
○●○●○
Drew tengah duduk didalam bilik yang mengekangnya dari dunia luar.
Ingatannya masih berputar mengenai kejadian dimalam itu. Meski samar ia masih berusaha mengingat jika seseorang telah menjebaknya untuk melakukan tindakan kriminal itu.
flashback
Malam itu Drew pergi bersama teman-temannya untuk sebuah pesta amal namun berisi kegiatan tak baik didalamnya meski ada kata 'amal' yang menyertainya.
Seseorang malam itu terlihat mengawasi gerak-geriknya dan ia tak sepenuhnya peduli dengan hal itu.
Pria yang dimaksud tampak begitu tenang, membuat Drew tak sadar jika dirinya kini menjadi incaran karena yang ada didalam benaknya adalah bagaimana rasanya jika mereka bermalam bersama, namun sekelebat wajah Mery dengan tongkat baseballnya mampu membuatnya sejenak sadar akan posisinya saat ini.
Ya, untuk saat ini Drew tidak memiliki wewenang apapun atas harta yang akan menjadi warisannya sampai ia dan Mery mampu menghasilkan penerus untuk keluarga Trainor namun itu seperti angan-angan semata. Lantaran mereka terpaksa menikah karena masalah hukum dan juga sebab skandal sang manusia belok yang mulai tercium oleh media lokal.
Kembali pada kejadian malam itu, pria yang dimaksud pun mendekati Drew dengan segelas wine ditangannya.
Pesta yang berada di sebuah bar itu benar-benar meriah membuat siapa saja lupa akan masalah yang memenuhi pikiran mereka, begitu pula dengan Drew. Ia dan pria yang dimaksud kemudian bergandengan tangan untuk pergi menjauh dari keramaian pesta menuju sebuah kamar yang telah tersedia dilantai atas.
Keduanya saling serang bak pasangan komodo yang tengah dimabuk asmara, terlalu liar. Dengan bermandikan wine keduanya saling memberi dan menerima hingga tanpa disadari kini tubuh tinggi seorang Drew Trainor ambruk tak berdaya karena pengaruh serbuk yang ia telan tanpa sadar.
Ia hanya merasa jika ada yang membawanya dengan sebuah mobil menuju suatu tempat.
Apa yang dilihat dan apa yang dirasa tidaklah sama dengan apa yang kini ia lakukan.
Tepat pukul tiga pagi, masih dengan halusinasinya Drew mencengkram lengan seseorang kemudian mendorong orang tersebut hingga membentur tembok beton dibelakangnya. Masih belum puas, ia lalu menarik lampu tidur yang berada diatas nakas dan memukulkannya ketubuh pria tua yang sudah tak sadarkan diri karena serangan sebelumnya sampai membuat kaca penutup pada lampu itu pecah.
Dengan tubuh sempoyongan Drew meraih pecahan kaca lalu menikam bahu pria itu sebanyak dua kali sebelum akhirnya ia kembali tak sadarkan diri karena seseorang memukul tubuhnya dari arah belakang.
*****
Seorang wanita paruh baya memegang segelas air dengan selembar tisu yang sejak tadi ia simpan dalam genggaman tangannya. Nyonya Trainor, dia adalah ibu dari pria dengan segudang masalah itu.
Wanita itu terlihat berdiri dibalik ruangan kaca tempat penyidik tengah menginterogasi putranya.
Drew hanya menyebut jika ia melakukannya karena melihat jika orang yang dipukulnya merupakan pria yang semalam bersamanya dan bukanlah ayahnya yang sudah tua itu dan ia sama sekali tidak mengetahui jika Mery lah yang membawanya pulang dengan keadaan yang begitu kacau setelah berusaha bersenang-senang dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
Lalu dimana perempuan itu?. Mengapa ia tidak datang bersama ibunya. Dan apa yang terjadi setelah ia tak sadarkan diri di dalam kamar sebelumnya?.
■□■□■
Malamnya Willi mendapat pesan dari Melati jika orang yang pernah mengadopsinya itu kembali mencarinya. Entah apa maksudnya namun Willi yakin jika itu bukanlah sesuatu yang baik sebab orang itu memiliki ambisi tak biasa.
"Tua bangka yang sudah memberikanku kenangan buruk tak pantas menghirup udara lebih lama."
Untuk saat ini biarlah ia berada jauh dengan Hanna. Ia tak ingin membuat wanita itu berada dalam masalah karena dirinya. Tetapi laporan yang diterimanya dari Steven membuatnya bimbang sebab apa yang ditakutkan sepertinya benar-benar akan terjadi.
"Mereka juga mengincarnya."
Willi mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, mengingat jika dirinya tidak bisa terus menghindar dari si tua bangka itu.
♤♤♤
Hanna berada di klinik kejiwaan untuk membantu Mr. Peterson, dan pertanyaan pun bergulir dari sang Psikiater untuk si muda nan baik hati itu disaat berkumpul untuk menutup kegiatan akhir pekan mereka.
"Mrs. Hanna?."
"Ada apa Mr. Peter."
"Tidak, aku hanya ingin menyebut nama mu."
Hanna tersenyum dibuatnya. Ia tahu bahwa Peterson adalah orang yang gemar bercanda namun tak pernah mengira jika pria tua itu juga bisa berbuat iseng.
"Kau tahu, aku memiliki seorang anak lelaki berusia matang. Saat ku tanya kenapa dia selalu mengabaikan ku lalu apa jawabnya."
"Karena kau selalu menjadi pusat perhatian para wanita cantik." lanjutnya dengan senyum mengembang dan disambut gelak tawa tidak hanya oleh Hanna namun juga para staf lain yang hadir bersama membantunya.
"Jadi anak mu merasa tidak baik-baik saja jika berada dekat dengan mu karena kau adalah bintangnya?."
"Kau benar!."
***
Menjelang senja, sore hari tampak lebih ramai dari sebelumnya. Telepon genggam miliknya berdering, membuat ia yang baru saja memasuki jalan protokol terpaksa menepi karena sangatlah berbahaya untuk tetap berkendara sembari menerima panggilan.
"William?."
"Kenapa berisik sekali?."
"Aku sedang berkendara."
"Mintalah waktu berlibur kepada orang tua mu. Aku akan memberi tahu Steven untuk mengurusnya dikantor."
"Apa yang kau maksud?."
"Pergilah dari rumah mu untuk sementara waktu."
"William, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari ku?."
"Tidak ada, aku hanya tidak ingin karyawan kusus ku stres dan menua dengan cepat."
"Dasar!. Tidak akan ku lakukan. Kau pergilah sendiri tapi tidak dengan ku." Hanna tetap keukeh dengan pilihannya.
"Aku akan tetap mendeportasi mu."
"Tidak masalah, aku akan resign dari tempat mu."
"Kau!!?." Willi kesal dengan dirinya juga dengan kata-kata Hanna. Ia tidak berani mengatakan jika kini wanita itu berada dalam bahaya karena dirinya.
"Apa?. Kau ingin mengumpati ku?. Lakukan saja."
"Tidak bisa kah kau mendengarkan ku untuk kali ini?." Willi terdengar menghela nafas berat di ujung sana. "Hanna."
Hanna terdiam, ia berusaha menebak pikiran pria itu melalui nada suaranya.
"Tidak kah kau menyayangi ku .................... sebagai teman mu?." Tanya Willi diantara jeda nafasnya. "Aku mohon, pergilah dari rumah itu. Tinggalah di suatu tempat yang jauh dari keramaian."
"Kau merencanakan sesuatu?." Hanna perlahan bersuara. sungguh, ia sangat penasaran dengan apa yang akan pria lakukan kepadanya.
"Aku hanya ingin kau selamat."
"William, kau tidak sedang bercanda bukan?."
"Pergilah besok, Steven akan mengantarkan mu."
*****
Setibanya di jalanan komplek rumahnya Hanna melihat sebuah mobil hitam tengah berhenti tepat di sisi pagar dan ia tak langsung menepi melainkan terus mengemudikan mobilnya melewati rumahnya sendiri sembari memastikan jika apa yang menjadi pikirannya tidak benar-benar terjadi. Namun sayang, sepertinya pikirannya benar tentang kehawatiran Willi saat meneleponnya tadi.
.
.
.
tbc.