SAVE ME

SAVE ME
Nano-nano kehidupan II



☆●☆●☆


William tak bisa menutupi keterkejutannya saat mendengar ucapan dokter setelah memeriksa keadaan Hanna.


"Selamat untuk kehamilan pertama kalian. Saya harap ini akan menjadi kabar baik untuk yang menantikannya." kalimat itu benar-benar menjadi suntikan untuk Willi.


Sepanjang perjalanan pulang hati pria berwajah bule itu seperti dipenuhi ratusan kupu-kupu yang tengah berterbangan. Bahagia, itu intinya.


Willi tak menyangka jika bibit yang ia semai akan tumbuh begitu cepat, seolah Tuhan tak ingin membiarkan keduanya terlalu lama menanti hasil kerja keras mereka.


💕


"Apa semua perempuan memang seperti itu?." Tanyanya pada Hanna yang sedang membalik potongan steak diatas alat pemanggang.


"Apa?."


"Mudah beranak."


"Tidak semua ladang sesubur itu. Tunggu, tadi kau bilang beranak?. Ckk! apa kau pikir kami kucing!!?." Wanita itu menyalak dengan penjepit daging ditangannya yang siap melayang kapan saja.


Willi terkekeh karena sadar akan kesalahannya dalam mengucapkan kalimat.


"Aku tidak berkata seperti itu, tapi bukankah manusia juga termasuk mamalia?."


"Oh suamiku si pintar yang tampan dan juga kaya raya tidak bisakkah kau membuat pengecualian untuk istri mu sendiri dengan mengubah kata-kata dalam kalimat mu tadi menjadi lebih baik dan sopan agar lebih enak didengar?." Ucapan Hanna justru membuat Willi semakin terbahak karenanya.


▪▪▪


▪▪


▪▪▪


Drew menepi didepan sebuah toko bakery sepulangnya dari mengantar makanan. Ia melihat kue dengan toping stroberi yang nampak cantik dan begitu menggugah selera.


Dengan berbekal uang tips pemberian customer yang mengajaknya untuk berswafoto karena ketampanannya akhirnya pria itu memberanikan diri memasuki pintu kaca bergambar beruang coklat tengah memegang sepotong roti.



Entahlah, semakin hari yang ada difikirannya hanya Mery dan si jabang bayi yang berada dalam kandungan wanita itu. Sejujurnya ada rasa bersalah yang menyelimutinya setelah mengetahui kehamilan Mery karena belakangan ia tak lagi bisa menemui wanita itu lantaran selalu mengunci diri didalam kamar selama hampir seharian penuh tanpa bisa ia ketahui apakah wanita hamil itu sudah makan atau belum.


Beruntung saat itu ia tak membiarkan Mery begitu saja setelah melakukan perbuatan kejinya karena ia tahu jika dirinya adalah lelaki pertama yang meniduri wanita itu. Untuk itu Drew berusaha menjaga keduanya meski Mery tak sekalipun melihat keberadaannya sebab rasa benci wanita itu yang telah mendarah daging terlebih dengan kondisi psikisnya yang sekarang.


***


Pria itu pulang membawa sepotong roti dengan toping stroberi diatasnya untuk ia berikan kepada Mery dan berharap jika wanita itu mau memakannya. Namun setibanya diapartemen ia justru tak mendapati Mery didalam kamarnya yang terbuka. Drew begitu panik dan menggeledah di setiap sudut ruangan untuk menemukannya hingga pada akhirnya ia mendapati wanita itu sudah tidak sadarkan diri terbaring dalam bathub dengan genangan berwarna merah yang menyelimutinya.


"NOOO!!!!." Refleknya seketika mengeluarkan tubuh basah Mery dari dalam Bathub dan meletakannya di lantai untuk kemudian mengikat tangan wanita itu menggunakan Sweeter yang ia gunakan.


Drew dengan cepat menghubungi pihak keamanan agar segera datang membantunya. Ia kembali memindahkan Mery yang sudah tidak sadarkan diri keruang tamu.


Sembari menunggu bantuan tiba pria itu mendekap tubuh wanita hamil-nya yang terasa begitu dingin dengan sangat erat seolah takut dengan pikiran buruknya sendiri.


"It's ok, i got you now." lirihnya sembari terus mengusap lengan Mery yang nampak kurus dengan rona wajahnya yang semakin memucat.


Tak butuh lama hingga akhirnya bantuan yang ia tunggu tiba. Kecemasannya hampir menghilangkan kewarasannya. Drew nyaris memaki mereka yang baru saja tiba dengan sebuah bed yang nampak kesulitan saat menaiki tangga menuju unit dimana ia berada. Ya, gedung dua lantai itu tidak memiliki lift layaknya apartemen modern, itu hanyalah bangunan tua dengan banyak tumbuhan merambat yang sudah menutupi sebagian sisi gedung.


*


*


*


"Bagaimana?. Apa itu rasa yang kau inginkan?." Tanya Hanna dengan sedikit kesal.


"Hem, aku suka ini. Enak sekali, kau harus mencobanya sedikit." Willi memberikan satu suap kepada sang istri yang terlihat begitu enggan untuk mencicipinya.


Hanna langsung berbalik dan mengeluarkan potongan daging yang baru saja Willi berikan untuknya karena rasanya begitu tak masuk akal.


"Kenapa?. Kau tidak suka?. Menurutku ini sangat enak." Willi dengan lahapnya memasukan potongan-potongan daging panggang itu kedalam mulutnya dan terakhir ia malah mengunyah kulit lemon untuk mencuci mulut dan hal itu membuat Hanna merinding sebab membayangkan bagaimana lemon itu akan memeras air liurnya hingga kering. *aahh jorok sekali dia.


▪▪▪


Kedatangan Melati membuat William senang setelah wanita bersuara pria itu mendapatkan kabar tentang kehamilan Hanna darinya.


Ia tiba dengan satu tas besar berisikan buah dan sayur juga susu segar yang dibawa oleh Steven untuk menunjang masa awal kehamilan anak menantunya namun apa yang terjadi justru sebaliknya. Willi benar-benar mual dengan hanya melihat rupa sayuran dan juga buah-buahan dengan bentuk tak biasa seperti srikaya dan juga kecambah dari kacang kedelai yang memiliki kepala besar. Aneh memang saat mengetahui bagaimana pria itu menghindari tas harta karun yang baru saja diletakan Steven diatas meja pantry.


"Tangan ku gatal sekali ingin memukul mu bocah sialan!." Melati justru memarahi pria yang tengah ngidam itu karena kesal dengan kelakuannya.


"Berdoalah semoga saja anak ini tidak sepertinya." Ucapnya sembari mengusap perut rata Hanna dimana si junior tengah bertumbuh.


"Aku juga tidak dengan sengaja melakukannya, ini sangat menyiksa." William begitu kesal setelah Melati mengumpatinya.


"Apa dia selalu mengeluh seperti itu sepanjang hari?." Tanya wanita paruh baya itu kepada Hanna yang tengah berdiri disampingnya untuk menata sayuran dan juga buah yang ia bawa tadi.


"Aku tidak seperti itu." Willi melirik kesal pada Melati yang tak henti-hentinya mengatai dirinya.


"Kenapa kau yang menjawab padahal jelas aku tidak bertanya padamu." Melati kembali memarahi si tampan yang tampak semakin cerewet setelah mengalami morning sicknessnya.


Ingin sekali Hanna terbahak melihat tingkah kekanakan William dan juga Melati yang terlihat begitu gemas dengan kelakuan konyol si calon ayah itu.


"Dia tidak secerewet ini namun ia lebih banyak mengeluh dengan tidak melakukan apa-apa dan hanya menghabiskan waktunya diatas sofa itu sepanjang hari." Ucapnya sembari menunjuk dengan dagu letak sofa dimana Willi biasa menghabiskan waktunya dengan hal-hal tidak berguna.


"Aku turut prihatin dengan keadaan mu karena telah mendapatkan anak itu sebagai suami." Melati semakin menjadi setelah mendengar penuturan Hanna tentang bagaimana William menjalani morning sicknessnya.


"Aku tidak bisa bekerja maksimal karena rasa mual yang selalu menyerang selama seminggu ini dan kalian dengan tega mengataiku tidak berguna?." Willi berdecak malas melihat kelakuan dua orang yang sedang membicarakannya di depan meja pantry.


"Lihatlah bagaimana pria itu menyangkal agar dirinya selalu terlihat baik." Melati benar-benar menguji kesabaran sibocah yang akan menjadi seorang ayah dalam hitungan bulan.


"Terserah kalian!. Aku __ UUGH__


Secepat kilat William berlari kekamar mandi untuk menuntaskan hajatnya dan hal itu menjadi hiburan untuk kedua wanita yang tengah bersamanya.


.


.


.


tbc


Otor: Cerita ini hanya tinggal beberapa bab lagi dan akan selesai setelah itu. Jadi cerita Drew ini memang ada dari pertama meskipun didalam sinopsis gak kesebut namanya, karena biar bagaimanapun sejak awal penulisan dia udah ikut andil dalam pembuatan cerita Save Me ini.


Terimakasih buat jempolnya dan komentar-komentarnya. Otor very-very lope💕