SAVE ME

SAVE ME
Delapan



Dengan senyum yang mengembang sempurna, Arashi menaiki motor tersebut.


Keduanya saling berteriak ketika motor itu menelusuri jalan raya. Ini pertama kalinya anak perempuan itu keluar saat jam pelajaran. Pertama kalinya ia melihat jalan raya dan aktifitas manusia pada jam-jam segini diluar hari libur. Baginya, ini hal yang luar biasa. Begitupun bagi Edward. Untuk pertama kalinya, keduanya membolos. Ini benar-benar untuk pertama kalinya. Dan mereka tidak mengetahuinya, bahwa ini juga akan menjadi yang terakhir.



“Rash, seru, yaaaa.’ Seru Edward.



“Belum, aku juga laper kokk.’ Sahut Arashi dengan suara yang dibesar-besarkan.



Laper? Apa hubungannya? Arashi ngasih kode? Gumam Ed.



“Rash, kamu laper?’ tanyanya.



“Hah? Apaan?’



Edward mengurangi kecepatan motornya.“Mau makan apa?’



“Oh, iya. Hehe.’ Tawa Arashi.



Dalam hati Edward bertanya-tanya, apa Arashi sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya.



“Maksudnya, Rash?’ Tanya Edward lagi untuk memastikan hipotesisnya.



“Maksud apaan? Kok nggak nyambung, sih, Ed!' Gerutu Arashi tidak sabar.



“Tadi aku nanya, seru gak? Eh, malah kamu jawab laper. Terus aku tanya lagi, mau makan apa? Eh, kamu malah bilang iya hehe.’ Terang Edward.



Arashi tertawa lepas, “Maaf-maaf. Aku salah denger tadi.’



Di balik helm, Edward memutar bola matanya. “Kirain apaan emang?’



“Nggak, bukan apa-apa.’ Ujar Arashi. Untuk mengulang pertanyaan dari awal pun Edward enggan.



“Sekarang kita mau kemana? Langsung ke rumahku aja?’



“Ke perpus, yuk! Pasti sepi!’ usul Arashi bersemangat.



“Ayuk-ayukkk,’



Baik itu nomor satu maupun nomor dua, keduanya sama aja. Bukan bioskop, bukan tempat wisata, bukan juga warnet melainkan perpustakaan! Keduanya membolos dan pergi kesana.



Karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh dan membutuhkan waktu yang juga tidak sedikit, mereka banyak berbincang-bincang mengenai buku apa yang akan mereka baca, berapa banyak, apa urutannya dan berujung kepada topik Ibu Ed. Mereka hanya sebentar membicarakannya sebab perpustakaan sudah di depan mata.



Tidak salah mereka memilih perpustakaan di pusat kota—di samping balai kota lebih tepatnya. Perpustakaan itu tetap buka dan mereka bisa dengan mudahnya masuk.



Penjaganya adalah seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu disini. Arashi heran mengapa laki-laki itu tidak menanyakan alasan mereka membolos. Mungkin karena terlalu sibuk, atau lelah dengan rutinitas sehingga tidak mengacuhkan orang lain, atau mungkin ia memang pendiam.



Anak perempuan itu heran karena biasanya bukan mahasiswa laki-laki tersebut yang menjaganya, melainkan seorang Ibu rumah tangga.



“Ed, kok kita nggak ditanya-tanyain, ya?’ bisik Arashi saat mereka selesai menitipkan tas mereka.



Edward mengangkat bahu, “Malah bagus, kan.’


Arashi menggeleng keras-keras, “Nggak, lah! Malah bikin curiga!’



Anak laki-laki itu diam dan menatap kekasihnya lama. Lalu mengacak-acak rambut Arashi yang memang sudah berantakan karena angin.



“Udah bagus nggak dicurigain, eh, malah kamu yang curiga.’ Edward menggeleng-geleng, mendahului gadis itu dan pergi menghampiri buku-buku.



Anak perempuan itu terdiam sejenak, memikirkan kata-kata kekasihnya. Benar juga, batinnya. Rasanya seolah-olah prasangka itu harus ada. Bila tidak orang lain, maka harus diri sendiri yang melakukannya. Mungkin ini adalah norma tak tertulis di masyarakat yang sudah mendarah daging, bahwa prasangka itu harus ada. Padahal sebenarnya tidak perlu.



Selangkah ia melewati pintu ruang dimana puluhan rak-rak buku mematung, pikiran Arashi buyar. Ia lepas kendali. Semua rencana yang sudah ia rembuk bersama Edward seakan luput dari pikirannya. Urutan buku yang akan ia baca seakan sudah hilang dari otaknya, ia justru memilih satu rak diantara rak lainnya dan mencari buku yang menarik pada rak tersebut.



Edward sudah mengetahui akan seperti itu jadinya, ia hanya menggeleng-geleng kepala melihat Kekasihnya. Kemudian fokusnya pindah kepada dirinya sendiri, ia mencari buku yang sudah dicarinya sejak dahulu. Menurut cerita orang-orang, buku itu bisa membangkitkan rasa kantuk pada setiap orang yang membacanya. Ia ingin mencobanya dan tertidur disini. Sebelum ia menceritakan hal besar pada gadis yang sedang mabuk kepayang dengan rak-rak bukunya. Benar, kapan saja bisa asal sebelum mereka berdua ke rumahnya.



Anak lakki-laki itu tidak menemukan buku yang dimaksud, tetapi ia tidak kecewa. Ada banyak buku tebal yang bisa membuat dirinya tertidur. Edward memilih salah satu buku yang bersampul hijau muda, banyak isi bukunya adalah 346 halaman. Ia membawa buku itu menuju tempat membaca. Sebelum mulai membaca, Edward memerhatikan sekitar sejenak. Hanya ada tiga orang selain dirinya.



Ed membuka buku dan mulai membaca. Lima halaman kemudian, ia tidur.



Ada sebuah buku yang menarik perhatian Arashi lebih dari buku lainnya. Pada sampulnya, tergambarkan wajah seorang Ibu—wajahnya benar-benar menyiratkan kalau seseorang pada gambar itu adalah seorang Ibu, Ia terlihat ceria di depan anaknya, namun, di dalam pikirannya ia depresi dan kelelahan. Air muka ceria Arashi memudar perlahan-lahan kala memerhatikan buku tersebut.




Arashi berlalu hanya dengan membawa satu buku, seakan ia akan fokus membaca buku tersebut hingga ia pulang.



Di dalam ruang baca yang cukup cahaya dan ventilasi yang baik, mata Arashi menelisik mencari sosok Ed. Si nomor dua rupanya sedang tidur dengan buku yang terbuka berada di bawah wajahnya. Anak perempuan itu sontak naik darah, ia membangunkan Ed dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Ed bangun dengan mata merah yang sipit.



“Itu nanti bukunya rusak, Ed! Jangan ditidurin!’ omel Arashi. interaksi mereka berdua menarik perhatian pembaca-pembaca lainnya.


Alasannya tidak lain adalah karena disana tidak boleh gaduh. Gelagat Arashi yang seperti Preman itu tentu saja akan mendapat sorotan.



“Oh, maaf. Aku nggak tau.’ Edward menghapus liur di pipinya. Lalu menutup buku dan kembali tidur. Arashi memutar bola matanya dan duduk di kursi kosong di samping Edward.



“Ck! Ed, lihat-lihat aku bawa buku apa!’ Arashi kembali mengguncang-guncangkan Kekasihnya.



“Buku apa?’ desis Ed pelan, masih sambil menutup matanya.



Arashi mendekati wajah Ed, kemudian berbisik di telinga laki-laki tersebut, “Buka dulu matanya!’ ada rasa kesal dan paksaan pada intonasi anak perempuan itu.



Dengan segudang rasa malas, Edward bangun dan melihat kepada Arashi yang memamerkan bukunya sambil tersenyum. Laki-laki itu mendekati Arashi, ingin melihat buku itu lebih dekat. Arashi justru gugup kareba gerak-gerik kekasihnya, keduanya memasuki zona CO2 yang mana jarak terdekat keduanya selama mereka berteman hingga berpacaran. Walau ia hanya bisa melihat telinga dan hidung Edward, jantungnya tetap bergedup dua kali lebih cepat. Ia kembali bica mengendus aroma tubuh Edward. Aroma itu memasuki indera penciuman Arashi dan membuyarkan pikirannya.



Pipinya merona.



Ed menjauhkan wajahnya dan tersenyum hangat.


“Iya, bukunya pasti bagus banget.’ Nilainya.


Arashi mengangguk dengan semangat, “Kalo bisa, mau aku habisin hari ini juga!’



Ia kembali tersenyum hangat, tidak tau lagi harus memberikan respons yang bagaimana. Sampul buku itu mengingatkannya pada sesuatu, membuat hatinya terlelap dalam kehangatan.



Oke, kasih tau sekarang! batin Edward.



“Rash,’



“Hmm?’ gumam Arashi tanpa memindahkan perhatiannya dari buku tersebut.



“Mau tau cerita yang lebih menarik dari itu nggak?’



Kata-kata Edward sukses menarik perhatian Arashi, “Di buku yang mana?’ tanyanya.



“Sini, ikut aku.’ Laki-laki itu berdiri, tak lupa juga membawa buku tebalnya.



Dengan sejuta kemalasan, Arashi bangkit dan mengikuti Kekasihnya. Keduanya melewati rak-rak buku dan justru menuju ruang diskusi di tempat yang berbeda. Arashi mengira-ngira, kira-kira cerita mana yang dimaksud Edward? Apakah dari buku yang ia baca?



“Lho, Ed, bukannya mau milih buku?’ anak perempuan itu mengejar laki-laki di depannya sambil terus terpaku pada pemandangan rak-rak yang sudah dilewatinya.



“Bukan,’ jawab Ed dingin. Arashi diam, ada lebih dari selusin pertanyaan yang tertahan di dalam pikirannya. Tapi biarlah, ia akan menjawab semuanya sendiri satu-persatu,


Karena suasana hati Edward sedang tidak bagus.



Kini mereka sudah duduk di salah satu meja yang memiliki empat bangku perorangan. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu, kini ruang diskusi itu seakan hanya milik mereka berdua.


Edward dan Arashi duduk berhadap-hadapan, itu atas perintah Edward. Awalnya, Arashi ingin duduk di samping kekasihnya tapi lawan bicaranya itu menolak. Segera setelah duduk, Arashi menyadari satu fakta yang sangat penting, yaitu bahwa buku yang ada dalam genggamannya ini tidak akan berguna di ruangan ini. Juga bahwa ia tidak akan bisa menghabiskan bukunya dalam satu hari.



Anak perempuan itu duduk manis, bersiap mendengarkan kata-kata yang akan keluar dari mulut laki-laki berseragam di depannya.



Edward mengucapkan kata-kata pertamanya, “Kayaknya, Ibu kena gangguan mental.’



Hening menyelimuti keduanya. Edward sengaja mengatur keadaan agar menjadi seperti itu.



Lagi-lagi, Arashi menahan banyak pertanyaan yang muncul di pikirannya. Ia tidak boleh memotong cerita dari laki-laki di depannya, Arashi yakin, lawan bicaranya pasti sudah menyiapkan strategi tentang bagaimana ia akan mengatakannya. Karena itu, ia tidak boleh mengacaukan rencananya hanya dengan beberapa pertanyaan.



“Waktu itu malem-malem dan Ayah belum pulang. Aku lagi main-main sama Yoo di bawah tangga, nah tanpa sengaja aku liat Ibu minum semacam pil gitu. Sebelumnya aku nggak tau kalau Ibu minum obat belakangan ini. Makanya waktu aku ngelihat Ibu minum obat, aku langsung ngira kalau Ibu sakit. Tiba-tiba, Ibu mual dan buru-buru pergi ke kamar mandi. Karena nggak ada siapa-siapa, aku pergi dari bawah tangga yang nggak sengaja aku jadiin tempat persembunyian. Aku keluar dari situ terus ngeliat obat yang Ibu minum. Kemasannya bahasa negara lain, bukan bahasa Inggris, jadi aku nggak bisa baca. Karena aku juga nggak tau apa nama obatnya dan masuk ke jenis mana, aku ambil satu pilnya terus langsung pergi lagi. Balik ke persembunyian.’



“Terus, nggak lama kemudian Ibu balik. Minum air putih dan beresin obat-obatnya. Oiya, obatnya ada lebih dari satu. Ukuran, bau sama warnanya beda-beda. Yang aku ambil cuman satu. Yang warnanya kuning dan ukurannya biasa. Standar. Disitu aku bisa nyadarin kalo ada sesuatu yang nggak beres, makanya walaupun aku tau Ibu minum obat tapi aku ngggak nanya Ibu sakit apa. Aku cuman diem aja. Karena kalau emang Ibu sakit biasa, dia pasti bilang dan minta beliin ini itu. Tapi kali ini nggak,’



“Nah, kebetulan pas kemarin, aku ada kesempatan buat ketemu dokter. Disitu aku nggak sama Ibu, jadi aku sengaja bawa obat itu buat nanya langsung apa nama dan jenis obatnya. Pas udah diselidikin, Dokternya malah nanya aku dapat darimana obat itu, katanya. Aku bilang aja itu punya saudara, walaupun malah bikin curiga. Dokter bilang itu obat penenang. Yang buat ngatasin halusinasi karena banyak pikiran. Biasanya itu obat pendamping. Obat yang aku kasih itu bisa dibarengin sama obat lainnya buat nyembuhin suatu penyakit. Dokter itu nyebutin apa aja penyakit yang bisa disembuhin atau seenggaknya, dikurangin.'


“Disitu aku kaget karena apa-apa yang disebutin. Dia bilang, stress berat, DID, Bipolar, Psikopat waktu hasratnya muncul, Schizofrenia, dan banyak lagi.’



“Aku nggak percaya, kan, buat memperjelas, aku tanyain langsung apa nama obatnya. Setelah tau dan pulang, aku buru-buru nyari kegunaan dan efek samping obat itu di internet. Dan, ternyata benar apa kata dokter. Semua yang dibilangnya betulan. Dari khasiat, efek samping sampai ke kegunaannya. Disitu aku nggak percaya kalau Ibu punya gangguan mental.' Edward menghela napas, memberi jeda sebelum berkata lagi.



“Tapi kalo dipikir-pikir, emang, sih, Ibu minum obat itu tiap nggak ada aku atau Ayah doang.’