
☆♡☆♡☆
Hampir semalaman pria itu terjaga karena memikirkan masalah yang tengah terjadi.
Pagi pun menjelang, Willi sudah siap dengan perlengkapan yang akan ia bawa untuk menetap sementara waktu disana. Tanpa kabar pria berwajah bule itu pergi meninggalkan tanah air.
*******
apa, pesawat pribadi?
Tidak, dia tidak memiliki jet pribadi layaknya cerita crazy rich yang sering kita dengar. Dia hanya pria biasa dengan ketampanan yang tak biasa dan dia bukan tipe manusia yang suka menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tak perlu.
Hanna meraih ponsel yang sejak lima menit lalu terus berdering. Ia melihat jika yang menghubunginya adalah nomor tak dikenal.
"Halo?."
Suara seorang wanita pun menyambutnya di ujung sana.
"Mery?. Kau kah ini?." Terdengar isak tangis yang membuat Hanna bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.
Pagi ini Hanna benar-benar dibuat terkejut dengan panggilan tiba-tiba yang dilakukan oleh Mery. Setelah hampir dua jam lamanya wanita itu menceritakan musibah yang tengah menimpanya seorang diri.
Entah harus berduka atau malah tertawa yang kini Hanna rasakan. Karena sejujurnya ia juga begitu sulit mencerna penuturan Mery yang dianggap sangat tak masuk akal mengingat jika wanita yang selalu berfikiran rasional itu kini telah menikah sebab sebuah kesalah pahaman yang terjadi.
📲"Aku tengah berduka. Kau tahu? Sekarang aku adalah wanita bersuami dan itu membuatku ingin mengakhiri hidup, Hanna. Aku tidak ingin menjadi istri pria sialan dengan segudang kesialannya itu."
"Tunggu, siapa yang kau maksud dengan pria sialan?." Tanya Hanna dua jam lalu dengan wajah penasarannya.
📲"Drew Trainor."
"What?. Bagaimana bisa?."
Hanya berselang beberapa minggu setelah liburan bersama dan kini Mery telah menikah dengan Drew?. Si pria penyuka sesama jenis itu?. Oh, benar-benar musibah untuk Mery.
-----------*****------------
Hanna menatap keluar jendela kamar miliknya. Butiran halus air hujan tengah menyirami bumi pagi ini. Ia kembali melihat jam yang menempel di atas pintu kamar. Pukul delapan, tetapi suasana diluar terlihat seperti pukul enam kurang yang artinya nampak sedikit gelap.
Entah, perasaannya pagi ini terasa sedikit berbeda dari biasanya. Sesuatu seperti tengah membuat rasa hawatir dalam dirinya namun ia sendiri tidak mengetahui apa.
Dan perasaan itu terus saja menggelayutinya hingga beberapa hari kedepan. Sampai ia harus membatalkan semua agendanya dihari libur karena kegalauan yang terjadi dalam dirinya.
*****
Hanna menyalakan tombol power yang terselip dibelakang monitor sembari menjawab sapaan para rekan satu timnya yang sama-sama baru tiba.
"Na, kamu udah denger gosip baru belum pagi ini?." Satu kalimat untuk memulai ajang pergosipan yang dilakukan oleh Natali.
"Paan sih mbak?." Dengan nada malasnya Hanna menjawab.
"Yang lagi Hot, rekaman CCTV mas bule beredar."
"Bule mana lagi?." Dahi Hanna seolah ikut bertanya melalui lipatan halus yang tercipta setelah mendengar ucapan Natali.
"Nah itu dia, wajahnya gak kelihatan soalnya."
"Terus yang jadi masalah?."
"Ni bule bukan si ganteng yang waktu itu ketemu diloby sama dipesta." Natali seolah bingung dengan kata-katanya sendiri. "Jadi ni bule kelihatan lagi nyium salah satu karyawan pas lagi di lift."
DEGGHHH
Wajah Hanna seketika pias setelah mendengar penuturan ibu satu anak itu. Ingatannya kembali pada sosok William yang kala itu membuatnya kesal setengah siup lantaran telah menciumnya diruang publik tanpa tahu malu. yah, meskipun saat itu tak ada satu orang pun yang melihat. Tapi tetap saja itu menjadi hal terlarang bagi seorang Hanna dan benar saja ia melupakan jika setiap lantai pasti memiliki CCTV.
*dasar bule sialan*. Umpatnya dalam hati.
"Hei!. Malah melamun."
Hanna kembali tersadar setelah Natali memukul meja miliknya.
********
Ditengah-tengah jam sibuk kantor Hanna baru menyadari sesuatu. Alasan kenapa dirinya begitu galau beberapa hari belakangan adalah Willi? dimana pria itu?.
Satu email masuk membuat fokusnya kembali pada pekerjaan hingga tak sempat menggunakan ponsel yang sejak tadi bergetar lantaran beberapa pesan masuk ke nomor miliknya.
*****
Saat jam istirahat pun Hanna memilih untuk tak ikut turun ke kantin bersama Natali dan Mega. Ia meminta seorang OB untuk membelikannya makan siang dan menetap di dalam kubikel miliknya sembari membalas beberapa pesan masuk yang sejak tadi membuatnya penasaran.
Beberapa diantaranya adalah pesan dari teman-teman sekolahnya dulu yang akan menggelar acara reuni tepat dihari pernikahan salah satu member of grup, Eja.
Pria tengil itu akan menikah sebentar lagi dan ia membuat pernikahannya sendiri sebagai ajang reuni karena sang mempelai wanitanya adalah teman satu kelas mereka yang dulu terkenal sebagai siswi pendiam.
Hanna beberapa kali terkekeh membaca pesan yang berisi ejekan kepada pria bernama lengkap Reza Raharja itu. Mengingat jika dulu pria dengan segudang kejailan itu sangat menghindari si calon istri karena dianggap tidak asik dan sulit berinteraksi lantaran sifatnya yang pendiam. Sangat berbanding terbalik dengan si pria yang begitu humoris dan hampir setiap waktu membuat masalah.
Lucu?. Memang, begitulah hidup manusia. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi dikedepannya.
Sedangkan Hanna masih dengan keadaan yang sama namun kali ini seseorang mengiriminya pesan singkat melalui email pribadinya.
📧........"I need you."
Willi?.
Sebuah gambar pemandangan kota terlampir bersamaan dengan pesan yang masuk.
"Apa kau juga tengah bersedih?."
Pertanyaan Hanna tak kunjung berbalas sampai beberapa hari kemudian dan itu membuat Hanna didera rasa hawatir lantaran ia tak bisa menghubungi Willi selain dengan email.
Hanna sadar jika pemandangan yang dikirimkan pria itu bukanlah di tanah air. Tapi dimana dia?.
.......
Willi berjalan dengan wajah dingin menatap seseorang dikejauhan yang nampak tersenyum miring saat melihat kedatangannya.
"Kau sungguh telat tampan." Drew tersenyum saat Willi terlihat begitu menyeramkan baginya.
"Katakan tujuan mu." Kata-katanya terdengar begitu dingin di telinga Drew.
Wajah licik Drew Trainor benar-benar berbinar saat mendengar pertanyaan Willi, "Kembali padaku maka akan ku kembalikan apa yang menjadi milik mu, bahkan lebih." Senyum manis pria itu terbit begitu saja bak telah memenangkan lotre.
"Apa kau pikir aku miskin?." Wajah Willi benar-benar datar. Tak ada raut kebingungan diwajahnya, hanya tatapan membunuh dari sorot matanya yang tak bisa ia sembunyikan.
"Aku tidak perlu ancaman mu yang bahkan tidak memiliki apa-apa untuk sekedar menakuti seekor kucing jalanan." Willi memalingkan wajahnya sembari berucap dengan gaya sarkasnya.
"Ayah mu telah membayar semua ganti rugi yang sudah kau timbulkan dan aku telah mencabut semua saham keluarga mu dari perusahaan. Jadi jangan pernah mengganggu ku, bahkan untuk melintas dihadapan ku." Pria tampan dengan tatapan membunuh itu berbalik meninggalkan Drew seorang diri.
Kembali, Drew harus merasakan ketidak berdayaannya setelah sebelumnya ia mencoba untuk menarik perhatian pujaan hatinya agar mau kembali kepadanya.
Hidupnya benar-benar tidak berguna, terlebih saat ini ia telah menikah secara paksa dengan wanita itu. Wanita yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Mery, si mantan angkatan yang belum diketahuinya.
Pernikahan yang terjadi oleh sebab harta kekayaan itu membuat keduanya benar-benar tersiksa. Terlebih untuk Mery karena dia lah yang paling dirugikan didalamnya. Seandainya saja yang ia nikahi adalah pria normal mungkin ia akan berusaha untuk menyingkirkan para ****** dengan mudah. Tetapi ini?. Oh tidak. Jelas dia sangat enggan untuk melakukannya mengingat jika yang kini menjadi pasangannya adalah seorang G* dan itu artinya dia harus menyingkirkan banyak pria. Benar-benar tidak berguna.
_________
Hujan kembali mengguyur kota disore hari. Hanna berdiri menunggu hujan sampai sedikit mereda untuk memcau kuda besi tuanya. Bersama para pekerja lainnya yang saling melempar candaan sekedar mengisi waktu sampai hujan benar-benar berhenti.
"Eh, ngomong-ngomong lu ngapain kok ikutan nunggu hujan Na?."
"Iye, pan lu pake mobil?."
"Mobilnya udah tua bu, saya sawan kalo sampe mogok dijalan. Mana hujan lagi." Ia benar-benar serius dengan ucapannya karena memang itulah yang menjadi momok baginya saat ini, mogok!.
Diskusi tak penting para wanita itu harus terhenti sesaat ketika Steven si pria bermata sipit tiba-tiba datang mengahampiri mereka.
Tatapannya yang mengarah kepada Hanna membuat banyak mata sedikit heran karenanya.
"Mrs. Hanna?."
"Iya saya."
"Saya Steven. Bisa kita bicara didalam?." Kata-katanya yang formal membuat para ladies yang tidak lagi muda itu saling beradu pandang satu sama lain dengan pertanyaan yang sama dalam benak mereka. "Ada apa dengannya?." Kira-kira begitu.
Hanna dengan terpaksa mengekori Steven menuju ruangan dimana rapat dadakan para kroco biasa terjadi. Ruangan itu tidak terlalu lebar namun memiliki banyak kursi dengan meja panjang berbentuk oval di dalamnya.
Steven mendorong rolling door hingga terbuka setengah bagian. Ia mempersilahkan Hanna untuk masuk kedalamnya lalu menutup kembali pintu bercat hitam itu dan menguncinya.
Ketar- ketir, itulah yang dirasakan Hanna saat melihat Steven memutar lock dengan santainya.
"Apa yang ingin anda katakan Mr. Steven." Ia mengingat jika Willi pernah menyebut nama pria itu dengan sebuah kebiasaanya yang gemar menyewa kamar saat memiliki waktu kosong.
"Mr. William meminta saya untuk memberikan sesuatu kepada anda."
.
.
.
.
.
Tbc.
Kira-kira foto seperti ini yang dikirimkan oleh Willi kepada Hanna.