SAVE ME

SAVE ME
Sepuluh




Edward menyalakan mesin sepeda motornya dan segera berlalu, namun Arashi kembali berulah. Ia memukul-mukul pundak pengendara yang tempo yang cepat.



Edward berhenti, kemudian menghela napas, “Apa lagi, sih, Rash?’ katanya penuh dendam.



“Tas kita, Ed! Tas kita ketinggalan!’ sergahnya.



“Oh iya, ya. Lupa. Ambil sana.’ Titah Edward.



Arashi menggeleng keras-keras, “Nggak mau! Petugasnya galak!’



“Terus harus aku? Yang udah capek-capek ngeluarin motor dari parkiran?’



“Emang capek?’ tanya Arashi, dengan wajah yang sengaja dibuat polos.



Kekasihnya tersenyum dengan terpaksa, “Sekarang kamu ambil dulu tasnya, kalau nggak diambil, kita nggak makan. Semakin lama kamu ngambil, semakin lama kamu kelaparan.’ Bujuknya. Jika ia mempunyai permen, sudah tentu ia berikan sejak tadi. Tapi ia tidak mempunyainya. Itulah alasan mengapa ia harus berdebat terlebih dahulu.



Karena ia tidak punya permen.



Akhirnya Arashi menyadari bahwa memang ia yang harus mengambil tas itu. Setelah meminta kunci loker tersebut kepada Edward, ia pergi. Laki-laki itu menunggu di balik pagar sambil menghentak-hentakkan kakinya. Saat itu ia menyadari kalau perutnya juga sudah mulai keroncongan. Ini adalah buah dari perdebatan tadi.



Sekarang Edward sedang memikirkan dirinya akan makan apa saat sesuatu menghampirinya.


Rendra.


Edward menyahutinya, tatkala Ia sedang mengendarai sepeda motornya dan berniat memasuki pagar perpustakaan.



“Ren!’ teriaknya.



Rendra berhenti, mencari sumber suara. “Ohh, Ed! Lo ngapain disini?’ tanyanya to the point. Ia lanjut membawa masuk motornya, menuju balik pagar yaitu pekarangan perpustakaan. Setelah selesai, ia kembali menghampiri teman sebayanya itu.



“Gue bolos. Hehe.’ Tawa Edward. “Lo sendiri, ngapain?’



“Iya, gue sendiri. Mau nemenin?' Jawab Rendra.



Edward tidak tau apakah ia sengaja menjawab seperti itu atau hanya berpura-pura terjadi kesalah pahaman disini.



“Gue nanya, lo ngapain?’



Rendra tertawa, “Ohh, gue mau tidur.’ Katanya singkat.



“Lo juga abis tidur kan?’ tambahnya.



Edward menggeleng, lalu menunjuk ke suatu arah dengan dagunya. Perlahan, Rendra mengikuti arah yang dimaksud Edward, ia menarik garis lurus dari sorot mata Edward dan hasilnya adalah, ia menemukan Arashi. ia berkeringat dan terlihat kepayahan membawa dua tas sekaligus.



“Ohhh, bolos bareng. Enak, dong! Gue makan, makan sendiri. Cuci baju sendiri. Apa-apa sendiri.' intonasinya mengikuti irama dari lagu tersebut.



“Kalo gue baju dicuciin.’ Kata Edward.



“Iya, sama Ibu.’ Jawab Rendra, sewot.



“Bukan, sama mesin.’ Canda Ed.



“Udah, deh. Gue mau tidur. Ngantuk bgt.’ Intonasi yang Rendra keluarkan tiba-tiba berubah.



“Kenapa nggak tidur di rumah aja?’ tanya Edward, heran.



“Kan, perpustakaan adalah rumah gue.’ Katanya sambil merentangkan tangan, seakan semua ini miliknya.



“Iya. Tapi kalau buat tidur doang, ya, percuma. Makanya Lo dapet peringkat kedua.'


“Puluh.’ Ledek Ed.



“Yang nomor dua sombonggggg,’ cibir Rendra.



Tiba-tiba Arashi sudah berada di samping Edward dan menimpakan kedua tas mereka padanya.



“Si nomor satu muncul.’ Gumam Rendra pelan sekali.



“Tuh, ah, Ed. Bawa sendiri nggak mau tau.’ gerutu Arashi.



Mereka bertiga masih terus bercakap-cakap. Membicarakan perihal petugas perpustakaan yang sudah diganti. Mendengar hal itu, Rendra kelihatan terkejut.



“Katanya rumah lo.’ Sindir Edward.



“Hehe. Gue juga udah lama nggak kesini, sih.’ Tawanya.




Tak lama pembicaraan itu berlangsung. Edward buru-buru pamit karena ia sudah dicubiti oleh Kekasihnya. Rendra pun sama, otaknya sudah meneriakinya untuk segera beristirahat sekarang. Mereka berpisah, kembali melanjutan pembicaraan masing-masing.



Arashi terus mengomel selama perjalanan, berkata bahwa ini adalah salah Edward karena terus mengulur-ulur waktu untuk pergi. Jadi, sekalipun ia sudah cepat-cepat mengambil tas mereka. Ia tetap kelaparan.


Memang, perut Arashi gampang berbunyi. Tapi ia tidak pernah kelaparan sampai segitunya. Biasanya ia akan memasak sendiri dan menikmatinya sendiri pula. Itulah sebabnya ia sedikit berisi. Karena ia tidak pernah mengabaikan perut keroncongannya.



Berbeda dengan laki-laki di hadapannya yang selalu menunda-nunda waktu makan. Jadwal makan laki-laki itu dengan peliharaannya adalah sama. Karena itu, jika perutnya sudah berbunyi, ia akan mengambil makanan kucing dan mulai memberi makan Yoo. Bukan dirinya sendiri. Arashi sangat kesal akan hal itu, tapi setidaknya, Edward tidak ikut mengemili makanan kucing itu. Beruntung ia masih menyadari hakekatnya sebagai manusia dengan tidak memakan makanan Yoo.




Motor itu berhenti di depan ruko yang menjual bakso. Keduanya memilih untuk makan disana. Tidak! Edward-lah yang memilih tempat tersebut. Urusannya akan sangat panjang jika ia memulai percakapan dengan topik akan makan apa. Bahkan jika diberi satu karung dedaunan pun, Arashi akan tetap memakannya. Jadi ia tidak begitu memperhitungkan apa yang akan mereka makan.


Sekali memasuki kios tersebut, bau bakso menyeruak di hidung mereka. Jika tidak menahan diri mungkin perut Arashi dan Edward sudah berhasil membuat kaget semua pelanggan lainnya dengan bunyinya.



Setelah memesan, masih ada misi lain yang harus mereka lakukan. Yaitu, menunggu. Mereka berdua memainkan ponselnya selama menunggu pesanan, enggan untuk berbicara satu dengan yang lain.


Tak hanya itu, keduanya pun makan tanpa membuka mulut untuk bicara. Seakan keduanya sudah terlalu lapar untuk makan. Biarlah perut keduanya yang bersahut-sahutan.


Arashi bersendawa dengan sangat puas di depan Edward seperti seorang perokok yang mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Begitupun yang dilihat oleh Edward, ia seperti bisa melihat asap kebiru-biru dan kehijau-hijauan di udara setelah Arashi bersendawa.


Tidak hanya bersendawa, cara Arashi duduk juga tidak perempuaniawi. Dengan mengenakan rok selutut tidak membuat ia malu untuk mengangkat kaki kirinya ke bangku. Ia benar-benar merasa nyaman seperti di surga.



Sementara Edward merasa seperti dirinya berada di neraka karena Arashi menambah satu mangkok lagi. Edward hanya membawa beberapa lembar uang, sisanya ia taruh di lemarinya. Kini Arashi justru menambah porsi makan.


Biarlah, selama Arashi jinak, apapun akan ia lakukan.



Edward memicingkan matanya, “Udah puas?’ tanyanya, sewot.



Arashi bersendawa lagi, “Udah. Sekarang aku nggak bisa bangun.’ Katanya dengan ekspresi wajah yang hanya bisa dilihat pada wajah seseorang yang tengah berada di surga.



Edward memandang aneh dan melemparkan jaketnya pada Arashi. “Tutupin rok kamu. Emang nggak malu?’



Arashi menerimanya dan segera melakukan seperti apa yang telah disarankan. Sambil menggeleng, ia berkata, “Nggak. Kamu doang ini.’ Katanya santai.



Dalam hati Ed bertanya-tanya, apakah suara Ed sama sekali tidak berat, karena kemarin ia pun disangka belum puber. Jangan-jangan, pikirnya, Arashi pun mengira bahwa dirinya belum puber. Tapi alasan tersebut segera ditepisnya jauh-jauh. Arashi si nomor satu, ia tidak mungkin sebodoh itu.



“Jalan-jalan dulu mau, nggak?’ tawar Arashi, seakan dirinyalah yang membawa sepeda motor Edward.



Mereka pun sepakat untuk tidak buru-buru pulang. Setelah Arashi mengisi kalori, ia merasa kini ia harus membuang keringat dan segala ***** bengeknya.


Keduanya berjalan-jalan mengendarai sepeda motor. Setelah beberapa lama, motor itu berhenti di sebuah pasar kaget. Ekaget. Pasarnya belum siap, para pedagang masih sibuk menyiapkan barang-barang bawaannya. Pasar kaget itu akan mulai beroperasi setelah matahari terbenam.



Sambil bergandengan tangan, keduanya berjalan-jalan menembus kawasan pasar tersebut. Melewati banyak peralatan untuk pencahayaan dan segala keperluan lainnya. Mereka melihat-lihat bianglala, komedi putar kecil dan kora-kora yang juga masih belum selesai disiapkan.



Keduanya bahagia walau tempat itu belum sempurna. Benar, bukan dimana tempatnya yang membuat kenangan menjadi berbekas. Tetapi hal itu begantung pada dengan siapa kalian menikmatinya. Berjalan-jalan di sudut kota pun Arashi mau, dengan naik mobil; motor; ataupun jalan kaki. Selama itu bisa membuat Edward lupa dnegan masalahnya, maka apapun akan ia lakukan, setidaknya itulah prinsipnya untuk hari ini, bukan esok, bukan kemarin. Tetapi hari ini.



Benar saja, berjalan-jalan di tempat baru seperti itu membuat Edward tersenyum dan tertawa. Arashi ikut senang, walaupun dalam hati ia khawatir. Ia merasa tidak akan bisa menemui Ibu Ed hari ini, karena ternyata sebentar lagi ia harus berangkat bimbel. Arashi lelah, ia tidak mau menyalahkan siapapun lagi hari ini. Setidaknya, atas masalah ini. Rendra yang mengajaknya mengobrol bukanlah orang yang bisa disalahkan, ia yang menambah porsi makan menjadi dua kali lipat pun tidak bisa serta merta disalahkan.



Persetan, yang perlu ia lakukan hanya berkata jujur.



Niat yang baik dibalas hasil yang baik pula. Sebaliknya, satu kebohongan akan melahirkan lusinan kebohongan lainnya. Itulah yang Arashi dapat. Edward tersenyum dan mengelus pelan puncak kepala Arashi saat ia berbuat jujur dengan mengatakan bahwa mereka tidak bisa bertemu Ibunya hari ini. Edward berkata bahwa masih ada hari lain. Dan ia berterima kasih untuk hari ini. Sungguh atmosfer yang menyenangkan, yang berharga. Dan yang tidak bisa Arashi lupakan.


Walaupun begitu, jauh di dalam lubuk hati Arashi, terdapat ketakutan. Ia seperti bisa melihat bagaimana masa depan akan berjalan. Seperti apa yang akan terjadi pada Ed, apa yang akan menjadi ujung hubungan mereka dan bagaimana semuanya akan berjalan.



Edward hendak mengantarkan Arashi ke tempat bimbelnya, namun anak perempuan itu menolak. Ia berkata akan pulang terlebih dahulu dan biar Ibundanya yang mengantarkan ke tempat bimbel. Edward mengangguk tanda mengerti kemudian ganti mengantarkan Kekasihnya sampai rumah.



Laki-laki itu sampai di rumah tepat waktu, tidak terlalu cepat sebagaimana yang seharusnya. Begitu memasuki pintu tersebut, yang pertama dilihat oleh netra Edward adalah Ayahnya. Beliau sedang duduk di sofa sambil memainkan Tabnya.



Edward menyapu seisi rumah dengan pandangannya, barulah ia berhasil menemukan sosok sang Ibu. Ia sedang mencuci piring di dapur. Ada sebuah dorongan yang muncul secara tiba-tiba dalam diri Ed, yaitu untuk menghampiri Ibunya dan berbasa-basi sedikit. Ia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Setiap pulang sekolah, hal yang dilakukannya adalah menghampiri Yoo dan menonton televisi hingga waktunya mandi. Kali ini ia akan melakukan hal yang berbeda! Semoga sang Ibu tidak menganggap dirinya aneh.



Dengan kikuk, Edward berjalan perlahan menuju dapur. Ia berjingkat-jingkar di sisi tembok sambil terus memantau keadaan. Sepertinya Edward terlalu fokus memerhatikan sang Ayah sampai tidak menyadari kalau Ibunya sedang melihatnya sejak tadi.



“Kamu ngapain, Ed?’ Jantung Edward hampir saja copot dari ruangnya ketika suara itu sampai di telinganya.



Edward nampak terkejut, namun segera mengambil kembali situasi. Ia menjauh dari tembok seraya memerhatikan Ayahnya, takut-takut sang Ayah juga melihatnya. Tapi tidak. Ayah Ed masih terpaku pada Tabnya.



Edward berdeham,“Oh, nggak apa-apa, Mom. Edward tadi lagi ngikutin kecoak. Barusan dia masuk rumah!’



“Kecoak? Wtf?! Rumah ini dimasukin kecoak? Nanti Mommy beli racun kecoak, deh!’ katanya mengebu-ngebu. Edward tidak habis pikir kalau ia adalah wanita yang dilihatnya waktu itu.



“Nggak bakal ampuh, Mom. Kecoak itu sama nuklir aja kebal. Apalagi sama racun serangga ecek-ecek,’ katanya datar.



“Masa, sih? Tau darimana kamu, Ed?’ cibir Ibunya penuh canda.



Dengan bangganya, Edward menunjuk pada nametag yang ada di dada kirinya. Nametag bertuliskan Edward Novaldo yang dibordir dengan rapi. Sang Ibu memandang heran tindak-tanduk anak semata wayangnya tersebut.



Edward menghela napas, “Maksudnya, Edward itu Edward Novaldo, si nomor dua. Masa soal kayak begituan nggak tau?’



“Mommy aja yang peringkat satu di sekolah nggak tau soal begituan,’ ungkap wanita muda itu, sewot.



“Lho? Mommy peringkat satu di sekolah?’ heran Edward.



Wanita itu mengangguk, “Iya, dari belakang.’ Tawa Ibu Ed segera menggelegar di ruangan itu detik berikutnya.



Edward mendengkus, “Yang bener, Mom.’



“Kkkk. Bener, Ed. Mommy peringkat nomor satu pas SMA. Tapi sewaktu SMA doang.’ Katanya.



“Dari belakang?’ netra Edward menyipit saat mengatakan hal itu.



“Dari depan, lah. Emang darimana kepinteran kamu kalo bukan turunan dari Mommy?’ sang Ibu membelai lembut rambut anak laki-laki di depannya.



“Dari Edward sendiri, lah. Hehe.’ Kata-kata itu mengakhiri percakapan mereka karena Edward segera pergi mandi setelahnya.



Baru saja ia selesai makan malam dan hendak menemui Ayahnya untuk berbicara, tetapi ia justru melihat hal yang tidak seharusnya dilihat. Anak laki-laki itu melihat kedua orang tuanya bertengkar.