SAVE ME

SAVE ME
Salam untuknya



☆♡☆


William mendekap erat tubuh wanitanya. Sedikit banyak ia telah berusaha memahami bagaimana cara wanita berfikir. Tidak seperti dirinya dulu yang hanya berfikir jika suatu hubungan hanya akan menghambat proses dirinya menuju sebuah kesuksesan.


"Aku tidak melakukan apapun."


"Tapi dengan hanya kau berdiri diluar saja sudah membuat banyak wanita berpikiran liar tentang mu." Hanna benar-benar dibuat cemburu dengan kehadiran William dikantor yang pada kenyataannya pria itu benar-benar tidak berniat menarik perhatian siapa pun.


"Kau cemburu?."


"Tentu saja, siapa yang rela jika prianya menjadi bayangan liar para wanita yang tidak lain adalah teman sekantor mu sendiri."


Willi tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya kala wanita itu terlihat malu dan menenggelamkan wajahnya dalam dekapan.


"Percayalah, mereka hanya bisa membayangkan namun tidak bisa menikmatinya seperti mu."


Willi melakukannya lagi,


Malam itu ditengah dinginnya suasana setelah hujan mengguyur sore tadi, Willi kembali memeluk erat cintanya, Memeluk wanita yang sama seperti malam itu diruangan Steven juga didalam jeep miliknya yang sekali lagi menjadi saksi bisu tentang keduanya. Namun sayang aksi mereka harus terganggu oleh seseorang yang sejak tiga menit lalu berdiri dipintu pagar,


Chris?.


"Tidak bisakah kalian menahannya?. Aku bukan mahluk tak kasat mata yang bisa dengan mudah kalian abaikan begitu saja." ucapnya penuh penekanan.


*


*


*


"Dasar bocil. Ganggu aja!." ucap Hanna sembari melemparkan bantalan sofa kearah Chris yang tengah duduk sembari menonton pertandingan bola setelah menyelesaikan acara kumpul kawan lama sepulangnya bekerja.


"Makanya gak usah pada mesum ditempat umum."


"Siapa yang mesum sih!. Kamunya aja yang datang diam-diam." Seketika Hanna tersadar jika adik lelakinya itu tidak pulang dengan kendaraan pribadinya. "Di antar siapa Ris?." Hanna menaik turunkan kedua alisnya.


"Ojek!."


"Ciee... ojek apa ohek?."


"Ojek lah, emang situ pelukan ditempat umum."


"Dih, ngelunjak nih bocil."


AWW ... AWW ... AARGH, KAKKAAAAKK


.....


...


Mereka bersyukur dengan tidak adanya Aldric dirumah sehingga keduanya bisa bebas untuk ribut kapan dan dimana saja.


☆☆☆


Pagi-pagi sekali Willi mendapatkan informasi dari Albert yang mengatakan jika pria itu telah mendapatkan penyebab tersebarnya berita tentang dirinya di media sosial beberapa waktu lalu meski kini berita itu sudah tidak lagi terdengar lantaran kemampuan Albert yang tak bisa dianggap remeh dalam manangani masalah yang terjadi dimedia sosial.


Sedangkan Rebecca, wanita yang pernah menjadikan Hanna sebagai incaran kini telah mendiami salah satu sel tahanan karena keterlibatannya dalam aksi penculikan yang direncanakan oleh Barayev sebelum pria itu tergeletak tak berdaya diatas brangkar.


"Si gila itu?."


📲"Mr. Trainor lah yang mengatakan semua tentang anda melalui rekaman yang sepertinya diambil secara diam-diam saat pria itu tengah mabuk."


"Pastikan sampah itu tidak kabur. Aku akan mengurusnya sendiri."


Suasana apartemen Willi seketika berubah dingin saat kabar dari Albert membuat paginya yang cerah tiba-tiba menjadi mendung.


Willi diam sejenak dan kembali mencari kontak seseorang pada ponselnya.


Healing_Love💗


Tidak ada nama jelas, hanya dua buah kata yang menjadikan nomor Hanna sebagai kontak spesial dalam ponselnya.


"Apa kau sibuk?."


📲 aku masih dalam perjalanan ke kantor. Ada apa?."


"Tidak ada, aku hanya ingin mendengar suara mu."


📲Kau pasti tengah menyembunyikan sesuatu dari ku benar bukan?."


Willi terkekeh untuk sesaat. "Kau seperti cenayang."


"Aku akan terbang pagi ini untuk menemui penggemar mu, apa kau tidak ingin menyampaikan salam padanya?."


📲Penggemar ku?. Siapa?."


"Suami dari Nona Deinbeigh."


📲Trainor?. ah, maksud ku Drew Trainor. Tunggu!, untuk apa kau menemuinya?."


"Membuat salam perpisahan."


📲Willi, perasaan ku tidak enak setelah mendengar ucapan mu."


"Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Tapi mungkin saja itu terjadi jika dia memiliki fisik yang lemah."


📲can't you just stop it?."


Willi tertawa, ia tahu akan kehawatiran Hanna. Bukan kepadanya melainkan kepada sang mantan duet pria itu sendiri. "Aku akan memberinya sedikit pelajaran karena telah berani membuat kekacauan."


📲 I love you, pergilah dan pastikan kau kembali dengan selamat tanpa membuat seseorang terluka. Jika hal itu sampai terjadi aku akan pergi membatalkan pernikahan kita." Melarangnya pun percuma menurut Hanna.


"Dan aku siap menikahi setiap lelaki yang akan menikahi mu." Candanya disertai kekehan.


📲Dasar bule gila."


"I love you more."





Di lain suasana serta waktu berbeda,


Ketegangan menghinggapi wajah Drew, pria itu tengah duduk bersama sang istri yang juga tak kalah tegang darinya.


Keduanya dihadapkan dengan Keluarga inti mereka, dimana ayah dan ibu dari pihak masing-masing terlihat begitu menakutkan bagi keduanya.


"Kami tahu pernikahan kalian tidak berasal dari ketertarikan satu sama lain. Tapi bisakah kalian menjaga nama besar keluarga untuk sekedar menghormati kami?." ucapan itu berasal dari ibu Mery yang sepertinya sangat malas untuk menghadapi kedua manusia labil tersebut.


"Terutama kau. Perbuatan mu sudah melebihi batas kesabaran ku. Untuk itu aku tidak akan menyerahkan sepeserpun harta Trainor kepada mu dan pengacara sudah mencatat itu." Pria tua yang tak lain adalah ayah Drew langsung mengatakan keputusannya dihadapan banyak pasang mata.


"Aku dengar Mery telah menggugat mu, benar begitu?." Nyonya Trainor mengingatkan tentang permintaan menantunya beberapa waktu lalu. "Kini kau bisa bebas mencari pasangan yang kau inginkan tanpa harus takut jika Mery mengadu untuk kami."


Apa yang dikatakan sang ibu seperti sebuah tamparan untuk Drew namun oase bagi Mery.


Dengan perlahan wanita muda itu pergi meninggalkan ruang perawatan sang mertua dan kemungkinannya akan menjadi mantan mertua setelah Drew menandatangani surat keputusan itu.


Mery mengeluarkan ponselnya dari tas kebanggaan para wanita dunia itu. Ia lalu menghubungi Hanna untuk menyampaikan kabar bahagianya.


Belum sempat panggilannya terjawab seseorang lebih dulu melemparkan ponsel miliknya hingga hancur berkeping-keping dan itu membuat Mery seketika diam dengan rasa keterkejutannya.


"Aku tahu kau yang telah merencanakan semua ini!." Geram pria tinggi yang kini tengah berdiri dihadapannya.


"Kau menyalahkan ku atas nasib buruk yang menimpamu?. Tidak heran jika itu yang kini terjadi." Mery tersenyum remeh dan berlalu meninggalkan si pria tanpa mau menoleh kebelakang.


"You B*tch Mery Denbeigh!!!."


Drew dengan kuat menendang tong sampah yang berada dekat dengan tempatnya berdiri untuk meluapkan semua emosi yang ia miliki. Bersamaan dengan itu ponsel miliknya berdering, Suara di ujung sana berkata jika ada seseorang yang mencarinya dan ingin segera bertemu dengannya saat ini.


"Siapa dia?." Tanya Drew dengan alis menyatu.


📲"Mr. William."


Senyum tipis samar terlihat saat panggilan telepon itu terputus. Drew mengira jika kedatangan pria itu akan membawa kabar baik untuknya dan bukan sebuah salam perpisahan seperti apa yang dikatakan William kepada Hanna sebelum pergi.







Tbc.