SAVE ME

SAVE ME
Here is the end



□○♡♡♡○□


Kedatangan Natali dan kawan-kawan seolah menjadi kejutan yang amat menghibur untuk Hanna karena kasak-kusuk yang mereka timbulkan kala berada disatu ruangan bersama William yang sebenarnya tidak begitu peduli dengan tingkah aneh ketiga wanita itu.


"Mbak Nat, pulang yok. Gerah aku kelamaan disini." Bisik Mega pada Natali yang masih sibuk bercakap-cakap dengan Hanna dan juga ibunya.


"Mbak Mega kenapa sih gelisah banget?." Annet justru bertanya dengan jelasnya sembari menatap wajah Mega yang terlihat sedikit ******.


"Tau nih Mega, bikin gak santai aja." Natali merasa kesal dengan tingkah aneh teman sekantor dan juga sepergosipannya itu.


▪▪▪


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berpamitan karena Mega yang terus menerus mengajak keduanya segera pulang atau tepatnya agar mereka cepat keluar dari ruangan dimana William berada.


Setibanya di dalam mobil yang dikendarai oleh Annet, Keduanya pun lantas menanyakan alasan mengapa Mega begitu gelisah saat mengunjungi mantan teman sekantor mereka, Hanna.


"Kamu kanapa lagi sih Ga'?. Gelisah amat udah kaya kucing kebelet kawin aja!." Natali mengutarakan isi kepalanya.


"Kalian tu gak tahu rasanya jadi aku." Keluh si ratu gosip diantara padatnya kendaraan yang berlalu-lalang.


"Iya apaan, kalo kamu gak bilang ya mana kita tahu!." Natali berdecak malas.


"Iya nih, mbak Mega ganggu aja padahal aku tadi lagi asyik merhatiin mukanya bos bule, yah biarpun cuma dari samping, hihi ..." Alih-alih mengomel seperti yang Natali lakukan, Annet justru terlalu jujur dengan kelakuannya saat membesuk Hanna beberapa saat lalu.


"Nah itu dia Net!. Aku bahkan ngerasain lebih dari apa yang bisa kamu bayangkan." Ucap Mega meyakinkan.


"Maksudnya?." Natali semakin tak mengerti begitupun dengan Annet yang langsung memberinya kalimat tanya. "He'emh, apaan sih mbak Mega?."


"Aku H***y." Lirih Mega disertai rasa bersalah hingga membuatnya menundukan wajah.


Betapa terkejutnya Annet terlebih lagi Natali saat Mega mengatakan kejujuran yang tadi sempat membuatnya gelisah.


"Gila kamu Ga'!!!." Natali langsung mengumpat kesal karena kata-kata Mega.


"Ya tuhan mbak Mega!. Itu suami orang!."


"Aku juga gak tahu kenapa bisa gini setiap lihat bule apalagi bule ganteng kaya dia." Keluhnya.


"Wah parah kamu!." Natali mewanti-wanti kelakuan teman sekantornya itu. "Bahaya banget kalo sampe tuh bule cuman sendirian terus ketemunya pas sama kamu, auto jadi korban dah dia!." Natali justru terbahak dengan imajinasinya sendiri.


"Hiss, ya enggak gitu juga kali mbak. Emang aku cewek apaan!." Gerutunya sembari memicingkan matanya.


"Mbak Mega berarti gitu juga sama yang pertama dulu?." Tanya Annet penasaran.


"Siapa?."


"Bule yang pertama masuk kantor dulu itu."


"Iya, tapi yang itu aku masih berani buat mandangin abisnya muka dia sama H* sama aku." Mega terkikik dengan kalimatnya sendiri.


"Lah emang kalo si bos kenapa?." Tanya Natali sedikit bingung.


"Ngeri mbak tatapan matanya serasa disilet-silet."


"Dih! Lebay nian!." Natali benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan juniornya itu yang begitu berani untuk mengatakan sisi lain dari dirinya.


♡▪♡▪♡▪♡


Mery berada didepan sebuah pintu apartemen yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Dibelakangnya berdiri seorang pria yang tak kalah tampan dari artis-artis hollywood tengah menenteng satu tas karton berisikan cake stroberi dengan bentuk bulat sempurna dan sebotol wine.


"Kenapa kita kesini?." Tanya Mery dengan tatapan bingung.


"Karena ini adalah milik kita, jadi kita harus menempatinya." Jelas Drew dengan tangannya meraih Handle pintu untuk kemudian membukanya perlahan.


"Milik kita?. Kau membelinya?." Mery memicingkan matanya tak percaya.


"Tentu saja!. Apa kau meragukan kemampuan ku dalam mengumpulkan uang?."


"Bukan meragukan, tapi aku bahkan tidak percaya jika kau bisa begitu mudah membelinya dengan uang gaji mu."


Drew terbahak-bahak mendengar ucapan Mery yang jelas sekali kebenarannya.


"Kau cerdas!. Tidak percuma aku menikahi mu." Pria itu lalu mendorong tubuh Mery untuk masuk kedalam.


Mery sempat terpana saat melihat isi didalamnya. Satu kata untuk menggambarkan suasana yang ada, 'nyaman'. Ia tak menyangka jika suami G* nya itu bisa mendapatkan hunian dengan kenyamanan lebih dari yang pernah ia miliki sebelumnya.


"Kau suka?." Tanyanya saat membuka tirai yang menutupi pintu kaca beserta balkon kecil dengan pemandangan sebuah kota tua dan juga jembatan yang melintasi sungai kecil dibaliknya.


"Kau benar-benar membelinya atau sekedar meminjamnya dari pengembang properti?." Pertanyaan yang membuat Drew semakin melebarkan senyumnya kala wanita dengan rambut sebahu itu masih meragukan dirinya.


"Baiklah aku akan berkata jujur tetapi dengan satu syarat."


Mery tak begitu saja menyetujui perkataan si pria yang kini tengah menatapnya dengan senyum misterius.


"Kau ingin bermain tebak kata dengan ku?." Mery begitu mencurigainya


"Tidak dan tentu saja bukan itu." Langkah pria itu semakin mendekat kearahnya hingga membuat tubuhnya sedikit demi sedikit bergeser mengarah ke depan pintu kaca dimana semilir angin berhembus lembut membuat surai rambutnya melambai seirama dengan tiupannya.


"Stop!. Jangan mendekat!." Mery menahan dada pria itu dengan tangannya dan Drew justru menggenggam pergelangan keduanya lalu melingkarkan tangan Mery ke belakang tengkuknya kemudian menarik pinggul wanita itu untuk merapat ketubuhnya.


"Lepas."


"Tidak akan." Senyum lembut menghiasi bibir pria itu.


"Kau bertanya jika aku membeli apartemen ini dengan uang ku dan jawabannya tentu saja benar. Aku membelinya dengan semua uang yang aku miliki. Aku bahkan tidak pernah mengatakan jika dompet ku benar- benar kering sebelumnya. Keluarga ku merupakan kumpulan orang-orang dengan otak pengusaha dan aku tak mungkin membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja."


"Maksud mu kau memiliki bisnis sampingan diantara waktu miskin mu?." Tanya Mery.


Mery seketika kembali teringat mobil mungil kesayangannya dulu yang tak sengaja ditabrak oleh pria dihadapannya.


"Lalu apa mau mu?."


"Tidak susah."


Wanita itu mengerutkan keningnya untuk menerka apa yang akan dikatakan oleh si pria.


"Lahirkan anak-anak ku." Secepat wanita itu berkedip dan Drew sudah melahap bibir manis Mery yang siap mengatainya kembali.


"Aku tidak membutuhkan jawaban apapun dari mu." Drew benar-benar tak akan membiarkannya lari. Pria itu melihat jauh kedalam tatapan Mery yang seperti tengah memastikan keseriusan atas ucapannya tadi.


"Aku ingin memilikinya dari rahim mu bukan wanita lain terlebih lagi pria lain."


"Lalu bagaimana jika aku menolak?."


"Tidak masalah, lakukan saja jika kau memang ingin menolaknya."


Perkataan itupun berubah menjadi ci**man panas. Mery yang awalnya menolakpun harus berakhir dengan mengenaskan karena pria itu benar-benar mewujudkan katanya-katanya untuk memiliki anak darinya dan kegiatan itu kembali berulang setelah Mery dengan suka rela menyerahkan ladangnya untuk digarap oleh pria yang dulu pernah menyebabkan luka pada psikisnya.


...☆▪☆▪☆...


...☆▪☆▪☆...


...☆▪☆▪☆...


End of Story


SAVE ME 💕


Menikmati pemandangan disore yang indah bersama orang-orang tersayang merupakan momen berharga yang harus disyukuri.


Begitupun dengan William, baginya hanya dengan melihat senyuman indah sang istri yang kini tengah menimang si mungil adalah suatu keberkahan yang tak pernah bisa tergantikan bahkan dengan menggadaikan seluruh hartanya sekalipun.


"Kau benar-benar tidak ingin kemana-mana?." Tanya William saat melihat tatapan Hanna yang mengarah pada langit senja.


"Ku rasa tidak. Aku hanya ingin menikmati sore bersama mu dan juga dia." Hanna mengecup pipi gembul William kecil dengan penuh kasih.


"Bagaimana jika kita mengunjungi kebun binatang?." Tawarnya kepada sang istri yang tengah menatapnya dengan alis bertaut.


"Bercanda mu kurang serius sayang, dia bahkan jarang sekali membuka matanya dan hampir seharian penuh hanya menikmati susu dengan mata terpejam." Hanna menghela nafas kasar karena melihat tawaran aneh William yang ingin mengajak bayi mereka melihat fauna.


"Bagaimana dengan piknik ke pantai?." Tawaran William benar-benar diluar dugaan.


"Baiklah, aku akan tetap diatas sini untuk melihat mu berjemur dibawah sana." Hanna menunjuk hamparan pasir pantai dengan pepohonan hijau yang tumbuh mengelilingi teluk dengan dagunya.


"Tapi aku sudah memesan sebuah penginapan untuk kita."


"Penginapan?. Untuk apa?."


"Untuk mengenalkannya kepada Megan dan Corner."


"William, kau?!." Hanna sungguh tak menyangka jika pria itu akan membuat bayi mereka melakukan penerbangan pertamanya untuk mengunjungi dua orang lansia yang selalu membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga saat masih berada di negeri orang.


"Kita akan pergi bulan madu dengan anggota baru." William mengambil mini dirinya dari dekapan Hanna lalu mencium kening si mungil berkali-kali hingga membuat bayi kecil itu mengulat dengan suara rengekan.


"Kau sungguh nakal, dia terganggu karena ciumanmu."


"Kalo begitu kau saja yang kucium."


"Tidak!. Kau bau!."


"Tapi aku tetap tampan dan mempesona."


"Apa kau tidak merasa aneh saat mengatakannya?." Hanna terkekeh dengan sebuah senyum kecil yang sarat akan sebuah ejekan karena sifat narsis Willi yang tak pernah berubah meski telah memiliki anak sekalipun.


"Aku terpaksa mengatakannya karena kau terlihat malu-malu untuk mengakuinya."


"CKK!!!. Dasar Narsis!." Hanna bedecak malas namun matanya tetap tersenyum karena William masih menaik turunkan kedua alisnya untuk menggoda.


"Tak masalah asal kau tetap mencintai ku."


"Akan ku lakukan sampai tuhan berkata sudah dengan hidup ku." Hanna mendekat kearah keduanya dan mengecup kepala mungil dalam dekapan Willi.


"I love you." Willi merengkuh tubuh Hanna dengan sebelah tangannya yang kemudian dibalas oleh pelukan penuh dari wanita itu untuk kedua pria yang telah mewarnai hidupnya.


Tawa kegembiraan mengisi hangatnya sore yang indah untuk Hanna dan Willi bersama bayi mungil mereka yang besok baru akan berusia dua bulan and here is the end.


...THE END...


...☆...


...☆...


...☆...


Otor: Terimakasih buat yang udah setia baca, like dan komen untuk cerita SAVE ME ini. Otor lope lope lope banget sama kalian dan maaf jika cerita ini kurang sreg sama kemauan hati masing-masing dengan ending yang mungkin terasa kurang greget. 🤣😆


🤣🤣🤣


Oh ya, tolong berikan komentar dan masukan untuk penulisan otor ya, maksa nih?... enggak, cuman buat yang mau aja kok🤗 Ciyusan ni!


Semoga next bisa buat cerita yang lebih baik lagi untuk menghibur para pembaca.


See ya 😘