
☆☆☆
Jelas sekali jika Hanna kepanasan. Ia sudah mengenakan jeans panjang dengan blous sebagai atasan dan kini Willi menyuruhnya untuk melapisinya menggunakan sebuah hoodie beserta celana, juga topi dan masker.
Ini negara tropis dengan tingkat panas yang sebenarnya sangat pas untuk perkembangbiakan mahluk hidup. Namun tidak untuk kali ini karena Hanna tidak sedang mengerami telur yang butuh pemanas, melainkan sebuah penyejuk yang bisa mengusir rasa tak nyaman ditubuhnya.
'Tolong jika ada penjual es kelapa. Ini benar-benar panas!'. Pikirannya terus bermonolog
.......
Hanna merekam suasana disetiap langkah yang ia lewati dalam ingatannya. Banyak pasang mata para wanita dengan berbagai rupa yang seakan ingin menarik pria disebelahnya masuk untuk sekedar me_____mungkin ini yang dinamakan surga bagi mereka para penikmat kebebasan malam.
Namun sepertinya tidak hanya malam saja pasar itu beroperasi dan kemungkinannya adalah tidak ada jam yang berlaku didalamnya.
Hana tidak hanya melihat wanita matang didalamnya tetapi juga lansia dan para remaja dengan segala rona diwajahnya pun ada dan tengah melambai untuk mendapat perhatian dari pria disampingnya.
Benar saja, siapa yang tidak akan melirik pria setampan Willi?. Bahkan Hanna sekalipun yang memiliki benteng pertahanan, dulu mungkin ia bisa menolak namun seiring berjalannya waktu hatinya semakin gelisah. Ingin rasanya ia menjerit 'jangan lakukan' saat bertatapan langsung dengannya, namun beruntung ia memiliki pikiran yang masih sejalan dengan kewarasannya.
"Kau takut?." Tanya pria berwajah tampan dengan kaca mata hitam yang bertengger manis menghiasi wajah bulenya.
"Tidak." Lirih Hanna saat melewati para players yang tengah berc*mbu di ambang pintu.
"Tapi aku takut." Willi setengah berbisik mengatakannya.
"Untuk apa kau takut!?. Dasar aneh!."
"Bagaimana jika tiba-tiba ada yang menyerang dan membawa ku masuk kesalah satu pintu?."
Mata indah Hanna seketika membola dengan kewarasannya yang tengah di uji.
"Kau gila Willi!. Buat apa kau takut, bahkan jika ada yang meng-ANUI-mu sekalipun kau tidak akan rugi karena dihamili oleh orang lain!."
"Bagaimana bisa kau berfikir aku hamil?."
"Entahlah, aku juga tidak tahu!." Geramnya tertahan.
Willi hampir saja terbahak mendengar ocehan penuh kekesalan dari wanita dengan kepintaran luarbiasa itu namun sedikit lebih emosional setelah beberapa kali mendapat cobaan_darinya.
"Apa kau juga menanam saham disini?." Tanya Hanna dengan langkah mereka yang tetap melaju meski tubuhnya telah basah oleh keringat.
"Untuk apa?." Willi memandang salah satu rumah dengan pintu kayu berwarna putih di ujung jalan yang tengah ia tapaki.
"Mungkin saja kau menginginkan bilik gratis dengan pelayanan ekstra tanpa harus merogoh kocek." Jelas Hanna dengan nafas memburu serta lelehan keringat yang mengalir dari dahi putihnya.
"Bagus juga ide dari mu, sepertinya akan ku pikirkan itu nanti. Sekarang bagaimana jika kita mencobanya lebih dulu?."
"Mencoba apa?." Dengan polosnya Hanna justru bertanya.
"Ayo!." Willi lantas menggenggam tangan Hanna dan sedikit menariknya untuk semakin mendekat.
"A_Apa yang kau lakukan?!. Lepas!."
"Kita akan menyewa satu pintu." Senyum Willi merekah hingga memperlihatkan deretan gigi putinya yang rapi bak musim semi, cerah. Namun sayang,
DUGHH!
AWW!.
Pekik pria dengan tampang menawan diantara tumpukan jerami, eh?.
Hanna benar-benar menendang tulang kering Willi hingga pria itu mengaduh dengan suara keras.
"Aku bercanda nona, ouch!. Ini sakit sekali."
"Ckk!. Aku benar-benar tidak percaya tuhan mempertemukan ku dengan orang seperti mu." Hanna mencibir tingkah absurd sang mantan G^
Di saat itu seorang wanita bertubuh kurus membuka pintu dengan cat putih, tepat dimana Willi dan Hanna saling beradu kata.
"Pergi dari sini jika kalian hanya ingin ribut!." Tegurnya sembari meremas gagang pintu, namun sekali lagi mata tua wanita bersuara pria itu menatap keduanya, tepatnya kearah Willi dengan mata mulai memerah seperti tengah menahan rindu yang tersimpan begitu lama.
Wanita tadi kembali menutup rumahnya dan tak lama seorang pria dengan perut buncit keluar dari bilik didalamnya dengan hanya menggunakan celana jeans lusuh tanpa baju.
Pria itu sempat bertemu pandang dengan Willi lalu beralih menatap wanita disampingnya dengan senyum tipis hingga membuat Willi menggeser posisi Hanna agar bersembunyi dibalik tubuhnya sampai pria itu menjauh.
"Masuklah." Ucap Wanita si pemilik rumah.
Melati. Itu adalah nama yang ia gunakan saat seseorang mencarinya sebagai penghuni didalam pasar. Setiap mereka memiliki kode masing-masing dan 'melati' adalah sebutan untuk wanita yang kini menyambut mereka.
Melati langsung memeluk Willi dengan begitu erat setelah pintu rumah tertutup. Wanita itu menciumi wajah Willi seperti bayi. Mulai dari puncak kepala, dahi, pipi hingga ke hidung, bibir dan dagu. Entah apa yang kini ada dipikiran Hanna saat melihat itu, namun sepertinya ia sedikit paham tentang apa yang tengah terjadi.
"Aku merindukan mu." Ucap Melati disela-sela derai air mata yang tengah mengalir. "Kenapa kau tak pernah mengunjungi ku beberapa tahun ini?."
Willi kemudian memeluk tubuh kurusnya sembari mengusap lembut punggung wanita bersuara pria itu.
"Aku sudah memiliki usahaku sendiri dan belakangan tengah sibuk membuka cabang baru." Jelas Willi dengan senyum lembut menatap Hanna yang tengah sibuk mengipasi wajahnya sendiri dengan topi.
"Kau orang kaya?." Melati seketika mengurai pelukannya dan langsung memegang kedua pipi Willi secara bersamaan.
"Sepertinya!." Dengan gaya sombongnya pria itu berucap sembari mengangkat kedua alisnya.
"Aku ikut senang mendengarnya." Melati kembali terisak. "Akhirnya kau bisa mewujudkan impian mu selama ini."
"Belum semua." Ucap Willi setengah menggantung.
"Terserah kau saja, sisanya bisa dicici perlahan." Melati tersenyum setelah mendengar jawaban Willi. "Duduklah, akan ku buatkan makanan."
Melati begitu terkejut saat menyadari keberadaan Hanna yang kini memunggungi keduanya. Ia tengah asik meniup-niupkan udara kedalam hoodie melalui kerah longgarnya agar tidak terlalu panas.
Melati kemudian menatap Willi dengan wajah penuh tanda tanya. Wanita itu menautkan kedua jari telunjuknya sebagai simpul, isyarat tentang siapa sosok yang kini berada dibelakangnya dan Willi hanya menggeleng dengan senyum terpatri diwajahnya.
Begitu pula dengan Melati, ia juga menyunggingkan senyum jahilnya untuk membalas respon Willi terhadapnya.
"Ehem!." Melati berdehem untuk menyadarkan Hanna dari kesibukannya.
Hanna berbalik dan semakin terkejut pula melati saat melihat rupa wanita cantik dihadapannya.
"Maaf, aku jadi sibuk sendiri." Hanna tersenyum canggung saat mata tua Melati menatapnya tak berkedip.
"Ku kira kau membawa remaja pria, Gerald. Dan ternyata aku salah." Melati menutup mulutnya dengan tangan. "Kau seorang wanita?." Melati mendekati Hanna untuk menyentuh bahunya.
Tinggi Hanna yang tak begitu jauh dengan Melati membuatnya bisa melihat tanpa rasa canggung.
"Kau cantik sekali sayang." Ucapnya lirih. "Bagaimana bisa anak nakal itu bertemu dengan mu?." Melati seperti tak bosan memandang wajah Hanna yang memang ditakdirkan penuh pesona.
"Aku memungutnya dijalan." Ucapan Willi mengintrupsi keduanya tanpa dosa.
"Diam kau bocah sialan, aku bertanya padanya bukan kau!." Bentak Melati dengan mata menyalang.
"Kenapa kau jadi tertarik padanya?. Bukankah tadi kau bilang akan membuatkan ku makanan?." Willi menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan kesal. Ia tak menyangka jika respon Melati akan berlebihan seperti itu saat melihat wajah Hanna.
.
.
.
Tbc.