
“Hahaha. Baru gini doang, Edward. Diluar sana banyak yang nggak seberuntung kita.’
“NGGAK SEBERUNTUNG KITA? MAKSUDNYA NGGAK BISA MAKAN MIE?’
“Edward, jangan teriak-teriak. Nanti mienya keluar lagi, lho.’ Arashi membelokkan topik pembicaraan.
“Kalo itu bisa bikin perut aku membaik, aku lakuin.’
“Yaudah sana lakuin. Kalo habis itu justru pita suara kamu yang terganggu, aku nggak ikut-ikutan.’
“Tau, ah.’ Edward kembali focus mencari posisi yang selesa. Dari tidur, headstand, jungkir balik sampai khayang sudah ia coba. Namun perutnya tidak kunjung membaik. Ini semua gara-gara gadis di depannya. Edward kesini dengan bayangan ia akan kenyang karena memakan Arashi, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
“Ahhh.’ Desahnya saat tujuan Ed tercapai. Ia menemukan posisi yang nyaman sekarang dengan duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Benar-benar nikmat, ia tidak akan membagi informasi berharga ini untuk Arashi. Tetapi baru saja ia mendesah, mengutarakan bahwa ia menemukan dan merasakan sesuatu yang nyaman. Tentu saja Arashi akan menyadarinya, dasar bodoh, batin Edward.
“Edward, jangan tidur di lantai. Nanti masuk angin.’ Dengan cepat sebuah ide muncul di kepalanya. Mungkinkah membuka seragamnya ini akan menimbulkan kenikmatan yang lebih daripada apa yang ia rasakan saat ini?
“Nggak apa-apa.’
“Jangan. Kotor. Banyak debu.’ Dalam hati Edward tertawa, Arashi belum tahu saja bagaimana kenikmatan saat makanan sudah memenuhi dirinya sampai ke ujung pangkal tenggorokan—air pun tidak akan bisa melewatinya, kemudian ia menemukan tempat beristirahat yang nyaman. Yang bisa mengerti bagaimana perasaan di dalam dirinya, yang bisa membuat dirinya tetap tinggal dan yang bisa membuatnya acuh tentang bagaimana keadaan hal tersebut.
Debu, kotoran dan semut sekalipun tidak akan menggoyahkannya. Ia akan tetap tinggal.
“Biarin, Rash.’
“Emang kenapa, sih? Enak, ya, duduk di lantai?’
Sontak Edward bangkit, berdiri sebentar dan kembali duduk di atas sofa.
Semudah itu. Dirinya tidak bangkit dan pergi karena debu, kotoran maupun binatang yang menggangu. Melainkan karena tak ingin ada orang lain yang turut singgah.
Keduanya kembali diam untuk beberapa saat. Arashi sibuk dengan pikirannya tentang kapan Edward akan pulang. Sedangkan Edward, entah bagaimana tetapi otaknya membawa dia untuk memikirkan bagaimana nasib anak-anak atau orang-orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Ia tiba-tiba saja memikirkan kata-kata Arashi yang sudah diucapkan sebelumnya.
“Kapan, sih, kita mulai deket?’ gumam Arashi, mengajak Edward untuk pergi ke ruang berpikir dan mengingat yang berbeda.
“Nggak inget.’ Katanya sambil menatap langit-langit. Seakan disana terputar hologram kenangan dan ingatan keduanya sejak saling mengenal kurang lebih setengah tahun yang lalu.
“Kita deket nggak, sih?’ tanya Arashi tiba-tiba. Laki-laki yang diajak bicara bingung kemana pembicaraan ini mengarah. Apakah pikiran Arashi serandom itu?
“Iya, deket. Kenapa? Nggak ngerasa deket?’
Arashi menggeleng, “Nggak, rasanya lucu.’ ia sedikit tertawa. Tidak, bukan karena senang. Kesan dan gelagatnya lebih terlihat seperti, konyol.
Laki-laki di seberangnya bangun, kini ia memosisikan badannya dengan duduk biasa di atas sofa coklat tersebut.
“Lucu?’
Ia mengangguk, “Iya, lucu. Kita nggak kayak remaja-remaja yang pacaran pada umumnya. Tapi, entah karena apa, aku merasa nyaman.’
Edward berpikir sejenak, “Biasanya orang pacaran itu gimana?’
Hanya naik-turunnya bahu yang Edward dapat sebagai alasan. Namun, ternyata ada beberapa untaian kata yang menyusul gerakan tersebut.
“Contoh kecilnya, ya. Ini contoh kecilnya. Anniversary. Do we have celebration our anniversary? Bahkan kita nggak ingat kapan tanggal kita jadian.’
“Emang penting?’ sergah Edward.
Arashi termangu sejenak sebelum mulai menjawab. “Nggak, nggak penting.’ Rajuknya.
“Yaudah, nggak usah dipikirin.’ Tutupnya.
Hening kembali.
Anak perempuan itu kembali bergelut dengan pikirannya. Berkali-kali ia bermonolog untuk menemukan titik terang. Menjauhkan segala prasangka dan perasaan negative di dalam dirinya. Meyakinkan dirinya bahwa hal-hal seperti itu memang tidak penting. Dalam diam Arashi kecewa.
Tidak ada yang aneh pada diri Arashi, baginya. Namun tidak bagi Edward, ia menyadari atmosfer keadaan di sekitarnya yang memburuk. Mungkinkah ini akibat pemanasan global dan bolongnya ozon di angkasa? Tentu saja tidak. Semua atmosfer yang berubah ini dipengaruhi oleh emosi Arashi. ada yang berubah pada gerak-geriknya.
“Rashi.’ Panggil Edward dengan suara terberat yang bisa ia keluarkan.
“Hmm?’ tak perlu bertanya, kini Edward sudah mengetahui jawabannya.
“Kamu marah?’
Arashi menggeleng.
“Ngambek?’ tebak Ed.
Perempuan itu kembali menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.
“Terus kenapa?’
“Nggak apa-apa.’ Kini Arashi mengajak Edward untuk pergi ke ruang berpikir yang lain daripada yang lain. Ini adalah ruang berpikir dimana seseorang yang cerdas tidak mempunyai nila plus apapun. Dimana seseorang dengan pikiran dan nilai yang bagus terkadang menjadi urutan terendah. Paling bawah. Dimana terkadang orang yang tidak cerdas justru berada di tingkatan paling atas.
Ini adalah ruang menebak dan memahami isi hati perempuan.
Edward bangkit. Perutnya kini sudah jauh lebih baik, namun ada anggota tubuh lain yang justru terganggu. Yaitu, otak. Ia menghampiri Arashi dan duduk di depannya, di depan sofa yang diduduki perempuan itu lebih tepatnya.
“Nggak penting kita jadian hari apa. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu maupun Minggu nggak akan ada bedanya. Mau di musim hujan atau kemarau, hari libur nasional atau hari kerohanian, semuanya nggak penting. Yang penting,’ Edward meraih tangan perempuan tersebut untuk ketiga kalinya selama kedua insab itu berpacaran.
“Aku milik kamu. Kamu milik aku. Kita dua jiwa tapi bersatu dan kita bahagia.’ Edward mengembangkan senyum tipis saat melihat pipi Arashi merona.
“Jadi, nggak begitu penting kan?’ simpulnya. Perlahan, Arashi mengangguk malu-malu.
“Bagus. Aku tau kamu udah suka dari lama. Sebelum aku tembak. Iya kan?’
“Ngarang!’ satu kali perempuan itu menepuk bahu Edward.
“Eummm. Terus, dulu siapa, ya, yang sering curi-curi pandang waktu kegiatan belajar mengajar, yang sering nyari-nyari alasan cuman buat lewat di samping bangku aku, yang sering nontonin aku main basket dari koridor, yang selalu cari-cari buku aku diantara puluhan buku lainnya waktu disuruh bantu guru buat bawain, dan yang--’
“Stop stop! Aku bisa jelasin semuanya!’ tukas Arashi sebelum Edward menyebutkan lebih banyak bukti-bukti yang tentunya mengarah kepada dirinya.
“Jelasin apa?’ jika Edward melanjutkan absenannya, maka tentu Arashi akan merajuk selama seribu tahun lamanya.
“Soal kenapa aku lakuin semua itu.’ Perlahan, semburat merah merona di pipi Arashi hilang perlahan-lahan. Lelaki itu tak tahan untuk mengembalikan pipi tersebut untuk kembali berwarna merah muda.
“Aku dengerin,’
“Pertama, aku nggak curi-curi pandang ke kamu. Aku mau lihat keluar dan tempat duduk kamu ada di dekat jendela. Kalo aku mau lihat keluar, berarti aku mau gak mau harus lihat ngelewatin bangku kamu. Kedua, aku nggak pernah nyari-nyari alesan buat lewat di samping bangku kamu, justru siswa-siswi lain yang satu baris sama kamu yang manggil aku mulu buat minta bantuan. Ketiga, aku nggak nontonin kamu main bola basket, aku nontonin.... nontonin, apa, sih, namanya.’
“Apa?’ ejek Edward.
“Apaaaa?’ intonasi dalam kata-kata Edward semakin menjadi. Ia memojokkan Arashi demi mendapatkan pengakuan.
“Futsal!’ seru Arashi bersemangat.
“Lapangan basket sama futsal, kan, deketan. Nah, aku nontonin yang main futsal. Kayaknya seru banget. Nggak kayak yang main basket. Gampanggg!’ remeh Arashi.
“Bohongggggg. Kamu pasti lihatin aku ‘kan?’
“Nggak, lah.’ Perempuan itu bahkan tak sanggup menatap kedua netra Edward. “Pengen banget dilihatin.’ Katanya, sewot.
“Pengen. Kapan-kapan lihatin, ya?’
“Ogah, nanti aku kesenter palingan. Kayak waktu itu.’ Kini ia merajuk sementara Edward tertawa cekikikan.
“Ya lagian. Nonton itu di tribun bukannya di luar garis lapangan. Ya, kena, lah.
“Oh, jadi aku yang salah?’ tatap Arashi mengintimidasi.
“Bukan, bolanya yang salah.’
Anak perempuan itu mengangguk-angguk dengan angkuh. Menatap laki-laki yang sejak tadi berlutut di depannya.
“Terus—kenapa waktu itu kamu nunggu aku di depan lab? Waktu yang lain udah keluar dan pindah ke kelas, kamu malah masih berdiri di pintu nunggu.’
Kejadian itu sudah cukup lama berlalu tapi Arashi dan Edward sama-sama masih mengingatnya. Arashi tersenyum hangat, ia tidak percaya pernah melakukan hal sebodoh dan semanis itu. Atmosfernya kembali berubah saat ini juga.
“Kamu masih inget?’
Edward mengangguk manis, “Masih. Waktu itu aku sengaja balik ke kelasnya belakangan. Rencananya, sih, mau tidur dulu tapi pas lihat kamu di pintu, aku jadi sungkan.’
“Tapi tetep lanjut tidur.’ Sindir Arashi.
“Hehe. Dan kamu tetep nunggu aku.’ Edward kembali menggoda gadis di depannya.
“Kkk iya. Ngapain juga aku, ya. Kurang kerjaan.’
“Tau. Harusnya kamu masuk terus tidur bareng di sana.’
“Ngaco! Kalo ketahuan sama pihak sekolah nanti orang tua kita dipanggil.’
“Dipanggil doang. Bukan disuruh misahin.’ Ucap Edward menganggap remeh perkataan Arashi.
“Ada lagi! Waktu di perpustakaan, kamu inget nggak?’
“Ssstt! Udah, jangan dilanjut lagi.’ Telunjuk tangan kanan Arashi ditempelkannya pada bibir Edward. Mengisyaratkan agar sang empunya segera menghentikan perkataan demi perkataan yang akan keluar. Jari itu kemudian disingkirkan dengan lembut oleh Edward. Ia tersenyum dan berkata.
“Rash,’
“Hummm?’
Lantas Edward sedikit bangkit dan mendekati tubuh kekasihnya perlahan, membuat jantung Arashi berdetak tiga kali lebih cepat. Keduanya semakin mendekat, namun Edward justru melewati wajahnya dan bergerak ke samping.
“I Love You.’ Bisiknya tepat di telinga. Sungguh waktu yang sebentar namun berlangsung lama. Jika Edward tidak segera kembali ke tempatnya, niscaya jantung Arashi akan meledak. Ia menahan napasnya.
Hanya anggukan yang Edward dapat sebagai jawaban. Ia tak tahan. Sontak ia kembali mendekati wajah Arashi, memfokuskan pandangan kepada bibir Arashi yang nampak sangat lembut. Perempuan itu hanya diam, tidak melarang dan tidak merespons. Membuat Edward sangat ingin untuk melakukan hal yang lebih sekaligus sungkan bahkan untuk mengecup bibir hangat itu.
Deru bunyi motor mendekat membuat Arashi kembali tertarik pada realita. Ia segera bangun dan menggagalkan niat Edward.
“Ibu pulang!’ serunya. Jika mereka tidak berhenti saat itu juga maka Arashi tentu akan pingsan.
Pasokan oksigen yang masuk ke dalam otaknya minim, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Pelan ia memukul dadanya sendiri, bersyukur karena tidak ada kejadian yang tak diinginkan. Tentu saja itu diinginkan, namun melanggar norma masyarakat. Jadi, keduanya harus sadar akan posisinya masing-masing.
Edward bangkit dan duduk di sofa saat Arashi menghampiri Ibunya di luar. Sengaja laki-laki itu tidak pulang lebih awal, ia ingin bertemu dengan Ibu Arashi terlebih dahulu. Ingin berterima kasih karena sudah melahirkan Arashi.
“Lho? Ada Edward disini? Bukannya tadi kamu pulang naik angkot, Rash?’ itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Ibu Arashi saat pertama ia melihat sosok laki-laki SMA itu duduk di sofa ruang tamunya.
“Nggak, Bun. Tadi ternyata Edward masih ada di sekolah, jadi pulang bareng.’
“Bagus, deh. Kamu nggak bimbel, Rashi?’
“Kan, udah Arashi bilang kemarin. Libur, Bunda.’
“Bunda nggak tau. Itu Edwardnya bikinin minum apa. Masa nggak dikasih apa-apa?’
“Nggak tau, nih, tante. Arashinya males.’ Sambar Edward.
“Sudah tadi, Bun. Udah abis sekarang.’ Ucap Arashi meluruskan segalanya.
Ibunda Arashi masih beranggapan bahwa anak sulungnya dan Edward hanya memiliki hubungan sebatas teman. Walau terkadang ia ragu, mereka hanya teman tetapi teman tidak bersikap begitu. Mungkin mereka bersahabat, itulah yang menjadi pikirannya yang lain. Acapkali Arashi bercerita tentang Edward alih-alih bercerita tentang para sahabatnya. Acapkali pula imajinasi Ibunda Arashi berkembang, mengira bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Jika wanita dewasa itu tidak menganggap mereka hanya sebatas teman, tentu ia tidak akan membiarkan keduanya berada di rumah ini tanpa pengawasannya. Tidak akan pernah.
Edward akan pulang. Sekarang sudah pukul enam dan ia akan pulang. Setelah berpamitan, ia meluncur pulang di jalanan menuju rumahnya. Setiap mobil yang ditemuinya, terlihat seperti sebuah keluarga pada netranya. Membuatnya kembali ingat akan tujuannya bertemu dengan Arashi sejak pagi. Tujuan itu belum juga terlaksana hingga kini ia tidak tau bagaimana harus melaksanakannya.
Apakah sang Ayah sudah kembali ke rumah? Atau belum? Situasi macam apa yang akan ditemuinya nanti? Ia pun tak tau. Andai ia punya rumah atau tempat apapun untuk kembali selain rumahnya sendiri, niscaya ia akan menjadi tempat itu sebagai pelariannya. Pelariannya saat terjadi apapun yang tidak baik. Itu sama saja berlari dari kenyataan, Edward tahu.
Seharusnya ia mengangkat dagu, meluruskan bahu dan menerjang semua hambatan yang menghalanginya untuk menemukan jati diri Edward sebagai seorang manusia. Karena itu, ada sedikit rasa syukur di dalam hati dan pikirannya karena ia tidak memiliki tempat seperti itu.
Tunggu, Edward ternyata memiliki tempat semacam itu.
Tempat itu bernama Arashi.
Mungkin esok hari ia harus benar-benar memberi tahu Arashi semua yang sudah terjadi. Tidak ada kata terlambat.
Terlambat.
Ini sudah hari kelima sejak Edward mengunjungi rumah kekasihnya dan ia belum juga menceritakan apa yang terjadi. Sebaliknya, hubungan kedua orangtuanya semakin memburuk. Ayahnya sering keluar dan tidak pulang. Edward tidak tau karena alasan apa. Mungkin ia lembur. Pun Ibunya jarang berkomunikasi dengan siapapun. Termasuk dirinya.
Keluarganya menjadi semakin dingin. Dan ia sungkan untuk membagi ceritanya dengan Arashi. Bukan, bukan karena Arashi tidak akan mendengarkan. Justru ia takut Arashi akan menjadi sangat memikirkannya. Nilai dan prestasi akademis Edward saja sudah menurun belakangan, bagaimana jadinya jika hal yang sama akan terjadi pada Arashi juga? Bagaimana jika apa yang Edward pikirkan pun akan menjadi apa yang Arashi pikirkan? Pasti itu buruk.
Lebih dari satu kali Edward berpikir untuk mencari tempat lain, tempat pelariannya yang lain. Tetapi itu justru akan memperburuk keadaan. Ayah, Mommy dan Arashi adalah tiga hal yang berharga di hidupnya. Edward tidak bisa melukai ketiganya sekaligus hanya karena pikiran egoisnya.
Jadi, yang ia lakukan hanya mendengarkan musik klasik lebih sering dari biasanya dan mengadopsi peliharaan baru. Tidak ada belajar. Minat dan keinginan untuk belajar sudah digerogoti oleh pikiran-pikiran negative. Belajar memang untuk hidupnya sendiri, tapi bagaimana jika ia sendiri pun kehilangan minat dan semangat untuk hidupnya?