
Ternyata biasa saja. Begitu bagi orang yang tidak percaya pada hantu. Beberapa hantu terkadang tiba-tiba muncul dan menakut-nakuti mereka. Di awal mereka masuk, pintu di belakang mereka sudah terbanting, menutup dengan sendirinya. Namun, tidak ada apa-apa disana. Arashi dan yang lainnya melanjutkan jalannya perlahan-lahan, menyusuri aula yang ternyata luas tersebut.
Senter di tangan tiga orang yang memegangnya adalah penolong sekaligus mala petaka bagi mereka. Pasalnya, senter tersebut terkadang justru menunjukkan kepada mereka bagaimana wujud dari hantu tersebut. Jika saja mereka tidak membawa atau menyalakan senter tersebut niscaya mereka hanya akan tenggelam dalam kebutaan tanpa bisa melihat apapun. Termasuk sekumpulan hantu tersebut.
Arashi dan teman perempuan yang sama-sama bergandengan tangan memegang satu senter. Mereka berjalan agak berjauhan dengan yang lain. Niatnya, agar yang di depan terlebih dahulu dikageti dibanding mereka. Jadi, mereka sudah bisa menebak dimana saja hantu itu.
Arashi berhenti dan memutar senter ke segala arah, berkeliling. Ia baru saja menyadari bahwa ternyata aula itu mempunya jendela di samping gedung tersebut. Jendela tersebut tidak nampak dari bagian depan gedung itu, jadi tidak ada yang menyadarinya.
“Ternyata ada jendela.’ Bisik Arashi kepada temannya yang bernama Sarah.
“Itu yang belakang tolong jangan bisik-bisik, dong. Kalau ngomong, langsung ngomong kayak biasa aja. Bisik-bisik justru bikin kita takut soalnya nggak tau darimana asal suaranya.’ Tegur rekan satu kelompok yang di depannya.
“Okee. Aku bilang, TERNYATA DISINI ADA JENDELAAA.’ Ulang Arashi. Beberapa dari mereka segera menjerit ketakutan. Sudah Arashi duga, seharusnya ia tidak member tahu hal ini.
Memperburuk keadaan saja.
“Yang laki-laki, coba berpencar terus cari bolanya, deh. Jangan numpuk disini semua. Nanti nggak selesai-selesai.’ Ujar salah seorang yang lain. Jika sudah ingin menyerah, biasanya perbedaan antar jenis kelamin dijunjung tinggi-tinggi.
“Yahh. Lagian penakut amat. Yuk, yang laki-laki cari bolanya. Biarin yang perempuan disini. Disini kok yang banyak hantunya.’ Ujar seorang laki-laki yang lain.
Akhirnya, dua senter dibawa oleh mereka yang pergi memeriksa ruangan. Para perempuan kini mendempetkan diri pada Arashi karena hanya tinggal senter di tangannya yang bisa digunakan sebagai penerangan.
Hantu yang berpakaian putih dan berambut panjang berada di mana-mana. Sarah menjerit saat sebuah tangan dingin tiba-tiba mencengkram pergelangan kakinya. Dengan ceroboh Arashi justru menyorotkan kepala senternya kepada kaki Sarah. Bersamaan dengan terjadinya respons Arashi, nampak di hadapan sinar senter mereka sosok perempuan yang sedang menyeringai. Sontak Mereka berteriak dan menyebar ke segala arah. Arashi dan Sarah masih bersama berkat genggaman tangannya.
Para laki-laki yang sedang mencari tidak berhamburan keluar setelah mendengar teriakan itu. Seakan tidak peduli dengan para perempuan. Atau justru mereka pun sudah sangat kesusahan dengan terror-teror yang mereka hadapi?
Kini para putri harus kembali berkumpul menjadi satu. Arashi memerintahkan mereka untuk diam agar Sarah dan dirinya dapat menghampiri mereka dengan mudah. Saat ia ingin menghampiri anggota yang pertama, ternyata ia sedang berdiri membelakangi jendela yang tinggi.
Ia melihat sesosok wajah yang dibalut kain kaffan sedang menyeringai di balik jendela tersebut. hanya wajahnya saja yang terlihat namun berhasil membuat jantung Arashi berhenti berdegup. Entah Sarah melihatnya atau tidak karena ia segera memutar kepala senter tersebut. Ia menggenggam kuat telapak tangan Sarah.
“Rashi? Ayo, buruan.’ Ajak Sarah. Arashi mengangguk walau tak nampak dan kembali mengarahkan senter tersebut kepada teman di depannya. Makhluk di jendela tadi sudah tidak ada.
Mereka mengumpulkan teman mereka satu per satu walau mendapatkan banyak halangan. Beberapa hantu menjerit saat menampakkan dirinya. Tidak tau karena kaget melihat manusia atau justru karena netra mereka kesakitan saat sinar senter menerpa.
Kini mereka sedang berjalan menuju pintu belakang seraya memanggil-manggil rekan laki-lakinya. Tiga orang yang memeriksa kamar mandi memberikan jawaban berupa seruan. Mereka keluar dari kamar mandi bersama sebuah bola yang bersinar di tangannya. Sedangkan teman mereka yang lain, yang memeriksa ruang administrasi tampak tenang. Mereka bahkan tidak menjawab seruan teman-teman Arashi.
“Jangan-jangan….’ Ucap Sarah takut-takut.
“Sst! Udah buru mendingan langsung dicek aja. Lagian cuman ruang administrasi kali. Apa nakutinnya, sih.’ Ujar Rangga, salah seorang dari yang sudah memeriksa kamar mandi. Ia mendahului menuju ruang administrasi dan membuka pintunya tanpa rasa takut sedikit pun. Arashi penasara, apa yang dia pikirkan sampai tidak takut untuk melakukan hal itu.
Rangga berteriak, berlari keluar dengan napas yang memburu. Senternya terlempar ke arah lain masih menyala. Kemudian disusul suara tawa yang nampak tidak asing di telinga mereka. Semua pandangan teralihkan kepada Rangga dan pintu yang terbuka di hadapan mereka. Mereka menatap dua hal itu bergantian. Tampak ragu-ragu dengan apa yang terjadi. Dengan berani Arashi mengarahkan senter di tangannya kepada pintu tersebut dan menemukan dua teman laki-lakinya sedang berdiri disana. Menahan tawa.
“Hahahaha si Rangga sampe lompat-lompat gitu.’ Kata salah seorang diantara dua laki-laki tersebut.
“Ih, apaan, sih, kalian. Nggak lucu tau.’ Protes teman Arashi.
“Yah, lagian. Nggak usah takut kali. Orang ini cuman aula biasa. Listriknya aja yang dipadamin. Jadi serem, kan.’ Laki-laki bernama Rendy itu kembali tertawa.
“Ayuk, keluar.’ Usul Arashi.
“Ayo. Buruan. Ngapain, sih, lama-lama disini.’ Ujar temannya yang menurut Arashi, mirip sekali dengan Tiara.
Setelah mengambil kembali senternya, Rangga pun berdiri dan turut menyetujui ide Arashi. Anak perempuan itu menemukan sebuah fakta yang membenarkan dugaannya selama ini. Saat menuju pintu, rombongan itu kembali bertemu dengan seorang perempuan. Berbaju putih dan berambut panjang seperti kawanannya yang lain. Arashi tak sengaja melihat perempuan itu tatkala ia mengibaskan rambut panjangnya. Kala itu ia sedang menunggu temannya yang lain keluar dari pintu sempit itu.
Hantu perempuan itu, mirip Bunga. Sangat. Bahkan, perbandingan postur tubuh keduanya pun sama. Tinggi Bunga dan Arashi hanya berbeda beberapa sentimeter. Begitupun ia dengan hantu perempuan yang nampaknya sedang memperbaiki rambutnya. Terlihat jelas ia tidak terbiasa dengan rambut yang menjulang ke depan tersebut sehingga ia terus membetulkannya.
Mirip sekali dengan Bunga.
Kakak panitia sudah menunggu di pintu belakang dan kembali mengantar mereka kembali ke tenda seraya menjemput kelompok berikutnya. Arashi berpikir, bagaimana Edward ketika melakukan ini. Ia laki-laki yang hangat dan mudah terluka namun tak takut dengan makhluk halus. Juga tak tertarik.
Laki-laki seperti dialah yang mungkin dihindari para hantu. Edward hangat namun dingin kepada mereka dan segala ***** bengeknya.
Pasti sama sekali nggak seru, batinnya. Ia membayangkan Edward yang tidak menunjukkan ekspresi apapun kala didatangi oleh hantu.
Mereka diperintah untuk tidak tertidur. Walaupun begitu, mereka tidak saling bercerita. Mungkinkah tanpa sadar mereka sudah terpengaruh oleh kelompok yang lain? Yang juga tidak menceritakan apapun. Entahlah. Bagi Arashi sendiri, ia merasa seperti ada yang mengganjal di lubuk hatinya. Tapi apa? Hantu-hantu itu hanya para perempuan yang diambil dari kelompok masing-masing untuk dirias mirip hantu. Arashi tau itu. Tapi, seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak berhenti untuk mengulang kembali kejadian beberapa menit yang lalu.
Setelah semua kelompok selesai, mereka dipanggil keluar untuk dipindah tenda. Para perempuan tidur di tenda untuk perempuan. Begitupun laki-laki. Mereka tidak bercampur dalam satu tenda. Tidak juga tidur di tenda yang sama. Mungkin ini akan menjadi malam paling pendek bagi mereka karena semua sudah terlalu lelah dengan kegiatan yang mereka lakukan hari ini. Tidur mereka pasti akan sangat pulas.
Esok paginya,
Pagi yang sejuk dan dingin di pegunungan. Para panitia terlihat sedang sibuk mengurusi sarapan, sehingga para peserta memiliki waktu senggang. Waktu bagi diri mereka sendiri.
Bunga sedang melamun di pintu tenda kelompoknya saat Tiara datang. Ada sebuah handuk kecil berwarna ungu menggantung di lehernya. Tiara baru saja dari kamar mandi saat ia menghampiri Bunga. Ia membawa kabar yang sangat penting.
“Bunga!’ Tiara memandang berkeliling.
“Tadi aku lihat Edward lagi ngobrol sama perempuan masa. Bukan dari sekolah kita!’ ujar Tiara dengan nada berbisik.
Bunga mengangkat salah satu alisnya,
“Terus? Ya, biarin aja, kali. Cuman ngobrol doang ‘kan?’
“Tapi, Bung. Mereka itu kayak akrab banget. Edward, sama kita aja jarang ngobrol. Tapi ini dia akrab banget sama orang lain.’
Bunga diam sebentar.
“Arashi…. tau?’
Tiara menggeleng dengan keras.
“Dari kamar mandi sampai kesini, aku belum lihat Arashi. Kasih tau nggak, ya?’
“Jangan, deh. Lagipula, mereka, kan, Cuma kenal dan akrab di kamping ini aja. Jadi kayaknya kalau kampingnya selesai, berarti mereka juga nggak ketemu lagi.’ Simpul Bunga.
Tiara berkacak pinggang dan menggeleng-geleng, seperti backdancer dengan handuk sebagai aksesoris.
“Terus, kalau mereka lanjut di Whatsapp gimana?’ Tiara memukul dahinya sendiri.
“Oiyaya. Eh, tapi, Edward itu orangnya loyal, lho! Nggak bakal, lah, neko-neko gitu.’ Bunga menyangkal.
“Humm. Bunga. Seberapa banyak yang kamu tau soal laki-laki?’
Bunga terdiam.
“LAKI-LAKI ITU MUSTAHIL KALAU NGGAK KAYAK GITU. KITA SEBAGAI PEREMPUAN HARUS CURIGA!’ Tiara seakan menjelaskan bahwa ia berada di atas Bunga apabila sedang membahas pasal lawan jenis.
“Tapi, Tiara. Kita juga harus—‘
“Nggak ada tapi-tapian! Udah, ah. Aku mau balik ke tenda aja.’ Tiara membalikkan badan, ia merajuk. Berharap Bunga memanggilnya kembali dan mengiyakan pendapatnya. Tiara membutuhkan pembenaran.
“Eh, Tiara. Nanti dulu.’
Tiara tersenyum senang. Ia memasang wajah malas dan kembali menghadap Bunga.
“Paan?’
“Kamar mandinya ngantri nggak?’
“LIAT AJA SENDIRI!’ Tiara membalikkan badan dan berjalan pergi.
Arashi bergeming melihat Edward sedang mengobrol ria bersama orang lain. Teman bicaranya seorang perempuan. Posisi berdirinya membuat Arashi bisa melihat mereka berdua sedangkan mereka tidak bisa melihatnya. Gadis yang sedang bersama Edward adalah gadis yang sama. Dia, Sophia. Sophia memakai topi khas musim panas dengan ujung yang membulat dan lebar di kepalanya. Mereka terlihat akrab. Lebih dari sekali keduanya tertawa bersamaan dan saling menggoda. Edward nampak nyaman bersama gadis itu.
Sedangkan Arashi, ia dan Edward selalu bertengkar. Yang mereka lakukan sehari-hari hanya berdebat, berdebat dan berdebat. Ia jarang melihat Edward tertawa seperti itu. Tertawa terlihat sangat natural dan tulus. Sedangkan Arashi, Edward hanya mengeluh, menangis dan menyalahi diri sendiri kala bersamanya.
Tidak ada tawa. Tidak ada saling menggoda satu sama lain.
Hati Arashi seperti dihujam oleh jarum-jarum es kala itu. Seperti ada banyak benang kusut serta kabut tebal di dalam kepalanya. Ia tidak bisa berpikir jernih. Hatinya menjadi sakit dan dingin sementara kepalanya panas sampai beruap. Arashi tidak mengerti perasaan apa ini. Ia pernah merasakannya dahulu, kala ia dan kedua orang tuanya bertengkar. Lucu. Arashi tau persis dimana letak hatinya, tetapi mengapa jantungnya yang terasa sakit? Seperti ditusuk oleh ribuan pisau tetapi tidak berdarah.
Air mata sudah terkumpul di pelupuk matanya namun mereka masih belum melihat Arashi. Arashi tentu memiliki pilihan untuk mendatangi mereka. Tetapi, terakhir kali ia berbicara bersama seseorang dengan perasaan seperti ini yang menghinggapinya, ia membuat lawan bicaranya menangis. Arashi tidak akan mengulanginya, ia tidak ingin melukai siapapun.
Anak perempuan tersebut mundur perlahan dan membalikkan badan. Berjalan cepat meninggalkan dua insan yang sedari tadi dilihatnya. Langkahnya tetap terdengar mantap walau hatinya terluka dan pikirannya terganggu. Arashi terus berusaha mengontrol dirinya. Tidak, ia ingin pulang dan butuh waktu sendiri.
Akhirnya Arashi sampai disini. Lapangan tempat berdirinya tenda-tenda mereka. Melihat kerumunan yang berisik dan saling menjalin komunikasi antar satu dengan yang lainnya semakin memperjelas Arashi bahwa ia tidak memiliki waktu untuk sendiri. Tidak ada cara lain selain jurus andalan pembangkit moodnya. Teknik rahasia yang sudah lama ia tinggalkan karena dapat berakibat buruk.
Perempuan itu berjalan menghampiri tenda Tiara. Melihat disana sudah ada Tiara dan Bunga, ia buru-buru menghapus air mata yang sejak tadi enggan turun. Setelah menstabilkan pernafasannya, Arashi memantapkan hati dan tekad. Kau pasti bisa, Arashi! batinnya.
“Bunga! Tiara! Kalian darimana aja? Daritadi aku cariin, lho!’
Keduanya menoleh pada sumber suara,
“Apaan! Kita yang sibuk cari-cari kamu tau! Darimana aja coba?’ Tiara membuka mulut.
“Hehehe. Dari kamar mandi.’
Tiara dan Bunga lihat-lihatan. Keduanya sama-sama tau bahwa Edward sedang berada di dekat kamar mandi. Pasti Arashi sudah melihat kejadian tersebut.
“Eh, waktu itu kita bawa cemilan, kan, ya. Makan, yuk! Mumpung belum sarapan.’ Ajak Arashi. Benar, ini adalah senjata andalannya. Teknik ini mampu membuat emosi Arashi teredam sedikit demi sedikit.
“Ada, kok!’ Tiara masuk ke dalam tenda dan membuka tasnya. Mengeluarkan beberapa cemilan. Ada yang manis, yang asin dan gurih seperti chips sampai yang pedas.
Kebetulan, pada tiap tenda disediakan sebuah terpal untuk duduk lesehan. Mereka menggelarnya di samping tenda dan duduk disana. Memakan cemilan pada pagi yang cerah ini. Ditemani udara yang sejuk dan sinar matahari yang hangat. Tanpa sengaja, mereka melihat Edward sedang berjalan-jalan bersama Sophia. Semua instrument indah ini hancur begitu saja. Di dalam diri Arashi, ada sebuah petir yang menggelegar dengan dahsyat.
“Kamu nggak apa-apa, Rash?’ tanya Bunga, khawatir.
Arashi menolehkan pandangan pada dua sahabatnya. Ia tersenyum dan mengangguk kemudian meraup satu genggam penuh chips dan memakannya sekaligus.
Bunga dan Tiara menelan ludah, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.