
●♤●♤●♤●
Kehidupan kembali seperti sedia kala dimana kerja menjadi fokus utama setiap mereka yang hidup dan memerlukan materi sebagai pemenuh kebutuhan harian.
Kini Hanna tidak lagi bekerja dikantor karena William telah melarangnya dan memberinya surat PHK. Lucu memang jika melihat bagaimana suami istri itu menjalani rumah tangga mereka yang baru seumur kecambah.
Pria itu hanya memperbolehkannya untuk membantu Peterson diklinik selebihnya ia tak mengizinkan.
"Tugas ku adalah mencari uang untuk mu dan tugas mu membantu orang untuk bisa kembali menemukan jalan kebahagiaan mereka." Pesan William kepadanya sebelum pria itu kembali mengarungi alam bawah sadarnya.
"CKK!. Dasar, aku tak habis pikir dengan kelakuannya yang benar-benar menyebalkan." Hanna tengah menggerutu, "Apa tadi dia baru saja bermimpi dengan meminta sarapan dipagi buta lalu kembali melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda?." William tampak nyaman bergelung dibawah selimut tebalnya di jam makan siang setelah sebelumnya pria itu meminta sarapan pada jam enam kurang.
Hanna memilih untuk melanjutkan aktifitas menulisnya yang sudah ia kerjakan sejak sebulan sebelum pernikahannya berlangsung.
Dering panggilan pada ponselnya mampu mengalihkan tatapan mata wanita itu sejenak.
📲"Selamat untuk pernikahan mu. Maaf aku tidak bisa hadir dan terlalu telat untuk mengucapkan kata selamat ini sebenarnya."
"Mery aku tak perlu maaf mu, cukup kau datang untuk menemui ku saja dan itu akan membayar semua kesalahan mu padaku."
📲"Dasar, apa setiap istri pengusaha akan merubah jalan pikirannya menjadi untung dan rugi?."
Tawa Hanna begitu renyah terdengar sampai membuat wanita yang berada diseberang sana ikut tertawa karenanya.
📲"Aku ingin sekali memiliki nasib baik seperti mu."
"Hei, tak semua yang kau lihat baik akan enak untuk kita rasakan." Terang Hanna yang jelas belum mengerti jika yang dimaksud Mery adalah Drew.
📲"Beruntung sekali kau mendapatkan pria sebaik William, tidak seperti ku yang harus bertemu lagi dengannya." Keluhnya diujung sana.
"Bertemu dengannya?. Bukankah kalian sudah menanggalkan status itu?." Tanya Hanna penasaran.
📲"Aku bahkan sudah meninggalkan apartemen ku dulu agar tidak lagi bertemu dengan pria sialan itu, tapi apa kau tahu jika pada akhirnya dia datang jauh-jauh sekedar untuk menemukan ku?."
"Sungguh?... " Tawa Hanna begitu keras terdengar, wanita itu terbahak-bahak karena cerita Mery.
📲"Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi orang gila. Ah, jangan coba-coba untuk menyembuhkan ku jika itu benar terjadi karena aku sama sekali tidak ingin mengingat orang itu."
"Lalu dimana dia sekarang?."
📲"Tidur, setelah semalam beberapa orang pria menghajarnya." Terdengar decakan malas dari bibir Mery. "Aku tak mengerti kenapa Mr. Trainor bisa memiliki anak seperti dirinya yang begitu bodoh dan tidak berguna."
"Mungkin saja itu disebabkan oleh mu?."
📲"Kau mengejek ku?." Mery mendengus kesal.
"Tidak, kurasa karena kau adalah wanita dengan segala kelebihan yang bisa melengkapi kekurangan pria itu." Jelasnya.
📲"Maksud mu jika dia memang jodoh ku?. HEII!!. Tidak sopan!."
"Lalu apalagi?. Bukankah kalian adalah pasangan yang serasi?. Sejujurnya Drew sama tampannya seperti Willi, kurasa wanita manapun akan suka jika berdekatan dengannya tanpa mengetahui siapa dia."
📲"Tapi sayangnya aku sudah tahu siapa dia, bagaimana busuk dan liciknya jalan pikiran pria itu terlebih sifat bodohnya yang tak pernah orang lain sadari diluaran sana."
"Untuk itu kau berjodoh dengannya." Hanna tak kuasa untuk tidak terbahak.
📲"Sudahlah Hanna, aku menyesal telah menelepon mu."
"Tapi aku tidak terlebih setelah mendengar kisah mu yang begitu menghibur, Mery."
●○●○●○●
Hanna menutup teleponnya tepat saat Willi memanggilnya dari dalam kamar.
"Ada apa?. Siapa yang menelepon mu sampai membuat mu begitu bahagia?." Tanya William dengan wajah bantalnya.
"Mery, kenapa?. Apa kepalamu pusing?." Hanna melihat tingkah aneh sang suami yang begitu mencurigakan.
"Pusing sekali, aku perlu obat untuk menghilangkannya."
Hanna dengan polosnya melangkah untuk mengambil sesuatu dikotak P3K tanpa membaca pesan tersirat dari ucapan William.
"Masih tiga minggu Willi ... !!!."
"Aku tahu, aku hanya ingin memeluk mu saja."
"Kau bohong!. Semalam kau jelas menempelkannya padaku dan berusaha untuk ... !."
"Tapi nyatanya tidak bisa karena pertahan berlapis mu." Willi memutar tubuhnya memunggungi sang istri yang tengah terkekeh geli dengan kelakuan si mantan G* nya yang begitu tak sabaran untuk menuntaskan misinya menjelajahi ruang angkasa.
.
.
.
Masih dengan suasanya nyamannya, Drew menikmati siaran tv nya yang sudah berkali-kali menayangkan acara yang sama namun tak juga pria itu melakukan sesuatu yang berguna selain memakan camilan milik Mery.
Ia baru saja akan terlelap saat pintu apartemen tiba-tiba terbuka dan menampak sosok wanita yang sedari pagi ia nantikan kedatangannya.
Drew hampir tersenyum kala matanya bertatapan dengan Mery namun ia harus kecewa saat ada sosok lain yang mengekori wanita itu.
Seorang pria yang jelas tidak ia kenal tengah menatap kearahnya.
Mery terlihat begitu tak perduli dengan keberadaan Drew yang sedari tadi terus memperhatikannya dengan wajah tak ramah.
"Dia teman mu?." Tanya Drew dengan alis menyatu dan Mery hanya meliriknya sekilas tanpa niat menjawab.
"Kau temannya?." Drew mengalihkan pertanyaan itu kepada teman Mery.
"Bisa dibilang begitu." Jawab pria bernama Jimmy yang kini tengah menempati sofa single.
Mery yang mendengar pertanyaan Drew dengan segera menegaskan kepada Jimmy jika pria itu merupakan sepupunya yang sedang mampir karena semalam ia baru saja berkelahi dengan para preman dan mendapatkan anggukan dari pria berkulit sedikit kecokelatan itu.
Rona wajah Drew seketika berubah setelah mendengar penjelasan Mery tentangnya. Wanita itu terlihat sangat tidak suka dengan keberadaannya yang seperti mengawasi mereka.
"Ku pikir kau sudah membaca pesan ku." Ucap Mery sembari menyiapkan sesuatu di meja pantry.
"Aku memang sudah membacanya tapi kaki ku masih terasa sakit. Jadi ku pikir akan lebih baik jika aku menetap untuk sementara waktu." Jawab Drew dengan fokusnya menatap James.
Mery terdengar membanting sendok kedalam wastafel. Wanita itu benar-benar tidak suka dengan keputusan sepihak Drew.
***
***
Setelah menerima setumpuk berkas yang diberikan Mery, Jimmy lantas segera pergi meninggalkan apartemen mungil wanita itu karena perasaannya begitu gerah lantaran ia baru saja melihat kobaran api dari tatapan pria dengan hiasan perban diwajahnya tadi.
Yakinlah jika yang terjadi setelah itu adalah badai petir dengan sambaran kilat dimana-mana.
"Aku sudah menyuruh mu untuk meninggalkan tempat ini!, Jadi pergilah sebelum aku melaporkan mu kepada pihak keamanan."
"Aku juga akan melaporkan mu atas dasar penelantaran."
"Silahkan!. Aku tak peduli." Mery kembali membukakan pintu apartemennya agar pria dengan tingkah ajaib itu pergi namun sayang yang dimaksud justru tidak meresponnya dan malah meregangkan persendiannya kemudian kembali menyamankan diri diatas sofa.
Mery terlalu geram dengan kelakuan pria G* yang menurutnya begitu tak kenal rasa malu.
"Mr. Trainor, tidak kah kau sadar jika perbuatan mu itu bisa memicu keributan yang nantinya akan mengembalikan mu kedalam bui?."
"Kau istri ku dan mereka jelas tidak akan percaya dengan laporan mu karena saat ini akulah yang tampak seperti korban."
Ucapan Drew membuat Mery meradang karena ia dengan jelas mendengar pria itu mengatakan istri kepadanya yang artinya jika Pria G* itu belum menandatangi surat perceraian mereka.
.
.
.
TBC