SAVE ME

SAVE ME
Empat



Esok hari Sari berangkat ke sekolah seperti biasanya. Pagi yang cerah seperti biasa, kemacetan seperti biasanya dan kegaduhan di sekolah seperti biasanya. Hari ini suasana hati Sari sedang baik, seakan tidak ada yang terjadi kemarin sore. Ia memarkir sepeda motornya dan bersenandung ria menuju loker.


Langkahnya enteng tanpa beban, kakinya seakan melangkah dengan sepenuh hati menuju tempat menempuh pendidikan itu. Sesampainya di depan loker, ia menemukan dua sahabatnya sedang berada disana. Sari tersenyum. Di benaknya, muncul niat jahil untuk mengejutkan keduanya dari belakang. Pasti menarik. Tiara yang cadel akan merespons dengan sangat lucu dan Bunga yang santai akan melompat ke depan tanpa keluar satu teriakan pun dari dalam kerongkongannya. Akan lebih menarik jika ia melihatnya secara langsung, pikir Sari.


Perempuan itu berjingkat pelan mendekati dua anak perempuan lain di hadapannya. Beberapa orang melihatnya namun, Sari memberikan isyarat agar mereka tetap diam. Sambil menahan tawa, siswa-siswa lain melewati mereka bertiga. Beberapa bahkan menunggu Sari melancarkan aksinya dan ikut penasaran dengan respons yang akan ditunjukkan oleh Tiara dan Bunga.


Sudah di depan mata dan keduanya tidak juga menyadari niat jahil Sari. Hal terakhir yang perlu Sari lakukan adalah menyentuh pundak keduanya sambil berteriak,



“Eh, apaan, tuh?!’



Benar. satu langkah lagi.



“Iya, kayaknya Edward sama Arashi lagi berantem, deh. Tadi malem pas kita video call dia lagi nugas tapi raut wajahnya sedih gitu. Nggak kayak Arashi yang biasanya.’ Kata Tiara kepada Bunga.



Sari menghentikan aksinya.



Waktu bagai berhenti dan atmosfir dirinya menjadi tidak baik. Ia merasa asing dan hampa, saat itu hal yang terlintas di pikirannya hanya satu, ia merasa diasingkan. Edward dan Arashi? Video Call bertiga? Apa ia bukan bagian dari mereka lagi? Sejak kapan? Sari merasa mereka adalah yang terbaik dari ratusan anak-anak yang sekolah di tempat ini, Sari merasa mereka adalah orang-orang yang masuk ke dalam lingkup orang-orang terdekat Sari, namun, kenapa ia justru merasa terasingkan sekarang?


Entah karena alasan apa, tapi ia terus mengikuti dua sahabatnya. Rencana jahilnya gagal dan kini ia malah membuntuti mereka dalam bisu.


Memalukan.



“Bener, kemarin setelah Video call juga aku nanya ke dia ada masalah apa, tapi dia bilang nggak apa-apa.’



“Dia nggak mau cerita ke kita, masa, ada yang di tutup-tutupin, sih.’ Tiara menimpali dengan lidah cadelnya.



“Iya, padahal kita sahabatnya. Paling nggak, jangan bikin kita khawatir gini dong.’ Ungkap Bunga.



Kalian juga, batin Sari.



Anak perempuan itu pikir ia adalah sahabat mereka. Tempat bercerita tentang hal yang tidak penting, tentang hal sepele yang bisa menjadi seru jika diceritakan dan tempat berkeluh kesah saat lelah dengan semuanya. Tapi, mereka merahasiakan sesuatu yang amat penting dari dirinya.


Sari menjadi berpikir, sebenarnya ia itu siapa? Kenapa mereka tidak memberitahu apapun soal Arashi? bukankah Arashi adalah sahabatnya juga? Apa karena dulu pernah ada desas-desus kalau dirinya menyukai Edward? Jika ia tidak kebetulan melihat keduanya secara langsung kemarin, mungkin ia akan tetap seperti ini sampai beberapa tahun ke depan. Ia akan tetap tidak tahu. Tidak, tidak akan selama itu.



Dari percakapan keduanya, Sari bisa mengambil banyak fakta yang semula tidak di ketahuinya. Walaupun ia sedikit menyesal karena sudah mengetahuinya, namun, ia lega karena tidak perlu lama-lama dibohongi.


Mungkin Bunga dan Tiara juga merasa bersalah karena sudah membohonginya. Walaupun begitu, rasanya seperti ketiga sahabatnya mempunyai golongan lain di samping golongan utamanya. Dan hanya ia yang tidak berada disana. Dalam hati ia berkata, memang, sahabat bisa dikalahkan oleh cinta. Namun, siapa yang mengira kalau cerita cinta itulah yang menguatkan persahabatan.



Ada tiga orang di dalam golongan itu dan ketiga-tiganya memiliki cinta terhadap lawan jenis. Apakah mereka berpikir kalau anak perempuan bernama Sari itu terlalu polos? Mengapa ia tidak diajak bergabung ke dalam golongan itu. Apakah karena hal yang sama pula maka Tiara dan Bunga seperti menjadi sangat akrab? Entahlah. Mungkin ia memang tidak diajak, mungkin bercerita tentang orang yang disuka adalah lebih asyik daripada masak mie sambil menonton Drama Korea bersama.



Kini, ia merasa tidak pantas. Ia merasa tak lagi berada di antara mereka bertiga. Memang, trio adalah hal yang bagus. Mereka tidak memerlukan kameo seperti Sari untuk turut andil dalam cerita masa muda mereka. Rasanya seperti… kini ia telah tertinggal. Ia bukan menjadi bagian dari mereka dan mereka tidak membutuhkannya lagi.



“Dorr!!!’ pekik Sari sambil memukul pundak keduanya secara bersamaan.



“Ya ampun aku kaget aku kaget beneran kaget beneran kaget,’ latah Tiara.



Bunga melesat maju sejauh satu meter. Mukanya memerah seakan semua teriakan sedang memenuhi dirinya namun tidak bisa ia keluarkan. Semua tertahan di kerongkongannya. Beruntung, hal itu tidak berlangsung lama. Wajahnya kembali berwarna putih langsat tanda ia sudah mendingan lalu ia menghampiri kedua sahabatnya yang berada di belakang.



“Sari bisa nggak, sih, kalo dateng biasa aja. Jangan kayak orang Betawi pas ngebesan apa!’ marah Tiara. Beberapa siswa memergoki dirinya saat melatah barusan. Ia takut akan menjadi bahan bully dengan terus-menerus dikageti untuk seterusnya. Namun, walau begitu, Tiara tidak benar-benar menyindir Sari. Ia tau Sari tidak akan marah hanya dengan perkataan ceplas-ceplos darinya.




“Eh, itu Arashi!’ seru Bunga saat melihat satu sahabatnya di pintu masuk. Bunga dan Tiara segera menghampirinya. Namun, Sari tetap diam. Ia tidak memindahkan pijakannya, ia tidak mendekati Tiara seolah-olah ada tembok pembatas yang tidak dapat ia lalui. Dan tidak mau ia lalui.


Sari masih terpaku di tempat yang sama saat ketiga sahabatnya bercanda ria di depan loker. Bunga dan Tiara menunggu Arashi sambil bergurau dan berbincang-bincang. Jalinan kasih diantara ketiganya terlihat hangat. Sari tersenyum, tidak ada celah baginya untuk masuk.


Ia berusaha mengingat kenangan mereka dahulu. Apakah mereka pernah menyambutnya di loker? Apakah mereka selepas itu saat berbicara dengan dirinya?



Tidak ada.



Ia tidak menemukannya. Kepingan memori saat mereka menyambutnya di loker dan saat mereka berbicara lepas ketika bersamanya. Sari tersenyum, ia mengusap kelopaknya yang sudah dikunjungi beberapa air mata. Mungkin bukan ia tidak menemukannya, tapi ia tidak ingin menemukannya.



Kali ini pelajaran ekonomi. Pak Ahsan memberi tugas untuk mengamati pendapatan beberapa penduduk di daerah tertentu berikut harga kebutuhan pokok masing-masing. Tiga puluh lima siswanya dibagi menjadi beberapa kelompok. Suasana menjadi gaduh sebelum maupun sesudah mereka di kelompokkan. Tidak sedikit yang protes dengan pembagian kelompoknya namun sang pendidik tidak menggubrisnya. Selalu ada hal yang seperti ini saat mereka dipisahkan dengan teman dekatnya.



Arashi tidak satu kelompok dengan salah satu sahabatnya, tidak pula dengan Kekasihnya. Seakan takdir mengikuti mereka, Tiara dan Bunga berada di kelompok yang sama untuk kesekian kalinya. Arashi tidak ingat ia pernah melihat mereka terpisah di dalam kelompok yang berbeda. Sementara itu ia justru khawatir akan Sari yang satu kelompok dengan Edward. Jika desas-desus yang pernah muncul ketika dahulu benar adanya, ia harap pemetaan kelompok ini tidak akan berpengaruh apapun kepada semuanya.



Tidak boleh!



Di tengah ribut-ribut yang terjadi, Sari mematung kaget mendengar perkataan Pak Ahsan beberapa menit lalu. Ia… akan satu kelompok Edward. Hal yang diimpi-impikannya kini menjadi nyata. Tidak ada sahabatnya yang lain yang sekelompok dengan mereka. Kini keinginannya menjadi nyata. Tapi, apa Arashi baik-baik saja?



Ia melayangkan pandangan ke bangku Edward perlahan-lahan, takut-takut yang bersangkutan sedang menatap balik dirinya. Namun apalah yang Sari harapkan, ia melihat Edward sedang melihat kea rah lain. Saat mengikuti arah pandangan laki-laki itu, ia memandang objek yang sama.



Yaitu Arashi.



Apakah ia berdosa atau tidak jika menerka apa yang sedang Edward pikirkan? Biarlah, ia pun harus profesional. Bagaimanapun sikap mereka kepadanya, ia akan tetap bersahabat.


Arashi mungkin punya alasan sendiri kenapa ia tidak bisa memberitahunya soal hubungannya dengan Edward. Mungkin, karena desas-desus yang sempat beredar dahulu. Ia akui itu benar adanya, namun ia tidak pernah sekalipun menghampiri Edward duluan. Pun ia bersahabat dengan Arashi karena memang keduanya bersahabat, bukan karena Arashi dekat dengan Edward.



Sore hari sudah datang. Arashi kembali pulang seperti biasanya. Ada satu hal yang berbeda, yaitu kini ia menunggu jemputan di dalam gerbang sekolah, tidak di luar lagi. Begitupun untuk seterusnya. Ibunya berkata kalau polusi udara di sekitar sekolah Arashi sudah semakin memburuk, jadi jangan menunggu diluar.



Ia menurut dan menunggunya di dalam. Edward pun turut menemaninya sambil bermain game. Pemandangan yang biasa ia lihat dari luar kini ia melihatnya dari dalam. Rasanya seperti melihat keadaan di belakang panggung. Seruan demi seruan yang keluar dari mulut Edward adalah music latar belakangnya. Anak perempuan itu memutar bola matanya, Arashi tidak tau apa kegunaan laki-laki itu disini. Rasanya sama saja ada dia maupun tidak.



“Kapan kelompok kamu mulai ngerjain tugasnya?’ Arashi membuka percakapan dengan topik yang sudah memenuhi pikirannya beberapa jam belakangan.



“Nggak tau, bukan aku pemimpinnya.’ Jawabnya acuh tak acuh. Arashi diam, laki-laki di sampingnya sama sekali tidak peka. Ia menatap kosong lapangan di depannya.



Merasa ada yang tidak beres, sesekali Edward memalingkan pandangannya kepada anak perempuan itu. Arashi sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya dari raut wajahnya.


Edward tersenyum, “Nanti aku ceritain kok kalo aku ngerjain tugas. Aku ngapain, kita ngapain, kemana aja, hal-hal lucunya, semua-muanya.’ ungkapnya. Bibir Arashi menyunggingkan senyum yang lebar.



“Puas?’ godanya. Arashi mengangguk mantap, merasa puas dengan jawaban Edward.



Keduanya pulang setelah jemputan Arashi datang. Walaupun pergi dengan perasaan senang namun Arashi sedikit dongkol karena Edward tidak memberikan timbal balik. Arashi mendengus kesal saat di jalan pulang. Kenapa laki-laki itu tidak menanyakan hal yang sama, padahal Arashi adalah ketua kelompoknya.