
Edward, bahkan ia belum mengucapkan sepenggal kata pun sejak kami datang.
--Arashi
Jambore telah selesai. Acara tersebut berjalan dengan lancar walau penutupannya memakan waktu lebih banyak dari yang seharusnya. Kini para peserta berpisah dan kembali ke sekolahnya masing-masing.
Arashi menumpangi bus yang berbeda dengan yang mengantarkan seisi kelas sewaktu keberangkatan. Bus kali ini lebih sering mengebut dan sedikit ugal-ugalan. Radio yang disetel pun bukan selera para anak-anak. Tetapi mereka tidak peduli. Yang dilakukan seisi kelas sekarang adalah beristirahat.
Semuanya lelah, kecuali Pak Dirga. Ia tidak boleh tidur karena harus terus mengawasi keadaan. Penampilan mereka jauh lebih lusuh dibanding saat berangkat. Tapi tidak ada waktu untuk berbenah diri, mereka benar-benar sangat lelah sekarang. Kalaupun ada beberapa orang yang sibuk memainkan ponselnya, itu pasti untuk menghubungi seseorang yang berharga baginya. Mungkin, mereka LDR.
Semuanya dibangunkan ketika sudah sampai di depan sekolah. Hari ini Minggu, jadi tidak ada yang datang ke sekolah. Mereka masuk ke kelas sembari menunggu jemputan masing-masing. Stamina sudah terisi, paling tidak sedikit, jadi mereka sudah mulai berisik lagi. Seseorang seperti Farhan lebih memilih kembali tidur dibanding memainkan mulut dan alat geraknya. Ia tetap bisa tidur di tengah kelas yang berisik.
Salah seorang murid mencetuskan untuk bermain permainan papan. Sengaja, ia sudah membawa kartu uno. Karena itu, permainan pun segera di tunaikan. Bangku dan meja disisihkan ke sisi kanan dan kiri. Membuat tengah ruangan itu lenggang tanpa ada barang apapun. Mereka tertawa dan berteriak sesekali seakan hari ini belum cukup melelahkan. Mungkin, mereka kelelahan. Tetapi akhirnya mereka kembali ke sekolah, rumah kedua. Semua penat hilang sebagian dan perasaan nyaman pun segera menyerbu masuk.
Tidak ada yang lebih terasa nyaman dibandingkan pulang ke rumah sendiri setelah aktifitas yang melelahkan.
Bahkan, wali kelas mereka pun ikut memainkan permainan papan tersebut. Satu-persatu siswa maupun siswi pulang, Sampai akhirnya, tersisa tiga orang. Arashi, Edward, dan Farhan. Farhan tidur di meja guru –sebab, semua meja siswa sudah dipindahkan ke sisi. Arashi dan Edward lesehan di lantai putih yang dingin dan bersih. Duduk mereka berjauh-jauhan dan tidak ada pembicaraan di antara keduanya.
Edward merasakan ada sesuatu yang salah. Biasanya, Arashi akan bercerita banyak hal tentang pengalaman barunya. Terlebih kemarin mereka berada di kelompok yang berbeda, jadi pasti banyak hal yang tak diketahui Ed. Tetapi gadis itu tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Rash, temenin aku ke perpustakaan, yuk.’ Ajak, Edward.
“Nggak mau.’ Katanya singkat.
Hening.
“Kalau gitu, ke ruko depan, yuk. Beli makanan.’
Arashi hanya menggeleng. Edward menjadi semakin bingung. Benar, Arashi merajuk. Apa karena dirinya? Edward melakukan kesalahan apa?
Arashi kesal karena Edward tidak merasa bersalah setelah melakukan hal tersebut. Ia berjanji, Arashi tidak akan membuka mulut sebelum Edward menyadarinya. Mungkin, jika saja Edward menyapanya atau sekedar berbasa-basi, ia tidak akan merajuk.
“Rashi. Kamu ngambek?’
Mungkin mereka tidak menyadari keberadaan Farhan yang sudah menguping sejak tadi. Terlihat jelas bagaimana hubungan keduanya dari percakapan kecil di atas. Mereka lebih dari sekedar teman. Farhan akan menjadi orang pertama yang mengetahui hal tersebut disamping Bunga dan Tiara. Arashi menjadi sadar dan merasa terancam dengan keberadaan Farhan di ruangan ini. Bagaimana jika siswa tersebut menyebarkan berita ini? Bagaimana jika, saat seisi kelas telah mengetahui hubungan di antara keduanya, eh, mereka justru putus?
Ah, pasti banyak sekali malu yang harus dihadapinya.
Untuk mengurangi kecurigaan, Arashi mengambil barang-barangnya dan pergi. Ia pamit dengan berkata bahwa jemputannya sudah menunggu di bawah. Padahal tidak demikian halnya, Arashi hanya pindah tempat. Ia pergi ke kelas sebelah dan menunggu di dalam sana. Edward tau jemputan Arashi belum datang, tapi mengapa gadis itu pergi?
Berulang kali Arashi menghubungi Ibundanya. Tetapi tak ada jawaban. Sampai akhirnya, ia pun tertidur.
Arashi terlonjak bangun dengan jantung yang berdegup kencang. Buru-buru melihat ponselnya yang menunjukkan sudah pukul enam. Ada tiga panggilan tak terjawab dan lima pesan baru. Takut-takut Ibunya sudah menunggu lama, Arashi pun buru-buru membuka pesan tersebut.
“Bunda lagi nggak di rumah rashi. Naik angkutan umum aja. Atau pesan ojek.’
“Jangan nunggu bunda.’
“Bunda pulangnya malam.’
Anak perempuan itu mendesah dan menaruh kembali tas besar yang ada di punggungnya. Mengapa ia harus menunggu selama ini jika akhirnya ia tidak akan pulang bersama Ibunda.
Arashi menyempatkan diri menyikap tirai jendela kelas tersebut sebelum pergi. Sudah gelap dan langit berwarna kemerahan di kejauhan. Sangat indah.
Kala memerhatikan pemandangan tersebut, mata Arashi tanpa sengaja menangkap suatu penampakan. Ia membelalakan matanya karena melihat gerbang dibawah yang sudah tertutup. Buru-buru ia mengambil tasnya dan keluar. Ia baru menyadari bahwa dirinya lupa menutup kembali tirai tersebut saat sedang menuruni tangga. Namun ia tetap melanjutkan langkahnya, menuju gerbang.
Gerbang hitam yang tinggi itu sudah dikunci.
“Ah!’ sesalnya.
Arashi bingung dan hampir menangis karena hal tersebut. Sudah berkali-kali ia mencoba mendobrak gerbang tersebut, namun tidak berhasil. Jalan raya di depan sekolah ini pun sepi. Tidak ada siapapun yang melihatnya.
Dia pun memutuskan untuk berjongkok di depan gerbang. Pasrah dengan nasibnya.
“Kamu ngambek, Rash?’ Ck, mengapa Edward justru melintas di pikirannya sekarang? Batinnya. Ini sedang gawat, tidak ada gunanya memikirkan laki-laki itu.
“Ibu kemana? Kok nggak jemput?’
“Nggak tau.’ Arashi menangis menjawab pertanyaan yang diajukan benaknya itu. Suara itu berasal dari dalam dirinya, tapi mengapa terasa begitu nyata?
Jawaban segera didapatkan dari sebuah tangan yang meraih pundaknya. Arashi berteriak dan menutup mata, mengira bahwa tangan itu adalah tangan penunggu sekolah tersebut. Ia takut hantu, mengapa justru disini sendirian? Di sekolah SMA ini, konon, sekolah ini dulunya bekas kuburan para tentara belanda yang gugur di medan perang. Tak heran jika banyak yang menunggu dan ada aktifitas di malam hari.
“Rashi! Kamu kenapa, sih?’ tegas Edward yang kini membungkuk di atas Arashi.
Gadis itu membuka matanya,
“Huh? Lho! Kok kamu masih disini?’ tegurnya.
“Kamu yang ngapain masih disini.’
“Aku… aku….’
“Ketiduran.’ Edward memasukkan tangannya ke saku celana.
“Iya. Ehehe.’
“Kamu ngapain disini?’
“Ngapain lagi? Ya, nunggu kamu, lah!’ sergah Edward.
“Ih, terus, sekarang kita kekunci disini?’
Edward tersenyum, gadis di hadapannya sudah lupa kalau ia sedang merajuk.
“Ya, gitu, deh.’ Edward mengulurkan tangannya, membantu Arashi bangun.
“Harusnya kamu pulang, Edward. Biar aku bisa minta bantuan kamu.’
“Rashi. Aku nggak bakal pulang kalo belum liat kamu keluar gerbang, oke?’
“Oke.’ Jawab Arashi, murung. Ia menundukkan kepalanya.
“Sekarang mau gimana?’ tanya Edward.
Gadis itu menggeleng,
“Nggak tau.’
“Yaudah, yuk. Kita kelilingin ruangan kelas dulu. Siapa tau ketemu sesuatu.’ Edward mendahului berjalan.
Arashi mengejarnya dengan berlari-lari kecil, berusaha keras tidak menimbulkan suara gaduh.
“Bukannya ada satpam yang jagain, ya, Ed?’
“Iya, seharusnya ada. Tapi ini nggak ada. Udah aku cek tadi.’
“Terus, kita disini sampai pagi?’ bahu mereka sudah berjalan beriringan.
Edward tersenyum nakal.
“Bagus, kan, aku jadi bisa—'
“Halah, nggak usah mikir yang aneh-aneh, deh, Ed.’ Tukas Arashi, ia paham betul apa yang sedang Edward pikirkan sekarang.
Hanya beberapa lampu di koridor yang menyala. Sementara di ruang kelas, semua lampu dimatikan. Jadi, jika ada sesuatu yang lewat di hadapan mereka, pasti akan segera ketahuan. Yah, semoga saja tidak ada.
Jika sekolah terlihat berbeda saat para siswa dan siswi sudah pulang, maka sekolah jauh terlihat lebih berbeda saat malam hari.
“Ed, Hubungi Ayah kamu coba. Siapa tau bisa bantu!’
Edward menggeleng.
“Ayah sama Mommy lagi liburan. Sekarang pasti belum pulang. Sudah, sih, tapi lagi kejebak macet. Jadi percuma.’
Edward kembali menggeleng,
“Nggak. Kan, nanti aku bawa kamu ke rumah.’ Godanya.
“Kenapa nggak pulang langsung aja daritadi? Kenapa harus nunggu jemputan kalau nggak ada yang jemput?’
“Kan, aku udah bilang, aku nggak bakal pulang kalo belum liat kamu keluar gerbang.’
Arashi mencibir Edward dengan bibirnya. Ia tidak percaya pada kata-kata yang baru saja keluar dari mulut laki-laki itu.
“Terus, kalau misalnya kamu dijemput sama orang tua dan aku belum pulang, itu gimana? Arashi mulai berandai-andai. Padahal ada sebuah masalah besar—yang nyata, yang harus ia hadapi.
“Ya, aku ajak bareng, lah.’
Arashi mengangguk-angguk kemudian merenung.
“Terus, kalau misalnya—‘ telunjuk Edward menempel di bibir Arashi, menyuruh gadis itu agar berhenti bicara.
“Denger sesuatu nggak?’ bisik Edward.
Bulu kuduk Arashi berdiri. Ia merapatkan jaketnya menahan dingin.
“Ada suara apaan?’ hatinya bergetar. Ia takut membayangkan sesosok pria bule dengan pakaian tentara tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Atau, jangan-jangan, suara yang dimaksud Edward adalah suara para tentara yang sedang berpesta atau bermain pingpong?
“Nggak ada suara apa-apa.’ Edward tertawa.
“Kamu penakut banget, Rash. Muka kamu tegang! Hahaha.’ Ejek Edward.
Arashi membalasnya dengan pukulan di lengan.
“Jangan bercanda, ih, Edward! Kamu nggak pernah dengar desas-desus kalau sekolah kita itu bekas kuburan belanda apa? Nanti, kalau beneran muncul gimana?’
Tawa Edward semakin terpingkal-pingkal. Sementara Arashi semakin jengkel. Ia ingin meninggalkan laki-laki itu disini tapi ia takut berjalan sendirian menuju gerbang karena kini mereka sedang berada di lantai dua.
“Arashi. Arashi. Kamu beneran si nomor satu ‘kan?’ kata Edward sambil menghapus air matanya.
“Kenapa emang?’ jawabnya polos.
“Hahaha. Waktu aku SD juga katanya sekolahku bekas kuburan. Terus, waktu SMP. Inget ‘kan? SMP kita? Itu katanya bekas rumah sakit jiwa.’
Arashi mengangguk, ia pun pernah mendengar desas-desus tersebut.
“Nah, sekarang, SMA kita katanya bekas kuburan, kuburan tentara Belanda lagi!’ Edward menggeleng-geleng tak habis pikir.
“Gini, Rash, logikanya. Sekolah kita itu sekolah favorit. Hampir setara sama sekolah internasional, bedanya, kita nggak pakai bahasa Inggris, jadi mana mungkin didirikan di atas kuburan tentara Belanda!’ jelas Edward.
Arashi termenung sejenak, memikirkan kata-kata Edward.
“Jadi, itu bohong?'
Edward mengangguk, “Iya.'
Saat itu, di kelas yang koridornya mereka pijak, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kelas mereka, sebuah bangku jatuh. Membuat pandangan mereka teralihkan. Membuat jantung Arashi berdegup lebih cepat dan alis Edward berkerut.
Mereka lihat-lihatan sejenak, kemudian Edward berkata.
“Pasti tadi ada yang nyusun bangkunya nggak bener. Ayok, kita taruh lagi.'
Arashi menggeleng dengan keras,
“Nggak. Biarin besok aja!'
Kekasihnya menggeleng,
“Sekarang.' Edward mengambil salah satu tangan Arashi dan menariknya.
Laki-laki itu membuka pintu dengan tegas, berjalan masuk melewati gelap dan mencari saklar lampu. Setelah ditekan, ruangan menyala. Pegangan Arashi melemas saat itu. Terlihat di hadapan mereka bangku yang jatuh barusan. Beruntung bangku tersebut tidak rusak ataupun patah.
Edward melepaskan pegangan tangannya dan mendirikan kursi tersebut alih-alih menyusunnya kembali. Ia pun berjalan ke tepi ruangan, mengambil kembali sebuah meja yang tadi disisikan. Ia menatanya bersama bangku tadi, meletakkan keduanya di tengah-tengah ruangan. Arashi diam, berusaha menebak apa yang sedang Edward lakukan.
“Ayo, duduk.' akhirnya laki-laki itu bersuara.
Gadis itu menurut dan duduk di bangku yang telah disediakan. Kemudian Edward berlutut di sisi bangku.
“Tadi siang kamu ngambek kenapa, Rash?'
Arashi membuang muka mendengar pertanyaan tersebut. Ia kembali ingat kalau ia sedang merajuk.
“Rash.' panggilnya lagi.
“Nggak apa-apa.'
“Kenapa?'
“Nggak apa-apa.'
“Aku tanya sekali lagi, kalau nggak jawab, aku cium. Kenapa?'
Pipi Arashi mulai merona sejak itu.
“Kamu nggak ngomong sama sekali sama aku waktu kamping.' katanya masih memalingkan wajahnya. Kini alasan mengapa ia harus melakukan itu bertambah, karena ia tak ingin Edward melihat pipi meronanya.
“Kita nggak satu kelompok.'
“Kamu sama dia juga nggak satu kelompok.'
“Dia siapa?'
Arashi diam. Membuat Edward harus berpikir lebih keras untuk memahami gadis di hadapannya.
“Bunga?'
Arashi menggeleng.
“Tiara?'
Gelengan kepala lagi.
“Sophia?'
Tidak ada jawaban.
“Sophia, Rash?'
“GAK TAU.' Edward terkejut dengan jawaban yang tiba-tiba itu.
“Hahaha. Dia temanku pas SMP, Rash. Yang pindah sekolah waktu kelas delapan. Nah, waktu kelas itu juga kamu dateng sebagai murid pindahan ke sekolahku. Inget?'
Arashi diam. Memikirkan jawaban yang diberikan Edward. Apa itu benar? Apa itu alasan mengapa Arashi tak pernah bertemu dengan perempuan tersebut? Edward tidak berbohong bukan?
“Arashi Griselda.' Edward bangkit dan menyandarkan dirinya pada meja di hadapan Arashi.
“Apa?'
“Makasih. Karena udah jujur.'
“Huh?' jawab Arashi bingung. Edward membungkukkan badannya dan mencium bibir Arashi. Gadis itu membelalakan matanya kala menerima perlakuan Edward. Di sekolah yang gelap dengan kelas ini saja yang terang, ia menerima ciuman pertamanya. Arashi mematung tidak tau harus berbuat apa.