yang amat sangat. Sama seperti dirinya, Sari pun tidak sedang menjalani hubungan dengan siapa-siapa, setidaknya, sama seperti dirinya yang kemarin. Atau ia justru menyembunyikannya? Bisa-bisanya ia merahasiakan hal sepenting itu dari sahabatnya?
“Eh, Rash, Sari! Kalian berdua kalau suka sama orang, jangan diem-diem aja, lho? Harus cerita kayak kita.’ Dua orang yang dimaksud saling pandang dan tertawa.
“Ya pasti aku kasih tau, lahhh! Kalau ada, ya.’ Tukas Sari. Arashi hanya mengangguk-angguk, membenarkan jawaban Sari.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana cara menyembunyikan hubungan ini dari ketiga sahabatnya, dan lagi, kenapa juga ia harus menyembunyikan hubungan ini? Memangnya ia adalah selingkuhan Ed? Biarlah, toh mereka pun akan tau dalam beberapa waktu ke depan.
Saat itu, ia menyapu cepat seisi kelas dengan pandangannya. Perbuatan itu kembali membuat dirinya bertemu pandang dengan Kekasihnya. Ia sedang duduk manis di bangkunya, kemudian tersenyum.
Si nomor dua membuat nomor satu tersipu malu. Ia suka melihat perempuan itu salah tingkah dan merona. Hal itu bagai lelucon baginya, sekaligus pelepur lara. Ia tak habis pikir jika kemarin si nomor satu menolaknya, mungkin ia tidak akan duduk di kelas sekarang. Ia akan membenamkan dirinya di dalam selimut seharian penuh.
Beruntung, si nomor satu menerimanya. Tapi ia masih bingung, bagaimana cara Arashi menyisakan waktu untuk dirinya? Ia ingin perempuan itu tetap menjadi nomor satu, namun ia juga ingin ada di dalam daftar prioritasnya. Biarlah dia yang memutuskan, Edward tidak bisa memaksa Arashi jika gadis itu memang tidak bisa melakukannya.
Edward baru saja bangkit untuk menghampiri Arashi saat bel sekolah berbunyi. Tanda pelajaran akan segera dimulai.
Satu hari berlalu tanpa masalah. Keduanya berhasil melewati seharian ini tanpa ketahuan. Mungkin itu mudah saja bagi Edward, tapi tidak dengan Arashi. matahari sudah berwarna jingga saat murid-murid SMA Flamboyan berhamburan keluar kelas. Penampilan mereka jauh berbeda jika dibandingkan dengan saat pagi hari. Seragam yang lusuh, sepatu yang dipakai sekenanya dan tas yang seperti malas-malasan hanya untuk menggantungkan dirinya. Banyak perempuan yang kerudungnya ikut lusuh dan berantakan, jauh dari keinginan si pemakai.
Banyak juga laki-laki yang memakai jaketnya asal-asalan. Bahkan, beberapa murid laki-laki yang membiarkan ikat pinggangnya menggantung begitu saja. Semua komponen tadi sudah cukup untuk membuat mereka disebut ‘berantakan’.
Kemacetan juga selalu terjadi saat jam pulang sekolah. Membludaknya motor yang ikut bergabung ke jalan raya adalah penyebabnya. Siswa-siswi yang menggunakan sepeda motor terpaksa harus menunggu sebelum ia bisa melewati gerbang sekolah. Beruntung, itu tidak berlangsung lama.
Arashi berdiri menunggu diluar gerbang sekolah. Lalu beberapa suara memanggilnya, “Rash! Kita duluan, yaa….’ Kata Sari yang sudah ada diatas motornya. Disamping perempuan itu, ada juga Bunga dan Tiara, mereka berdua menggunakan motor yang sama.
“Iya, hati-hati di jalan!’ ntah sudah berapa kali Arashi mengucapkan hal yang sama setiap harinya. Begitupun ketiga sahabatnya, mereka terus mengulang percakapan seperti tadi tanpa ada yang coba memprotes, meminta untuk berhenti melakukannya.
Suara motor mendekat, ia teredam oleh suara klakson dari pengendara, juga deru motor-motor lainnya yang menunggu gilirannya untuk keluar gerbang.
“Rash, bareng aku, yuk!’ ajak Edward.
“Nggak, ah! Ibu udah jalan buat jemput. Bentar lagi juga nyampe.’
“Kapan-kapan, pulang bareng aku, yuk!’ ajak Edward tak menyerah.
“Nggak, ah! Ntar kamu lama-lamain terus aku terlambat bimbel.’ Arashi terlihat seperti anak kecil jika menjawab seperti itu.
Edward tertawa, “Terus kamu nggak mau pulang bareng? Sekarang ataupun besok-besok?’
Arashi tersenyum, “Nanti aku pikirin.’
“Padahal tinggal naik, lho. Nggak usah ribet-ribet mikir dulu.’ Heran Edward.
“Udah sana pulang!’ titah si nomor satu.
“Oke, ntar jangan lupa hubungin, ya.’ Edward menghidupkan mesin motornya.
“Iyaa, nggak bakal aku kabarin kok!’
“Okeee, jangan kabarin, yaa.’ Itu adalah kalimat penutup percakapan keduanya. Edward bergabung ke jalan raya dan ikut terjebak macet yang hanya sementara itu.
Kemacetan, sapaan dan situasi. Hal itu terus berulang selama berbulan-bulan ia bersekolah disini, mungkin para guru sudah menjalaninya selama bertahun-tahun. Arashi curiga, jangan-jangan, menyapa Ed adalah rutinitas barunya mulai besok. Yang akan terus berlangsung entah sampai kapan. Seperti kemacetan ini.
Saat sebagian besar siswa sudah pulang, Motor matic hitam mendekati Arashi. perempuan itu tersenyum, “Abis ini jemput Juni?’ Arashi sudah menaiki motornya.
Wanita paruh baya di depannya menggeleng, “Juni udah pulang lebih awal tadi jam setengah empat.’ Arashi mengangguk.
Keduanya bergabung ke jalan raya dan turut meramaikan kemacetan yang akan usai ini.