SAVE ME

SAVE ME
Lima Belas



Lebih dari satu kali Edward berpikir untuk mencari tempat lain, tempat pelariannya yang lain. Tetapi itu justru akan memperburuk keadaan. Ayah, Mommy dan Arashi adalah tiga hal yang berharga di hidupnya. Edward tidak bisa melukai ketiganya sekaligus hanya karena pikiran egoisnya.



Jadi, yang ia lakukan hanya mendengarkan music klasik lebih sering dari biasanya dan mengadopsi peliharaan baru. Tidak ada belajar. Minat dan keinginan untuk belajar sudah digerogoti oleh pikiran-pikiran negative. Belajar memang untuk hidupnya sendiri, tapi bagaimana jika ia sendiri pun kehilangan minat dan semangat untuk hidupnya?



Sesekali, Edward tetap berkutat pada buku hanya agar otaknya tidak tumpul. Jika nilai akademisnya terus turun, Arashi akan segera menyadari ketidak beresan pada dirinya. Ah, Apakah dirinya tidak beres? Mungkin dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi pikirannya kacau. Sungguh lucu. Ia tampil dan nampak sebagaimana biasanya, tetapi apa yang ada di dalam pikirannya sangat lain.



Edward menjadi bertanya-tanya, apakah ada seseorang di luar sana yang tidak seperti dirinya? Apakah ini alasan mengapa orang-orang yang mengenal diri kita justru lebih sungkan dan tahu diri? Karena mereka mengetahui apa yang ada di dalam jiwa dan pikiran mereka? Kalau begitu, apakah itu yang sedang terjadi pada dirinya sekarang? Apakah Ayah, Mommy dan dirinya terlalu saling mengenal? Sehingga kita menjadi saling sungkan untuk bersikap? Bahkan hanya untuk sekedar bersalam sapa di pagi hari.



Banyak yang Edward khawatirkan, namun yang paling mendominasi adalah kondisi mental sang Ibu. Pasti semakin memburuk dan memburuk. Edward sudah berulang kali pergi ke Psikiater tempat Ibunya melakukan terapi. Diam-diam. Ia mengaku bahwa ia adalah putra semata wayang dari sang Ibu dan psikiater itupun mempercayainya. Banyak informasi yang didapatnya, informasi yang seharusnya cukup untuk memberi tahu perihal ini kepada sang Ayah.



Akhirnya, ia menghubungi Ayahnya yang sedang bekerja. Berkata bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Susah payah ia merangkai kata-kata namun Ayahnya berkata bahwa ia tidak bisa. Malam ini sang Ayah harus lembur. Jadi, tidak bisa kali ini. Tapi, juga nggak bisa lain kali, batin Edward.



Percuma, Ayahnya gila kerja. Sekalipun ia berkata bahwa ini menyangkut sang Ibu, ia akan tetap menyarankan Edward untuk berkata di lain waktu. Kini ia memutar lagu Oh Susannah dari James E. Foster. Lagu kanak-kanak dari Barat yang lawas tetapi sangat Edward sukai.



Esoknya Arashi bisa menyadari bahwa ada yang tidak beres pada diri Edward. Bukan tidak beres tetapi tidak baik-baik saja. Walaupun bukan anggota Osis maupun Perwakilan Kelas, tetapi Arashi seringkali dimintai bantuan oleh sang guru untuk sekedar mengoreksi maupun menuliskan data-data nilai anak murid. Tiap bulan, nilai-nilai ulangan harian atau bulanan pasti didata oleh wali kelas. Karena itu, saat menyalin dengan menuliskan kembali data-data itu, Arashi menjadi tau perkembangan tiap anak murid di kelas dari bulan ke bulan, minggu ke minggu.



Data Edward Novaldo mendapatkan penurunan yang signifikan. Arashi berpikir, walaupun ini masih dua bulan awal kegiatan belajar mengajar, tetapi jika seperti ini terus, bisa dipastikan Edward tak akan mendapatkan posisi tiga besar pada ulangan akhir semester nanti.


Mengapa nilai-nilai Edward menurun? Padahal ia tidak alpha, batin Arashi.



Selesai menyalin semua data itu, Arashi pamit pergi dari kantor para guru dan berniat kembali ke kelasnya. Ketika itu ia berpapasan dengan Edward. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Netra Edward yang sangat indah bagi Arashi. Namun perempuan itu bisa mengerti, ada banyak cerita di balik netra itu. Cerita yang ingin diungkapkan namun tidak bisa ia ungkapkan.



Mereka berpapasan di tengah jarak antara lapangan basket dan futsal. Arashi yang memakai seragam sekolah putih abu-abu dengan rok setinggi lutut dan Edward yang masih memakai sweaternya. Dilihat dari kunci dalam gengganannya, Arashi bisa menerka bahwa laki-laki di depannya pasti baru saja berjalan dari tempat parkir.



Matahari terbit dengan indah, lapangan basket dan futsal baru saja dibersihkan kemarin. Sesekali, semilir angin kecil berhasil menerbangkan beberapa helai rambut Arashi. Sebuah tas masih tergantung di punggungnya dan satu lusin pertanyaan sudah hinggap di pikirannya. Benar-benar Edward. Entah untuk alasan apa, tetapi air mata Arashi seperti akan turun saat ini juga. Hari ini Edward terlihat berbeda dan itu membuat hatinya menangis.



Edward tersenyum hangat, senyum pertama yang Edward keluarkan sejak pagi ini. “Hai, Rash.’ Sapanya. Lantas Arashi memegang tangan kanan laki-laki itu, menyeretnya ke tempat lain. Ia tidak memedulikan mata-mata yang sering menatap kedekatan mereka berdua.



“Mau ngapain, Rashi? Bentar lagi masuk kelas, lho.’ Ucap Edward. Setelah berada di tempat yang bagus—di belakang sekolah lebih tepatnya—Arashi melepaskan tangan itu dan membalikkan tubuhnya.



Angin kencang berhembus menerpa Arashi, artinya menerpa punggung Edward. Belakang sekolah yang tidak begitu luas dan lebih banyak dipenuhi oleh daun-daun kering ini sangat berbeda dengan pemandangan depan gedung sekolah. Beruntung, tempat ini masih sejuk dan tidak panas sama sekali. Sekilas Arashi menengadah memandang langit biru, akankah langit biru pun menangis hari ini? Seperti hatinya.



“Edward.’ Kata Arashi seraya menatap Edward dengan tatapan menelisik. Gosip akan segera beredar dalam waktu dekat ini, tapi tak mengapa. Itu juga akan surut dengan sendirinya.



“Iya, kenapa?’



“Kenapa nilai-nilai kamu turun?’ tukas Arashi.


Edward nampak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.



“Huh? Nilai-nilaiku turun? Mampus, deh. Nanti aku naikin lagi.’ Gumamnya santai.



“Whats going on?’



“Everythings gonna be alright.'



“Gonna be? Jadi sekarang lagi nggak baik-baik aja ‘kan?’



“Eh, anu.’



“Apa?’



“Nanti kapan-kapan aku kasih tau. Pulang sekolah kamu ada waktu?'



Arashi menggeleng penuh penyesalan.


“Nggak bisa, aku ada bimbel.’



Laki-laki itu tersenyum, “Yaudah, kalau gitu besok.’



“Sebelum berangkat ke sekolah?’



“Iya, di tempat yang waktu itu.’



“Oke, setuju.’



Dugaan Arashi terjawab, secara tidak langsung Edward mengakui bahwa memang ada yang sedang tidak baik-baik saja. Mengapa ia tidak mengatakannya sejak awal? Tidak—ia sudah mau membuka dirinya untuk Arashi pun merupakan hal yang baik. Ia tidak sabar mendengarnya pula tidak sabar ingin melihat Edward kembali memasang raut wajah yang sebagaimana biasanya.



Keduanya tidak memasuki kelas di waktu yang bersamaan karena Arashi mampir terlebih dahulu ke kamar mandi sekolah. Sementara Arashi memasuki kelasnya, ternyata sudah ada Bunga dan Tiara yang menantinya sejak tadi.



“Pagi, Rashi.’ Sapa Tiara, sungguh tak biasanya.



“Kenapa sekarang? Belum ngerjain PR? Nggak, aku nggak mau bantuin pokoknya.’ Protes Arashi sebelum keduanya menjawab.



“Nggak, tadi Edward nyuruh kita buat bangkitin suasana hati kamu. Katanya suasana hati kamu lagi nggak bagus.’ Jawab Bunga.




“Makanya! Padahal kalau aku lihat, justru Edward yang suasana hatinya lagi nggak bagus.’



Pandangan ketiganya sama-sama tertuju pada objek yang sama. Yaitu meja serta bangku Edward beserta Edward itu sendiri. Ia memakai headset berwarna hitam dan menenggelamkan dirinya pada dunia milik Edward sendiri.



“Wajar,’



“Dia punya pagi yang kelabu.’ Gumam Arashi pelan. Sangat pelan sampai kedua sahabatnya tidak bisa mendengar.



“Hah?! Apa?!’ seru mereka bersamaan.



“Oh, nggak. Nggak apa-apa. Eh, kapan-kapan ketemuan sama Sari, yuk. Kangen nih!’



“Ayoooo. Mau dimana?’



“Nggak tau. Kita kapan libur, sih?’ gerutu Bunga. Gadis itu mulai menggenggami rambut Tiara.



“Hum, masih lama. Akhir pekan aja gimana?’ usul Arashi.



“Paling kamu nggak bisa. Walaupun Minggu, kan, kamu tetep belajar.’ Ujar Bunga, sewot.



“Yaelah, Bung. Masa Sari udah dateng jauh-jauh terus aku malah lebih milih buat belajar? Ya, pasti, lah! Belajar, kan, lebih penting daripada kalian-kalian ini.’ Arashi tertawa.



“Iya, deh. Kita yang nggak penting, mah, ngalah aja.’ Kata Tiara tak mau ketinggalan.



“Kkk bercanda, kali. Nanti aku luangin waktu kok. Bisa hari Minggu, mah, pasti bisa. Kalian kabarin aja.’



“Eh, Rash. Kamu sama Ed lagi berantem, ya?’ Tiara tak tahan lagi menanggung rasa penasarannya sendirian.



“Lho? Sejak kapan kalian manggil Edward pakai panggilan Ed?’ Arashi menyipit memandangi keduanya secara bergantian.



“Tiara, tuh. Aku mah nggak ikut-ikutan.’ Bunga menimpali.



“Yaelah, panggilan doang juga, Rash.’ Sanggahnya.



“Tiara, kalo Arashi manggil doi kamu pakai panggilan sayang, kamu marah nggak?’



“Ya, marah, lah, Bunga.’



“Nah, Arashi juga gitu kali. Kan, Ed itu panggilan sayang Arashi buat Edward.’ Sindir Bunga.



Perempuan itu akhirnya mendapatkan sedikit tempeleng pada bahu kanannya dari Arashi.



“Halah, bener, sih. Tapi endingnya aja nggak enak.’ Kata Arashi.



“Hahaha. Oiya, Rash. Kalo itu panggilan sayang, terus itu temen-temennya Edward yang cowok, pada sayang juga berarti, ya, ke dia?’ tanya Tiara, polos.



“Nggak, lah. Sebenernya itu bukan panggilan sayang, sih, tapi panggilan akrab. Bagi aku tapi, bagi Ed mah nggak gitu.’ Keduanya hanya manggut-manggut karena mengerti.



“Jadi, kalian marahan?’ Bunga kembali menyeret semuanya ke topik awal.



Arashi menggeleng, “Nggak. Ed lagi ada masalah, tapi aku nggak tau apaan.’



“Ohhh. Bukan gara-gara kamu, kan, dia marahnya?’



“Dia nggak marah, Bunga.’ Arashi kembali memperjelas.



“Eh, iya, maksudku itu.’



Arashi mengangkat bahunya, “Nggak, bukan karena aku.’



“Bagus, deh.’ Tiara menutup pembicaraan dan mengalihkannya kepada kisah percintaan miliknya. Giliran Arashi dan Bunga yang mendengarkan pembicaraan tanpa henti dari Tiara. Dia mencurahkan semuanya sambil menasehati semua orang, dirinya; Arashi; dan Bunga.



Tiara adalah pribadi yang blak-blakan, namun ia manis kepada kekasihnya. Kekasihnya berasal dari sekolah lain, tidak—mereka tidak LDR. Hanya beda sekolah. Tiara tidak pernah memperkenalkan mereka, tetapi Arashi pernah satu kali bertemu dengan kekasih Tiara secara tidak sengaja.



Walau ahli merencanakan perjalanan namun Tiara tidak gampang diajak berpergian. Ia hanya pergi ketika ia mau.



Pembicaraan itu kemudian berlanjut kepada tugas mereka dan pelajaran selanjutnya. Tentu, Arashi adalah pakar mengenai hal itu. Tetapi ia tidak besar kepala, Arashi merasa mereka semua sama aja. Arashi pun lebih pintar melebihi mereka karena ia mengikuti bimbingan belajar. Tapi seseorang tidak bisa merendahkan kecerdasannya hanya karena ia mengikuti bimbingan belajar. Sebab, tidak semua orang yang mengikuti les itu menyimak apa yang sedang dipelajari. Berbeda jauh dengan Arashi.



Tentang Edward, ia harus bersabar sampai esok hari. Hanya beberapa jam lagi. Beberapa jam yang rasanya sangat panjang untuk dilalui.