SAVE ME

SAVE ME
Herbal alami ...



"Apa mereka akan memotong sebagian?."


"Ya, hanya sebagian kulit yang menutupinya agar tidak ada lagi kotoran yang tersimpan didalamnya."


"Tapi itu pasti akan terasa sakit sekali." Pria itu terus membayangkan bagaimana dirinya yang harus menjalani treatment mengerikan itu demi kesehatannya sendiri atau lebih tepatnya agar Hanna tak merasa jijik saat nanti ia akan melakukan hal 'itu' kepadanya.


"Oh God, aku berani bersumpah jika akan terasa lebih baik setelah kau melakukannya."


"Tapi bagaimana jika ia terbangun nantinya?. Bukankah itu akan mengoyak bekas luka yang ada?."


"Tidak akan terjadi seperti itu William jika kau mau membuang pikiran aneh mu."


"Pikiran aneh apa?."


"Kenapa justru kau bertanya kepada ku?. Bukankah para pria suka dengan hal-hal seperti itu untuk membangunkan gairah mereka?."


"Ah maksudmu hal-hal mesum?."


"Tidak perlu dijelaskan jika kau sudah memahaminya."


"Kenapa wajahmu bersemu?." William menunjuk pipi wanita itu untuk mengecohnya dengan pikirannya sendiri.


"Tidak ada." Hanna dengan polosnya justru melihat wajahnya sendiri pada kaca yang menempel pada sun visor mobil pria itu.


"Apa kau sedang membayangkan bagaimana milik calon suami mu sendiri?."


"Tidak bisakah kau simpan saja bualan tidak bergunamu itu agar tidak mencemari otak ku yang masih polos ini?." Geramnya setelah sadar akan kebodohan yang baru saja ia lakukan akibat ulah William yang terus menggodanya.


"Ternyata benar kau tengah memikirkannya?."


"William!!."


Suasana gaduh pun tak bisa begitu saja berakhir dengan sifat keduanya yang saling memenuhi satu sama lain. William yang senang menggoda dan Hanna yang terlalu mudah tertipu oleh sifat jahil pria itu.


***


Hanna menjadi satu-satunya wanita yang menemani pria bule itu diruangan khusus dengan fasilitas cukup lengkap tersedia didalamnya. Lalu dimana Steven?. Pria itu pergi entah kemana setelah mengantarkan sejoli yang akan melakukan tindakan sirkumsisi sebelum keduanya melangsungkan pernikahan, lucu memang jika mengingat sang calon pasien merupakan seorang pria yang akan melangkah kepelaminan dalam waktu yang tak lama lagi.


"Jangan pergi!." Pinta Willi saat Hanna baru akan melangkahkan kakinya keluar pintu karena Natali berada dalam panggilan telepon miliknya.


"Natali menghubungi ku, tidak akan lama. Diamlah ditempatmu sembari terus berdoa." Hanna meninggalkan si pria dengan rasa takutnya.


"Aku akan menundanya sampai kau masuk kedalam untuk menemani ku."


"Oh God. William apa kau yakin akan membiarkan ku untuk melihat milik mu, bagaimana jika aku sampai pingsan didalam karena hal itu?."


Willi seketika terbahak dengan jalan pikirannya sendiri yang dengan tega membiarkan si calon istri untuk melihat sesuatu sebelum waktunya.


"Aku tidak keberatan."


"Tapi jelas tidak dengan ku!. Kau benar-benar menyebalkan!." Hanna lantas meninggalkannya untuk menelepon Natali.


*


*


"Ada apa nyonya Natali?." Hanna membuat ibu beranak satu itu seketika mengeluarkan suara merdunya hingga terdengar sahutan dari sisi kanan dan kiri yang membuatnya terdiam dengan masih sedikit terkikik.


"Kamu dimana?. Kamu lagi sama dia kan!. Ngaku!."


"Mbak Nat mau titip salam ya?. Entar aku sampein."


"Beneran kamu?!." Tanyanya tak percaya.


"Iya, mau gak?. Langsung loh ini sama orangnya gak pake perantara mr. Sipit lagi."


"Tapi kan udah ada suami ku Na. Kamu ih sengaja banget bikin kesel."


"Enggak, siapa bilang aku bikin kesel. Kan aku cuma nawarin aja kali mbak mau." Hanna berhasil menggodanya.


"Dih, kamu awas ya. Mentang-mentang udah hampir dilegalin ama si ono aja sukanya pemer ke kita."


"Kapan emang aku pamer?."


"Duh!. Gak tahu ya mbak, soalnya yang bikin listnya bukan aku." Jawabnya dengan sedikit drama.


"Ih awas aja ya kamu bakalan aku pecat dari kesatuan."


"Kesatuan apaan?. Gosip!?." Hanna justru tergelak dengan ancaman Natali. Ia benar-benar tak habis pikir jika ada perkumpulan macam itu dikantor mereka.


"Persatuan penganut kesempurnaan."


"Ya ampun norak banget!. Kapan-kapan ada grup judulnya seenggak meyakinkan itu?."


"Udahlah kan kamu tinggal masuk doang jadi anggota kenapa jadi banyak protes."


"Malu kali mbak isinya pergibahan."


"Gak papa, buat hiburannya si Mega yang patah hati sama bule mu." Tentu saja Hanna tertawa saat Natali mengatakannya. Seandainya saja mereka tahu pria seperti apa yang tengah menjadi perbincangan mereka yang bahkan tidak berani sirkumsisi diusianya yang hampir menginjak tiga puluh satu tahun, menggelikan.


*****


William memperhatikan dengan begitu serius arahan sang dokter yang menyuruhnya untuk tetap rileks saat beberapa perawat pria membantunya untuk berbaring dengan nyaman.


"Anda harus tetap tenang, dengan terus memperhatikan pola pikir anda. Jangan membayangkan hal-hal enak atau pun hal-hal yang membuat anda takut karena ini tidak akan semengerikan yang anda kira."


"Aku dengar jika setelah ini anak-anak bisa langsung bermain, apa benar begitu?."


"Tentu saja semua bisa langsung bermain karena metode ini adalah yang terbaru dengan alat paling modern jadi akan mengurangi timbulnya rasa kurang nyaman selesai pemotongan tapi yang perlu anda ingat jika setelah ini para pria dewasa dilarang untuk berhubungan tubuh apapun alasannya."


"Seberapa lama aku harus menahannya?." Tanya Willi dengan wajah penasaran.


"Sekurang-kurangnya adalah empat minggu."


"WHAAT???." Pria itu melongo untuk kali pertama dalam hidupnya mendengar larangan menggelikan yang pernah ia terima.


"Tapi aku akan menikah minggu depan?." Keluhnya berbarengan dengan kekehan dari dokter dan juga para perawat pria yang tengah menanganinya.


"Maka setelah mengucap janji kalian harus tinggal terpisah untuk sementara waktu."


"Apa tidak ada cara cepat untuk menyembuhkannya, ini adalah harta ku yang paling berharga dan harus bisa digunakan pada hari yang tepat." Keluhnya dibarengi dengan sebuah decakan kecil.


"Maaf, kami tidak bisa menjamin kesembuhan luka seseorang dengan mempersingkat waktu dari batas minimal yang telah ditentukan."


"Kau benar-benar membuat ku kecewa mr. Malik."


Dokter bernama Malik itu hanya bisa terkekeh saat melihat ekspresi kekecewaan William setelah mendengar batas minimal waktu yang harus dilaluinya setelah tindakan sirkumsisinya selesai.


"Jika tahu akan menunggu selama ini lebih baik menundanya jadi aku tidak perlu repot untuk menghindar karena takut jika sewaktu-waktu alam membutuhkannya." Gerutunya sembari menikmati sensasi saat senjatanya menjadi mati rasa.


"Apa kau sudah menikah?." Tanya Willi kepada salah satu perawat yang membantu dr. Malik.


"Saya baru menikah lima bulan lalu dan sekarang istri saya sedang hamil anak pertama kami." Jelasnya dengan senyum bahagia yang terlihat dari sudut mata si pria dibalik masker yang menutupi sebagian wajahnya.


"Berapa kali kau menaklukannya dalam sehari?."


*Dasar bule songong, apa dia sengaja ingin mengejek ku dengan pertanyaan sekonyol itu?.


"Hanya beberapa kali dalam satu waktu." Jawabnya dengan senyum dipaksakan.


"Maksud mu kau melakukannya berkali-kali selama satu malam?."


"Tidak sebanyak yang anda pikirkan. Saya hanya melakukannya satu hingga dua kali dalam sehari dan itu tidak untuk setiap hari."


Pertanyaan-pertanyaan awam pun terus bergulir dari Willi selama dr. Malik mengeksekusi miliknya yang berukuran tidak biasa dan sempat membuat dua pria lain yang bersamanya sedikit terkejut lantaran pikiran mereka langsung tertuju pada cuplikan gambar tak senonoh yang biasa berseliweran diperamban dengan embel-embel 'herbal alami pembesar ...'


.


.


.


tbc.