SAVE ME

SAVE ME
Penantian tiga minggu



☆▪☆▪☆


Akhirnya tiga minggu penantian Willi pun terbayar sudah malam ini dengan diawali perseteruan layaknya adegan dalam action movie dimana para actor dan actress melakukan aksi penculikan yang kemudian berujung dengan hiya - hiya murni tanpa script.


***


Awalnya Hanna sempat menolak saat Willi memintanya untuk pergi berkebun karena bagaimana pun pria itu baru saja sembuh dari luka yang menyelimuti alat vitalnya.


"Apa kau tidak takut jika bekas luka itu kembali terkoyak karena kesalahan dalam uji coba yang kau lakukan?."


"Tidak akan, aku berani menjaminnya. Lagi pula dr. Malik telah memberiku resep untuk mengurangi rasa karat yang membuatnya mudah tumbang." Ucap Willi saat mengungkung Hanna yang berada tepat dibawahnya.


"Kau yakin?."


"Tentu saja!. Kenapa?. Kau meragukan ucapan ku?."


Hanna mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, karena kau meragukannya bagaimana jika langsung saja kita coba."


Malam itu keduanya melakukan pemanasan yang cukup lama dan pastinya membuat kerja jantung semakin keras memompa. Mereka yang masih awam pun justru menjadikan momen panas tersebut layaknya sebuah candaan dimana mereka lebih banyak terkekeh karena hal-hal baru dan mereka anggap lucu.


"Sakit!. Jangan lakukan itu!." Suara Hanna mendominasi disela-sela kesibukan Willi.


"Lalu aku harus apa?. Aku belum pernah melakukannya dengan wanita manapun."


"Siapa yang mengajari mu untuk melakukannya?." Tanyanya menyelidik.


"Pria sipit itu yang memberitahu ku."


"Apa kau belum pernah melihat adegan-adegan panas sebelum ini?."


"Banyak!. Tapi tidak ada yang sesusah ini untuk memasukannya."


Hanna benar-benar tak percaya dibuatnya. Mengapa pria pintar ini bisa tampak bodoh dimalam pertamanya berkebun?. Apa dia benar-benar tidak tahu apa itu perawan?.


"Lalu kenapa kau begitu tergesa-gesa untuk mendobraknya?!."


"Ku pikir tadi akan langsung tenggelam. Aku tidak tahu jika ternyata sesulit ini melakukannya." Willi menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Akan ku coba lagi perlahan." Lanjutnya tetap dengan semangat enam sembilan.


Hanna benar-benar takut saat Willi mengatakan kalimat yang membuatnya susah untuk mengurai ketegangan ditubuhnya karena rasa sakit yang timbul akibat desakan nuklir pria itu hingga pada akhirnya mereka harus memulainya lagi dari awal untuk membuat si wanita lebih rileks.


Malam panjang pun mereka lewati dengan penuh keint*man. Banyak tenaga mereka kerahkan untuk bersama-sama mendayung nirwana. Diawali oleh pekikan Hanna dan diakhiri dengan erangan kuat dari William.


▪▪▪▪▪


Hanna berusaha menahan rasa sakit yang ia alami setelah semalaman William menjajal perkebunan baru yang ia miliki untuk digarap.


MENGERIKAN!.


Hanna sampai tak habis pikir jika pria itu ternyata memiliki ketahanan tubuh diatas rata-rata. Ia mengira jika setelah masa orientasi itu dirinya dapat beristirahat dengan jenak sembari meredam rasa sakit yang tengah menguasai perkebunnya namun ternyata salah, ia justru tak bisa memejamkan matanya karena William terus berkunjung untuk mengecek kondisi lahan sembari menyemai bibit hydroponik yang sudah siap tebar meski dengan kondisi yang sedikit dipaksakan sampai akhirnya pria itu tumbang tak berdaya karena ulahnya sendiri.


💕


Cuaca pagi ini benar-benar sangat mendukung untuk tetap bersembunyi dibalik selimut tetapi tidak dengan Hanna, ia harus segera mengisi perutnya jika tidak ingin asam lambungnya kembali naik karena kegiatan mereka semalam yang jelas telah membakar hampir semua kalori ditubuhnya.


Dengan hanya mengenakan bathrobe wanita dengan tubuh penuh noda itu berdiri didepan meja pantri untuk menyiapkan sarapan yang sebenarnya sedikit terlambat dari biasanya.


Dua mangkuk salad sayur, telur rebus, dua gelas susu dan roti bakar berlapis selai stroberi menjadi menu pagi ini. Tidak ada yang spesial layaknya malam pertama yang biasa dilewati oleh pasangan baru yang menghabiskan malam disebuah penginapan mewah dengan menu sarapan ala hotel bintang lima. Stop!. jangan katakan itu, tetap syukuri yang ada.


Hanna beralih kedalam kamar untuk membangunkan Willi, namun alangkah terkejutnya ia saat membuka selimut yang menutupi sebagian kasur mereka dimana bercak merah membunga dimana-mana dan yang lebih membuatnya syok adalah bagaimana bisa nuklir sebesar itu bisa menebar benih hingga berkali-kali dalam semalam.


Hanna seketika memukuli tubuh Willi yang benar-benar n*k*d.


AWW ........


AWW .........


"Kenapa kau memukuli ku?." Tanya Willi yang masih sibuk mengusap matanya karena belum sepenuhnya bisa melihat dengan jelas.


"Dasar pria cabul!."


"Apa?. Kenapa dengan ku?."


"Lihatlah bagaimana kau menodainya semalaman." Hanna menunjuk sprei dengan noda yang tersebar dimana-mana.


Pria itu pun ikut terkejut saat melihatnya, membayangkan bagaimana kelakuannya semalam hingga membuat tempat tidur mereka berubah menjadi ladang binatu.


******


Willi merasakan jika tubuhnya benar-benar bugar setelah berladang kemudian sarapan pagi dilanjut dengan berladang kembali dan membuat Hanna seketika mengaum karena pria itu menginginkan dua kali putaran sedangkan tubuhnya hanya siap untuk sekali kerja.


"William, istirahatlah sebentar. Kita lanjutkan nanti malam atau mungkin besok?." Pintanya memelas saat pria itu bersiap kembali mengungkungnya.


"Tapi dia selalu seperti ini jika dekat dengan mu." Alibi yang benar-benar bermasalah.


Hanna sampai tak bisa berkata-kata saat melihat bagaimana rupa nuklir yang mampu meluluh lantakan semua persendiannya dalam sekali terjang itu dan kini masih dalam keadaan siap tempur setelah satu kali letusan.


"Apa kau dulu selalu seperti ini?." Tanya Hanna sembari mengusap lembut milik Willi.


"Maksud mu?."


"Selalu berada diposisi siap."


"Tidak, dia akan tumbang jika sudah sekali melakukan serangan."


Dan putaran kedua pun berlanjut dengan kemengan yang sama seperti sebelumnya.


****


****


****


Mery terbangun dengan rasa pegal ditubuhnya karena seharian kemarin mereka baru saja merampungkan kegiatan sosial disebuah rumah adopsi dan ia tak mendapati pria itu sekembalinya bekerja, entah dimana ia juga tak peduli.


"Kau mencari ku?." Suara itu muncul dari balik pintu apartemen yang baru saja dibuka oleh seseorang, Drew.


Mery hanya melihat sekilas kemudian berlalu dari meja pantry untuk menghindari pria itu.


Begitupun dengan Drew, ia juga tak ingin membuat wanita itu mengaum dipagi hari atau lebih parahnya mendorongnya keluar pintu hanya karena kesalahan mulutnya dalam berbicara.


Pria itu lantas membersihkan tubuhnya lalu mengganti bajunya dengan sepotong kaus polo dan celana katun setinggi lutut. Ia kemudian membaringkan tubuhnya diatas sofa sembari memejamkan mata untuk meredam rasa lelahnya setelah semalaman menghabiskan waktunya disebuah restoran cepat saji yang buka 24 jam sebagai pembantu dengan tugas serabutan.


Drew cukup tahu diri untuk tidak meminta uang kepada wanita dari keluarga Deinbeigh itu yang merupakan seorang pekerja keras dibandingkan dirinya. Untuk itu ia memilih bekerja dari pada menjadi pengangguran yang jelas tidak disukai oleh Mery.


Tak butuh waktu lama untuknya terlelap dalam suasana yang begitu nyaman meskipun tidak pada kenyataannya karena sofa yang ditempatinya tidak cukup untuk menampung tinggi tubuhnya dan tak lama setelah itu Mery membuka sedikit celah pada pintunya untuk memastikan keberadaan Drew.


.


.


.


tbc