SAVE ME

SAVE ME
Terror



●●●


Cerahnya sinar mentari pagi membuat sebagian sisi bumi terlihat begitu terang dan juga hangat disaat bersamaan. Namun tidak dengan hati seorang pria berwajah pucat yang kini berdiri dibalik jeruji besi dengan sebuah borgol yang menyatukan kedua tangannya.


Drew, ia menjadi tahanan pihak kepolisian setempat setelah berusaha melakukan percobaan pembunuhan kepada ayahnya sendiri.


Berita itu begitu cepat merebak hingga sampai ketelinga Hanna melalui Jannet tepat saat wanita cantik itu baru akan memutar kunci mobil.


"Lalu bagaimana dengan Mery?. Apa dia baik-baik saja?." tanyanya dengan wajah penasaran.


"Saat ini masih dalam pencarian."


"Aku harap dia baik-baik saja. Tidak terfikir oleh ku jika dia akan mengalami hal seperti ini sebelumnya."


"Aku juga. Semoga tuhan selalu melindunginya." Ucap jannet diseberang sana.


*****


Tiba diparkiran kantor Hanna kembali dikejutkan dengan adanya pesan yang dikirimkan oleh seseorang melalui email. Isinya adalah pemberitahuan kepada dirinya untuk berhati-hati.


Seketika tengkuknya meremang. "Apa maksudnya?."


Hanna berjalan memasuki loby, terlihat beberapa karyawan berdatangan sembari bergosip diantara waktu tunggu lift.


Seperti oase di gurun pasir. Hanna mendapati apa yang menjadi perbincangan para seniornya dikantor pagi ini setelah beberapa kali mencuri dengar kemudian menyambungkan puzzel yang ia dapat.


"William?. dimana dia?." gumamnya dalam hati.


Tak seperti hari-hari sebelumnya karena hampir seharian ini pikiran Hanna tengah bergelut dengan berita-berita yang beredar dikantor.


"Drew ditangkap pihak keamanan. Mery yang menghilang lalu si gila yang tak ada kabarnya. Ini benar-benar seperti satu_"


TING!. Hanna sedikit terkejut saat suara notifikasi ponselnya terasa begitu keras memekakan telinga.


Ia melihat Willi mengiriminya pesan singkat yang menanyakan tentang keberadaanya. Pria itu lantas berpesan kepadanya dengan sebuah peringatan.


"Diamlah diruangan mu dan jangan keluar. Mintalah OB untuk membawakan makan dari kantin dan tidak untuk membelinya diluar kantor. Ingat pesan ku, jangan keluar!. Tunggu sampai Steven datang."


"Ada apa sebenarnya, kenapa masalah jadi semakin rumit untuk dipahami?." Hanna berdiam diri didalam kubikelnya sembari terus memikirkan alasan mengapa Willi melarangnya untuk keluar kantor.


"ini seperti sebuah triler." ia bergidig ngeri lantaran tak pernah sekalipun berfikir jika dirinya akan masuk menjadi seorang aktor didalamnya.


Sesekali Hanna menatap layar pipih ponselnya untuk memastikan jika apa yang dikatakan Willi tadi bukanlah sesuatu yang akan membuatnya bak seorang buronan.


Kembali satu notifikasi menghiasi ponselnya namun bukan Willi pelakunya, melainkan Aldric. Pria itu memberi tahu dirinya untuk turun ke loby karena kini ia berada dikantor sang adik untuk memberikan sesuatu.


Hanna kemudian bersiap untuk menyambangi keberadaan Aldric yang kini tengah menantinya dibawah, namun langkahnya kembali tertahan oleh seseorang yang baru Hanna lihat pertama kalinya hari ini dilantai yang sama.


"Hanna?."


Seorang wanita memanggil namanya disertai sebuah senyuman.


"Benar kau Hanna?."


Hanna tak lantas menjawab, ia lebih dulu menoleh untuk memastikan jika dirinyalah yang dimaksud atau mungkin jika orang itu salah mengenali seseorang.


"Kau Hanna kan?."


"Maaf, apa aku mengenalmu?."


"Aku Rebecca, bisa kita bicara sebentar?. Tidak akan lama, hanya dua menit."


Hanna terlihat ragu dengan sosok yang baru dikenalnya. Ia teringat pesan Willi untuk tidak keluar dari ruangannya pagi tadi, namun apa jadinya jika Aldric memintanya untuk turun karena kini saudaranya itu berada diloby dan tengah menunggunya.


"Maaf, aku sedang terburu-buru untuk menemui seseorang." Hanna mengabaikan permintaan wanita bernama Rebecca tadi setelah mengingat pesan Willi.


"Ah, baiklah. Aku akan menunggu mu disini." Rebecca tersenyum untuk mempersilahkannya pergi.


"Permisi." Hanna berlalu setelahnya.


Di dalam lift pikiran Hanna kembali tak tenang. Ia terus memikirkan pesan Willi kepadanya.


"Tunggu. Bukankah Aldric tidak pernah mau menginjakan kakinya kemari?." Seketika Hanna tersadar dari lamunannya saat mengingat jika kakak lelakinya itu begitu membenci William.


Ia lalu kembali memeriksa pesan singkat yang dikirimkan oleh Aldric. Pesan itu tidak memiliki tombol balas yang artinya jika pesan yang dikirim merupakan sebuah jejak kejahatan.


Hanna dengan segera menuju resepsionist saat tiba di loby. Ia menanyakan jika seseorang yang ia kenal mungkin saja kemari sembari memperlihatkan foto wajah Aldric. Namun bukan hanya jawaban yang ia terima tetapi juga pujian yang menyebut jika kekasih Hanna begitu tampan.


"Ganteng banget!."


"Kaya oppa-oppa."


"Kenalin dong kak."


"Iya kak, siapa tau bisa masuk daftar calon pacar."


Keduanya terkikik yang kemudian disambut gelengan oleh Hanna karena ia merasa geli dengan permintaan aneh dua wanita dihadapannya.


Hanna segera kembali keatas namun lagi-lagi ia teringat akan seseorang yang tadi sempat menghadangnya, Rebecca. Wanita itu sangat mencurigakan. Ia lalu menghubungi Natali untuk meminta bantuannya.


"Mr. Steven sedang mencari mu. Tunggu saja dibawah." perkataan Natali membuatnya merasa tenang dan benar saja pintu lift baru saja terbuka dengan Steven didalamnya yang langsung keluar untuk menghampirinya.


"Mr. William telah memperingatkan anda untuk tidak membuat masalah bukan?." ucapnya dengan wajah tak santai.


"Maaf, tapi aku juga tidak sepenuhnya salah karena tujuan ku kemari untuk bertemu Aldric."


Steven mengerutkan keningnya. "Aldric?."


"Saudara ku."


"Apa anda sudah bertemu dengannya?." lanjutnya.


"Tidak, ternyata pesan itu hanya_."


Steven menaikan sebelah alisnya.


"Ah, tadi aku sempat bertemu dengan seorang wanita di lorong. Namanya Rebecca, apa kau mengenalnya?." Tanya Hanna kepada si mata sipit.


"Tidak."


●●●


William tengah berada dibenua lain untuk urusan pentingnya saat ini. Ia mendapati pesan yang kirim oleh Steven mengenai kejadian hari ini.


Siapa Rebecca?.


Willi sudah lebih dulu mendapat laporan mengenai kasus penangkapan Drew. Ia juga tak sepenuhnya paham dengan masalah yang terjadi diantara ayah dan anak itu dan juga tak peduli dengan urusan mereka, namun yang menjadi pertanyaannya kini apakah surel yang pernah diterimanya itu berhubungan dengan hal ini atau tidak. Meskipun demikian ia tetap memikirkan kemungkinan terkecilnya.


●○●○●


Dua hari berlalu sejak kejadian aneh yang dialami Hanna. Willi tak lagi memberinya kabar, entah apa yang terjadi pada pria itu dan dimana kini dia berada pun Hanna tak tahu pasti.


"Kak, paket nih!." suara dari adik lelaki Hanna memenuhi seisi rumah yang kemudian disambut dengan teriakan oleh sang empu paket dari dalam kamar mandi.


Tak berselang lama kini Hanna berada disisi Chris yang tengah asik bermain PS sepulangnya bekerja.


"Yang antar?."


"Manusia lah, masa iya merpati?."


"Sumpah, kamu nyebelin banget."


"Lah kakak kan nanya."


"Tauk lah, gelap ngomong sama kamu." Hanna beranjak dari posisinya sembari memunguti plastik paket yang sempat ia lepas sebelumnya.


"Kak, si bule kemana?." Tanyanya dengan suara keras tepat saat pintu rumah mereka dibuka oleh seseorang,


Aldric.


"Apa bule - bule?." Geramnya dengan suara tinggi hingga membuat Hanna dan Chris menghindar dari tatapan tajam si sulung.


.


.


.


tbc


Menuju konflik ya tapi gak berat kok, masih aman!. 🐦