
☆○☆○☆
Aldric begitu murka ketika mendengar percakapan antara ayah dan ibunya yang membahas tentang kedatangan William untuk melamar sang adik, Hanna.
Dengan emosi yang menggebu dia menceritakan siapa William, bagaimana kehidupan pria itu dan apa yang membuatnya sampai menyembunyikan Hanna. Sama sekali tak ada hal baik didalamnya dan ia menyangsikan kesungguhan pria itu dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Lalu bagaimana dengan mu?." Satu pertanyaan meluncur dari sang ibu. "Apa dengan menceritakan keburukannya akan membuat mu tampak lebih baik darinya?." lanjutnya.
"Tapi ma, dia tidak sebaik yang kalian pikirkan. Seorang G* dengan predikat luarbiasanya ingin menjadi bagian dari keluarga kita. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi!." Geramnya kemudian berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.
"Jika kau berpikiran begitu karena masalalunya berarti kau lebih buruk dari yang ayah dan ibu kira Aldric, kau bahkan dengan tak tahu malunya menjalin hubungan dengan Vivian yang telah memiliki kekasih. Kalian rusak dan merusak."
Langkah Aldric seketika tertahan dengan getaran amarah yang menyelimuti tubuhnya.
"Ya, aku memang menjadi orang ketiga diantara mereka dan semua ku lakukan karena kami saling mencintai sedangkan Vivian terpaksa melakukannya lantaran Vero juga berselingkuh darinya." Ucapannya penuh dengan emosi yang meledak-ledak. "Lalu bagaimana dengan William?. tidakkah ayah paham jika yang dilakukannya adalah sebuah penyakit?. hubungannya dengan banyak lelaki bisa saja membuatnya menjadi inang untuk banyak masalah yang akan merugikan Hanna!."
"Biar dokter yang mengatakan tentang kondisinya itu dan ayah harap kamu tidak menjadi penghalang diantara mereka."
"Baiklah, jangan mencari ku dan jangan katakan apapun tentang bule busuk itu lagi dihadapan ku." ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kediaman keluarga Adam.
◇◇◇
Ditempat berbeda, Drew telah mengetahui keberadaan Mery, istri rasa musuh yang ia miliki.
Dengan sedikit berlari pria itu mendatangi sebuah tempat percetakan yang tak pernah terfikirkan sebelumnya jika sang istri akan tinggal ditempat itu ketimbang berdiam diri dirumah keluarganya sendiri ataupun apartemennya setelah menggugat cerai dirinya.
Seorang pria menyambut kedatangan Drew dengan ramahnya menanyakan tentang keperluan dirinya.
"Tidak, aku tidak memerlukan sesuatu tapi aku minta kau untuk mengeluarkannya dari sini." ucapnya sembari menunjukan foto wajah Mery melalui ponselnya.
"Kau_
"Aku suaminya."
"Kau yang bernama Drew Trainor?." Tanya Jhon sembari menyipitkan tatapan matanya.
"Ya, apa hubungan mu dengannya?. apa kalian sepasang kekasih?." Drew menaruh curiga terhadap pria yang kini bersamanya.
Jhon tersenyum sembari merapikan beberapa lembar kertas yang sejak tadi berada dalam genggaman tangannya. "Aku menyukainya, tapi dia tidak menyukai ku dan ku rasa dia juga tidak menyukaimu. Aku akan mengejarnya jika kau tidak keberatan, lagi pula bukan kah kau memiliki orientasi berbeda jadi untuk apa mempertahankannya?."
"Ambil saja jika kau mau tapi biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan wanita itu."
¤◇¤♡¤▪▪▪
Hanna tetap bekerja seperti biasa dan kedatangannya disambut berita yang benar-benar membuatnya ingin terjun bebas dari lantai atas.
"Benar ya berita yang bilang kamu mau nikah?." Natali juga Mega tengah membentuk sekutu di depan kubikel Hanna.
"Udah jangan coba-coba ngelak. Jujur aja sama siapa?."
"Dih apa sih mbak?. Nikah sama siapa?. itu juga gosip dari mana lagi ya ampun!." Elaknya sembari memijat keningnya.
"Si Mr. sipit yang ngomong loh, mau ngelak pake alasan apa lagi kamu?." Natali terus menekannya
"Gak mungkin kan tu manusia ngadi-ngadi kaya kita." Mega juga turut menimpali.
"Kali aja kan dia iseng, namanya juga manusia." Hanna kembali menyangkalnya.
"Terus selama lima hari ini kamu ngilang kemana?. prewed?." Tanya Mega yang benar-benar penasaran dengan kabar cuti dadakan yang diminta oleh Steven untuk Hanna.
"Enggak mbak, ya tuhan!. Aku ada perlu mendadak waktu itu, makanya ijin pake jatah cuti setahun." Jelasnya dengan wajah gemas.
"Kita tetep gak percaya apalagi ijinnya lewat si sipit. Ayo Meg kita pastiin sama si Mr. Sipit nanti."
Tepat saat keduanya berlalu satu pesan masuk menghampiri ponsel Hanna dari ...
"Dasar bule gendeng." umpatnya dalam hati setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan pria itu kepadanya.
📩I wonder How to slap the animal?." Willi mengirimkan sebuah gambar gajah beserta tulisan yang menyertainya dan hal itu membuat Hanna dilanda rasa kesal yang membuncah.
📲"Apa yang kau lakukan?. Apa kau sedang membaca pesan ku?." Tanya Willi.
Pria kaya itu langsung menelpon sang calon istri kala dirinya tengah berada dirumah sakit untuk jadwal rekonstruksi luka ditangannya pasca tertembak oleh Bara.
"Aku sedang mengumpulkan uang untuk membelikan mu mobil-mobilan!." Geramnya dengan suara sedikit tertahan namun tidak dengan pria diseberang sana yang langsung terbahak karena dia sangat paham maksud dari perkataan Hanna kepadanya.
"Aku tidak suka mobil-mobilan. Aku suka diri mu, mengapa tidak kau saja yang bermain dengan ku."
"Emh begitu rupanya. Tidak masalah, aku akan bermain dengan para pria yang bermain dengan mu."
"WILLIAM!!!." begitu kesalnya Hanna hingga tak sadar jika suaranya membuat satu ruangan menoleh seketika lantaran keterkejutan mereka setelah mendengar bentakan Hanna untuk seseorang.
Natali yang sedari tadi diam pun sejatinya tengah menguping. 'benarkah william yang sama jika bukan, mengapa hubungan antara dia dan si sipit begitu dekat?.'
Sampai waktu istirahat tiba Natali dan Mega bersama menuju kantin, dimana pusat makanan berkumpul.
Tidak ada Hanna diantara mereka. Entahlah, belakangan gadis itu lebih suka berada di dalam kubikelnya untuk makan siang.
"Meg, kamu yakin gak kalo Hanna bakalan nikah sama Mr. W?."
"Aku sih yakin mbk, cuma pas aku ngomongin si Mr. W waktu pertama kali doi datang ke kantor itu dianya gak tertarik gitu sih, slow respon. Malah katanya buat aku aja." Mega tertawa setelahnya.
"Apa mungkin yang dimaksud Mr. W sama si Hanna bukan dia ya Meg?." Mega seketika menoleh, ia tampak mencerna ucapan Natali sembari mengingat bagaimana misteriusnya si Mr. W bagi mereka.
"Ayo mbak, aku penasaran sama tu anak!. Pasti dia tau gimana rupa si Mr. W."
"Dih, bentaran. Belum abis ni soto ku, ngawur aja kamu mau ninggalin makan siang gegara si Mr. W."
○☆☆▪▪☆☆○
William telah selesai dengan urusannya dirumah sakit. Mengendarai Wrangler miliknya, ia melajukan mobil jeep itu menuju Gtech. Tak ada yang menyadari kedatangan pria itu lantaran penampilannya yang terkesan biasa saja atau justru sangat tidak masuk akal. Tidak seperti kedatangan Drew kala itu yang berpenampilan layaknya eksekutif muda.
Tentu saja terlihat biasa karena pria tampan itu hanya mengenakan celana pendek dengan atasan berupa sepotong T-shirt longgar dan sebuah kaca mata hitam. Ia sengaja melakukannya lantaran lengannya yang masih mengharuskannya menggunakan perban selama beberapa waktu.
Willi terlihat begitu santai memasuki gedung melalui pintu belakang. Tidak seperti biasanya yang selalu menggunakan basement sebagai titik '0', kali ini ia memilih parkiran luar karena berharap hujan akan segera turun untuk mengguyur mobil jeep miliknya yang telah tertutup debu.
Berulang kali ia menghubungi si sipit dengan ponselnya namun sayang setelah tiga kali panggilan itu tak juga diangkat.
"Manusia tidak berguna." umpatnya
Tepat disaat itu Damian muncul bersama Natali, keduanya baru saja keluar dari lift eksekutif yang tengah William tunggu.
Terlihat Damian menundukan sedikit tubuhnya dan hal itu membuat Natali seketika sadar.
Demi kejayaan masyarakat bikini bottom hampir saja Natali meneteskan air liurnya saat melihat wajah asing dihadapannya. Ibu beranak satu itu sampai melupakan statusnya yang seorang istri karena tersilaukan oleh keberadaan mahluk tampan yang sayangnya tidak menoleh barang sekilas pun kearahnya.
🐦
Sampai diruangan Damian pun diberondong pertanyaan oleh Natali yang notabennya adalah penggemar pria tampan meskipun telah bersuami.
"Pak, yang tadi siapa?. klien bukan?."
"Siapa?."
"Yang tadi pak, bule yang tadi."
"Bule yang pake kolor tadi?."
"Terserah, yang jelas itu tadi siapa pak?."
"Memangnya kenapa?." Damian terkekeh melihat wajah penasaran anggotanya itu. "Cepetan pak, siapa?. penasaran banget pak, ya ampun!."
"Kenapa tadi gak kamu tanya aja langsung sama orangnya."
"Dih bapak, gengsi lah kitanya."
.
.
.
tbc
Ini gambar yang Willi kirimkan untuk Hanna.
Kira-kira seperti ini penampilan William saat menunggu lift.
Ini merupakan hari libur baginya jadi tidak ada ketentuan yang mengharuskannya mengenakan pakaian formal bukan?. 🤣