SAVE ME

SAVE ME
"Aku takut sakit."



○☆○☆○


Sebulan menjelang pernikahannya, William benar-benar dibuat pusing dengan edukasi yang diberikan oleh sang senior dalam bidang perkebunan siapa lagi jika bukan Steven, Karena hanya pria bermata sipit itulah yang Willi kenal memiliki banyak pengalaman dalam hal penjajahan khususnya dengan seorang wanita.


"Apa kau tidak salah dalam memberikan materi kuliah untuk ku?. Bagaimana bisa kau menyuruh ku untuk melakukan hal itu sedangkan kau sendiri tidak tahu akan keadaan wanita yang menjadi pasangan ku."


"Lalu bagaimana jika saya mencobanya dulu dengannya?." tawar si pintar kepada si emosional.


"Lepaskan dulu kepalamu jika kau ingin menyentuhnya."


Steven dibuat bergidig ngeri setelah mendengar ucapan bosnya sendiri.


"Berikan penjelasan yang tidak membuatku pusing seperti tadi!."


"Baiklah, anda cukup mendengarkannya saja kali ini."


*****


*****


Jam telah menunjukan pukul tujuh malam, langit diluar sudah tak terlihat kilaunya dan hanya menampilkan cahaya dari lampu-lampu gedung bertingkat yang berada didekat kantor mereka.


Hanna bersama Natali dan juga Annet, ketiganya tengah berjibaku dengan tumpukan berkas yang akan mereka serahkan pada arsiparis atau bagian pengarsipan milik perusahaan seperti yang ada dipusat pemerintahan.


"Net, coba cek keluar masih ada orang lain gak?."


"Ih, takut mbak."


"Sama Hanna." Saran Natali.


"Gak mau. Biarin aja lah mbak, kita kebut ini aja terus keluar barengan. Tinggal dikit juga kok." ucap Hanna dengan fokusnya mengarah pada tumpukan binder file diatas lantai.


"Berjuang!. Demi hari libur yang udah didepan mata." Annet menyemangati dirinya sendiri ditengah jam lemburnya.


"Pak Damian kok baru bilang sekarang sih kalo numpuknya sampai sebanyak ini." Keluh Hanna sembari terus memunguti kertas-kertas yang tercecer dimeja Damian.


"Gak tahu juga, padahal udah sering aku tanyain katanya enggak - enggak tapi ujungnya jadi kayak gini. Huh! dasar emang pak tua, suka banget bikin susah." Natali tengah mengumpati atasannya sendiri.


Pukul delapan malam dan mereka baru saja menyelesaikan semuanya. Tidak ada suara ketukan high heels yang terdengar karena kini ketiganya tengah menenteng sepatu mereka untuk meredam suara ribut yang biasa timbul dari hentakan sepatu yang mereka gunakan.


Tiba diloby, Natali melambaikan tangan kepada seorang pria yang menunggunya diatas sebuah motor matic bersama seorang anak kecil yang tengah berlarian di emperan gedung.


"Aku duluan ya!." ucapnya pada dua orang wanita yang tengah bersamanya.


"sama, aku juga ya kak." Annet menunjuk seorang pria muda yang tengah duduk disebuah pot besar yang berada didepan loby.


Kini tinggalah Hanna yang harus menunggu si jaket hijau untuk menjemputnya namun siapa sangka jika pria lain tiba lebih dulu untuk mengantarkannya pulang kerumah.


"William?." Ucapnya saat menyadari jika pria itu tengah berdiri disampingnya dengan tubuh menjulang.


Natali dan Annet yang baru saja menumpang diatas kendaraan masing-masing pun tak kalah terkejutnya dengan keberadaan pria itu yang tak lain adalah bos dari bos mereka kini tengah berdiri mendampingi si cantik nan baik hati, namun harus disayangkan lantaran jarak mereka dan keduanya terlalu jauh sehingga Natali dan Annet tidak bisa melihat dengan jelas wajah tampan sang big bos meski telah melebarkan mata dan menajamkan pandangan mereka.


Annet dan Natali saling memberi kode untuk menunggu keduanya melintas dan tanpa mereka duga jika yang melintas adalah Steven dengan Wrangler hitam milik bosnya. Willi dan Hanna justru menumpang di jok tengah sehingga kedua wanita yang ingin memastikan rupa bosnya menjadi sia-sia dan berakhir kecewa.


"Kenapa sih ma?." Tanya suami Natali saat wrangler hitam William baru saja melintas.


"Yah, tahu gak?. Selama kerja disini tu mama belum pernah tahu yang mana bosnya dan ini jadi kali kedua mama lihat tu bule tapi masih gak jelas ama bentukan mukanya."


"Kirain apaan, ternyata gara-gara bule!. Duh nyeselnya ayah nurutin tadi."


"iih ayaaah!." Natali langsung memeluk sang suami yang baru saja mengendarai motor mereka melewati pos penjagaan untuk bersiap membaur dengan kemacetan jalanan kota.


"maa ... mamaa ... mau gulali ituu!."





William benar-benar ingin menjadikan acara pernikahannya sebagai ladang kebaikan. Meski tidak ada pesta dengan hingar bingar kemewahan namun justru kehangatanlah yang ingin ia ciptakan didalamnya.


Mereka yang berada didesa terpencil dengan perjalanan kereta enam jam itu kini berada di satu penginapan dekat dengan Villa yang Willi sewa.


"Kau memindahkan mereka kemari dengan kereta?." Tanya Hanna dengan wajah penasarannya.


"Tidak, aku menyewa satu pesawat untuk mereka semua." Ucapnya tanpa niat menyombongkan diri. "Terlalu lama jika harus menggunakan kereta, terlebih jika dengan mobil."


"Tapi kau melakukannya untuk ku dengan jeep mu!?."


"Apa kau tidak paham pribahasa 'ada udang dibalik batu'?." Tanyanya remeh sembari memiringkan sedikit kepalanya untuk memastikan raut wajah Hanna saat ia mengatakannya.


"Kau?!!. Dasar buaya!."


"Buaya yang sayangnya akan kau nikahi."


"YAAACCHH!!!." Hanna memukulkan tangannya ke lengan Willi tepat saat pria itu menghindar dan berlari karena wanita itu terus mengejarnya.


Sangat tidak cocok jika melihat bagaimana keduanya bermain kejar-kejaran di halaman Villa, meskipun cantik dan tampan tetapi mereka bukan lagi anak-anak yang akan terlihat lucu saat berlari justru keduanya tampak seperti ibu yang tengah mengejar anaknya karena ketahuan bermain kotor.


▪▪▪▪▪


William dan Hanna bertolak kerumah setelah melihat tempat yang mereka sewa berada dalam tahap perawatan untuk acara yang akan mereka buat disana. Meskipun lokasinya sedikit jauh tetapi hal itu cukup sebanding dengan apa yang mereka dapat, tidak hanya pemandangannya saja yang indah namun juga pelayanan yang mereka berikan juga begitu memuaskan.


"Mereka terlihat senang saat tahu akan menempati penginapan dilingkungan villa itu untuk beberapa waktu."


"Ya, itu sudah pasti karena tidak semua seberuntung kita untuk bisa menikmati fasilitas mewah dengan mudah."


"Untuk mu tapi tidak untuk ku, karena aku akan berfikir sepuluh kali jika ingin melakukannya."


"Ah, kau benar. Aku lupa jika sebelum ini kau adalah mahluk receh."


"Dan diri mu adalah pria gila yang menyukai mahluk receh ini."


"Tepat sekali!." Willi justru tertawa bahagia mendengar hinaan Hanna untuknya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Ucap Willi disela-sela fokusnya mengemudi.


"Apa itu tentang sesuatu?."


"Ya, sesuatu yang sangat ........ intim?."


Mata indah itu tampak memicing setelah mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh si pria.


"Apa itu?."


"Apa setiap pria harus melakukan sirkumsisi?."


Hanna terkejut saat Willi mengatakannya, dengan wajah lucu wanita itu kemudian bertanya, "Kau belum pernah melakukannya?."


Dan sebuah gelengan kecil menjadi jawaban dari Willi.


"Bagaimana bisa orang sepintar dirimu tidak mau melakukannya?."


"Aku takut sakit."


Hanna menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi sembari memijit pelipisnya yang tengah berdenyut nyeri.


"Kau harus melakukannya untuk kesehatan mu William. Hampir semua pria sekarang melakukannya karena manfaat dan kau masih bertahan dengan rasa sakit?. Tidak kah kau tahu jika kini jaman telah banyak berubah, anak - anak bahkan bisa langsung berenang setelah melakukannya."


"Baiklah, aku akan melakukannya tapi kau yang harus menemaniku."


"What???."


.


.


.


tbc.