
Malamnya, pemberitahuan lebih lanjut diumumkan di sebuah grup bernama Fisika 11. Disana dijelaskan apa saja yang akan dibawa dan peserta dari sekolah mana saja yang akan ikut Jambore tersebut. dijelaskan juga berapa biaya yang harus mereka keluarkan serta pakaian apa yang harus mereka pakai. Tak hanya itu, susunan acara pun sudah dibagikan beberapa. Tentu saja panitia pasti menyembunyikan beberapa dari daftar itu. Sesuatu yang menurut mereka akan dapat mengejutkan para peserta.
Hanya kelas sebelas yang boleh ikut acara berkemah tersebut. Kamping akan diadakan selama dua hari satu malam. Mereka akan berkumpul di sekolah pada hari Sabtu pukul tujuh pagi. Dan selanjutnya akan diurus oleh pihak sekolah.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi kemudian. Berpuluh-puluh susunan acara segera dibuat dengan daftar isi yang berlainan satu dengan yang lainnya. Seakan mereka mempunyai waktu luang disamping susunan acara dari panitia.
Setiap istirahat sekolah, Arashi; Bunga; dan Tiara membicarakan mengenai pembelanjaan kebutuhan kamping mereka. Kali ini, Bunga lah pemimpinnya. Sayang, Arashi tidak pernah ikut berpetualang langsung dalam membeli perlengkapan mereka. Ya, mereka berpetualang mendahului yang lainnya. Berpetualang dalam mendapatkan diskon dan bergulat dengan penjual dalam menawar harga. Arashi tidak pernah ikut karena ia disibukkan oleh bimbingan belajarnya. Ia merasa sangat beruntung karena kedua sahabatnya tersebut mengerti dan sama sekali tidak merasa telah menanamkan budi yang harus dibayar oleh Arashi di kemudian hari.
Waktu satu minggu berjalan sangat lambat bagi orang-orang yang bersemangat dan berjalan sangat cepat bagi mereka yang tidak menantikannya. Itulah lelucon tentang waktu. Ia hanya berjalan sebagaimana biasanya, perasaan dan pola pikir manusia lah yang membuatnya terasa berjalan cepat atau lambat.
Barang-barang Bunga, Arashi dan Tiara dikumpulkan di rumah Tiara. Tas sebanyak tiga buah. Tali sebanyak tiga buah dan jas hujan sebanyak tiga buah pula. Hal ini terlihat seperti orang tua yang memiliki anak yang kembar tiga. Jadi, setiap kebutuhan dan perlengkapan dibeli tiga kali lipat. Tetapi mereka mendapatkan banyak potongan harga karena membeli sekaligus tiga buah.
Sehari sebelum hari Sabtu, Arashi tidak pulang ke rumah. Ia menginap di rumah Tiara dan menuntaskan persiapannya. Tidak hanya Arashi, Bunga pun melakukan hal yang sama.
“Rash, sabun cuci muka aku mana? Udah kamu taruh di dalam tas aku?’ Tiara merogoh tasnya, mengecek satu persatu bagian dari benda tersebut untuk menemukan benda yang dimaksud.
“Tadi diambil Bunga.’
“Ish, si Bunga. Kebiasaan, deh! BUNGAAAA!’
“Apaan, Ra? Aku disini, nggak usah teriak-teriak.’ Jawab Bunga yang sedari tadi sudah berdiri di samping Tiara.
“Sabun cuci muka aku mana?’
“Tadi udah kamu ambil terus bawa keluar kamar.’ Jelasnya.
“Ish, kemana, sih.’
Tiara pergi keluar dari kamarnya dan meninggalkan Bunga serta Arashi. Tak lama kemudian terdengar suara jahannam dari belakang rumah. Tidak, bulu kuduk keduanya tidak berdiri. Mereka sudah sangat mengenal suara itu. Itu adalah suara Tiara ketika ia menemukan barangnya yang hilang. Sepuluh detik kemudian Tiara masuk. Di tangannya sudah tergantung sabun cuci muka berwarna merah muda, ia memasang wajah cengengesan saat membuka pintu.
“Hahaha. Ada di dapur masa.’
“Nggak heran. Pasti kebawa pas kamu ambil gunting tadi.’ Simpul Arashi.
Tiara duduk di ranjangnya dan memerhatikan, “Tunggu, deh. Sekarang guntingnya mana coba?’
“Tadi dipinjam Bunga.’ Jawab Arashi.
“Bung—‘
“KAN TADI AKU KASIH KE KAMU. PASTI DIBAWA LAGI KE DAPUR, DEH!’
“Eh, masa.’ Perempuan itu kembali berlari keluar kamar.
“Halah, déjà vu.’ Keluh Arashi.
“Temenmu, tuh.’ Desah Bunga.
Dengan wajah yang sama, ia kembali ke kamarnya dengan menenteng sebuah gunting bergagang hitam.
“Nih, nanti habis ini nanyain sabun cuci mukanya lagi, nih.’ Sambar Bunga, sewot.
“Nggak akan!’
Meski harus melewati banyak cobaan dalam mengemas, akhirnya tas mereka beserta tas tangan sudah duduk bersampingan. Tiara yang pelupa, Arashi yang ceroboh dan Bunga yang tak pedulian akhirnya bisa bersatu dalam sebuah kelompok dan sukses mengerjakan tugasnya masing-masing.
Terdapat perbedaan yang kentara antara tas satu dengan tas yang lainnya. Seakan tas-tas itu menunjukkan kepribadian mereka masing-masing.
Tas dengan muatan paling sedikit adalah milik Arashi. Ia tidak mengemas dan memasukkan banyak barang karena berpikir nanti yang akan dilakukannya hanya mengikuti perintah panitia. Jadi, tak perlu banyak persiapan. Toh, ia bisa meminjam kepada siapapun yang membawanya. Tas dengan muatan yang penuh adalah milik Bunga. Sedangkan tas dengan muatan yang penuh ditambah tas tangan yang juga penuh adalah milik Tiara. Sebenarnya, isi tas Bunga dan Tiara sama saja. Perbedaan ruang yang dibutuhkan hanya soal Bunga yang pandai mengemas barang-barang. Ia mengemasnya dengan sangat rapi dan efisien. Berbeda dengan Tiara yang asal-asalan.
“Besok kita terlambat nggak, ya.’ Kata Tiara saat ketiganya sudah berbaring di bawah selimut yang sama.
“Semoga nggak. Tapi bagus juga kalau terlambat, kita jadi nggak ikut. Hehehe.’ Bunga menimpali.
“Ih, Bunga. Aku udah capek-capek kemasin
barang-barang kamu malah bilang gitu.’
“Bercanda, Tiara.’
“Omongan itu doa!’ tukas Tiara.
“Iqbal Ramadhan jodohku, jodohku, jodohku. Aminnn!’
“Idih. Belum juga tidur, Bunga. Udah mimpi aja!’ sindir Tiara.
“Ih Tiara, mah, gi—‘
“Udah-udah. Mending pasang alarm aja. Jam berapa, nih, masangnya?’ Arashi sudah siap dengan ponsel di tangannya.
“Jam empat, Rash. Kan, nanti kita mandi dulu gantian.’
“Okay jam empat, ya.’ Arashi terlihat mengutak-atik ponselnya dan mendesah kuat setelah selesai.
“Disana ada kamar mandi nggak, ya.’ Kata Tiara, lagi.
“Kenapa? Mau jadi tukang jaga wc?’ sindir Bunga.
“Bunga, sekali lagi kamu kayak gitu aku usir, lho!’
“Ada kayaknya, Tiara.’ Arashi menengahi.
“Ada berapa, ya, kamar mandinya. Kan, nanti pesertanya banyak, kalo kamar mandinya dikit berarti kecil kemungkinan buat ke kamar mandi.’
“Iya juga. Nanti jangan-jangan kita nggak sempet buat buang air kecil atau cuci muka lagi. Apalagi mandi, ya.’ Desah Bunga.
“Semoga aja banyak. Kan, satu kabupaten jadi pasti banyak kamar mandinya.’ Simpul Arashi.
“Sayang banget Sari nggak ikut.’ Sesal Tiara.
“Iya, dia sama kita beda kabupaten, jadi, nggak bisa ketemu. Apa dia juga ngadain kemah nggak, ya, kabupatennya?’ kata Arashi.
“Nggak tau juga.’ Bunga menjawab.
“Kita kapan, ya, bisa ketemu sama Sari.’ Kenang Bunga.
“Tadinya aku sudah rencanain Minggu besok tapi ternyata kita berkemah.’kata Tiara.
“Mungkin minggu depan, tapi, minggu depan nggak tau aku bisa apa nggak. Ibu ajak aku pergi nonton pertunjukkan musik piano.’ Sesal Arashi.
“Kayaknya bulan depan baru bisa, deh.’ Kini giliran Tiara yang berbicara.
“Sayang banget, padahal kangen Sari.’ Bunga berdesis pelan.
“OH IYAA! TIARA! PACAR KAMU DATENG JUGA NGGAK? KAN, KALIAN SATU KABUPATEN!’ teriak Arashi.
“Sst! Pelan-pelan, Arashi. Udah malem. Nanti Ibu sama Ayah dengar gimana?’ kini giliran Tiara yang memperingatkan Arashi.
“Dateng nggak?’ Bunga berbisik.
“Dateng nggak, yaaaaaa.’
“Ih, Tiara! Datang nggak?’ ujar Arashi tidak sabar.
“DATENGGG!!!’ Tiara berteriak sambil menutup mulutnya dengan selimut.
“Asyik! Nanti kenalin, yaaaa.’ Bunga merespons cepat.
Tiara mengangkat bahu, “Nggak yakin aku. Biasanya dia sibuk sama temen-temennya. Tapi nanti coba aku usahain, deh.’
Topik ini membuat Arashi terpikir akan Edward. Apakah anak itu baik-baik saja dengan persiapan barangnya? Apa ia melakukannya dengan baik?
Perempuan itu mengambil ponsel di balik bantalnya dan mengirim sebuah pesan kepada kekasihnya. Tidak sampai satu menit kemudian Edward membalas.
“Iya, sudah aku siapin semuanya tadi. Sekarang mau tidur. Good night. See you tomorrow.’ Begitu isi pesan teksnya. Pikiran dan hati Arashi bisa tenang sekarang. Namun kembali terganggu oleh ocehan Tiara mengenai pacarnya. Pembicaraan hangat ini pun sudah dimulai.
Entah bagaimana, Tiara bisa mengetahui setiap detil dari kekasihnya. Bahkan, mantan pacarnya sendiri pun sudah seperti kakak laki-lakinya. Ia mengetahui keduanya seperti ia mengetahui Bunga dan Arashi. Arashi bingung darimana sahabatnya itu bisa mendapatkan informasi seperti itu, sementara Bunga lebih bingung lagi. Selama ini mereka selalu bersama-sama. Tetapi wawasan Arashi mengenai laki-laki selalu lebih luas dibanding dirinya.
Jika Arashi atau Bunga menyebutkan nama seorang laki-laki, maka Tiara bisa menyebutkan lusinan sifat dan perangai orang tersebut. Bunga menduga, Tiara memiliki mata-mata di setiap sekolah. Jadi ia bisa mendapatkan semua informasi tersebut dengan mudah, tanpa ia harus berada di tempat kejadian perkara.
Ketiganya baru tidur pukul satu pagi karena mereka memutuskan untuk menonton satu film sebelum tidur. Mereka melakukannya dengan tujuan membuang jauh-jauh perkemahan dari pikiran mereka.
Apakah yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Mereka tidak pernah tau. Tetapi, berbagai clue sudah bermunculan sejak awal diumumkannya hal ini. Andai saja mereka menyadari hal tersebut.
***
Di dalam bis yang mengantar para murid ke lokasi Jambore, para siswa dan siswi terlihat ceria. Arashi duduk bersama seorang perempuan bernama Tasya. Tentu saja, lubuk hatinya menginginkan Edward untuk duduk di sampingnya, jadi mereka bisa tidur berdampingan. Saling bersandar dan mendengarkan musik dari headset yang sama. Sayang sekali ia tidak bisa.
Sempat terjadi keributan saat pemilihan tempat duduk. Beberapa orang yang terlibat dalam sebuah ikatan persahabatan selalu ingin untuk duduk saling berdampingan, jadi kericuhan pun tak terelakkan. Sampai akhirnya Pak Dirga menengahi dan memutuskan untuk menentukan bangku dengan cara undian. Sedikit memakan waktu tetapi cukup adil. Pemilihan kursi rasa pemilihan presiden, batin Arashi saat itu.
Tunggu, teman dalam persahabatan selalu ingin duduk berdampingan, lantas, bagaimana dengan dirinya? Apakah ia dan Edward hanya menjalani hubungan sebatas persahabatan?
Anehnya, Bunga dan Tiara duduk berdampingan. Entah takdir macam apa yang menyertai mereka. Atau pelet apa yang dipakai oleh salah seorang dari mereka sehingga Pak Dirga pun tak dapat memisahkan keduanya.
Kini bis sudah menempuh perjalanan menuju lokasi dan keributan tetap terjadi. Ini disebabkan oleh perdebatan kecil mengenai pertandingan bola semalam. Hanya tiga orang yang terlibat namun berujung kepada siswa-siswa lainnya yang turut ikut campur. Terkecuali Edward. Ia adalah laki-laki yang paling anggun dan pendiam di antara yang lainnya. Arashi berpikir, jika diperbolehkan membawa hewan peliharaan maka Edward pasti akan membawa Yoo dan peliharaannya yang lain. Termasuk ikan cupang berwarna biru kesayangannya.
Ribut-ribut itu berhasil diam karena hadirnya sebuah radio. Saluran itu memainkan lagu lawas dari Queen yang berjudul Bohemian Raphsody. Semua yang berada di dalam bis bernyanyi bersama. Membuat bis tersebut ikut menghentakkan kaki dan bergoyang-goyang.
Open your eyes, look at to the skies and see.
Tidak ada yang tidur, mereka semua kompak bernyanyi bersama, termasuk Pak Dirga. Arashi yakin, rombongan ini tidak akan melakukan hal yang sama saat pulang esok hari. Mereka semua akan tidur dengan pulas. Tidak peduli lagu apa yang dimainkan oleh stasiun radio.
Arashi menginjakkan langkah pertamanya di jalanan yang beraspal. Bis ini tidak mengantarkan mereka sampai lokasi. Para peserta harus berjalan beberapa meter terlebih dahulu untuk sampai ke lokasi. Arashi bertanya-tanya mengapa, padahal jika memang dekat, rasanya tanggung untuk menurunkan mereka disini.
Matahari sudah bersinar di langit dan cahaya matahari pada jam-jam segini adalah cahaya yang bagus untuk kulit. Cahaya yang hangat. Namun hawa dingin tetap merasuk ke dalam pori-pori mereka. Arashi membawa tas besarnya di punggung dan membantu Tiara membawakan tas tangannya kemudian mereka bertiga berjalan menuju lokasi yang belum juga nampak. Saat berjalan, Arashi terpisah dari Edward. Laki-laki itu sudah berjalan lebih dulu di baris depan, sedang Arashi, ia terlambat karena membantu Tiara yang nampak kesusahan dengan barang bawaannya.
Samar-samar terdengar banyak suara di kejauhan. Arashi mendongakkan kepala dan menemukan hamparan hijau dengan banyak tenda sudah berdiri di sana. Di tengah-tengah pohon pinus yang indah dan besar-besar. Arashi segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi. Tentu saja bis yang ditumpanginya tidak dapat mengantar sampai lokasi. Tanahnya saja dipenuhi rumput. Ban bis tersebut akan terpeleset jika berjalan disini.
“Udaranya sejuk, ya, Rash. Beda banget sama di kota.’
“Iya, Bunga. Nggak ada polusi sama sekali. Aku baru tau ada tempat kayak gini di sekitar kota kita.’
“Yah, kalian berdua, mah, payah.’ Ujar Tiara dengan napas yang terengah-engah.
“Emang kamu tau tempat ini, Ra?’
“Tau, lah, Bunga. Nenekku tinggal di deket sini. Di desa sebelah sana.’ Tiara menunjuk ke arah mereka turun dari bis. Memang Arashi melihat sebuah permukiman warga di dekat sini namun rasanya jarak tersebut cukup jauh jika toilet dari rumah-rumah tersebut digunakan sebagai alternatif.
“Oalah. Berarti kita mainnya kurang jauh, Rash.’ Simpul Bunga.
Saat sudah sampai di lokasi Arashi baru menyadari satu hal, yaitu bahwa ini kedua kalinya ia melihat teman-teman sekelasnya memakai kaus biasa. Mereka tak memakai seragam lagi. Rasanya lucu, beberapa terlihat lebih cocok memakai kaus biasa alih-alih seragam putih abu-abu. Termasuk Edward, ia memakai kaus hitam polos yang dibalut oleh luaran berupa jaket denim serta celana training berwarna hitam juga. Edward terlihat lebih tampan daripada biasanya.
Kekhawatiran Arashi tak serta merta muncul begitu saja kala ia melihat banyaknya peserta yang ikut. Mereka semua terpisah pada kelompoknya masing-masing yang tentu saja dikelompokkan berdasarkan sekolah. Seperti Tiara, ia menjulurkan kepalanya tinggi-tinggi dan berusaha mencari ulamnya di tengah-tengah kerumunan tersebut. Tetapi ia tidak menemukannya.
Sementara Arashi, ia bisa dengan mudah menemukan Edward. Walaupun rasanya aneh karena mereka tidak saling bertegur sapa.
Edward berada di kumpulan laki-laki. Arashi bersyukur karena ia tidak mengucilkan dirinya sendiri dengan diam di pojokan.
“Edward Novaldo, ya?’ sapa seorang gadis berambut panjang yang memakai topi.
Edward menoleh. Arashi pun menoleh.
“Iya. Siapa, ya?’ laki-laki itu mengrenyitkan alisnya.
“Ini aku, Sophia!’
“Sophia?’ Edward memerhatikan gadis itu sebentar. Sementara Arashi terus memerhatikan keduanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa perempuan yang satu ini tidak bersama rombongannya yang lain? Ia hafal betul siapa saja teman-teman dari kelasnya, jadi ia tau pasti bahwa perempuan bertopi yang sedang bersama Edward tersebut tidak termasuk salah seorang dari mereka.
“Oh, Sophia!’ Edward berseru.
“Sophia?!’ Arashi berteriak di dalam hatinya.
“Udah inget?’ perempuan itu tersenyum.
“Iya, inget! Hehehe. Maaf tadi nggak sadar.’
“Nggak apa-apa.’ Beberapa teman Edward turut memerhatikan interaksi keduanya. Tak sabar menunggu perempuan itu pergi untuk melontarkan beberapa pertanyaan kepada Edward mengenai perempuan tersebut.
“By The Way, kenapa kamu disini? Rombongan kamu mana?’
Hati Arashi melompat kegirangan. Beruntung Edward memikirkan perasaan kekasihnya dan mengatakan hal yang juga mengganjal di pikiran Arashi. Ia benar-benar senang. Hal tersebut memang penuh tanda tanya, mengapa ia bisa terpisah dari rombongannya dan berakhir disini?
“Oh, tadi aku kepisah dari rombongan hehe. Gara-gara benerin tali sepatu, eh, malah ditinggal.’ Gerutunya.
“Kasihan. Mau aku bantu cariin rombongan kamu?’ air wajah Arashi berubah saat itu juga. Ia menjadi dingin dan tanpa ekspresi.
“Wah, emang boleh? Ntar kepisah sama rombongan kamu, dong?’
“Nggak apa-apa. Kelas aku laki-lakinya pada tinggi-tinggi, kok. Jadi gampang nyarinya walaupun di tengah banyak orang gini.’
“Huuu sombong. Yaudah kalo nggak apa-apa. Yuk, cari rombonganku.’