
♤♤♤
Hanna berniat mendatangi Steven di ruangan milik pria bermata sipit itu, namun tak disangka jika ia justru mendapati kejadian tak mengenakan saat menunggu lift.
Hanna begitu terkejut saat pintu lift yang ditunggunya terbuka dan memperlihatkan dua orang saling memagut satu sama lain. Ya, dialah Steven si predator bersama dengan sosok yang tak pernah ia sangka-sangka sebelumnya.
"Mega?."
Keduanya sama-sama terkejut dan Hanna tak bisa menyembunyikan wajah shoknya begitu saja
Kini Hanna dan Mega duduk bersama di kantin. Ia mengurungkan niatnya yang ingin menemui Steven setelah melihat hal tak senonoh yang mereka lakukan.
"Jujur deh mbak, kok bisa-bisanya mbak Mega mau sama orang itu yang jelas-jelas gak baik?."
"Abisnya ...
"Kenapa?."
"Aku penasaran sama yang namanya Mr. Willian Na."
"So karena rasa penasaran itu mbak Mega mau aja gadein harga diri?."
"iisshhh kamu ini. Jangan bilang-bilang Natali ya." pintanya diakhir.
"Gak janji ya. Kali aja aku keceplosan."
"iih, Na, Hanna ...
Mega mengejar juniornya sembari terus melafalkan mantra agar gadis itu tidak melaporkan kegiatan yang baru saja terjadi.
◇
◇
◇
◇
Drew setengahnya hampir tak sadarkan diri setelah William menghajarnya dengan begitu brutal.
William tidak tahan jika terlalu lama menghadapi seorang Drew Trainor, si pria menjijikan yang selalu menginginkan dirinya. Jika saja Hanna tidak berpesan untuk tetap hidup mungkin ia sudah menghabisi pria itu sedari awal.
"Kau membuatku muak dengan semua kelakuan busuk dan menjijikan mu. Terakhir kali sudah ku peringatkan untuk tidak mencampuri urusan ku dan kau justru melanggarnya maka kini terimalah akibatnya."
Wajah Drew hampir tertutup oleh cairan merah yang mengalir melalui robekan diatas dahinya dan juga bibirnya yang pecah serta hidungnya yang tak luput dari luka memar.
"A' aku tidak melakukannya." ucapnya sedikit terbata sembari menahan rasa sakit dan terus berusaha menjaga dirinya agar tetap sadar.
*****
*****
Dengan sisa - sisa tenaganya Drew meraih ponselnya yang nyaris tak berupa, ia melihat ponsel itu masih menyala, satu nama yang melekat dibenaknya, Mery.
Ia berusaha menghubungi wanita itu namun sayang, ia lupa jika sebelumnya ponsel wanita itu telah hancur berkeping karena dirinya.
*****
Seseorang menunggu Mery disebuah coffee shop .
Albert, asisten William itu menunggunya untuk menyerahkan selembar foto dengan wajah Drew yang telah tertutup oleh merah darah.
"Apa maksudnya?."
"Bukan kah dia suami anda?."
"Kini kami tidak lagi saling mengenal, lagi pula aku sudah menceraikan pria dari keluarga Trainor itu."
"Baiklah, setidaknya saya telah menyampaikan pesan Mr. William kepada orang yang mengenalnya."
"William?. Dia yang melakukannya?." Mery terdiam menatap Asisten pria itu. Sedangkan Albert sendiri tak menjawab pertanyaan yang diajukannya dan hanya sepasang mata berbalut kaca mata minuslah yang kini menjadi satu-satunya jawaban untuk Mery pahami.
*****
"Jadi kamu tidak meminta pesta mewah untuk pernikahan mu sendiri?." Tanya sang Nenek yang saat itu tengah duduk diantara mereka.
"Tidak, aku dan William sepakat untuk mendonasikan uang pesta kami ke rumah panti dan juga sebuah yayasan."
"Tapi William adalah seorang bos, dia memiliki banyak kolega bisnis dan juga anak buah yang seharusnya ia jamu." Sang ibu turut menimpali ucapan sang nenek.
"Kami tetap akan menjamu mereka tapi tidak dengan sebuah pesta mewah layaknya pesta pernikahan pengusaha yang biasa kita lihat." Hanna berusaha menjelaskan keinginannya dan juga Willi tentang konsep pernikahan.
"William telah menyewa sebuah villa yang berada dikawasan pantai untuk menjamu para tamu undangan. Kami hanya ingin sebuah pernikahan sederhana selayaknya kehidupan kami setelah itu. Mengucap janji di hadapan tuhan dengan keluarga sebagai saksi atas keseriusan kami untuk terus bersama mengarungi bahtera pernikahan ini nantinya."
"Baiklah, semua terserah padamu. Kami hanya ingin melihat mu bahagia dengan pilihan yang tepat." Sang nenek mengamini permintaan Hanna untuk pernikahan impian cucunya tersebut.
***
***
***
Sepasang Boots menapaki lantai Vinill dengan kondisi ruangan yang sudah tak berupa juga bercak darah yang terlihat mewarnai dibanyak tempat.
Mery,
Pada akhirnya wanita itulah yang mendatangi calon mantan suaminya guna memastikan kondisi manusia tak berhati itu masih hidup ataukah sudah mati.
Samar terdengar ketukan langkah kaki yang membuat mata bengkak Drew berusaha terbuka meski hanya sedikit. Ia melihat wajah dingin wanita itu menatapnya dengan sebuah martil ditangannya.
Jika pria itu melihatnya dalam kondisi sehat mungkin saja ia akan lebih dulu menyerangnya, namun apa daya ketika dirinya sudah tak lagi memiliki harapan dan hanya bisa meminta tuhan untuk memberinya kesempatan hidup.
Mery memukulkan martilnya tepat dikaki sebuah meja kayu yang menjadi tempat untuk mengaitkan borgol ditangan Drew.
Wanita itu dengan sengaja memukulkan palunya tepat disisi kepala sang calon mantan untuk menggertaknya.
"Kau benar-benar menyusahkan!." Mery dengan kasar menyingkirkan patahan kayu dan juga properti lain yang berserakan untuk kemudian menarik tubuh tinggi pria itu menuruni tangga dengan mengaitkan kedua lengannya dibawah ketiak.
"ASSSHH!. Aku benar-benar membenci mu manusia sialan!. Merpotkan dan tidak berguna!." Mery terus mengumpati pria yang kini tengah bersamanya sembari terus menuruni anakan tangga dengan posisi mundur.
Sejujurnya Drew ingin sekali tertawa tiap kali mendengar wanita itu mengumpat. Kata-katanya sangat tajam dan menyakitkan persis seperti penyihir hitam, namun apa daya ketika tubuhnya sudah tak bisa lagi bergerak terlebih kini nafasnya terasa begitu sesak disertai darah yang terus merembes melalui robekan yang berada didahinya.
Dengan menggunakan taksi Mery membawa Drew menuju rumah sakit lantaran ponsel miliknya yang sudah tidak bisa digunakan untuk keadaan darurat karena ulah pria itu sendiri.
*
♡
*
William tak langsung pergi begitu saja meninggalkan negara dengan iklim empat musim tersebut. Ia bertandang kesebuah daerah dipinggiran kota untuk mengunjungi para lansia yang telah banyak memberinya nasihat serta pelajaran hidup.
Kedatangan William disambut hangat oleh mereka sore itu namun sesuatu terasa lain saat mata biru itu menatap wajah-wajah tua mereka.
"Aku tidak melihat Ny. Corner. Apa dia baik-baik saja?." Tanyanya pada salah satu dari mereka.
"Pergilah ke St.M, Corner baru saja mengalami cedera tulang punggung dan kini tengah dirawat disana bersama Megan."
Secepat itu William mengemudikan mobilnya bergegas mengunjungi rumah sakit untuk melihat kondisi Corner.
Keberadaan William mengundang banyak pasang mata untuk meliriknya. Maka tak heran jika Mega sampai menggadaikan harga dirinya demi bisa melihat wujud asli big boss mereka.
Langkahnya berlalu melewati banyak ruangan yang berujung pada sebuah bangsal dimana Corner berada.
Perlahan ia memutar handle pintu berwarna cokelat terang dan mendapati wajah lelah Megan disana tengah duduk sembari memegangi tangan Corner untuk terus menyalurkan kekuatan kepada saudarinya. Wanita tua itu cukup terkejut saat kedua matanya bersirobok dengan William yang dengan tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu dengan senyum hangatnya.
"William, Kau datang?."
☆
☆
☆
Tbc.