
☆▪☆▪☆
"Hanna!." Terlihat panggilan berupa video call dari Jannet yang tengah berada di kantor Healing Flower.
"OH honey, aku sangat merindukan mu."
"Aku juga!. Kau tahu, sejak kepergian mu kantor ini jadi semakin sepi."
"Kau bisa saja. Jelas sekali itu tidak sama dengan yang terlihat sekarang."
"Mereka teknisi yang sedang melakukan perbaikan pada instalasi listrik dilantai dua." Decakalan malas terdengar dari Jannet.
Hanna terbahak setelah mendengar perkataan Jannet mengenai orang-orang yang terlihat berada disekitarnya.
"Bagaimana dengan Mery, aku sudah lama tidak menghubunginya."
"Dia juga sudah pindah, sepertinya mertuanya terlalu menutup akses kebebasan untuknya demi anaknya yang_ yah kau tahu sendiri."
"Yah, aku bisa mengerti itu dan aku juga masih penasaran tentang apa yang menjadi alasan ia mau melakukan hal itu dengan seseorang yang jelas menjadi momok untuknya selama ini."
"Entahlah. Kurasa kita hanya bisa berdoa untuk kebaikannya."
"Kau benar."
*********
Akhir pekan ini para wanita yang dulu menjadi teman satu kelasnya saat SMA mengajaknya untuk berbelanja di sebuah mall dan Hanna tanpa ragu menyetujuinya setelah mengingat jika besok adalah hari dimana teman mereka akan menggelar pesta pernikahan, Eja.
Satu pesan dari Willi tampak menggantung di layar ponsel milik Hanna.
📩"kau pergi sendiri?."
Ia reflek menoleh ke kanan dan kiri guna memastikan jika pria dengan tingkah aneh itu tak berada disekitarnya. Namun dugaannya meleset karena kini justru Willi lah yang memberitahu posisinya yang berada di dalam sebuah cafe berdinding kaca tengah menatapnya.
Hanna melihat jika pria itu tidaklah sendiri, ada seorang wanita bersamanya. Tampak gelamour dan juga bertubuh seksi dengan pakaiannya yang minim akhlak. Siapa dia?.
Hanna tak mau ambil pusing dengan mendatangi Willi saat ini. Ia beralasan jika teman-temannya tengah memesan tempat untuk agenda mereka.
*****
Selama berkumpul itu pula pikiran Hanna tak bisa tenang. Ia memikirkan pria yang baru saja memergokinya, ah tepatnya saling memergoki.
"Apa dia tengah berkencan?. Tapi kenapa ditempat umum?. Bukankah dia jenis nokturnal?." Pikirannya terus bergelut, berusaha meyakinkan hatinya sendiri bahwa ia tidak sedang cemburu.
Sekitar satu jam lamanya para wanita itu berkumpul dan bernostalgia dengan semua kisah mereka semasa sekolah.
Hanna dan teman-temannya berpisah saat tiba dilobi. Beberapa diantaranya langsung disambut oleh supir pribadi sedang yang lainnya mengendarai mobil mereka sendiri namun tidak dengan Hanna. Ia memilih taksi sebagai angkutan pribadinya karena menurutnya lebih santai dan bisa berinteraksi dengan orang baru secara langsung.
"Hanna, ayo bareng aku aja, gak usah naik taksi!." Ucap salah satu temannya yang merupakan seorang karyawan diperusahaan BUMN.
"Makasih, duluan aja!. Aku masih mampir kepasar lagi." Tolaknya halus.
"Ya sudah kami duluan, hati-hati ya. Sampai ketemu besok!"
Percakapan itu berakhir dengan lambaian tangan sebagai simbol perpisahan.
Hanna berhenti tak jauh dari pintu loby untuk memeriksa isi ponselnya saat tiba-tiba lengan kokoh pria menariknya mendekat hingga tubuh keduanya saling bertubrukan.
AKGH!!!
"Maaf kak, maaf!." Ucap seorang pengunjung yang tengah mendorong troli dengan tumpukan berbagai macam belanjaan di dalamnya. Orang itu mengira jika dirinya hampir saja membuat Hanna cedera lantaran melihat pria bule itu menariknya sedikit kasar.
Namun siapa sangka jika yang dimaksud justru pergi tanpa sepatah kata.
Willi langsung menarik pergelangan tangan Hanna untuk membawanya pergi dari keramaian dengan segera.
"Lepas!."
"Tidak." Tolaknya dengan langkah mantab meninggalkan loby menuju parkiran yang terletak dilantai tiga menggunakan sebuah lift.
"Kau menarik perhatian orang lain."
"Itu terjadi karena kau terus menolak." ucap Willi sembari membenarkan kaca mata hitam yang tengah menggantung tampan dibatang hidungnya.
Hanna terdiam, benar apa yang dikatakan si sableng. Hampir saja ia tertawa karena kebodohannya sendiri.
"Untuk apa kau menyeret ku kemari?."
"Kau berjanji untuk menemani ku kesuatu tempat."
"Ha?." Wajah cantik itu tampak linglung. Pasalnya Hanna sendiri lupa kapan ia pernah berjanji dengan pria itu.
Tiba diparkiran Willi dengan segera membukakan pintu untuk Hanna dan mendorong wanita itu masuk agar tidak kabur.
"Apa yang akan kau coba gunakan sebagai alasan?." Hanna menatapnya penuh selidik.
"Kenapa kau menghindari ku?." Pertanyaan dibalas pertanyaan, dan Hanna dibuatnya bingung dengan jawabannya
"Apa karena ciuman itu?." Ucapan Willi benar-benar tak berfilter.
"Untuk apa bertanya jika Kau tahu sudah jawabannya." Hanna berusaha untuk tetap terlihat biasa saja meski jantungnya berdegub lebih cepat saat kilasan kejadian itu kembali menggelayuti pikirannya.
"Kau tidak suka melakukannya dengan ku?. Ah sayang sekali, padahal aku sangat suka jika kita sering melakukannya, aku suka milik mu terasa lembut." Willi menyentuh bibirnya sendiri dengan ibu jari.
"HEEIII!!!." Pekiknya penuh kekesalan. "Apa kau pikir hal itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang berhubungan tanpa status?. Dasar bule gila."
"Dari mana kau berpikir jika aku bule gila?."
"Hsssss!. Lupakan!. Jadi kemana aku harus menemani mu Mr. William?." Wanita itu tak lagi memandang wajah tampan Willi yang masih menatapnya. Ia justru sibuk menggaruk kakinya yang terasa gatal akibat terlalu menahan emosi.
.....
Selama diperjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya, hanya irama lullaby yang berulang kali terdengar dan itu benar-benar membuat Hanna ingin sekali tertawa lantaran melihat kemacetan yang terjadi selama perjalan sangat tidak sesuai dengan musik yang ada, bak sebuah film konyol bergenre komedi - horor dengan judul 'lullaby traffic comedy.'
"Kenapa kau tersenyum." Tanya Willi pada akhirnya setelah beberapa kali mendapati pantulan wajah hanna pada kaca jendela dengan sudut bibirnya yang terlihat menyunggingkan senyum.
"Tidak ada."
"Kau menertawakan musik ini."
"Tidak bisakah kau diam saja Mr. William ketika dirimu sudah mengetahui jawaban untuk pertanyaan mu itu." Hanna mendengus malas.
"Sebentar lagi kita sampai."
Hanna melihat kesekeliling lokasinya berkendara.
Tidak ada gadung-gedung mewah yang terlihat. Hanya kelompok rumah-rumah kecil dan sedikit usang yang terletak dibawah kaki bukit.
"Kita berada diluar kota?." Hanna melongo, ia benar-benar terkejut setelah menyadari lokasi dimana Willi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Lima menit lagi kita akan tiba." Willi tengah fokus dengan jalanan dihadapannya yang terlihat begitu sepi.
"Kau tidak bermaksud menelantarkan ku disini bukan?!." Tatapnya penuh selidik.
"Itu_bisa saja terjadi." Jawabnya sembari menaikan bahu dan kedua alis tebalnya. "Ku pikir kau sudah paham bagaimana cara orang gila bermain." Willi terkekeh untuk sesaat.
"Dasar Licik!." Umpat Hanna dengan wajah kesalnya
*****
Willi tak berbohong, setelah lima menit akhirnya mobil mereka tiba di tempat yang sebelumnya tak pernah terfikirkan oleh Hanna. Pria itu benar-benar mengajaknya ke sebuah 'pasar'.
Pasar yang tidak sekedar pasar pada umumnya dimana orang menjajakan dagangan mereka berupa sandang dan pangan, melainkan sebuah pasar dimana nikmat batiniahlah yang diperjual belikan.
Willi memberikan masker kepada Hanna untuk digunakan. Tidak, bukan untuk debu. Melainkan menghindarkan permatanya dari para predator.
"Untuk apa hoodie ini?."
"Agar aku tak perlu memelukmu."
"Kau_!!!."
"Pakai semuanya."
"Kenapa aku harus memakai semuanya?. Kau bahkan tidak mengatakan jika disini ada razia kostum."
"Jika kau tidak mau maka jangan salahkan aku jika seseorang akan menepuk bok*ng mu nanti." Willi berucap dengan santainya sembari mengetikan sesuatu pada ponsel hitam dalam genggamannya.
"Katakan pada ku tempat apa ini?."
Willi menoleh sesaat dengan wajah innocent sembari memasang kaca mata hitam yang terlihat sangat pas dengan wajah tampannya.
"Prost*tusi."
"AP_PA!. K_au tidak be_bermaksud menjualku kan?." Wajah cantik itu seketika pias.
"Jika ada yang menawar, kenapa tidak?."
"Kau gila Willi!." Bentaknya dengan mata memerah, "Dasar pria gila_
_Gila!.
AWW!
_Gila!.
AGH!, AWW!.
_Gila!.
SUDAH!, AGH!
_mati kau!.
AKU HANYA BERCANDA!
Hanna terengah-engah setelah memukuli si bule sableng dengan sepatu ketsnya berkali-kali.
"Aku bercanda!. Sungguh!." Willi mengacungkan dua jarinya sebagai tanda damai demi kepala dan lengannya yang kini tengah berdenyut nyeri.
Hanna tak lagi memperdulikan ucapan Willi, ia segera merapikan rambut panjangnya yang semula berantakan bak rambut jagung lalu memasukkannya kedalam hoodie yang Willi berikan kemudian memakai celana longgar dan sebuah topi untuk menutupi tampilan aslinya.
"Ini panas sekali!." Gerutunya saat keduanya keluar dari mobil.
"Sabarlah sementara, aku akan menggantikannya dengan bikini saat kita kembali ke kota."
"Cih!!. Dasar maniak." Hanna berdecih dibalik masker yang dikenakannya.
"Hanya dengan mu, bagaimana bisa kau menyebutnya maniak?." Willi hampir gila menghadapi betina disampingnya. Benar-benar mengerikan, seperti singa!.
.
.
.
Tbc.