
♧♧♧♧♧
Alih-alih menjawab Hanna justru memilih diam untuk tak memperpanjang rentetan esai yang akan terjadi nantinya. Ia akhirnya sadar dari mana rasa keingintahuan yang ada dalam dirinya berasal.
Terlihat dari bagaimana cara wanita paruh baya itu terus memperhatikan putri sematawayangnya yang tengah mondar-mandir didepan penggorengan.
"Kamu beneran gak bohongin mama kan kak?."
"Ya tuhan, enggak ma. Gini aku jelasin, bule didepan itu dulu temen sekolah. Nah terus sekarang aku kerja diperusahaan dia dan itu juga tanpa sengaja ma, gak ada niatan ngejar tu bule, boro-boro." Ucapnya sembari menaikan sisi atas bibirnya.
"Ya udah, kalo gini kan jadi jelas. Mama jadi gak kepikiran kalo kamu disatroni itu bule."
"Kenapa sih ma?. Biasanya kaum ibu-ibu demen ama bule."
"Ih, enggak ya. Mama sukanya yang lokal."
"Lah kan bule malah bagus, standar Internasional."
"Memang kamu suka sama dia?."
Hanna kembali terdiam. Dihirupnya udara sebanyak yang ia bisa, "wajar gak sih ma kalo kita suka sama cowok tampan, mapan, bule lagi?."
"Wajar aja sih, tapi mama gak demen ama bule kak. Susah interaksinya." Keluh sang mama diakhir kalimat.
"Ma, Willi itu mukanya aja yang bule. Dia lahir dan besar di indo jadi bahasanya kaya kita."
"Dia makan nasi?."
"Ya iya lah, mama ini ada-ada aja."
"Berarti dia cebok pake air juga dong ya?." Semakin besar saja keingintahuan sang mama terhadap pria bule yang baru ditemuinya hari ini.
"Astaga mama, pake pasir!."
"Kucing dong?!."
"Lagian mama apa-apaan sih mikirnya sampe jauh-jauh kesana." Hanna mendengus kesal lantaran ibunya membicarakan hal yang tak semestinya mereka bahas.
"Ya harus dong kak, entar kalo kalian nikah terus gitu-gituan si dia ceboknya cuma pake tisu emang kamu mau?."
"Ih mama, jorok banget ah bahas gituan segala. Belum tentu juga aku nikah sama dia."
"Siapa yang nikah?." Pertanya itu keluar begitu saja dari mulut Aldric yang kini berdiri diantara keduanya.
"Bukan siapa-siapa." Hanna dengan santainya menjawab sang kakak yang sudah didera rasa penasaran setelah mendengar kata-kata sensitif darinya.
"Siapa Ma?."
"Gak ada Ric, mama cuma nanya aja sama Hanna tentang si bule." Sang mama berusaha untuk tetap terlihat santai dengan caranya berbicara yang tenang sembari menuangkan sambal gami buatan Hanna keatas cobek yang siap digarang diatas kompor.
"Aku gak suka sama dia." Kalimat Aldric membuat wanita paruh baya itu menoleh seketika.
"Kenapa?. Kamu takut kalah ganteng?." Benar-benar tajam pertanyaan sang ibu yang lebih mirip sebuah tikaman.
"Dih, ya jelas gantengan aku lah kemana-mana."
"Heleh ngaku ganteng tapi gak laku-laku." Sang ibu berdecih diiringi kikikan dari mulut Hanna. "Sudah sana, kamu ngapain juga laki-laki malah ngegosip didapur." Tepukan kasar mendarat tepat dipangkal lengan Aldric dan membuat pria itu menyingkir perlahan.
"Aku gak mau punya ipar bule, no...no...no... dirumah ini tidak terima manusia yang ceboknya pake tisu, titik!."
"Ya nanti kamu lah yang ajarin dia cebok." Dengan santainya ibu mereka berseloroh seakan mengajari anak kecil.
"APAA?." Wajah Aldric seketika ingin muntah, "Jijik!."
Makan malam kali ini terasa berbeda dengan kehadiran tamu tak di undang ditengah kehangatan keluarga mereka. Siapa lagi jika bukan si bule aneh yang tengah memandangi hidangan ala rakyat jelata dihadapannya. Bukan, bukan mie instan seperti yang biasa Hanna buatkan untuknya. Melainkan ikan goreng dengan cocolan sambal rawit yang terlihat seperti sebuah petasan tengah meletup diatas cobekan panas.
"Lu bisa makan sambel?." Aldric begitu menyangsikan keberanian Willi untuk mengunyah si pedas yang begitu nikmat untuk disantap itu.
"Saya tidak pernah memakan ini sebelumnya."
"Dasar kentang." Aldric bergumam yang masih bisa didengar oleh Hanna.
Lain Aldric lain pula dengan Chris, adik bungsu Hanna yang kini menginjak usia duapuluh tiga tahun. Pria muda dengan sifatnya yang lebih dewasa ketimbang si tua Aldric.
Chris mengatakan pada Willi agar tidak terprovokasi oleh kata-kata kakaknya yang memang sedikit aneh.
"Dia memang seperti itu. Tolong dimaklumi." Ucap pria berkacamata yang tengah duduk disamping Willi.
Willi sempat melirik kearah Hanna yang juga tengah menatapnya. Wanita itu lebih banyak diam saat berkumpul dengan banyak orang.
Selesai dengan makan malamnya, Willi lantas berpamitan dengan kedua orang tua Hanna juga Chris, tidak termasuk Aldric. Si tua itu entah menghilang kemana sejak selesai dengan pring kosongnya.
Willi baru akan menyalakan mesin mobilnya saat seseorang mengetuk kaca disisi kanan kemudi, Aldric?. Willi kemudian menurunkan kaca jendelanya.
"Pertama dan terakhir kali gue peringatin lu untuk jauhin Hanna, gue gak suka adek gue deket-deket ama bule kaya elu."
"Apa masalah anda dengan semua yang saya lakukan?. Saya pikir Hanna tidak keberatan dengan itu."
"Eh, lu bule Pe'a. Sadar gak sih lu disini gak cocok?. Lu tu jorok, e'e lu cuman pake tisu doank ceboknya jijik gue." Aldric benar-benar menghina Willi tepat dihadapannya tanpa orang lain bisa lihat.
"Saya tidak seperti apa yang anda asumsikan."
"Heleh, najis lu sok bersih." Pria itu berdecih, ia benar-benar menunjukan rasa tidak sukanya secara gamblang.
Jika saja Willi tidak ingat akan wanita yang selalu membuatnya tersenyum itu, ia pasti sudah meninju mulut jahat Aldric saat ini juga.
"Terimakasih karena telah mengatakan isi kepala anda, selamat malam." Willi menutup kembali kaca mobilnya dan pergi meninggalkan Aldric yang masih mengumpat.
________*****_________
Hanna menghubungi saat dirinya baru saja tiba di apartemen.
📲"Kau sudah sampai?. Maaf untuk perkataan Aldric saat makan malam tadi." Hanna benar-benar merasa tak enak hati kepada teman sekaligus bosnya itu. Ia tak menyangka jika respon sang kakak akan seburuk itu kepadanya.
"Tidak masalah, itu hanya masalah waktu." Dengan santainya Willi menjawab.
📲"waktu tidak akan membuatnya berubah jika bukan karena niat dalam dirinya."
Willi tersenyum, ia paham yang dimaksud oleh Hanna.
"Aku ingin mengajak mu kesuatu tempat besok."
📲"apa itu sebuah tawaran?."
"Tentu bukan."
📲"aku sibuk."
"Aku tidak peduli."
📲"aku ingin tidur seharian besok."
"Temani aku dulu, setelah itu aku akan menemani mu."
📲"menemani ku?. Untuk?."
"Tidur."
📲"HEEEII!!!. Dasar pria gila."
Willi terbahak-bahak mendengar makian Hanna untuknya. Terasa begitu menyenangkan untuk mengganggu wanita cantik itu sampai ia marah.
.................
Waktu menunjukan pukul satu dini hari dan dering telepon celular miliknya kembali berbunyi. Willi dengan malas mengangkat panggilan itu tanpa melihat Id si penelepon.
Ia mencoba menajamkan pendengarannya saat suara seseorang diseberang sana mengatakan jika masalah tengah terjadi di perusahaan cabang miliknya.
"Tunggu aku."
.
.
.
.
.
Tbc.