SAVE ME

SAVE ME
Lebih dari itu



♡●♡●♡


William terlihat santai mengenakan setelan kemeja maroon dengan bagian lengan yang ia gulung sampai batas siku. Dihadapannya duduk seorang pria tua dengan dandanan tak kalah tampan darinya.


Barayev Dalbelrt, dialah orang yang selama ini menjadi bayang-bayang hitam dalam kisah kelam kehidupan seorang Gerald William. Tepatnya pria itu merupakan sutradara sekaligus produser dalam alur cerita diwaktu William remaja.


Tak ada kenangan indah didalamnya, tidak ada yang bisa William ingat selain kekerasan yang ia dapati sehari-hari sampai akhirnya ia meninggalkan pria yang telah memberinya materi dengan imbalan yang tak biasa itu.


"Kau terlihat begitu nyata my Willme." Bara menatap wajah tampan William sembari mengusap bibirnya dengan ujung jari.


Beruntung keduanya dipisahkan oleh meja panjang yang berada diruangan William jika tidak, mungkin saja William sudah menendang wajahnya yang terlihat bagaikan seekor kecoak itu hingga tersungkur, menjijikan!. Ya, Bara lah yang menemui William bersama dengan dua orang bodyguard yang senantiasa menemani langkah busuknya.


"Apa yang kau inginkan?." Willi menatapnya tajam sembari menyamankan tubuhnya pada sandaran sofa.


Bara terkekeh ia sama sekali tak peduli jika kini anak asuhnya itu menjadikannya musuh.


"Tak ku sangka kau akan tumbuh lebih baik sejak terakhir kau melarikan diri dari istana ku."


"Pergilah jika tidak ada yang ingin kau katakan."


"Sikap mu sudah banyak berubah. Apa karena wanita itu?."


"Siapa yang kau maksud?."


"Jangan berpura-pura bodoh dengan ucapan mu. Apa kau pikir jika selama ini aku tidak mengawasi mu?." Bara menyunggingkan senyum liciknya kala melihat perubahan raut wajah William. "Kau milik ku Willme, langkah mu akan terus berada dibawah pengawasan ku."


"Kau seperti sampah busuk yang harus dilenyapkan." William semakin geram setelah mendengar ucapan Bara yang dengan sengaja memprovokasinya.


"Cobalah jika kau bisa. Karena semua yang tengah bersama mu sudah berada dibawah kendali ku, termasuk teman kencan mu itu."


Ucapan Bara mulai memantik amarah William. Rahang kokohnya seketika mengeras dengan urat wajah yang semakin terlihat menghiasi dahinya. "Aku tidak akan melepaskan mu jika kau berani menyentuhnya bahkan seujung kuku kotor mu sekalipun."


"Kau terlalu posesif kepadanya."


"Dan kau menjadi gila karena tidak bisa melihat kebahagiaan orang lain." Ucapan William membuat wajah tua Bara berganti aura.


"Kurasa wanita itu terlalu besar memberikan pengaruhnya kepada mu dari pada anak tunggal keluarga Trainor yang bodoh, lihatlah kau semakin berani setelah menghasilkan uang sendiri."


"Pergilah sebelum kesabaran ku habis."


"Kau mengusir ku karenanya?." Bara menggeleng tak percaya disertai senyuman tipis yang seolah tengah menertawakannya. "Dengarkan aku Willme." Tatapan pria itu berubah setelah William terang-terangan mengusirnya. "Kembalilah padaku atau kau akan melihat namanya menjadi salah satu tamu dikrematorium."


Sebuah ancaman yang membuat pikiran William semakin buruk.


Tanpa permisi William menendang meja yang menjadi pemisah diantara keduanya dengan begitu kuat hingga memecahan kaca yang menjadi alas permukaannya dan secepat itu pula Bara mengeluarkan senpi jenis revolver yang selalu melindunginya dari jangkauan para musuh.


William benar-benar tidak peduli jika pria gila itu akan menembaknya sebab yang menjadi incarannya saat ini adalah dua bodyguard yang tengah menghalanginya untuk mendekati sang majikan.


"Kalian adalah dua anj*ng bodoh yang tak bosan diperalat oleh pria menjijikan sepertinya." Kata-kata William sebelum akhirnya berduel dengan dua pengawal Bara.


Perkelahian itu benar-benar membuat Bara terhibur karena live action yang ia lihat sembari menikmati sepuntung rokok di tempat yang sama.


*****


Ruangan Willi seketika porak-poranda dengan hampir keseluruhan aksesoris dan juga properti yang hancur karena duel maut diantara ketiganya.


Dua bodyguard telah tumbang dengan luka tusuk serta patah tulang dihampir setiap anggota gerak mereka dan kini hanya menyisakan si tua bangka yang menjadi fokus Willi.


Revolver milik Bara menjadi titik fokus utamanya. Tak ada yang bisa melawan kecepatan senpi ketika pelatuk itu ditarik, namun Willi sudah tidak peduli jika tua bangka itu mengincar kepalanya karena jika ia harus mati begitu pula dengan Bara.


"Kau sengaja melakukannya?." Bara tampak begitu tertarik meski ia sama sekali tak menurunkan senpi yang sejak tadi mengarah pada Willi.


William hanya menanggapinya dengan seulas senyum tipis. Ia sungguh jijik dengan wajah 'ingin' yang Bara tunjukan saat melihat penampakan asli tubuhnya kini. Willi mungkin tak akan segan untuk melucuti seluruhnya jika saja itu Hanna, tapi sayang sekali itu hanya sebuah angan-angan yang entah akan terjadi atau tidak.


"Tunjukan milik-mu Willme." Bara setengahnya sudah terperangkap. "Aku ingin melihatnya lagi."


Willi berjalan santai bak seorang model ke arah Bara sembari mengurai ikatan sabuk pada pinggangnya lalu menurunkan pengait celana slim fit yang ia kenakan secara perlahan. Ah ini benar-benar menjijikan!. Willi bisa saja pingsan setelah ini karena terlalu jijik melihat wajah aneh Bara saat menikmati dramanya.


Hannaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ........ i need you!


Wanita itu pasti akan lari terbirit-birit jika melihatnya dalam keadaan seperti ini atau mungkin ia akan langsung melaporkan William dengan tuduhan pelecehan s*ksual kepadanya.


●□●□●


Di tempat itu, Hanna bersama beberapa orang penduduk wanita tengah mengerjakan beberapa anyaman dari bambu yang akan mereka pasarkan nantinya setiap tiga bulan sekali.


Awalnya ia tak akan mengira jika Willi justru mengirimnya ke sebuah desa dengan jumlah penduduk terbatas seperti ini. Keadaan alam disekitar membuatnya berfikir jika kehidupan mereka masihlah bergantung pada kekayaan alam, bukan seperti dirinya atau penduduk kota lainnya yang menghasilkan uang dengan cara modern.


"Sejak kapan kau mengenal William?." Tanya seorang wanita tua berusia sekitar enampuluhan.


"Kami teman lama."


"Teman lama?."


"Ah maksud ku, kami teman sekolah saat SMA."


"Lalu sejak kapan kau menjadi kekasihnya?."


"Kekasih?."


"Ya, bukankah kau kekasihnya?."


*Dasar Steven sialan!. Apa yang dia katakan kepada orang-orang tentang ku. Lihat saja kau nanti.* Batinnya ingin sekali berteriak.


"Tidak, kami hanya teman." ada tawa canggung setelah Hanna mengucapkan kalimatnya.


"Steven tidak mungkin sampai melakukan hal ini jika kau bukan sesiapa bagi William."


"Kami sangat mengenal siapa anak itu." seorang wanita lain menimpali.


"Kau pasti tidak begitu tahu tentangnya." Ujar wanita paruh baya yang menjadi pemilik rumah dimana Hanna tinggal.


"William, anak itu merupakan berkah bagi kami para penduduk disini." Ucapan itu membuat Hanna seketika menghentikan aktifitas tangannya guna menyimak apa yang akan wanita tua itu sampaikan kepadanya.


"Apa dia pernah tinggal disini sebelumnya?." Tanya Hanna begitu penasaran.


"Tentu tidak, tapi lebih dari itu."


.


.


.


Tbc.