
♤●♤●♤
William baru saja melakukan tindakan sirkumsisi tepat seminggu menjelang pernikahannya. Hanna sebagai pendamping pun tidak bisa mengerti mengapa sampai setua itu ia masih saja tidak berani menjalani tindakan kebaikan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.
"Aku masih tidak percaya orang seperti mu bisa disebut lelaki!." Ucap Hanna meremehkan pria yang kini tengah duduk di kursi roda.
"Tidak semua pria berani melakukannya."
"Kau bahkan berani berkelahi dan melukai orang lain tanpa rasa takut."
"Ya karena mereka tidak mungkin mengincar 'itu' ku!." Ucapnya kesal.
"Memalukan!."
"Aku baru bertanya pada dokter jika bisa langsung menggunakannya atau tidak."
"Menggunakan apa?." Tanya Hanna sembari sibuk dengan urusannya.
"Nuklir."
"Ha?." Hanna yang sibuk mempersiapkan tenaganya untuk membantu Willi masuk kedalam mobil pun tak begitu menyimak apa yang diucapkan si pria kepadanya.
"Naikan kaki kiri mu terlebih dahulu." Pinta Hanna kepadanya.
Bukannya menurut Willi justru menyambar bibir ranum yang berada tepat didepan matanya dengan begitu berani. Ia ********** dengan kuat namun justru dirinya lah yang memekik kesakitan.
Hanna yang kesal dengan perbuatan William pun malah memukuli tubuh si pria karena telah berani melakukan hal tak senonoh itu dimuka umum.
"Sakit!." Desisnya sembari menekam belahan pahanya karena sesuatu tengah berdenyut nyeri dibawah sana.
"Dasar bodoh!. Kau membuat dirimu sendiri sakit dengan tingkah mesum mu."
"Aku hanya mencium mu untuk membuktikan ucapan dokter tadi dan tak mengira jika 'dia' akan secepat itu meresponnya." ucapnya sembari merintih.
Hanna yang begitu kesal ingin sekali memukul kepala si tampan menggunakan sepatunya. Berbeda dengan Steven yang tengah duduk dibalik kemudi. Pria itu seolah menulikan pendengarannya saat terdengar bunyi decapan panas dari ulah bosnya dibelakang sana.
Sepanjang perjalanan ke apartemen Willi memilih memalingkan wajahnya untuk tidak melihat keberadaan Hanna.
Entahlah, sejak kuliah gratis yang diberikan oleh Steven ia menjadi lebih agresif jika dibandingkan sebelumnya. Semua itu disebabkan oleh rasa penasarannya mengenai lawan jenis.
"Kurang*jar kau Steven!." umpatnya dalam hati saat mata mereka bertemu pandang melalui pantulan kaca tengah.
***
***
Panggilan telepon menyapa tidur siang Willi di apartemennya yang terasa begitu nyaman dengan semilir angin pantai.
📲"Maaf mengganggu tidur siang anda ... " Suara Albert di ujung telepon.
Willi duduk diberanda kamarnya dengan sekaleng cappucino. Pikirannya sejenak teralihkan dari rasa nyeri yang sejak tadi ia rasakan.
*"Pagi ini nona muda Deinbeigh menemui saya, dia berkata jika rekaman yang beredar itu merupakan kesalahannya dan dia meminta maaf untuk semua kekacauan yang telah ia timbulkan. Lantas haruskah saya menempuh jalur hukum untuk memasukannya ke penjara?."
Willi seperti menemukan alasan mengapa Hanna melarangnya untuk membunuh pria itu padahal tidak pernah sekalipun terfikirkan olehnya jika Merylah yang melakukannya.
Sejujurnya bukan masalah besar bagi Willi sekalipun satu dunia mengetahui keburukannya. Namun masalah kali ini membuat perasaan bencinya terhadap Drew berada tepat diujung tanduk dan siap meledakannya kapan saja.
Juga sebuah kebetulan pula baginya untuk bisa bertemu dengan dua wanita lanjut usia dalam keadaan yang begitu memperihatinkan. Megan dan Corner, ia tidak akan pernah membiarkan keduanya dalam kesia-siaan meski mereka memiliki keluarganya sendiri.
Lama dirinya menatap birunya air dari kejauhan yang membuatnya memikirkan sang kekasih. kekasih?...
William terkekeh dengan senyum yang terus menyungging dibibir tipisnya.
Menikah?, satu kata yang tak pernah terfikirkan sebelumnya namun kini hampir menjadi kenyataan untuk ia jalani, bersama wanita dimasa lalu yang selalu membuatnya ingin mendekap penuh kasih.
📲"Kau sudah makan?." Tanya Hanna yang kini berada di kantor Gtech setelah sebelumnya mengambil izin kepada Natali untuk mengantar seseorang yang kemudian mendapat godaan dari Annet dan juga ibu beranak satu itu.
"Aku ingin mie rebus buatan mu."
📲"Kau belum boleh mengkonsumsinya untuk saat ini. Tunggulah sebantar lagi, asisten mu akan mengantarkan beberapa menu sehat untuk memperbaiki lukamu agar cepat pulih."
"Apa itu bisa menyembuhkannya dalam waktu seminggu?."
"Sepertinya manusia itu juga belum pernah melakukannya." Willi terdengar malas jika harus membahas si manusia laknat itu.
📲"Mungkin saja bisa jika kau tidak melulu berpikiran mesum."
"Mesum adalah bagian hidup dari seorang pria."
📲"Tidak semua pria seperti mu."
"Tapi pria butuh hal mesum untuk bisa menghamili wanita."
📲"Bisakah kita mengganti topik pembicaraan tak bermutu ini?. Ucapan mu membuat kepalaku pusing."
"Aku suka jika membahas hal itu dengan mu."
📲"Oh tuhan, aku mohon bersihkanlah pikiran pria kaya dan tampan ini menjadi lebih baik."
Terdengar tawa renyah diujung sana yang dilakukan oleh William.
"I love you." Ucap William setelah Hanna mengakhiri panggilan teleponnya.
▪▪▪▪
Sesuai dengan ucapan Hanna beberapa saat lalu jika asisten bermata sipit itu akan tiba dengan satu totebag berisi berbagai macam makanan sehat siap konsumsi yang dipesan khusus oleh sang calon istri. Istri?. Ah, kata-kata itu seperti mantra untuk Willi ucapkan.
"Dimana saya harus meletakkannya." Tanya Steven saat melihat keberadaan Willi yang masih berada diatas kursi rodanya.
Pria itu benar-benar malas untuk menggunakan kakinya sendiri dan memilih kursi roda electrik sebagai alat bantu untuknya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
"Letakan saja dimeja pantry. Aku akan menyiapkannya sendiri." Titahnya pada Steven.
"Apa ada lagi yang harus saya lakukan untuk anda?."
"Tidak ada, pergilah setelah itu." Willi tak ingin berlama-lama melihat si sipit karena akan terus mengingatkannya pada kejadian menyakitkan yang beberapa jam lalu ia alami.
"Saya permisi." Baru saja akan memutar handle pintu William kembali memanggilnya. "Apa anda memerlukan sesuatu?."
"Berapa ukuran yang bisa mengesankan wanita?."
Hampir saja Steven melemparkan kunci mobil yang berada dalam genggaman tangannya oleh sebab pertanyaan William yang terdengar tidak bermutu dan sedikit menggelikan.
"Saya rasa ketahan adalah kunci utamanya."
"Berapa ukuran mu?." Steven hampir tersedak air li*rnya sendiri saat mendengar pertanyaan William untuknya.
"Standar hingga menengah."
"Apa dengan kau selalu mengasahnya akan membuat ukurannya bertambah?." William benar-benar tak bisa mengontrol rasa penasarannya mengenai wanita, untuk itu ia menanyakannya pada yang berpengalaman.
"Saya rasa anda memiliki lebih dari yang biasa orang bayangkan dan saya yakin jika nona Hanna tidak mempermasalahkan hal itu."
"Itu berarti secara tidak langsung kau juga membayangkan milik ku?. Dasar kau sipit sialan!." Bentak William kepada sang asisten karena ucapan pria itu yang menimbulkan kontroversi.
Secepat kilat Steven berlari meninggalkan bosnya yang temperamental. Pria itu kabur dengan membawa sandal rumah yang ia kenakan saat berada diapartemen William dan meninggalkan sepatunya begitu saja karena melihat gerakan tangan Willi yang siap melayangkan sebuah stick golf kearahnya.
.
.
.
tbc.
"awalnya pengen bikin cerita yang agak misteruis gitu karena karakter William ini udah disiapin jadi pria yang paling dominan, gak ada sisi lucunya. bawaannya udah kayak yang suka kekerasan gitu tapi tetep gak bisa."
"Oh, kalo ada yang bingung kenapa percakapan di cerita ini terkesan ngawur otor monmaap ya, karena memang percakapannya dibikin dua versi, satu dengan kata baku khusus untuk Hanna - Willi - Steven, satu lagi kamu-aku buat temen-temen kantor Hanna."
kenapa?. karena kalo baku semua jadi gak enak bacanya menurut saya. hahaha ...
thanks buat yang udah mau baca. 💕🤗