
Baru saja ia selesai makan malam dan hendak menemui Ayahnya untuk berbicara, tetapi ia justru melihat hal yang tidak seharusnya dilihat. Anak laki-laki itu melihat kedua orang tuanya bertengkar.
Mereka sedang berada di kamarnya. Edward tanpa sengaja melihat keduanya saat hendak menuju kamar orang tuanya. Edward berhenti di sisi pintu itu, pintu yang sedikit terbuka.
Kini jam delapan malam. Biasanya, Ayahnya sedang duduk di sofa dan Ibunya sedang berada di dalam kamar. Waktu yang sangat bagus untuk membicarakan hal ‘itu’. Jadi, Edward turun dari lantai dua dan menghampiri sofa. Tapi tidak ada siapapun disana. Karena apa yang ingin ia bicarakan dengan Ayahnya adalah hal yang sangat penting, Edward berniat menghampirinya di kamar. Tetapi justru ini yang ia temukan. Keduanya sedang adu cekcok di dalam sana.
Sekilas, ini nampak seperti hal yang biasa terjadi. Orang tua juga sepasang suami istri, mereka tidak luput dari pengtengkaran. Edward tau itu. Tetapi apa yang dilihatnya saat ini sama sekali tidak benar. Mereka tidak boleh bertengkar sekasar itu hanya karena hal kecil.
Ya, karena hal kecil. Edward tidak tau bagaimana pertengkaran itu berawal, tetapi, dari apa yang ditangkap oleh indra pendengarannya, sepertinya itu hanya masalah kecil saja.
Edward berusaha menyusun rangkaian kejadian peristiwa asal muasalnya pertengkaran ini berdasarkan apa yang ia dengar. Kurang lebih, seperti ini kesimpulannya :
Awalnya, sang Ayah memang sedang duduk-duduk di sofa sebagaimana biasanya. Kemudian, ia meminta tolong untuk diambilkan sesuatu kepada sang Istri. Ibunya menjawab dari kamarnya, berkata bahwa ia akan mengambilkannya setelah ia selesai dengan urusannya yang ini. Tetapi, Ayahnya tidak mendengar jawaban Ibu Edward. Lebih dari sekali, ia kembali memanggil sang Istri dan mengatakan hal yang sama. Ibu Ed tersulut. Bagai hutan saat musim kemarau yang mudah terbakar, seperti itu pula emosi Ibu Ed. Kemudian mereka berdua cekcok. Mungkin, mungkin awalnya mereka sempat bertengkar di ruang tamu. Namun kemudian keduanya menyadari keberadaan Edward dan lantas pindah ke kamar. Berharap anak semata wayangnya tidak akan mengetahui hal itu.
Hanya sejauh itu Edward mengetahui faktanya.
Sebagian besar benar, tetapi ada beberapa yang luput.
Setelah Ayah Edward memanggil Istrinya berulang kali, emosi yang tidak stabil membuat Ibu Ed yang tadinya penyabar menjadi tidak. Wanita itu menghampiri sang Suami penuh amarah. Walaupun mengetahui situasinya, Ayah Ed tidak mengalah. Ia membantah dan menjawab sama kerasnya.
Pertengkaran pun tidak terelakkan. Keduanya bertengkar di ruang tamu namun kemudian Ibu Ed menyebut-nyebut anak semata wayangnya itu di tengah pertengkaran. Membuat keduanya sadar akan kehadiran Edward dan mereka pun tanpa sadar pindah ke kamar. Melanjutkan pertengkaran disana.
Seperti hutan yang kebakaran, awalnya pelaku tak berniat membakar semua pohon disitu. Akan tetapi, pohon-pohon yang kering karena kemarau membuat api sangat mudah untuk menjalar. Kebakaran yang besar pun tidak bisa diurungkan. Begitupun keduanya, hal-hal yang tidak berkaitan dengan perkara awal tadi ikut masuk ke dalam perkelahian.
Di dalam diri keduanya, sudah ada dahan-dahan dan daun kering yang mudah terbakar. Kesalahan Ayah Ed barusan lah yang menyulutnya. Membuatnya menjadi bukan lagi hal sepele yang bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
Menurut sudut pandang Ed pun, Ayahnya bukan benar-benar orang yang baik. Lebih dari sekali, Ayahnya menunjukkan belangnya. Edward adalah anaknya, jadi ia sudah paham betul kelebihan dan kekurangan sang Ayah. Tidak hanya itu, Edward juga paham betul dimana saja celah pada hubungan Ayah dan Ibunya.
Bagi sebagian besar rumah tangga, mungkin ekonomi adalah alasan utama mengapa orang tua bertengkar. Itu sudah seperti makanan yang merakyat. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi keluarga Edward. Ia berkecukupan, tapi keduanya tetap bertengkar. Ia tidak dapat mengerti apa yang bisa menjadi kendala dalam sebuah hubungan suami dan istri selain ekonomi.
Ayah dan Ibu Ed saling mencintai, tetapi, jauh di dalam lubuk hati dan otaknya, ada segumpal rasa ingin selalu menyalahkan dan menyudutkan satu sama lain. Dengan dalih dan alasan apapun. Itulah mengapa mereka sering bertengkar sesekali.
Edward masih berdiri terpaku disana, ia hendak pergi namun kakinya menolak. Ia berpikir, mungkin sebaiknya ia menerobos masuk saat mendengar suara tangis Ibunya atau saat salah satu dari mereka mulai menggunakan kekerasan. Memangnya ia siapa? Apakah status dirinya sebagai seorang anak bisa menghentikan pertengkaran keduanya, tidak ada yang bisa meneriakkan dengan pasti jawaban “Ya!’ sekarang. Bahkan orang gila sekalipun.
Persetan, satu-satunya hal yang ia khawatiri saat ini adalah Ibunya. Mental Ibunya sedang menjadi sangat rapuh, kondisi emosionalnya pun tidak stabil. Dan yang paling buruk, Ayah Ed tidak mengetahui hal itu. Tentu saja, kalau ia mengetahuinya, pertengkaran ini pasti tidak akan terjadi. Biarlah, mungkin ia bisa memberi tahunya di lain waktu.
Saat itu juga pintu terbuka, Edward terlonjak kaget dan segera membalikkan tubuhnya, berpura-pura sedang berjalan untuk menghindari kecurigaan. Samar-samar ia bisa mendengar suara langkah kaki seseorang. Ia tidak tau siapa, otaknya memerintah untuk tidak membalikkan badan. Akhirnya, ia bisa menangkap siapa yang keluar dari kamar lewat indera penglihatannya. Edward melihat Ayahnya keluar kamar, membuka pintu depan dan pergi. Ia pergi dengan menggunakan mobil sementara Ibu Edward tetap berada di dalam kamar.
Edward tidak peduli—lebih tepatnya, berusaha untuk tidak peduli. Ia kembali naik ke lantai dua dan pergi tidur. Tidur lebih awal untuk meninggalkan semua masalah ini.
Esoknya ia berangkat sekolah seperti biasanya . Edward baru menyadari kalau sang Ayah tidak pulang semalaman. Setelah Ayahnya keluar tadi malam, Beliau belum kembali juga. Ibu Edward khawatir, namun berusaha menyembunyikan perasaannya. Baginya, suaminya itu pergi tanpa pamit. Jadi kepulangannya tidak perlu ditunggu. Padahal, dilihat dari seberapa berat dan hitamnya kantung wanita itu, dapat dipastikan bahwa Ia menunggu Ayah Ed pulang semalaman penuh, tanpa tidur.
Sungguh upaya yang bodoh, menurut Ed.
Rumah menjadi dingin dan tak bernyawa akibat pertengkaran itu. Begitupun suasana hati Ed menjadi dingin saat ia berangkat menuju sekolahnya. Tak disangka, ternyata perkelahian itu mampu membuat tiga orang tumbang dan tidak bernyawa. Sungguh pagi yang buruk, pikirnya.
“Ed,’ panggil Ibunya dengan nada yang sangat lembut. Edward berhenti dan membalikkan badannya.
“Hmm?’
“Ayah nggak pulang semalem. Nggak menghubungi Mommy juga, bilang sesuatu nggak ke kamu?’
Edward bisa melihat bahwa sang Ibu sangat khawatir.
“Nggak, Ayah nggak bilang apa-apa, Mom.’ Edward baru menyadari kehadiran gadget di tangan Ibunya.
Sang Ibu tersenyum hangat, “Yaudah. Sana berangkat.’
Edward mengangguk dan mencium punggung tangan Ibunya. Kemudian melangkah keluar, meninggalkan sang Ibu seorang diri.
Sesuatu bagai merasuk ke dalam relung dari hati perempuan itu. Perasaan bersalah, khawatir, dan segala ***** bengeknya. Ia menatap ke langit, langit yang terjauh. Sejauh yang bisa ia tatap. Terlihat langit abu-abu di kejauhan. Jika turun hujan, maka ini akan menjadi hujan pertama yang turun setelah berbulan-bulan. Entah pertanda apa. Hanya berharap agar semuanya baik-baik saja. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Silakan coba beberapa saat lagi.
Hanya untaian kata-kata itu yang diterima oleh indra pendengaran. Tentu. Kata-kata tersebut tidak bisa menenangkan hati kecilnya yang haus akan titik terang.
Arashi pamit kepada Ibunya dengan wajah yang berseri-seri. Berangkat sekolah adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Terlebih ia akan bertemu dengan Edward. Walau mereka berdua bertemu hampir setiap hari, tetapi rasanya selalu seperti ini adalah pertama kali mereka berkenalan.
Canggung.
Arashi mengangguk tanda mengerti. Ia berkata, ia akan meminta Edward untuk mengantarnya jadi Ibunda tidak perlu khawatir. Sudah lama Arashi tidak bertemu dengan Ayahnya. Beliau kerja diluar kota untuk beberapa waktu, jadi selama waktu itu Arashi dan Juni –Adiknya- hanya akan tinggal bersama sang Ibu.
Perempuan itu berdiri tegak memandang Ibunya yang semakin menjauh. Ia berpikir, suatu saat, apakah ia akan menjadi seperti Ibunya. Mengantar anak pertamanya ke sekolah, kenudian lanjut mengerjakan pekerjaan rumah. Apakah menyenangkan?
Mungkin merepotkan. Seharusnya ia berangkat sendiri, tidak perlu diantar.
“Rash, ngapain? Ayo, masuk.’ Seruan Tiara membuat imajinasi Arashi kembali kepada realita. Sebelum menjadi Ibu, ia harus menjadi anak yang baik. Setidaknya dengan meraih beasiswa dan menempuh jurusan yang disukainya bisa membantu. Masuk ke dalam universitas bergengsi dan memperoleh koneksi. Benar, itu adalah hidup yang baik.
“Oh, lagi nungguin amang-amang.’
“Amang-amang apa? Emang ada? Kan, kita makannya di kantin?’ tanya Tiara, heran. Keduanya berhenti di depan gerbang sekolah. Menyumbat siswa-siswa yang juga mengendarai motor untuk masuk.
Aashi tersenyum, “Amang Edward. Hehe.’
Baik Bunga maupun Tiara, keduanya melanjutkan perjalanan dengan wajah yang datar. Arashi tertawa dan menyusul masuk ke dalam lingkungan pembelajaran tersebut. Itulah pagi mereka. Pagi Arashi yang berseri dan ceria, serta pagi Edward yang dingin dan abu-abu.
Arashi bisa mendengar kelas yang berisik dan ramai seperti toserba sebelum ia memasukinya. Ia sudah tersandung dua kali selama perjalanan ke dalam sini, tapi itu tidak membuat harinya menjadi buruk. Saat berangkat menuju sekolah lah ia mengerti mengapa spongebob selalu bahagia. Karena ia menyukai segala yang ada di hidupnya, dan menyukai segala yang ia punya.
Di ambang pintu, gadis itu menjulurkan kepalanya ke dalam kelas. Bertingkah seolah-olah kelas itu bukanlah tempat pembelajarannya selama ini. Ia mencari-cari juga memastikan bahwa ulamnya sudah memasuki kelas tersebut atau belum. Hatinya melompat kegirangan dan senyuman selalu mengembang di wajahnya ketika ia melihat Ed sedang duduk di bangku guru. Laki-laki itu sering melakukan sebelum ataupun sesudah memasuki kelasnya. Tidak ada yang tau alasannya.
Akhirnya, langkah pertama Arashi memasuki kelas tersebut telah direalisasikan. Ia menghampiri bangkunya dan kembali bertemu dengan Bunga serta Tiara. Mereka sedang melakukan panggilan video dengan Sari.
“Lho? Sari nggak sekolah?’ Arashi berseru dan membuat dua sahabatnya yang lain ikut terkejut. Pasalnya, mereka sedang asyik dengan kesibukan itu saat Arashi berlalu dan menyadari kejanggalannya. Bahwa Sari memakai kaus biasa alih-alih seragam sekolah. Latar yang terlihat dari layar pun menunjukkan bahwa ia tidak sedang berada di sekolah.
“Nggak, dia sakit. Jadi izin nggak masuk.’ Jawab Bunga.
Arashi mengangguk-angguk tanda mengerti. Sedetik kemudian, ia kembali berseri-seri dan melambaikan tangannya pada layar kamera ponsel. Tindakan itu kemudian dijawab oleh Sari.
“Hai, Rash.’ Katanya. Bunga dan Tiara melanjutkan aktifitasnya sementara Arashi duduk dan memperhatikan Edward.
Laki-laki itu duduk di bangku guru. Ia menaruh kedua sikunya bersilangan di atas meja kemudian meletakkan kepalanya di atas sana. Edward tidur. Tidak biasanya, batin Arashi. Biasanya, Edward pasti sedang menggoda dan bermain bersama kucing milik penjaga kantin disana. Atau, ia akan nongkrong di balkon koridor kelasnya–di lantai dua, memandangi semuanya. Tapi itu hari-hari belakangan, Edward sedikit berbeda hari ini. Arashi bimbang, ia tidak tau harus berpura-pura tidak melihatnya alih-alih mengambil tindakan atau, haruskan ia melakukan yang sebaliknya?
Momentum yang pas sekali. Ketika Arashi bimbang memikirkan hal itu, Tiara dan Bunga telah menyudahi panggilan video tersebut.
“Eh, Edward udah dateng dari tadi?’ tanya Arashi kemudian.
“Kayaknya, sih, iya. Yang jelas, dia udah ada waktu aku sama Tiara dateng.’ Jawab Bunga.
“Dia udah dari tadi kayak gitu?’ tanya Arashi lagi.
Tiara, yang tidak sabaran sebagaimana biasanya, turut menyambar, “Nggak tau, lah, Rash. Kan, kita datang barengan. Gimana, sih?’ ada lekuk-lekuk kepuasan juga kelegaan pada wajah Tiara setelah ia mengatakannya.
Arashi tidak mengambil pusing perkataan itu, “Yaudah, pas kalian masuk, deh. Kan, kita masuknya nggak barengan. Udah kayak gitu belum?’
Keduanya mengangguk secara bersamaan. “Ada yang nggak beres, Rash?’ tanya Bunga.
Arashi yang terpaku memerhatikan Edward itu menggelengkan kepala.
“Nggak, nggak ada apa-apa kok, Bunga.’ Mungkin hanya paranoid saja, lanjut Arashi dalam hati.
Gadis itu melakukan persis seperti apa yang dilakukan laki-laki itu di meja guru. Keduanya sama-sama memejamkan mata. Berusaha memasuki pikiran dan atmosfer yang lebih tinggi di atas semua yang ada di dalam kelas ini. Berusaha menyatukan pikiran yang satu dengan pikiran dari raga lainnya. Ada lebih dari dua puluh pikiran beserta raganya di dalam kelas ini tapi hanya satu yang ia maksud. Semoga hal ini tepat sasaran dan tidak salah alamat.
Arashi tidak tahan. Tidak sampai lima menit ia melakukan hal tersebut sampai ia kembali membuka matanya. Kelas yang berisik ini sangat mengganggu konsentrasinya untuk melakukan hal tersebut.
Ia menyerah dan memutuskan untuk memerhatikan Edward dalam posisi yang sama. Bagaimana mungkin ia bisa tidur di kelas yang berisik ini? Apa yang ada di dalam kepalanya? Apa yang ada di dalam otaknya? Di dalam pikirannya? Apakah itu Arashi? Ia ingin mengetahuinya. Setiap inci dan potongan dari diri Edward, pikiran maupun kepribadiannya, Arashi menginginkan semua informasi tentang semua itu. Ia akan mencumbu semua hal itu dan menerimanya. Atau apakah ia tetap akan melakukannya sekalipun apa yang ada di dalam pikiran Edward bukanlah sesuatu yang baik.
Ternyata kemampuan bisa membaca pikiran orang lain adalah ide yang buruk.
Demi merealisasikan semua yang ada di dalam pikirannya, Arashi menegakkan kepalanya. Ia akan mendekati Edward dan menyuruhnya untuk bangun. Kemudian, dari apa bentuk repons Edward akan terlihat apakah firasatnya benar atau salah.
Ia bangkit.
“Ed!' panggilnya. Suara perempuan itu sengaja ia tinggikan sedikit, takut-takut yang dipanggil tidak mendengar seruannya.
Edward memunculkan kepalanya, menjauhkan anggota tubuh tersebut dari kedua tangannya.
“Apa?’