
☆●☆●☆
Drew dengan cepat mendekat ke tempat Willi berdiri dan langsung menarik pundaknya untuk memberinya sebuah ciuman intim yang mendarat tepat di bibir Pria itu.
Steven tak dapat berkata apapun untuk menjelaskan keterkejutannya dengan pertunjukan tak senonoh yang diperlihatkan oleh dua pria berwajah Bule di hadapannya.
Willi secara spontan meninju rahang Drew hingga membuat pria itu jatuh tersungkur dilantai dengan terbatuk-batuk.
"Manusia Gila!!!." Geramnya.
"Kenapa?. Apa kau merasa jijik saat melakukannya?. Apa kau merasa suci setelah bertemu dengan wanita sialan itu?." Drew benar-benar mencurahkan isi hatinya. "Lihatlah Steve, bos mu yang terlihat tampan dan pendiam ini ternyata tak sebaik yang kau kira. Dia lebih suka bercinta dengan seorang pria tetapi tidak mau mengakuinya." Drew terkekeh seperti orang gila.
"Maaf, saya tidak pernah berharap untuk melihat semuanya Mr. William." Steven justru meminta maaf untuk semua yang terjadi kepada bosnya itu.
"Biarkan saja dia." Ucap Willi lebih tenang. "Dia gila karena telah dibuang oleh ayahnya yang kaya raya dan aku berbaik hati membawanya agar dia tetap menjadi manusia. Tapi keputusanku salah, kegilaannya telah mengakar sampai kesum-sum tulangnya. "Willi kemudian pergi meninggalkan ruangan itu sembari meraih jas yang semula ia letakkan di sandaran kursi miliknya.
Steven juga turut mengekori Willi yang lebih dulu berlalu. Wajah bingungnya tak bisa ia sembunyikan begitu saja. 'Hubungan macam apa yang dimiliki oleh bosnya ini?'.
*
*
*
Masih dengan jalan yang sama, Hanna keluar dari Gtech building melalui lift belakang dan kejadian tak terduga kembali terulang. Namun bukan Willi yang bertemu dengannya melainkan Drew, si pria aneh.
Beruntung ia bertemu dengan pria itu saat di luar lift, karena Drew menggunakan elevator khusus direksi.
"Aku berharap dunia ini tidak lebih besar dari pada kantong susu milik mu." Sarkasnya.
Hanna berusaha tak acuh dengan kata-kata pria yang kini mengekorinya.
"Sehingga aku bisa lebih cepat menyingkirkan mahluk bernama wanita seperti mu dari muka bumi ini." Pria itu terkekeh sembari menyelipkan kedua tangannya disaku celana.
Hanna berhenti dan menoleh untuk melihat wajah licik pria bernama Drew Trainor yang tergila-gila dengan seorang Gerald William itu.
"Ku rasa otak mu tertinggal dikamar mandi Mr. Trainor. Bicaralah padaku jika kau sudah menemukannya." Ucapan itu benar-benar membuat Drew naik pitam dan langsung menjambak rambut panjang Hanna dengan kuat sampai tubuh wanita itu limbung karenanya.
"AGH!." Pekik Hanna saat tubuhnya membentur dinding.
"Kau tidak akan pernah bisa memilikinya, tidak akan!." Ucap Drew dengan penuh emosi sembari mencengkram dagu Hanna yang kini terduduk dilantai.
Disaat yang sama pula seorang staff marketing yang hendak melintas memergoki keduanya dari arah pintu belakang.
"Woi!." Pria bernama Tomi itu berlari menghampiri Hanna yang masih berada pada posisinya.
"Ngapain lu bule pake pegang-pegang perempuan dikantor?!." Tomi terlihat begitu geram dengan Drew karena tak memperdulikan dirinya yang berteriak dengan bahasa lu-gue.
"Kamu gak papa kan?." Tanya Tomi sembari membatu Hanna untuk berdiri.
Sedangkan Drew, pria itu memilih pergi meninggalkan keduanya tanpa mau berurusan dengan karyawan pria berkulit kuning langsat yang tak ia ketahui namanya itu.
"Iya gak papa, makasih." Ucap Hanna dengan sedikit canggung.
"Kamu karyawan baru yang jadi staff HRD itu kan?. Kenalin, aku Tomi orang marketing." Tomi tak mengulurkan tangannya seperti orang yang akan berkenalan. Ia memilih untuk memungut kembali paperbagnya yang terjatuh.
"Aku Hanna." Ia pun sempat bingung lantaran pria bernama Tomi ini juga sedikit lucu karena tak memberinya uluran tangan sebagai simbol perkenalan dan malah terkesan cuek.
"Ah, Hanna. Oke, lain kali lewat depan aja biar gak ketemu sama bule itu lagi. Dia juga baru kok disini." Tomi diam sejenak sembari memiringkan senyumnya. "Tapi anehnya dia jadi sales promotion." Kebiasaan orang marketing adalah banyak omong.
"Dia jadi sales promotion?."
"Iya, padahal aku kira dia yang namanya Mr. William."
What?. Bahkan pria dihadapannya saja juga tidak tahu yang mana William?. Konyol!.
"Besok pake lift yang di loby aja. Disini pasti banyak dipake sama orang-orang direksi karena lift ini sampe di basement." Pesan Tomi mengingatkan.
"Hati-hati, gesturenya mirip psikopat." Lanjut pria itu sebelum melangkah pergi.
*****
Setibanya dirumah Hanna langsung menghubungi Mery. Ia mengatakan jika Drew telah berani bermain kasar kepadanya.
📲"Kau bertemu dengannya?."
"Ya, aku juga terkejut karena sejak pagi aku berusaha menghindar agar tidak bertemu dengannya tapi sepertinya ini memang sudah takdir ku." Hanna medesah lesu.
📲"Apa William itu bodoh?." Mery berdecak kesal. "Bagaimana bisa dia membawa manusia letoy itu kemari, kenapa tidak membuangnya saja di jalan?."
📲"Tunggu!. Apa kau sudah bertemu dengannya?." Tanya Mery penasaran. "Maksud ku William."
"Ya, aku bertemu dengannya di lift saat menghindari pria mu." Hanna terkikik geli setelah mengatakannya.
📲"Kau gila!. Pria itu sangat menjijikan, aku ingin sekali mematahkan lehernya jika bertemu."
"WOW, apa duet mu yang dulu masih kurang?." Hanna kembali tertawa.
📲"Sayang sekali waktu itu adalah musim dingin dan aku keluar tanpa menggunakan mantel." Ia berdecak kesal. "Padahal aku belum puas menghajarnya."
"Jangan terlalu kasar, dia tidak punya kelebihan lain selain dari wajahnya itu."
📲"Aku tidak peduli. Akan lebih baik jika bisa mengganti wajahnya sekalian agar tak ada kata tertipu dikemudian hari."
*
*
*
*
*
"Kembalilah berkunjung jika ada waktu." Ucap Hanna saat melerai pelukannya pada tubuh wanita bule dihadapannya.
"Kau yang seharusnya mengunjungi ku."
Hanna tertawa sejenak. "Aku perlu amunisi untuk kesejahteraan finansial ku saat disana."
"Maka menikahlah dengan pria kaya." Mery dengan gampangnya berucap.
"Jika bisa dipesan melalui percetakan sepertinya aku akan menambahkan kriteria yang cocok dengan ku seperti tampan, loyal, muda_."
"Kalu begitu menikahlah dengan Mr. William, dia memiliki semua yang kau sebutkan." Mery memutar bola matanya malas.
"Aku tidak mau yang berwajah kebule-bulean."
"Alasannya?."
"Aku takut dengan kebiasaan mereka. Karena yang berwajah seperti itu terkadang lebih banyak menarik perhatian."
Mery benar-benar tertawa senang. Ia paham apa yang dimaksud oleh Hanna.
"Yang seperti mereka lebih berpengalaman apalagi yang kau takutkan?. Mereka akan tahu bagaimana cara membuat lawan mereka bahagia dan penuh kepuasan."
"Hei!. Dasar." Hanna berdecak malas. "Pikiranmu terlalu liar Nona."
"Ku beri tahu sesuatu yang mungkin memang sudah menjadi rahasia umum."
"Apa?. Kau benar-benar mencurigakan."
"Senjata mereka tidak ada yang kecil."
"Kau gila Mery!." Tubuh Mery terdorong masuk kedalam setelah Hanna dengan serius mendengarkan apa yang wanita itu ingin katakan kepadanya.
Di iringi kekehan keduanya berpisah untuk waktu yang tak bisa di sebutkan.
******
Willi benar-benar menikmati waktunya di apartemen baru miliknya yang sudah seminggu ini ia tempati. Tempat itu begitu luas dengan view yang sungguh bisa memanjakan mata untuk terus menikmati pemandangan pantai dari ketinggian. Steven memang bisa diandalkan untuk urusan yang satu ini.
Entah angin dari mana tetiba saja dia ingin bertemu dengan Hanna, bukan, bukan berkencan melainkan ia ingin memberi tahukan hunian barunya kapada wanita itu.
Ia lalu menghubungi Steven untuk membelikannya sesuatu yang biasanya disukai oleh wanita dan itu membuat dahi pria bermata sipit itu seketika berkerut.
"Maaf, maksud anda sesuatu seperti apa?."
"Sesuatu yang biasa disukai oleh wanita. Apa kau belum pernah berkencan sebelumnya?." Willi justru menanyakan hal yang seharusnya ditanyakan oleh Steven.
Setelah berfikir dengan keras akhirnya Steven menjawabnya.
"Wanita biasa akan menyukai uang sir."
"Tidak, dia bukan wanita yang gila uang. Dia adalah wanita yang mandiri."
"Emh_ kalau begitu bagaimana dengan sesuatu yang bisa membuatnya berteriak?. Biasanya wanita mandiri suka memenuhi hal-hal pribadinya dengan itu."
Willi yang tak paham apa yang dimaksud oleh sang asisten pun hanya menurut. Ia tak mau ambil pusing dengan terus berdebat dengan si mata sipit itu dan memilih untuk langsung menyetujuinya.
"Terserah kau saja. Yang penting akan membuatnya bahagia."
Dan benar saja setelah menunggu hampir tiga jam lamanya akhirnya yang dinanti pun tiba dengan senyum merekah saat memasuki hunian dengan prosedur keamanan yang hampir saja membuat seorang Hanna menyerah sebelum pria berwajah bule itu datang menjemputnya.
"WOOOWW!."
Hanna benar-benar kagum saat melihat pemandangan biru yang terhampar dihadapannya.
"Kau memang pria idaman." Ucap Hanna sembari menepuk pangkal lengan Willi dengan sedikit kuat karena rasa kagumnya melihat pantai dari apartemen yang dimiliki oleh pria itu.
Willi tersenyum saat mendengar kalimat yang Hanna lontarkan meskipun ia tahu jika wanita itu tengah bergurau.
"Kau suka?."
"Tentu saja. Siapa yang tidak suka dengan pantai?."
Keduanya berdiri berdampingan diatas balkon. Hembusan angin menerbangkan rambut panjang Hanna yang terurai dan itu membuat pemandangan sore Willi terasa begitu sempurna.
Sejenak pria itu pergi meninggalkan Hanna yang masih enggan beranjak dari tempatnya semula.
Willi membuka laci meja dimana ia menyimpan kado dari Steven yang akan ia berikan untuk Hanna. Ia sama sekali tak menaruh curiga dengan apa yang menjadi isi dari kotak berwarna hitam tersebut. Sesuatu yang tersimpan dan masih menjadi misteri sampai ia memberikannya kepada Hanna.
"Apa ini?."
.
.
.
.
.
Tbc.