
♧♧♧♧♧
"Kenapa tidak kau buat saja sendiri?. Aku masih ingin berkenalan dengannya." Melati benar-benar mengabaikan William.
"Dasar bocah tengik, yang dia bisa hanya menyuruh dan menyuruh." Ucapnya sembari menatap Hanna.
"Siapa nama mu sayang?." Tanyanya halus.
"Ah, aku Hanna." Hanna mengulurkan tangannya yang kemudian disambut dengan sebuah pelukan oleh Melati.
"Nama mu cantik sekali. Ah kau duduklah, aku akan membuatkan mu makanan." Melati menggiring tubuh Hanna untuk menduduki sofa single disamping Willi kemudian bergegas meninggalkan mereka ke dapur.
▪▪▪▪▪▪
Hanna menggulung rambutnya yang berantakan ke atas lalu mengikatnya dengan potongan tali rafia yang ia temui dibawah meja.
Willi tak bosan mengarahkan pandangannya kepada Hanna saat wanita itu sibuk dengan rasa panas yang menyelimutinya. Entahlah, mungkin pria itu tengah terpesona dengan sosok wanita dihadapannya.
"Ada apa dengan wajah mu?." Hanna mengerutkan dahi sembari terus mengipasi lehernya saat mendapati wajah mencurigakan Willi yang terus mengulum senyum.
"Tidak ada."
Hanna berdecih sembari mengalihkan pandangannya mengitari seisi ruangan dimana mereka berada.
"Aku sudah menceritakan bagaimana masa kecilku ku habiskan tanpa mengenal siapa ayah dan ibu ku." Willi berkata saat Hanna tengah memperhatikan sebuah foto bayi berukuran kecil yang terlihat begitu usang diatas meja kayu tua.
"Jadi Melati dengan besar hati mengadopsi mu?."
Willi hanya tersenyum. Ia sendiri pun tak mengerti kenapa waria itu mau mengadopsinya padahal kehidupannya sendiri pun tak lebih dari sekedar makan pagi dan berpuasa dimalam harinya.
"Dia benar-benar baik dengan semua keterbatasannya." Willi menyamankan punggungnya pada sandaran kursi. "Setiap hari semua penghuni disini bergantian menemaniku bermain. Jika ada seseorang yang memerlukan jasa mereka maka aku akan berpindah tangan kepada yang lain secara bergilir."
"Apa disini tidak ada hukum yang menaungi?." Pertanyaan Hanna membuat Willi tersenyum tipis.
"Jika ada maka tidak mungkin kehidupan mereka akan tetap seperti ini dari tahun ke tahun."
"Lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan fasilitas seperti listrik?."
"Uang dan kenikmatan. Tidak ada yang bisa menolak pesonanya, dan mereka membeli listrik itu tidak hanya dengan uang tetapi juga dengan tubuh."
Ucapan Willi benar-benar membuat tubuh Hanna seketika bergidig ngeri.
"Selain pemberian uang listrik, setiap minggunya pasti ada satu orang dari salah satu diantara penduduk disini yang akan dikirim ke kota untuk melakukan ritual yang aku taku kau pasti bisa menebaknya sendiri."
"Lalu mereka dengan bermurah hati menyetujuinya?." Alis Hanna terlihat menyatu untuk mencari pembenaran.
"Tentu saja, apa alasan mereka untuk menolak tawaran itu dengan hanya bermodalkan kemampuan mereka."
"Ah, ini benar-benar gila. Aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi bagaikan air mengalir."
"Seperti wanita yang kau lihat bersama ku saat di pusat perbelanjaan tadi." Ucapan Willi benar-benar santai.
"Maksud mu dia baru saja melakukan transaksi?." Hanna menyatukan kedua ujung jari telunjuknya.
"Aha ... " Pria disebelahnya hanya ber-aha sebahagai jawaban sembari menaikan kedua alisnya secara bersamaan.
Hanna segera mengusap tengkuknya akibat bayangan-bayangan tak baik yang tengah mencemari otak sucinya akibat kata-kata Willi.
"Lalu kenapa tidak kau saja yang membuatkannya untuk tempat ini." Tanya Hanna dengan penuh rasa penasaran.
"Statusku adalah orang luar dan Melati melarangnya karena posisi ku. Terlebih jika aku memaksa untuk melakukannya maka mereka semua akan kehilangan tempat ini dan juga pekerjaan yang selama ini mereka lakukan."
Wnita itu terlihat berfikir keras setelah mendengar penuturan Willi.
"Dasar!."
Willi terkekeh karena mendapat lirikan tajam darinya.
"Apa Kau sangat penasaran?." Ejekan dibalut sebuah pertanyaan dari Willi.
"Tidak!. Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun."
"Baiklah, karena aku merasa kau memang orang yang baik jadi aku akan menerangkannya secara singkat."
"Stop perkataan tidak bermutu mu William. Suara mu membuat uap panas ditubuhku terus bertebaran." Geramnya dengan gigi terkatup.
Willi benar-benar tak peduli dengan cicitan Hanna kepadanya.
"Dengarkan!. Mereka semua sangat menyukai dan mencintai kehidupan serta pekerjaan mereka dengan hanya bermodalkan balon pelindung. Menerima uang banyak tanpa modal besar. Mendapat kenikmatan setiap harinya tanpa perlu pusing untuk pergi berlibur ke sungai amazon memancing piranha. Atau belajar lintas benua sepertimu dan berujung dengan menemukan ku sebagai hadiah atas kesabaran yang kau miliki selama ini."
"Cih!, hadiah apa sepertimu. Benar-benar tak tahu malu." Gerutunya dengan tangan berayun mengipasi wajahnya yang kemerahan karena panas.
Terkejut?. Oh tentu saja tidak, Hanna jelas bisa menerkanya sejak awal jika memang penduduk disinilah yang tak menginginkan kesejahteraan dari pemerintah yang pastinya ditumpangi oleh berbagai macam peraturan dalam politik yang tak perlu dan hanya akan membuat nasib mereka menjadi sebuah permainan.
"Cerdik dan kaya adalah modal utama bagiku untuk bisa memegang kepala mereka meski tidak terhormat, karena untuk menjadi penguasa saat ini kau hanya perlu uang dan otak mu." Willi menjentikan jari tengah dan telunjuknya secara bersamaan.
"Aku tidak tertarik."
"Sungguh?." William melipat bibirnya. Ia hampir saja menyemburkan tawanya saat mata wanita itu melirik kearahnya.
Di saat bersamaan Melati muncul dari balik pintu dengan dua piring nasi goreng ditangannya.
Hanna yang melihat itu dengan segera membantunya membawa kedua piring tersebut untuk kemudian ia letakan di atas meja.
"Kau benar-benar baik. Tidak seharusnya Gerald mendapatkan mutiara seperti mu." Ucapannya terdengar begitu tulus namun juga menggelikan disaat bersamaan.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu kepadanya?!." Willi dengan kesal menarik sepiring nasi dari atas meja lalu menyuapkannya kedalam mulut dengan kasar.
"Bukankah kau menyukai pria?." Melati tengah memancingnya untuk berkata jujur.
"Jangan dengarkan dia. Kata-katanya jelas tidak baik untuk pikiran mu." Lanjut Willi dengan masih mengisi mulutnya dengan nasi.
"Kau lihat sendiri bukan bagaimana sifat aslinya?. Dia mungkin akan terlihat begitu berbeda jika kau menemuinya ditempat umum atau bahkan dia tidak pernah berada ditempat-tempat seperti itu dalam waktu yang lama." Jelas Melati sembari menuangkan teh kedalam cangkir.
Hanna mengiyakan perkataan Melati sembari menaikan dua ibu jarinya sebagai pembenaran.
"Haah, aku sudah menduganya. Sejak awal dia memang anak yang pemalu. Namun semua adalah kesalahan ku karena tidak bisa memberikannya lingkungan yang baik." Melati tengah menyesali usahanya selama ini.
"Tapi kau sudah berjuang membesarkannya, jadi berbesar hatilah kerena kini dia bisa tumbuh menjadi pria kaya meski tidak sebaik yang kau harapkan." Hanna berusaha menguatkan Melati dengan perkataannya yang membuat Willi kesal dua kali.
"Kenapa kalian terus menyudutkan ku?."
"Karena kau pantas menerimanya." Melati benar-benar ingin menjatuhkan harga diri anak angkatnya sendiri dihadapan wanita yang mungkin pria itu sukai.
🍀
.
.
.
Tbc.