SAVE ME

SAVE ME
Who knows?



Sweet love


☆▪☆▪☆


Laju mobil perlahan melambat sejak mereka tiba dijalanan kota dua jam lalu. Hari juga semakin gelap, Kini ketiganya menepi disebuah rumah makan pinggir jalan lantaran kondisi Hanna yang sudah tak kuat berbicara dan hanya bisa mengamuk saat Willi bertanya akibat rasa lapar dan kekesalan yang bercampur jadi satu.


Steven menjauh sejenak untuk menyulut sepuntung rokok setelah mereka menyelesaikan makan malam di sebuah kedai bertajuk 'Sedap Malam'.


"Willi,


Yang disebut menoleh menanti pertanyaan yang akan diajukan.


"Kau ingin bertanya sesuatu?."


"Kenapa kau sampai melakukan hal ini padaku?."


"Apakah masih butuh alasan untuk mengatakannya?."


"Setidaknya kau bisa menjelaskan pada ku penyebab tangan mu mengenakan perban seperti itu." Hanna mendengus kesal. Sebenarnya meski tak diberi alasan pun ia tahu jika pria itu me ... dirinya. Tetapi ia ingin tahu penyebab dirinya dibuang sejauh ini dan penyebab luka pada pria itu.


"Seseorang ingin melukai ku dan ... melukai mu karena kau telah menjadi bagian dari kisah hidup ku dan mengenai luka ini, itu semua karena ia mencoba menembak ku dan juga karena kurangnya kewaspadaan ku saat akan melawannya."


Beruntung pencahayaan didalam mobil tak begitu nampak karena kini mata indah itu telah basah dengan buliran bening yang mengalir perlahan.


"Itu artinya keberadaan ku juga merupakan ancaman bagimu. Lalu kenapa kau masih melakukannya?."


"Kau menangis?."


"Tidak!."


"Kau mencemaskan ku?."


"Tidak."


"Lalu?."


"Kenapa kau harus repot-repot menyukai ku, dasar G* bodoh!."


Willi terkekeh sementara matanya tengah memperhatikan bagaimana wanita disebelahnya berusaha menghentikan tangisnya sendiri sembari mengusap air matanya berulang kali.


"Aku tidak akan menipu hati ku sendiri dengan mengatakan jika kau bukanlah wanita spesial untuk ku."


"Tapi setidaknya kau tidak perlu mengorbankan diri mu sampai seperti ini." ucapnya dengan terisak.


"Wajah mu terlihat lucu nona." Willi berusaha menghibur wanita-nya(?) dengan membuat lelucon.


"Disini gelap, tidak mungkin akan senampak itu!." Hanna menggeram kesal sementara William tertawa bahagia karenanya.


"Aku tidak bisa membiarkan seseorang untuk menyentuh mu dan desa itu merupakan satu-satunya tempat yang aman dari pada harus mengirim mu keluar negeri dengan resiko yang lebih besar."


"Lalu apa sekarang orang itu tidak akan _


"Tidak, dia tidak akan bisa melakukan hal yang sama bahkan untuk sekedar mengancam ku saja ia tidak akan bisa dan jika dia tetap melakukannya akan ku pastikan bulan akan menjadi dataran sempurna untuknya."


"Kau terlalu berlebihan."


"Itu bahkan belum setimpal dengan apa yang telah ia berikan kepada ku selama ini." Kata-kata Willi membuat Hanna seketika tersadar jika yang dimaksud olehnya adalah pria yang telah mengadopsinya, pria yang sudah memberinya banyak kenangan buruk dan mungkin tak akan pernah lepas dari cerita kelam itu selama hidupnya.


Willi menundukkan wajahnya, berusaha membuang sejenak kenangan buruk yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tanpa disadari jika kini justru Hanna lah yang mendekatkan diri kearahnya.


Wanita itu mengulurkan tangan untuk meraih kepala Willi dan kemudian membawanya kedalam pelukan yang terasa begitu hangat juga menenangkan.


Lain Hanna, Lain pula yang dirasakan William. Entahlah mengapa pria itu tersenyum dalam pelukan dan malah menyamankan sandarannya pada pundak kecil wanita itu.


Hanna yang tersadar pun lalu melepaskan pelukannya sedikit kasar disertai cacian yang membuat Willi mendesah lesu.


"Kenapa kau melepasnya?."


"Justru aku yang ingin bertanya padamu, untuk apa tadi kau tersenyum?."


"Aku hanya menyunggingkan sedikit bibir ku, dimana letak salahnya?."


"Kau pasti berfikiran kotor!."


"Kau terlalu berlebihan nona."


"Aku menyesal telah melakukannya."


"Tapi aku tidak. Aku suka jika kau mau melakukannya lagi."


"Tidak perlu karena sebentar lagi semua akan menjadi kenyataan."


Hanna mengerutkan dahinya. Ia sadar jika setiap perkataan Willi itu merupakan sebuah pertanda, antara baik atau tidak. "Apa maksud mu?."


"Ayah mu tidak keberatan jika aku menikahi putri sematawayangnya."


"Kau ... !?. Kau gila William, bagaimana mungkin kau mengatakan itu kepada ayah ku!."


"Kenapa?. Apa kau akan menolak ku?. Mereka bahkan secara gamblang menyetujuinya kecuali dia."


"Aldric?."


"Ya, itu dia." William mengangguk


"Tapi aku juga tidak menyukai mu."


"in your mouth."


Tanpa ba bi bu William langsung memangsanya demi menghentikan ratusan cacian yang akan keluar setelah ia melakukannya.


Intens!. C!uman itu terasa begitu lekat hingga membuat tubuh Hanna membentur sandaran kursi dibelakangnya.


"Marry me ..." Pinta Willi sembari menyatukan dahi mereka setelah melepaskan tautan bibirnya pada Hanna.


"Tidak ada penolakan!. say 'Yes' then i'll give you my world."


"Don't say 'NO'." Lirihnya sembari menyematkan jari telunjuknya didepan bibir Hanna.


"Kau memaksa ku William, bagaimana aku akan menjawabnya."


"Aku akan terus mencium mu jika kau berani menolaknya."


"Ini tidak adil untuk ku!."


"Adil jika kau mau menerima ku."


"Tawaran ku adalah satu-satunya pilihan yang bisa kau terima meski diluar sana banyak yang memintamu." Lanjutnya dengan begitu santai.


"Lalu bagaimana jika setelah menikah kau justru tidak bahagia bersama ku?."


"Kebahagiaan sejatinya tercipta dari apa yang ada dalam fikiran kita." Willi menatap dalam netra indah yang juga tengah menatapnya dalam suasana gelap mobil pria itu. "Jika fokus mu adalah kebahagian maka dengan sendirinya kau akan menjauhkan pikiran mu dari beban berat yang tak perlu."


Sejujurnya Hanna ingin sekali berkata YES untuk lamaran pria itu, namun hati kecilnya masih belum yakin jika dirinya bisa menjadi sumber kebahagian untuk pria yang kini tengah bersamanya.


"Aku takut." Lirih Hanna pada akhirnya.


"Apa yang kau takutkan?. Harta, tahta, muda, tampan?. Sepertinya aku adalah paket komplit, dan juga kau bisa menjadikan ku sebagai ladang penelitian mu jika perlu."


"Aku takut jika nantinya kau akan kecewa karena ku." Hanna mengucapkannya sembari terus memainkan jemari tangannya.


"Tidakkah kau tahu jika manusia adalah tempatnya salah?. Lantas haruskah aku mengharapkan sebuah kesempurnaan untuk sesuatu diluar batas kemampuan ku sendiri. Bukankah itu namanya egois?."


Hanna tak lagi mengelak jika saja Willi mengajukan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.


"Marry me? atau aku akan menikahi siapa pun yang akan menjadi suami mu dimasa depan!." Ancamnya tanpa peduli respon Hanna karena kalimat yang ia berikan.


Hanna terkekeh sembari terus menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas permintaan William untuk menjadi satu-satunya wanita yang akan menemani setiap langkahnya dimasa depan.


"Yes, I will." ucapnya sembari terus mengusap lelehan bening yang membasahi kedua pipi mulusnya.


Senyum William mengembang dengan sempurna sembari memeluk tubuh ramping wanita masa depannya dengan tangan kanan.


Entahlah, perasaannya kini tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apa mungkin jika dulu ia mengutarakan isi hatinya pada wanita yang sama juga akan terasa seperti yang dirasakannya saat ini?.


Who knows?


♡♡♡


.


.


.


💕