SAVE ME

SAVE ME
Dua Belas



“Ed,’ panggilnya. Suara perempuan itu sengaja ia tinggikan sedikit, takut-takut yang dipanggil tidak mendengar seruannya.



Edward memunculkan kepalanya, menjauhkan anggota tubuh tersebut dari kedua tangannya.


“Apa?’



“Kalo mau tidur, mending di rumah.’



“Disini enak.’



Arashi mengrenyitkan alisnya, “Tidur jam berapa tadi malem?’



“Jam sepuluh,’ Edward berdeham dan menjawab Arashi dengan malas.



Tiba-tiba saja Arashi mengingat apa yang ingin ia sampaikan kepada Edward, “Eh, tau musik yang itu nggak. Lagu anak-anak. Judulnya alquotte kayaknya, apa bukan, ya. Aku lupa.’



“Alouette.’ Edward bangkit.



“Judulnya aloutte, bukan alquotte.’



“Alouette? Setau aku bukan itu, deh, judulnya.’



“Iya itu judulnya. Yang gini, kan.’ Edward bersenandung menyanyikan kunci demi kunci pada music tersebut.



Senyum Arashi kembali mengembang, “Iya, hehe. Ternyata yang bener alouette.’


Laki-laki itu bangkit dan meninggalakan perempuan di hadapannya. Ia ingin sendirian.


Arashi mengejar Edward yang pergi. Ia belum mendapat klarifikasi dan penjelasan apapun. Hatinya belum tenang.



“Edward.’ Panggilnya lagi.



Laki-laki itu tidak menoleh. Bodoh, batinnya. Seharusnya Arashi mencari topic pembicaraan yang lebih baik. Mengapa ia membicarakan alouette di pagi hari? Alouette bukanlah sesuatu yang tepat untuk waktu ini.



Sekarang ia sudah memanggilnya lagi, jika ia menoleh, apa yang akan ia lakukan? Tidak ada pertanyaan yang bisa diajukan. Sepertinya memang tidak ada yang perlu dipertanyakan. Justru, inilah jawabannya. Jawaban dari kebimbangannya barusan. Ia paranoid. Edward baik-baik saja, semuanya beres seperti biasanya dan sebagaimana seharusnya. Sebenarnya, apa yang Arashi pikirkan? Mengapa ia mengambil tindakan bodoh dengan melakukan suatu hal yang tidak jelas seperti ini. Ia sungguh bodoh.


Edward tidak menoleh. Ia terus berjalan mendekati pintu kelas. Arashi mengikutinya sampai diluar. Untuk terakhir kalinya ia memanggil Edward. Anak perempuan itu berjanji, ini akan menjadi yang terakhir kali untuk pagi ini.



Lagi-lagi, Edward tidak menjawab. Pun tidak menoleh. Atmosfer seperti berubah saat itu juga. Suasana hati Arashi berubah. Tidak lagi menjadi baik. Setelah ia tersandung dua kali, kondisinya tetap stabil. Tetapi mengapa, mengapa itu berubah hanya karena hal sepele seperti ini?



Arashi menatap punggung Edward yang berjalan di koridor ini. Punggung yang semakin menjauh dan menjauh. Jika senja memang seindah dan sebermakna seperti apa yang kebanyakan orang katakan, maka ia harap semua akan membaik senja ini.


Tetapi, apa yang membaik? Bahkan tidak ada yang memburuk. Apa yang ia harapkan akan menjadi lebih baik?



Saat itu, tiba-tiba Edward berbalik. Ia berjalan ke arah sebaliknya. Kini bukan punggung yang netra Arashi tangkap melainkan wajah. Wajah laki-laki paling hangat yang pernah ia temui. Arashi mengrenyitkan alisnya saat melihat ekspresi yang muncul pada wajah itu. Kali ini, benar-benar ada sesuatu yang tidak beres. Mata Arashi menangkap suatu sosok di belakang Ed.


Dia adalah wali kelasnya.



Arashi segera mengerti apa yang Edward isyaratkan. Dengan buru-buru ia memasuki kelas dan mengucapkan pengumuman.



“PAK DIRGAAA DATENGGGG!!!!’Ia masih berdiri di ambang pintu saat meneriakan hal tersebut. Sontak, semua siswa dan siswi di dalam kelas kembali ke tempat duduknya masing-masing. Ponsel-ponsel dimasukkan ke dalam kelas dan seragam-seragam dirapikan. Arashi pun menyusul duduk di kursinya.



“Tumben, Rash. Kamu yang ngumumin.’ Kata Tiara sedikit berbisik.



Arashi mengangguk, “Iya, nih. Kebetulan.’ Selanjutnya Edward masuk ke dalam kelas dan Pak Dirga di belakangnya.



Mereka sudah kelas sebelas. Kelas dua SMA. Jadi, Wali mereka pun berganti. Saat sudah berdoa dan Pak Dirga mulai melaksanakan kegiatan mengajarnya, Arashi tertawa dalam hati. Ia menertawai dirinya yang sudah paranoid. Lucu, memangnya apa yang Arashi harapkan dari sikap Edward yang ia lihat tadi? Edward baik-baik saja dan Arashi cukup yakin dengan hal itu. Tidak akan ada yang terjadi, setidaknya, sampai hari ini.



Sepertinya cerita Edward tempo hari membawa otak Arashi kepada sesuatu yang tak jelas wujudnya. Mungkinkah ia merasa iba sehingga menjadi terlalu berlebihan dalam bersikap? Perempuan itu mengangkat bahunya. Sepertinya memang begitu.



Senjanya, Arashi menunggu jemputan di dalam gerbang sekolah seperti biasanya. Kali ini ia menunggu sendirian. Entah untuk alasan apa, Edward pulang lebih awal. Maksudnya—ia pulang lebih awal dari Arashi. biasanya kedua menunggu jemputan perempuan itu bersama-sama pengecualian jika hari itu Arashi ada eskul. Sepertinya ada urusan mendadak sehingga Edward harus melakukan hal itu.


Biarlah, ia tidak peduli.



Tiga puluh menit sudah Arashi menunggu, namun tidak kunjung ada yang datang. Sekolah sudah kosong, tidak ada siapapun. Suasananya benar-benar berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat jika dibandingkan dengan saat siang hari.



“Dek,’ Arashi terlonjak kaget saat suara seseorang datang memanggilnya dari belakang.



“I—iya, Pak?’ seseorang yang ternyata petugas kebersihan itu menangkap keterkejutan pada gerak-gerik Arashi.



“Tenang, Dek. Ini cuman saya. Kok kaget gitu.’ Bapak itu tersenyum ramah.



“Hehe. Iya, Pak. Tadi nggak ada siapa-siapa soalnya.’



“Nunggu jemputan?’ tanyanya. Keduanya sama-sama mengetahui bahwasanya ada prasangka pada diri masing-masing. Arashi tau, petugas kebersihan yang kerap dipanggil Pak Yanto ini pasti menduga-duga apa yang sedang Arashi lakukan di sekolah pada jam-jam segini. Begitupun sebaliknya. Pak Yanto mengetahui bahwa Arashi sedang menduga-duga selepas ia terkejut tadi.



Keduanya tersenyum kikuk.


“Iya, Pak. Ibu saya belum dateng-dateng. Padahal seharusnya sudah dari tadi.’ Kata Arashi, risau.



“Ohh, setengah jam lagi gerbang ditutup, Dek. Kalau Ibunya belum datang juga, pulang pakai angkutan umum aja.’



“Iya, Pak. Setengah jam lagi pasti saya udah diluar kok.’ Arashi meyakinkan.



Untuk kesekian kalinya, perempuan itu kembali menghubungi sang Ibu. Ia terus mendapat jawaban bahwa nomor itu sedang berada diluar jangkauan pada panggilan-panggilan yang sebelumnya. Ia harap kali ini akan berbeda.



“Halo?’ terdengar suara Ibunda di seberang sana.



“Halo, Bu. Kok belum sampe juga?’ tanya Arashi dengan nada menuntut.




Arashi terlonjak kaget, “Oh iya, Arashi lupa! Duh, mana Edward udah pulang daritadi lagi!’ gerutunya penuh penyesalan. Sinyal yang sudah dipancarkan oleh otaknya sejak pagi bukan untuk mengisyratkan bahwa Edward sedang tidak baik-baik saja, melainkan untuk mengingatkan dirinya.



“Hah? Kok bisa? Yaudah naik angkutan umum aja!’



“Iya, yaudah. Arashi tutup, ya.’



Tut tut tut



Dengan malas Arashi berjalan menuju gerbang. Pandangannya menunduk dan ia terus menendang satu buah kerikil yang sama. Bagus, Arashi. Mikirin Edward mulu sampai lupa sama diri sendiri, batinnya. Sekarang ia sudah berada di tengah gerbang. Helaan napas kasar keluar begitu saja saat melihat polusi dan keramaian jalan raya di depan mata. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Betapa kagetnya Arashi saat menemukan Edward sedang duduk di motornya, di luar gerbang sekolah.



Laki-laki itu menoleh dan tersenyum, “Yuk, pulang.’ Sahutnya. Ada kehangatan pada senyum, netra dan intonasi Edward.


Senyum Arashi mengembang seketika. Serasa dirinya diterpa oleh ribuan kelapak bunga yang terbawa angin. Anak perempuan itu mengangguk.


“Ayuk!’



///



“Kok tau aku bakal nggak di jemput?’ Arashi bertanya saat sudah di perjalanan pulang.


Perlahan Edward menurunkan kecepatan kendaraan itu.



“Aku nggak tau. Aku cuman nunggu di gerbang, terus kamu nggak keluar-keluar. Waktu aku intip lewat atas tembok gerbang sekolah, aku lihat kamu masih nunggu di tempat yang biasa.’ Jelas Edward yang tentu saja sedang berbohong. Edward menunggu Arashi.



Pada mulanya ia ingin menemani Arashi di dalam gerbang sekaligus bercerita tentang kejadian yang baru saja menimpanya. Tapi Edward ragu, jadi ia hanya menunggu di balik tembok.



“Iya. Tadi pagi Ibu udah bilang. Eh, aku malah lupa bilang ke kamu.’



“Ibu kamu kemana?’ tanya Edward.



“Nggak tahu. Tadi, sih, katanya mau ngurus surat-surat ke Puskesmas sama rumah sakit.’



“Ibu sakit?’ Arashi tersenyum saat Edward menanyakan hal tersebut. pasalnya, ia hanya menyebut sang Ibunda dengan sebutan Ibu. Seperti mereka berbagi Ibu yang sama.


Arashi tetap menggeleng meski Edward tidak bisa melihatnya.



“Nggak, Aku lupa nanya buat apa tadi. Jadi nggak tau. Hehe.’



“Buat bikin surat keterangan kesehatan kali.’ Edward ikut menebak.



“Bikin surat keterangan kesehatan emang ke Puskesmas? Terus ke rumah sakit segala?’



“Nggak tau. Hehe.’



“Ngomong-ngomong, Rash,’ kata Edward lagi setelah keduanya diam selama beberapa saat.



“Hummm?’



“Berarti kamu sendirian di rumah, ya.’


Perempuan itu bisa langsung menyadari maksud dari perkataan Edward. Mungkin, mereka terlalu mengenal satu sama lain.



“Kenapa emang?’ tanya Arashi sekedar berbasa-basi. Ia ingin Edward mempermalukan dirinya sendiri.



“Nggak.’ Edward cekikikan setelah mengatakan hal tersebut.



Dalam hati, Arashi sedang mengeluarkan tawa jahannamnya. Dengan berbuat begini saja ia sudah seperti mempermalukan Edward. Mereka terus saling menyabotase antara satu dengan yang lainnya.



“Rash,’ panggil Edward lagi.



Dengan malas Arashi menjawab, “Paan?’



“Ibu kamu sampe malem kayaknya, Rash. Nggak takut sendirian?’



Edward seperti sudah lupa untuk menggunakan akal sehatnya. Karena alasan itulah ia melupakan kehadiran Juni, Adik Arashi yang sudah berusia empat belas tahun.


“Nggak, kan aku bimbel.’



Arashi bisa melihat bahu Edward yang melemas.


“Eh, tapi kemarin tutor aku bilang libur kayaknya.’ Kata Arashi lagi.



“Hummm. Aku temenin mau nggak? Sampai Ibu kamu pulang?’



“Nggak usah. Entar aku kunci semua pintu abis itu lanjut belajar sampai larut.’



Edward tidak menjawabnya lagi.


“Eh, Rash. Entar kalo ada hantu gimana? Kamu, kan, takut hantu.’



Perempuan itu tersenyum. Arashi memang takut dengan makhluk halus, tapi entah untuk alasan apa ia tersenyum.


“Kalo mau nemenin, yaudah. Temenin aja.’ Kata Arashi. ia bisa mendengar hati Edward yang berseru kegirangan sampai-sampai ia tidak tega karena dalam kurun waktu sejam, ia akan mengecewakannya.



Keduanya sudah sampai. Edward segera mengutak-atik ponselnya setelah ia meninggalkan motornya. Arashi terus memperhatikan. Ia bisa segera mengetahui apa yang sedang Edward lakukan, ia pasti sedang menghubungi sang Ibu. Edward bukanlah laki-laki yang kerap keluar rumah. Ia jarang main di akhir pekan dan setelah pulang sekolah. Karena itu, sang Ibu pasti akan khawatir jika Edward tidak pulang sebagaimana biasanya.



“Udah?’ Arashi melihat Edward kembali mengantungi ponselnya.



“Udahhhh. Yuk, masuk.’ Laki-laki itu berjalan mendahuluinya.