
◇●◇●◇
Hanna sempat meragukan ketulusan seorang Gerald William ketika pria itu mengatakan sesuatu tentangnya sampai ia menemukan fakta bahwa pria yang ia temui dengan segudang masalah dan juga beban hidup itu ternyata memiliki hati yang sungguh luarbiasa dibalik tampilannya yang terkesan kurang ramah.
^^^^^
"Dia adalah anak lelaki dengan kebesaran hati yang luar biasa. William membeli tanah yang letaknya begitu jauh dengan perkotaan demi mewujudkan mimpinya untuk membangun desa ini sebagai tempat tinggal dimasa tua kami. Seperti yang kau ketahui jika kehidupan kami sebelum ini tidaklah baik dan ia dengan usahanya berusaha memberikan kami penghidupan yang layak meski tidak dengan kemewahan seperti kehidupan dikota dengan hingar bingarnya." Wanita tua yang masih terlihat cantik diusianya itu terlihat bahagia dengan ceritanya.
"Setiap tahunnya akan ada penduduk baru yang datang kemari untuk menjalani masa tua mereka dengan tenang dan itu karena William. Dia sangat mengerti tentang kami, tentang bagaimana orang seperti kami ketika berada di lingkungan masyarakat awam. Sebagian mungkin ada yang menerima dengan bersikap tak acuh, tapi sebagian lainnya pasti ada yang mengintimidasi dan menjadikan orang-orang seperti kami sebagai lahan kesalahan, terlihat buruk meski kami tidak melakukan kesalahan apapun kepada mereka."
"Apa William pernah mengajak mu mengunjungi seseorang bernama Melati?." Tanyanya kepada wanita muda yang tengah menyimak ceritanya itu.
Hanna meng-iyakan pertanyaannya dengan sebuah anggukan kecil.
"Itu artinya dia bersungguh-sungguh dengan mu."
▪▪▪▪▪
▪▪▪▪▪
DOORRR!!
DOORRR!!
Dua tembakan melesat secepat William menyabet tangan Bara yang tengah menggenggam revolver menggunakan ikat pinggang miliknya.
Ia sudah menghitung langkah dan jarak yang pas saat pelatuk itu ditarik. Satu diantara dua peluru itu bersarang tepat dilengan kirinya namun usahanya pun tak sia-sia meski harus berkorban demi sebuah kemenangan.
William yang hanya bermodalkan ikat pinggang pun akhirnya bisa meringkus si tua Bara dengan menjerat leher pria itu secepat yang ia bisa saat Bara tengah sibuk menyingkirkan abu rokok dari matanya yang dilempar Willi tepat mengarah kewajahnya menggunakan asbak bersamaan dengan tangannya yang tertembak. Willi mematahkan tulang punggung pria tua itu dalam sekali hempas hingga menghancurkan rangka meja berbahan besi dibawahnya. Kini Bara sudah tak sadarkan diri bersama dua orang bodyguardnya. Ketiganha tergeletak dilantai dengan darah yang menghiasinya.
Dengan menggunakan kemeja lusuhnya Willi mengikat pangkal lengannya yang terluka agar tak terlalu banyak mengeluarkan darah. Ia berdiri meraih ponselnya untuk menghubungi Steven sembari memandangi tiga orang korbannya yang sudah tergeletak tak berdaya dilantai ruangannya dengan keadaan porak-poranda.
●□●□●
Disatu sisi masalah Drew terus bertambah dengan hilangnya Mery yang tak pernah ia ketahui apa alasan wanita itu pergi meninggalkannya, ah bukan!. maksudnya pergi meninggalkan harta warisannya dan akan menjadikan dirinya pria miskin dari keluarga Trainor.
Sebelumnya dipersidangan, Drew telah menjelaskan dengan detil kronologi bagaimana ia sampai bisa melakukan tindak kekerasan pada ayahnya sendiri tanpa sadar dan itu membuatnya lolos dari penahanan dan hanya dikenakan wajib lapor oleh sebab pengacaranyalah yang berhasil menjaminnya kembali.
Kini pria dengan keperibadian aneh itu tengah duduk di ruangan kantor pengacaranya untuk menghubungi seseorang.
"Bagaimana bisa kau tidak mengetahui keberadaannya?." Suara Drew membentak seseorang diseberang telepon.
Baru saja ia mematikan ponselnya sang pengacara muncul dari balik pintu ruangan bersama seseorang yang ia kenal, Albert.
"Kau?."
*****
Hari kedua Hanna berada ditempat pengasingan. Ia membantu para pengrajin untuk mengemas satu persatu hasil tangan mereka kedalam wadah plastik dan mempercantiknya dengan memberikan sebuah logo yang terlihat tak asing dimatanya.
"Apa produk ini juga untuk dijual keluar?." Tanyanya penasaran.
"Tentu. Willi tidak pernah setengah-setengah dalam berbisnis. Ia akan memasuki celah sekecil apapun demi sebuah keuntungan." Terang salah satu dari mereka.
Hanna yang ditodong pertanyaan pun merasa tak enak hati karena menurutnya kisahnya bukanlah sesuatu yang menarik untuk diceritakan.
"Tidak mengapa jika kau tidak mau. Kami menghargai privasi kalian."
"Ah tidak, bukan begitu." Hanna sejenak terdiam. "Maksud ku kami tidak memiliki kisah yang layak untuk diceritakan karena memang kami hanya teman satu sekolah dan tidak terlalu mengenal satu sama lain."
"Jadi kalian baru saja saling mengenal sampai sedekat ini begitu yang kau maksud?."
"Ya, kurang lebih begitu." Hanna tersenyum canggung. "Kami tidak terlalu mengenal saat masih sekolah, aku hanya tahu namanya dan jika kami satu kelas. Setelah sekian tahun akhirnya kami dipertemukan kembali dalam situasi dan juga negara yang berbeda."
"Apa dia mengutarakan perasaannya saat itu juga?."
"Tidak, anda terlalu berlebihan." Hanna kembali tersenyum. "Saat itu aku tengah bergabung di sebuah club pendampingan dan mendapatkan seorang klien bernama Gerald, semula aku tidak menyadari jika itu adalah orang yang pernah aku kenal sebelum akhirnya dia yang mengenali ku terlebih dulu dan mengatakan jika kami teman satu sekolah."
"Lalu dengan mudahnya kau kembali mengingatnya?."
"Tentu, karena hanya satu yang memiliki wajah asing seperti dirinya."
"Biar ku tebak, kau pasti pernah mengaguminya!. Benar bukan?." Wanita itu menggoda Hanna dengan kata-katanya sembari menyenggolkan bahunya. "Aku tahu seberapa tampan anak itu saat remaja." lanjutnya sembari terkekeh.
Hanna tersipu dengan wajahnya yang kini mulai bersemu karena memang benar adanya dan ia tak memungkiri jika dirinya pernah menyukai William saat mereka remaja.
"Tidak perlu malu, kami juga wanita dan pastinya pernah muda dengan pengalaman yang sama seperti mu, menyukai seseorang namun tak berani mengakuinya." ucap wanita tua lain dengan senyum merekah karena mengenang masa - masa muda yang lucu diantara kisah hidupnya.
"Menurut ku itu sangat wajar terjadi, mengingat jika anak itu sangat tampan dengan garis wajah internasionalnya maka tak heran jika ia menjadi idola para gadis disekolah mu."
Hanna seketika tertawa karena itu jelas sekali terjadi dan menjadi cerita yang patut dikenang karena hampir 100% siswi ditahun itu begitu mengidolakan ketampanan seorang William.
"Dia berani berbuat sejauh ini untuk melindungi mu dari orang-orang yang tak menyukainya itu sama artinya dengan ia menginginkan kau tetap hidup meski ia sendiri harus berkorban nyawa."
"Dia mencintai dan menyayangi mu lebih dari apa yang bisa kau lihat."
"Tidak semua pria bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Terlebih seperti William yang tumbuh tanpa kasih sayang yang jelas dengan pengalaman hidup yang begitu kelam."
"Teruslah bersamanya, aku yakin pria sepertinya tidak akan pernah ragu untuk memberikan seluruh hidupnya demi wanita yang dicintainya."
********
Begitu banyak wejangan yang Hanna terima sejak pertama ia tiba dan berkumpul bersama mereka para penduduk desa.
Mereka menceritakan bagaimana masa kecil Willi dihabiskan dan juga tentang pemukiman tanpa hukum dimana Melati tinggal yang merupakan titik awal kehidupan mereka dengan seorang bayi tanpa identitas bermula.
.
.
.
Tbc.