
☆▪▪▪☆
Hanna dan Willi tengah menjajal sebuah resep masakan yang akan mereka santap, karena seperti yang kita tahu jika pria itu tengah mengalami fase kurang menyenangkan yang biasanya dialami oleh wanita hamil.
"I want you." Bisiknya disela-sela kegiatan mereka.
"Willi tidak kah kau ingat pesan Dokter wanita itu jika sebaiknya untuk mengurangi kegiatan bertani mu agar ia bisa tumbuh dengan maksimal tanpa harus berseteru dengan benih-benih lain?."
"Bukankah mereka sudah mengenal satu sama lain sebelumnya?."
Hanna tak kuasa untuk tidak tertawa meskipun hatinya begitu kesal karena ucapan William yang mengatakan jika benihnya telah saling mengenal satu sama lain seolah mereka merupakan penduduk yang mendiami sebuah kampung.
"Kenapa kau tertawa?."
"Aku tidak bisa membayangkan jika mereka saling mengenal dan kemudian salah satunya menjadi juara dalam ajang balap lari yang kau adakan hingga membuat yang lain tersingkir tanpa tahu apa-apa."
"Kau membayangkannya terlalu berlebihan"
"Tidak, itu fakta yang sebenarnya terjadi."
"Tapi aku tetap akan melakukannya meski mereka akan kalah sebelum sempat berjuang karena ia sudah lebih dulu menutup jalur menuju garis finis." Willi mengusap benihnya yang tengah berkembang dalam perut sang istri.
"Dasar nakal."
*
*
*
Suasana didalam cafe tampak begitu mencekam pagi ini. Dua orang berbeda jenis saling duduk berhadapan, Drew dan Jannet. Tidak ada aura persahabatan yang ditampilkan ibu beranak satu itu saat Drew menceritakan bagaimana kondisi Mery kepadanya.
"Kau bajing*n kepar*t mr. Trainor!." Geram Jannet setelah menyiramkan segelas soda kewajah Drew yang mengakibatkan pakaian pria itu basah hingga menembus kaos berlapis kemeja miliknya.
"Melaporkan mu ke polisi pun ku rasa akan percuma karena status kalian dan semakin merugikan karena dengan ditahan kau jadi tidak bisa memperbaikinya, kau harus bertanggung jawab untuknya." Ucapnya sembari mempertimbangkan langkah yang akan ia pilih untuk pemecahan masalah yang telah ditimbulkan oleh pria dengan orientasi berbeda itu.
"Kenapa tidak kau katakan saja kepadanya jika kau memang menyukainya?. Apa sesulit itu bagimu untuk mengakuinya?." Bibir Jannet seolah tak ingin berhenti memaki pria dihadapannya.
Sedangkan Drew, pria itu hanya diam menatap Wanita beranak satu itu. Ia sendiri pun dibingungkan dengan perasaannya. memang benar jika saat tinggal dengan Mery ia sudah tidak memiliki rasa benci, tepatnya saat wanita itu menolongnya setelah William menghajarnya habis-habisan dan membuat nyawanya berada diambang kematian kala itu namun ia juga tidak merasa tertarik dengannya atau tepatnya ia belum menyadari sampai pria yang tidak ia ketahui siapa justru mencium istrinya dan membuatnya murka hingga terjadilah hal yang seharusnya tidak ada dan mengakibatkan wanita itu berusaha mengakhiri hidupnya sendiri.
*
*
*
"Mery mengalami pendarahan hebat karena obat penggugur kandungan yang ia telan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, oleh sebab itu ia berada dalam fase kritis yang cukup lama dan belum sadar hingga hari ini."
Drew dan Jannet berada dibalik ruangan kaca menatap tubuh pucat Mery yang tergolek diatas brangkar rumah sakit lemah tak berdaya.
"Kau benar-benar gila mr. Trainor, aku tidak menyangka jika kau akan sampai senekat ini padanya. Bukankah kau tahu seberapa tidak sukanya dia terhadapmu terlebih saat kau melibatkannya dalam masalahmu dan juga masalah harta warisan keluarga mu yang tidak sebanding dengan harga dirinya dan membuat mu buta akan statusnya sebagai nona muda dengan segala kelebihan yang dia miliki?." Begitu geramnya Jannet kepada pria yang tengah berdiri disebelahnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Untuk itu aku meminta bantuan mu dan aku akan menyiapkan apa-apa yang kau butuhkan untuk membuatnya pulih seperti saat pertama aku bertemu dengannya." Pintanya sembari menerawang jauh kebelakang.
"Semoga saja aku bisa."
Jannet melangkah pergi meninggalkan pria itu yang masih setia berdiri dibalik kaca menatap dalam heningnya kamar ICU dimana Mery berada dengan peralatan medis yang menempel lekat untuk membantunya tetap bernafas meski dalam keadaan yang begitu buruk.
Disuasana berbeda,
Setelah beberapa waktu berlalu Hanna akhirnya mendapatkan kabar yang begitu ingin dia dengar saat sang suami menghubungi seseorang melalui mailbox.
Albert mengatakan jika Corner sudah pulih namun tidak bisa beraktifitas seperti sebelumnya karena dokter telah melarangnya untuk melakukan kegiatan yang memerlukan banyak tenaga selain berjemur dipagi hari dan juga jalan santai yang banyak dilakukan oleh lansia seusianya.
Kabar kehamilan Hanna pun tak luput dari pemberitaan Albert kepada kedua lansia itu yang memang sedang menantikan berita gembira dari pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan tanpa kehadiran mereka.
"Saya sudah mengirimkan kado spesial yang mereka titipkan untuk nona Hanna." Pesan Albert diujung laporan yang ia kirimkan melalui mailbox.
"Apa asisten mu tahu hadiah apa yang mereka kirimkan untuk ku?." Tanya hanna sembari menatap wajah pemilik mata biru yang masih aktif dengan PC nya.
"Ku rasa tidak, karena kepribadian Albert sangat berbeda jauh dengan Steven."
"Kau bahkan tidak bisa mengetahui siapa teman kencan pria itu sekarang." Hanna terkekeh saat membicarakan pria sipit itu.
"Stop!. Berhentilah menggosipinya yang jelas tidak menguntungkan." Willi menyingkirkan benda elektronik ditangannya ke atas nakas lalu beralih untuk memeluk sang istri yang sejak semula berada disampingnya.
"Aku tak sabar ingin melihatnya tumbuh besar." William sangat asik dengan mainan barunya yakni mengusap perut rata Hanna yang tengah duduk dalam dekapannya.
"Dia akan tumbuh perlahan dan kau bisa memanennya di usia sembilan bulan." Hanna mengecup dagu pria itu sekilas.
"Andai manusia bisa menukar jalan cerita hidupnya saat dirasa sedang tidak baik-baik saja."
"Apa yang kau maksud?." Tanya Hanna sembari mendongak kearah Willi yang berada tepat di atas kepalanya.
"Tentu saja dirimu." Willi menempelkan bibirnya dipuncak kepala Hanna.
"Jika kita bisa menukarnya maka tidak akan ada kata perbaikan dalam kamus hidup manusia dan semua akan berada pada jalur yang benar tanpa pernah mendapat pelajaran berharga dari sebuah kehidupan yang tuhan anugerahkan."
"Kata-katamu rumit sekali nona, bagaimana jika bibir ini kita kunci saja!." Lagi dan lagi kelakuan Willi seketika membangkitkan nuklirnya yang baru beberapa saat lalu layu dan membuat Hanna kesal bukan main karenanya.
"Kau baru saja mengganggunya Willi, kecambah saja perlu waktu untuk tumbuh dengan baik lalu apakabar dengannya jika kau sering menengokinya seperti ini?."
"Aku suka, aku tidak akan pernah bosan untuk mengunjunginya dan kurasa dia juga senang bisa bertemu dengan teman-temannya."
Hanna kembali tertawa saat Willi mengucapkan kata yang sama seperti sebelumnya dan mereka melakukannya lagi untuk yang kesekian kali dibawah selimut yang sama kala hari semakin redup dan hanya menyisakan semburat jingga diufuk barat.
💕
Menikmati waktu bersama orang terkasih merupakan impian semua yang hidup oleh karenanya hargai waktu kebersamaan kita dengan mereka yang selalu ada dalam setiap keadaan.
*
*
.
.
.
tbc.