SAVE ME

SAVE ME
Mr. Sipit



♡♡♡


"Saya minta maaf untuk kejadian diwaktu itu." Ucap Steven saat Hanna masih bingung dengan maksud pria itu menyerahkan sebuah kunci mobil dengan logo huruf H miring kepadanya.


"Tunggu, apa maksud semua ini?." Hanna begitu penasaran.


"Mr. William ingin anda menerima pemberiannya tanpa penolakan dan saya harap anda bisa bersikap cooperative agar saya tidak perlu membuang lebih banyak tenaga untuk sebuah rayuan tak berguna."


"Katakan alasan terbaik untuk ini semua?."


"Maaf, untuk itu saya tidak tahu. Anda bisa menanyakannya langsung kepada_."


"Bule sialan." Hanna benar-benar mengumpat disaat Steven baru akan menyebut nama junjungannya dan itu hampir membuat pria bermata sipit itu tertawa karena baru kali ini ia mendengar seseorang mengumpati Gerald William dengan segala kelebihannya itu.


"Bagaimana aku bisa menghubunginya?." Tanya Hanna dengan nada kasar karena ingatannya kembali pada berita mengenai rekaman CCTV yang beredar.


"Hanya melalui email." Steven hampir berbalik namun kembali ia urungkan. Pria itu mengatakan padanya untuk tidak lagi menggunakan mobil tua miliknya jika ingin barang itu tetap ada dan selamat. "Mr. William akan memusnahkannya jika anda masih berani memakainya."


Hanna benar-benar terkejut dengan pernyataan Steven mengenai mobil kesayangan ayahnya itu.


"Dasar bule gila."


^^^^^^^^^


Willi menghabiskan harinya di rumah penampungan milik Megan. Seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya bersama Hanna, tapi kali ini pria itu datang sendiri dengan buah tangan untuk para lansia yang tinggal disana.


Sambutan hangat ia terima dengan begitu besar dari Megan dan para penghuni rumah lainnya. Senyum merekah tampak menghiasi wajah-wajah tua yang kala itu menyambut kedatangannya tanpa mereka pernah duga sebelumnya.


"Oh tuhan terimakasih kau kirimkan malaikat tampan ini untuk menemani tidur ku." Ucapan itu terdengar begitu nyaring dari salah satu penghuni rumah panti hingga membuat beberapa diantaranya ikut tertawa.


"Kau tidak datang bersamanya?." Ny. Corner memastikan bahwa Willi memang datang sendiri tanpa Hanna.


"Tidak, dia sudah kembali ke negaranya." Senyuman tipis sekilas tergambar diwajah tampan William dan Ny. Corner sempat melihatnya.


Wanita berumur itu lalu menepuk lengan Willi sebanyak tiga kali seperti tengah menenangkan seorang anak yang hampir menangis.


Sore ini terlihat begitu berbeda dengan kehadiran dirinya diantara para lansia. Megan berlalu dan hanya menyisakan Corner bersama Willi yang tengah duduk di teras rumah sembari menikmati teh chamomile. Sementara yang lain sibuk melakukan kegiatan mereka masing-masing setelah melakukan streching bersama untuk melemaskan otot - otot tua yang mereka miliki.


"Kau merindukannya?." Corner benar-benar langsung mengutarakan apa yang bercokol difikirannya sejak tadi.


"Jika aku berkata tidak, itu sama dengan sebuah kebohongan yang teramat besar."


"Lalu apa yang membuat mu merasa sulit?."


"Masalalu ku."


"Apa dia tidak menyukai mu?." Pertanyaan yang membuat Willi sendiri bertanya-tanya bagaimana perasaan wanita cantik itu terhadap dirinya.


"Tidakkah seorang mantan cassanova juga bisa bertobat?." Lanjutnya.


"Tapi aku bukan seorang cassanova seperti yang kau maksud Ny. Corner."


"Lalu kau seorang gay?."


Willi terdiam, ia mengalihkan tatapan matanya saat Corner tengah mengarahkan wajahnya. Tak lama terdengar kekehan dari wanita tua disebelahnya yang terkesan jenaka.


"Jadi kau benar seperti itu?." Corner meraih kembali cangkir miliknya untuk kemudian menyesap teh chamomile yang menjadi favoritnya.


"Akan ku beri tahu sesuatu tentang kehidupan ku. Kisah yang telah lama aku simpan sampai detik ini." Ucapnya sembari menatap lurus ke arah perkebunan labu dihadapan mereka.


Sedangkan Willi, pria itu melirik sekilas untuk memastikan raut wajah Corner ketika tatapan wanita itu seperti menerawang jauh ke masa lalu.


"Aku dan suami ku dulu adalah dua orang dari dunia berbeda, kami dipertemukan saat musim dingin hampir usai." Senyum tipis tersemat diantara ucapannya.


"Pertemuan tak sengaja kala itu membuatku jatuh hati kepadanya, pria asing yang baru saja aku temui. Dia sosok yang benar-benar baik kepada siapa saja, namun dibalik itu semua dia juga menyimpan sebuah rahasia yang tak kalah mengejutkannya bagiku. Dia seorang maniak, penyuka sesamanya dan bahkan sudah menjadi pemain handal. Pekerjaannya yang membuat kecenderungan seperti itu."


"Apa pekerjaannya?." Willi yang sangat penasaran pun akhirnya bertanya.


"Dia seorang desainer sebuah merk ternama." Kembali, Willi dapat melihat tatapan kerinduan akan seseorang dimata tua itu.


"Aku menyukainya tapi tidak dengan orang tua ku. Mereka sangat menentangnya dan beranggapan jika dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami."


"Lalu bagaimana dia bisa menjadi suami mu?."


"Aku sempat memutuskan untuk meninggalkan perasaan itu dan menjauhinya lantaran tak ingin mengecewakan diriku sendiri, tapi takdir berkata lain. Megan yang saat itu lebih dulu menikah dari ku ternyata diam-diam membantu ku. Ia mencari keberadaan Lary yang bahkan rupanya saja tak pernah ia ketahui. Sampai akhirnya Megan menemukannya dan mengetahui fakta bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama untuk ku."


"Lalu kalian menikah?." Tanya Willi penasaran.


Corner terkekeh, "Tidak semudah itu."


"Megan masih harus meyakinkan ku untuk menerima masalalunya dan segala keburukannya disertai penolakan oleh keluarga ku yang tak juga mau untuk sekedar melihat keberadaannya. Berbagai upaya ia lakukan agar kedua orang tua ku bisa melihatnya. Melihat sosok pria yang bisa menjaga putri mereka." Senyuman rindu itu kembali setelahnya.


"Kau tahu berapa lama ia bertaruh dengan waktu?." Tanya Corner saat Willi diam dan hanya menatapnya.


"Tujuh tahun." Suara Megan mengintrupsi keduanya. Wanita tua itu berjalan diteras dengan sebuah piring berisi kudapan hangat dari olahan labu diperkebunan.


"Lary harus berjuang selama tujuh tahun sampai akhirnya restu ia dapatkan untuk bisa hidup dengan tenang bersama Corner." Jelas Megan dengan gayanya melipat tangan keatas dada.


"Perjuangkan dia jika hati mu memang telah memilihnya. Wanita sepertinya hanya akan melihat keseriusan pada diri seseorang terlepas dari apa yang menjadi masalalu mu dan yang kau miliki untuk memikat jiwa-jiwa matrealistis para gadis diluaran sana." Kata-kata Megan membuat Willi seolah mendapat pencerahan.


Benar apa yang Megan katakan. Wanita butuh keseriusan bukan hanya sekedar kode untuk membuatnya mengerti dengan maksud dan tujuan dalam sebuah hubungan.


***********


Pekan berlanjut. Hanna tak lagi hawatir mengenai keberadaan Willi. Ia sendiri juga tak lagi repot tentang keadaan pria itu karena menurutnya hanya akan membuang-buang waktu untuk melibatkan perasaan yang sebenarnya ia sendiri juga masih bingung.


Sedangkan Willi sendiri pun juga tidak menghubunginya sejak terakhir kali ia mengirim foto kepada Hanna waktu itu.


Steven dengan langkah pastinya kembali mendatangi Hanna yang kemudian menimbulkan desas - desus tak enak lantaran pria itu menemuinya disaat jam kerja dan membawanya begitu saja.


Tiba di lantai atas, dimana ruangan Steven berada dan itu cukup mengejutkan untuk Hanna karena ia melihat sebuah buket yang terdiri dari uang merah berbentuk seperti bunga mawar yang pastinya bernilai fantastis terlihat dari seberapa besar lingkar bunga kertas itu berdiri.


"Kemana saya harus mengantarnya?." Steven memecah keheningan.


"Kau sungguh membawanya sendiri?." Hanna benar-benar tak merespon pertanyaan yang diberikan Steven dan malah penasaran bagaimana cara pria itu membawanya keatas.


"Menurut anda?."


"Aku tidak tahu."


"Saya memiliki banyak kaki dan tangan tanpa perlu repot untuk melakukan hal receh seperti ini." Steven benar-benar menyombongkan dirinya.


"Aa, i see." Hanna mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lalu apa yang harus saya lakukan dengan itu?." Pria bermata sipit itu terlihat sangat malas dengan pekerjaan aneh yang diberikan oleh si Kaya yang mempekerjakan dirinya sebagai kurir.


"Aku juga bingung, dan juga tidak enak jika harus membawanya ke ruangan. Pasti akan menimbulkan berita miring nantinya." Hanna seketika terlihat lesu sembari berjongkok mengamati buket mawar bernominal dihadapannya.


"Baiklah, saya akan mengirimkannya langsung kerumah anda." Steven berjalan kearah meja miliknya ia menekan extension call yang langsung menghubungkannya dengan seseorang diluar sana.


"A _ tunggu!." Hanna mencekal gagang telepon di genggaman Steven. "Tunggu, biarkan saja disini. Aku akan membawanya sendiri setelah jam pulang kantor." Jelasnya saat pria bermata sipit itu menatapnya bingung.


Steven terlihat berfikir untuk sejenak lalu kemudian mengangguk, tanda bahwa ia menyutujui usulan Hanna.


.


.


Kembali pada kubikel miliknya yang kemudian berbagai pertanyaan menghampiri kala dirinya baru saja menyandarkan tubuhnya pada kursi putar.


"Jelaskan pada ku, apa kau tengah menjalin hubungan dengannya?!." Natali menatapnya penuh curiga.


"Ya, kau jelas sangat mencurigakan sejak terakhir saat hujan kemarin." Annet yang berada diselah kubikel miliknya pun sama penasarannya dengan Natali.


"Aku sungguh tidak memiliki hubungan apapun dengan si Mr. Sipit itu dan kalian bisa langsung memastikannya sendiri." Hanna berkata dengan malas karena pertanyaan itu pastinya akan berbuntut panjang jika tak langsung ia jawab pada intinya.


"Siapa Mr. Sipit?."


.


.


.


Tbc.