
♤▪♤▪♤
Kehebohan terjadi tepat saat Willi berada dalam meeting pentingnya dengan sebuah perusahaan digital ternama untuk menjalin hubungan kerja.
Steven yang saat itu menjadi backup William benar-benar dibuat pusing oleh bosnya sendiri yang terlihat tidak bisa mengontrol rasa paniknya setelah ia berbisik kepadanya jika Hanna dilarikan kerumah sakit oleh pihak keamanan apartemen karena mengalami kontraksi hebat lantaran wanita dengan perut besar itu sempat terpeleset saat berjalan-jalan diarea taman sehingga menyebabkan tubuhnya oleng karena kurangnya keseimbangan dan membuatnya jatuh dengan posisi terduduk.
Willi benar-benar meninggalkan meeting yang sebenarnya hampir saja selesai. Pria itu berlari secepat mungkin untuk mencapai pintu Lift yang terbuka dengan seorang OB berada didalamnya membawa sebuah troli berisikan gelas kotor bekas minuman.
"Kau mengendarai motor?." Tanya Willi kepada pria dengan seragam biru langit yang menjadi ciri khas mereka.
"Yes sir." Jawabnya sedikit gugup karena ditatap begitu serius oleh Willi.
"Tinggalkan troli mu didepan pintu dan ikutlah bersama ku!." titahnya dengan sedikit terburu-buru.
"But mr, I can ..."
"Jangan katakan 'i can i can' padaku, aku tidak terima bahasa planet mu yang terdengar begitu aneh itu. Bicaralah dengan bahasa indonesia agar lebih jelas." Bentaknya kepada sang OB yang terlihat semakin gugup.
"Ok!."
"Dimana motor mu!?."
"Ada diparkiran belakang, mister!."
"Ayo cepat antarkan aku!."
"He, kemana mister?." Tanya si OB dengan wajah bingung.
"Kerumah sakit!. Cepat!. Istriku hampir melahirkan!." Ucapnya tak sabaran.
Dan gas motor matic itupun melaju dengan kencang membelah jalanan kota yang pastinya cukup padat dijam makan siang.
Keberadaan mereka yang berjibaku dengan kemacetan lalulintas pun cukup menyita perhatian karena sosok William.
Ia yang mengenakan setelan formal terlihat begitu tampan dan sangat menarik hingga menjadikannya pusat tontonan gratis saat berada diperempatan lampu merah. Sedangkan sang OB yang bertugas mengendarai motor tampak begitu tegang karena membawa seorang bule yang jelas terasa kaku saat ia berkelok-kelok menyalip beberapa kendaraan besar.
Tak menunggu lama untuk sampai dirumah sakit tepat waktu. Pria itu tiba dengan keringat bercucuran yang membasahi dahi dan juga punggungnya hingga menembus kemeja navi miliknya.
Willi bersegera membuka jasnya lalu mensterilkan tangan dan juga wajahnya dengan handsanitizer yang tersedia disetiap pintu ruangan hingga membuat sang mertua yang saat itu tengah menunggunya sempat terkejut melihat bagaimana menantunya itu mencuci tangan dengan alkohol lalu mengusapkan sisanya kewajah disertai suara desisan karena refleknya yang justru menimbulkan rasa perih diwajahnya sendiri.
*
*
*
Setelah dua jam menunggu dengan penuh harap dan juga kehawatiran akhirnya yang dinanti pun lahir kedunia dengan selamat.
Ayah, ibu, Melati dan Chris yang tengah berjejer dibalik dinding kaca ruangan bayi pun tampak begitu antusias untuk bisa melihat si mungil yang berada dalam dekapan lengan William.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu sangat mirip dengan pria yang menimangnya, hanya sebagian kecil ciri fisik yang menyerupai ibunya. Senyum kemenangan tercetak dengan jelas diwajah Willi kala kepala mereka menggeleng secara bersamaan karena melihat bagaimana bayi bule itu tak membuang wajah ayahnya.
***
***
Willi mendatangi wanitanya yang tengah terbaring lemah dengan cairan infus mengaliri tangannya.
"Terimakasih. Kau telah melahirkannya dengan penuh perjuangan. Aku mungkin tidak akan pernah bisa membalas pengorbanan mu tapi aku akan berusaha untuk menjaga kalian sampai tuhan berkata 'sudah' dengan hidup ku. I love you." Willi mendekap kepala Hanna dengan penuh kasih. Ia sadar dengan semua pengorbanan yang telah dilakukan wanita itu untuk melahirkan buah hati mereka ke dunia.
"Aku hampir saja menangis saat menunggu mu yang tak kunjung tiba." Hanna mengeratkan pelukannya pada lengan William. "Dan aku masih merasa bersalah karena telah membuatnya merasakan benturan tadi." Wanita itu terisak dengan sangat lirih.
"Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah meninggalkan kalian berdua tanpa pengawasan." Willi berusaha meredakan tangis sang istri sembari terus mengusap lembut pipi wanita itu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Hanna dipindahkan keruang perawatan. Mereka yang sedari tadi sudah siap menyambut kedatangannya satu persatu memberinya ucapan selamat lengkap dengan sebuah pelukan kasih sayang untuknya.
"Aku benar-benar tak bisa berkata-kata saat ibumu menelepon ku dan berkata jika kau terjatuh dan akan melahirkan karenanya." Melati membelai lembut kepala Hanna yang tengah tersenyum kepadanya.
"Tidak apa-apa, ini memang menjadi bulan kelahirannya hanya saja terjadi seminggu lebih cepat dari yang kami kira."
"Aku bersyukur karena kalian selamat tanpa kekurangan apapun." Melati menepuk lembut tangan Hanna untuk kemudian berpindah memeluk Willi yang sedari tadi berdiri disamping keduanya.
"Selamat atas kelahiran buah hati kalian. Ku harap kebaikan akan selalu menyertainya dalam kehidupan." Melati mengurai pelukannya lalu menatap wajah William yang jelas lebih tinggi darinya. "Jadilah ayah yang baik untuknya. Jangan pernah membiarkannya bergaul dengan orang-orang yang salah, ingatlah bagaimana kau pernah berada dititik jenuh itu." Ucapnya dengan keseriusan.
***
Sepeninggalan Melati dan juga ayah serta Chris yang telah kembali bekerja, kini hanya tersisa sang ibu yang masih setia menemaninya bersama si bule mungil yang masih terlelap dalam hangatnya balutan selimut berwarna putih. Sedang Willi, pria itu berada di koridor rumah sakit untuk berbicara dengan Steven melalui sambungan telepon.
Rona bahagia terpancar jelas diwajah sang ibu kala melihat bayi mungil yang berada didalam boks kaca itu menggeliat untuk pertama kalinya.
"Apa kau sangat bahagia?." Tanya ibu kepada Hanna tanpa melihat wajah putrinya itu.
"Ibu bahkan lebih tahu melebihi dari apa yang aku rasakan saat ini." Jawabnya dengan mata berair.
"Kau beruntung memilikinya." Ucap ibu sembari meraup tubuh mungil Willi kecil kedalam gendongannya.
"Dia adalah pria baik yang pernah tersesat dan mungkin tuhan sengaja menyiapkannya untuk mu dengan semua pengalaman hidup yang pernah ia lewati untuk membuatnya menjadi sosok pria dewasa yang siap menghadapi setiap masalah dalam kehidupan yang akan kalian hadapi dimasa depan." Lanjutnya dengan tatapan penuh arti.
"Lihatlah, yang kau lahirkan adalah suami mu. Ia bahkan sama sekali tidak memiliki wajah mu selain bibir mungilnya." Sang ibu benar-benar bahagia menimang cucu bule pertamanya.
Willi terlihat mendorong pintu kamar Hanna sedikit lebih lebar hingga menampakan sosok wanita yang tak pernah membuang ekornya kemanapun dia melangkah.
"Mbak Nat?!." Pekiknya tertahan kala melihat ibu beranak satu itu tiba-tiba saja menyeruak dengan tangan terbuka dari balik pintu yang dibuka oleh Willi.
.
.
.
Tbc