SAVE ME

SAVE ME
Dua kisah



*****


Langit diluar tampak lebih gelap dari biasanya karena segerombolan awan kelabu tengah bergerak menutupi sebagian sisi kota. Beberapa pohon yang berdiri di halaman rumah sakit pun terlihat melambai mengikuti kemana arah angin berhembus.


***


Sudah lebih dari tujuh bulan lamanya Mery berada ditempat yang sama dengan orang-orang yang selalu ada untuk memberinya dukungan moril dan ini adalah pagi yang kesekian kalinya bagi wanita itu terbangun dari mimpi kelamnya dengan pria yang sama.


"Kau disini?."


Satu-satunya kalimat yang pertama kali terdengar dari bibir pucat Mery setelah sekian lama terkunci dan itu membuat pria yang menemaninya sempat terdiam untuk beberapa saat kemudian mengangguk sebagai jawaban untuknya.


"I miss you." Drew memberinya pelukan disertai sebuah kecupan yang mendarat tepat dipelipis Mery saat ia menyadari jika ingatan wanita itu telah kembali sepenuhnya, melalui kalimat pertanyaan yang jelas ditujukan kepadanya yang berarti Mery mengenali dirinya dengan sangat jelas.


Senyum tipis terlihat diwajah Drew kala pria itu melepaskan pelukannya. Mery sempat menolak saat dirinya kembali mendapat pelukan dari sosok pria yang selama ini telah membuat raganya layaknya mayat hidup, namun reaksi berbeda justru ditunjukan oleh tubuhnya yang seolah ingin mengatakan jika dirinya memang benar merindukan orang yang sama setelah sekian lama.


***


Jannet jelas adalah orang yang paling bahagia saat bisa melihat senyum diwajah cantik itu kembali meski tak sesempurna sebelumnya karena rasa traumanya yang mungkin masih tertinggal.


"Jannet?." Ucap Mery saat melihat pintu kamar miliknya terdorong oleh sosok wanita yang amat ia kenali.


Ibu beranak satu itu seketika berlari untuk memeluknya dengan tergugu karena rasa harunya.


"Ya, ini aku. Aku merindukan mu Mery, sangat merindukan mu." Ucapnya sembari terus mengusap punggung lemah Mery yang juga tengah memeluknya.


"Kau merindukan ku?." Tanyanya seolah tak percaya dan hanya diangguki oleh Jannet yang masih setia mendekapnya.


Sedangkan Drew, pria itu baru saja keluar untuk menghubungi seseorang yang bisa ia mintai bantuan untuk menggantikan pekerjaannya sementara waktu.


*


*


*


Langit cerah dinegara berbeda terlihat sangat mengagumkan dengan hamparan laut biru yang memanjakan mata siapa saja yang memandangnya.


"Kenapa kau menyuruhnya melakukan gerakan seperti itu hingga berulang kali?." Willi mengerutkan dahinya tak mengerti. "Bagaimana nanti jika kepalanya menjadi peyot karena itu?." Willi benar-benar tak mengerti dengan gerakan pembuka jalan lahir yang dilakukan Hanna bersama seorang instruktur yang sengaja ia datangkan khusus untuk mengajari istrinya langkah-langkah dalam menghadapi persalinan.


"Kenapa kau ribut sekali!?. Suaramu membuatnya terus bergerak dan berkali-kali menendang ulu hati ku." Hanna tak kalah ketusnya menjawab ucapan William yang dirasa sangat mengganggu konsentrasinya sejak awal mereka latihan karena pria itu yang memang berada tepat dihadapan keduanya, tengah duduk santai sembari menyamankan mulutnya dengan sepiring salad.


"Aku hanya bertanya, kenapa kau marah?." Pria itu benar-benar menguji kesabaran dua wanita yang tengah bersamanya.


"Tidak adakah pekerjaan yang bisa membuat mu sibuk agar kami bisa leluasa berlatih tanpa harus mendengar komentar dari mu?."


"Tentu saja ada dan itu terjadi jika aku tidur." Pria itu terkekeh diakhir kalimatnya untuk mengganggu Hanna yang semakin terlihat menggemaskan jika ibu hamil itu marah lantaran kini kedua pipinya yang semakin timbul dengan rona wajah kemerahan.


Istruktur yang mengajarinya justru tertawa saat mendengar bagaimana seorang William menghadapi istrinya yang begitu ketus dan mudah emosi karena pengaruh hormon kehamilannya.


Masih dengan posisinya, Willi yang tengah duduk diatas karpet yoga justru menarik dua bantalan busa yang biasa mereka gunakan sebagai alas bermeditasi untuk penyangga kepalanya.


Pria itu merasakan pandangannya semakin berat lantaran pengaruh hormon yang dilepaskan oleh tubuh saat proses pencernaan makanan yang baru saja ia konsumsi hingga menimbulkan rasa kantuk dan membuatnya seketika terlelap dengan wajah lucu.


"Beruntung sekali kau memiliki suami sepertinya."


Hanna tersenyum saat instrukturnya mengucapkan kalimat selayaknya pujian yang membuatnya ingin sekali terbahak. Seandainya dia tahu pria seperti apa yang baru saja ia puji, pasti dia akan berfikir dua kali untuk melakukannya.


*****


Hanna merampungkan latihannya yang berlangsung selama hampir dua jam lebih akibat ulah si mantan G* yang kerap kali mengganggunya dan berujung pada pengulangan.


"Bisa-bisanya dia tidur dengan wajah mengesalkan seperti itu." Gerutunya sembari terus mengusap perutnya yang terasa sedikit kencang.


"Peanut, Kau harus mirip dengan mommy karena mommy yang telah membawamu dan memberi mu makan, bukankah akan sangat tidak adil jika kau terlihat sepertinya?." Wanita itu bermonolog seiring dengan mata pria yang tengah terbuka dengan sedikit senyum melekat diwajah tampannya.


"Jelas tidak adil untuk ku." Ucapan Willi mengintrupsi acara bonding Hanna dengan bayi mereka yang masih senang berendam dalam hangatnya air ketuban.


"Bagaimana bisa tidak adil untuk mu, kau yang sudah menanamnya. Jadi biarkan dia mirip dengan ku."


"Tidak akan, aku jamin dia pasti memilih ku." Dengan sombongnya William berucap dengan mendekatkan bibirnya untuk mengecup perut buncit Hanna.


"Dasar monopoli!." Desisnya kepada pria yang tengah asik mengusap kantung peanut.


"I love you, both of you." William terkekeh melihat wajah jealous sang istri yang nampak begitu lucu dengan pipi chubby-nya.


"Aku ingin melihatnya." Bisik si pria dengan penuh harap.


"Kau baru saja menengoknya tepat sebelum aku latihan."


"Dia pasti merindukan ku."


"Itu mau mu bukan dia." Hanna berusaha menjauhkan tangan lelaki itu yang dengan cepat bergerak melepaskan pengait dibelakang tubuh Hanna dan membuat penyangga itu lepas seketika.


"William!."


Sekali sambar dua tiga kudapan ia dapatkan sebelum akhirnya menikmati main course yang sedang menuju persiapan.


*


*


*


Beralih dari kisah bahagia Willi dan Hanna yang kini sedang sibuk mendayung nirwana.


Drew tengah mendorong kursi roda Mery disekitaran taman rumah sakit dimana banyak tersedia kursi-kursi berjajar yang diperuntukkan sebagai tempat bersantai.


Tidak ada lalu lalang pasien disekitar mereka selain petugas medis. Ya, karena rumah sakit itu merupakan tempat perawatan bagi mereka dengan beban trauma dan beberapa syndrom lainnya yang memang membutuhkan penanganan khusus.


"Kenapa kau membawa ku kemari?." Mery melirik sekilas pria yang kini duduk dihadapannya.


"Agar kau tidak merasa bosan." Drew terlihat sibuk mengeluarkan isi paperbag yang sejak tadi menggantung dilengannya.


Segelas smoothies dan sepotong cake dengan toping stroberi seperti saat itu dan menjadi sesuatu yang ingin sekali ia berikan untuk wanita dihadapannya.


"Aku membelinya dengan uang gaji ku, cobalah dan katakan pada ku bagaimana rasanya?." Drew menyodorkan potongan cake ditangannya kepada Mery yang terlihat begitu enggan untuk menerima.


"Atau kau ingin mencoba smoothies ini?." Tawarnya saat Mery tak juga merespon.


Tatapan wanita itu jelas mengarah padanya hanya saja pikirannya seperti tengah menerawang dikejauhan. Entah apa ia juga tak bisa menebaknya.


.


.


.


tbc.


otor: jangan tanya kenapa judul babnya ngawur, 🐴